تسجيل الدخولSeperti tak membiarkan akhir pekan mereka berlalu dengan tenang, kediaman keluarga kecil Alesco kini kembali didatangi oleh tamu. Bukan satu, melainkan dua.
Mobil hitam elegan berhenti di depan teras, dan tak lama, dari sana turun sepasang wajah yang dulu begitu akrab di mata Leah: Vincent dan Alisa.
Leah yang baru saja duduk di ruang tamu bersama secangkir teh, sontak membeku di tempat. Sedetik matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seolah waktu tiga bulan terakhir y
Awalnya Valeriah datang ke Washington guna menghibur diri dan melupakan ingatan kelamnya tentang malam ia kehilangan keperawanan. Tapi setelah dirinya pikirkan lagi, semua itu sama sekali tak penting.Masa bodo.Lagipula siapa yang mau menghakimi? Dunia Eropa tempat ia tumbuh dan bersosialisasi jauh lebih liar dari sekadar itu. Gadis seusianya bercampur dengan lelaki yang lebih tua, pesta wine dan musik hingga fajar, rahasia yang disimpan dalam hotel-hotel mewah yang hanya mereka tahu.Jadi, apa artinya satu malam kelam dibandingkan semua topeng yang pernah ia pakai?Ia tersenyum miring di depan cermin besar di kamarnya. Jemarinya menyusuri garis leher, lalu berhenti di kalung kecil pemberian ibunya. Dari pantulan kaca, sorot matanya terlihat dingin, jauh berbeda dengan wajah manja yang biasanya ia tunjukkan pada keluarganya.Menghibur diri?Tidak.Ia datang ke Washington bukan hanya untuk itu. Ia butuh pelarian. Butuh ruang
Setelah makan siang dan menghabiskan waktu dengan mamanya, Valeriah berjalan menuju studio lukisnya.Bangunan berbentuk kubah dengan diameter hampir lima belas meter itu berdiri di sisi kanan Mansion Maximoff, terhubung dengan taman mawar putih yang selalu dirawat Leah dengan penuh cinta.Dinding luarnya didominasi kaca transparan, sehingga sinar matahari sore bisa menembus masuk dan memandikan ruang itu dengan cahaya keemasan.Begitu membuka pintu, aroma khas cat minyak dan terpentin langsung menyambutnya.Di dalam, kanvas-kanvas setengah jadi berderet tak teratur, sebagian hanya berupa coretan kasar, sebagian lagi nyaris selesai namun ditinggalkan begitu saja. Di tengah ruangan, ada sebuah kanvas besar yang masih kosong. Putih polos, seakan menantangnya.Valeriah meletakkan sketsa bukunya di meja kayu panjang yang penuh noda cat, lalu melepas sweater tipis yang tadi Ia kenakan. Ia menggulung lengan bajunya, mengambil kuas, dan mulai mencampur war
Washington D.C. USA“Selamat datang, Nona Ria.”Seorang perempuan paruh baya membuka pintu menyambut kedatangannya. Dia adalah Nauren, kepala pelayan di mansion Maximoff, tempat tinggal kedua orang tuanya dan kedua adik lelakinya.“Halo, Bibi Nau.”Valeriah menyapa ramah sambil menyunggingkan senyum kecil, berusaha menutupi rasa penat setelah penerbangan dan insiden tak disukainya“Mama Papa ada di rumah?” Valeriah kembali bertanya sembari melangkah masuk ke dalam ruang tengahNauren mengangguk sambil mengambil mantel dari tangan Valeriah. “Ada, Nona. Mereka sedang di ruang makan. Nyonya menunggu Anda untuk makan siang bersama. Ah, kedua Tuan Muda juga sudah pulang sejak pagi.”Mendengar itu, Valeriah spontan menghela napas panjang. Ia tahu betul apa artinya, meja makan siang yang ramai, penuh interupsi, dan… seringkali berakhir dengan perdebatan kecil yang menyenangkan.Langkahnya menggema di lantai marmer saat menuju lorong panjang menuju ruang makan. Aroma sup krim dan roti panggan
“Ini… wajahku kan?” tanya Kael. Ekspresinya haus akan validasi, seolah ia sengaja menjerat Valeriah dengan bukti yang tak bisa disangkal.Wajah Valeriah langsung pucat. Ia meraih bukunya dengan panik, tapi Kaelmore lebih cepat mengangkatnya tinggi, jauh dari jangkauannya.“Untuk apa aku menggambar orang mesum sepertimu” Gerutu Valeriah kesalKaelmore tertawa rendah, tawa yang lebih terdengar seperti ancaman ketimbang hiburan. “Mesum?” ia mengulang kata itu, bibirnya melengkung penuh godaan. “Kitten, kau bahkan bisa menutupinya dengan hinaan, tapi tanganmu sudah mengkhianatimu. Kau mengukirku di kertas, garis demi garis… seolah aku sudah terpatri di kepalamu.”“Berhenti mengada-ada!” Valeriah mencoba meraih buku itu lagi, tubuhnya setengah berdiri dari kursi pesawat. Tapi Kael dengan mudah menahan bahunya, membuatnya kembali terhempas duduk. Sentuhan itu tidak keras, tapi cukup memberi tekanan kalau ia memang berkuasa penuh.Tatapan hijau gelap itu
Suasana bandara internasional Toronto dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang berlalu-lalang dengan koper masing-masing. Valeriah berjalan cepat, sepatu boots-nya berdetak di lantai marmer, sementara Morgan mengikuti dari belakang sambil menarik koper besar.Mereka tiba di check-in counter. Seorang petugas berseragam biru muda menyambut dengan senyum profesional, lalu meminta paspor Valeriah terlebih dahulu.“Miss Valeriah?” tanyanya sambil memverifikasi layar.Valeriah mengangguk kecil. “Ya.”Petugas itu mencetak boarding pass, lalu menyerahkannya dengan nada ramah. “Kursi Anda, Nona, business class, 2A.”Morgan yang berdiri di sebelahnya langsung mencondongkan tubuh dan menyerahkan pasportnyaPetugas itu tetap tenang, memeriksa layar kembali. Lalu ia mencetak boarding pass Morgan dan menyerahkannya. “Untuk Tuan Morgan Lowell… kursi 26D. Ekonomi.”Valeriah mengerutkan kening. “
Valeriah terbangun dengan tubuh lelah, mata terasa berat seolah baru selesai menangis semalaman. Sunyi. Hanya suara detik jam dinding di apartemen mungilnya.Ia keluar dari kamar lalu menoleh sekilas, mendapati Morgan masih duduk di kursi dekat pintu dengan posisi tegap, seperti patung hidup. Pengawal itu bahkan tidak melepas jasnya, hanya membuka kancing paling atas dan menundukkan kepala, entah tidur atau sekadar memejamkan mata.Dengan hati-hati Valeriah bangkit, langkahnya tertatih karena balutan di kakinya. Ia berjalan kembali ke kamar menuju kamar mandi. Begitu lampu menyala, ia menatap cermin di hadapannya.Sekilas ia ingin mengusap wajahnya yang kusut, tapi tangannya berhenti. Pandangannya membeku.Terlihat jelas bekas merah samar dilehernya, berwarna lebih gelap dari kulitnya yang pucat. Ia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Dengan ragu ia membuka kancing mantel yang masih dipakainya sejak tadi malam, membiarkannya terjatuh di lantai.
Valesco mematung.Ciuman Leah di keningnya terasa seperti cahaya kecil yang masuk ke celah temboknya yang selama ini tertutup rapat. Bukan seperti panasnya gairah, tapi kehangatan yang asing dan justru karena itu, terasa menakutkan.Matanya tetap terpaku pada wajah Leah yang kini su
“Dimana suamiku?” Leah bertanya pada semua pelayan yang ada di rumah. Suaranya tenang, tapi tatapannya tajam dan penuh tanda tanya. Ia berdiri di tengah ruang tengah dengan tubuh tegak.Namun, semua yang ia tanya hanya menggeleng.“Saya tidak melihat Tuan sejak pag
Kenneth Arden menutup pintu kamar.Suara klik dari gagang pintu terdengar ringan, tapi menghantam seperti gendang perang di kepala Valesco. Sunyi. Lalu pekat.Ia menoleh perlahan ke arah meja, ke arah amplop hitam yang ditinggalkan ayahnya. Hitam, tebal, dan lebih mengancam dari pel
Valesco membuka matanya dengan berat. Pandangan pertamanya buram. Atap kamar yang ia kenal samar-samar melayang di atasnya, tapi dunia tampak miring—seolah otaknya belum kembali sepenuhnya dari gelap.Ia menarik napas dalam, dada terasa berat, lalu matanya perlahan menoleh ke kiri&he







