LOGINKetika trauma masa lalu bertabrakan dengan obsesi cinta, Leah harus menyembuhkan Valesco tanpa membuatnya sadar. Dia terjebak dalam pernikahan yang penuh rahasia dan ketegangan, setiap sentuhan bisa menyembuhkan atau justru.... menghancurkan. “Kenapa kau tetap bertahan?” Tanya Valesco “Karena aku tahu, di balik kegelapanmu, ada bagian yang bisa kuselamatkan.”
View More“Ini… wajahku kan?” tanya Kael. Ekspresinya haus akan validasi, seolah ia sengaja menjerat Valeriah dengan bukti yang tak bisa disangkal.Wajah Valeriah langsung pucat. Ia meraih bukunya dengan panik, tapi Kaelmore lebih cepat mengangkatnya tinggi, jauh dari jangkauannya.“Untuk apa aku menggambar orang mesum sepertimu” Gerutu Valeriah kesalKaelmore tertawa rendah, tawa yang lebih terdengar seperti ancaman ketimbang hiburan. “Mesum?” ia mengulang kata itu, bibirnya melengkung penuh godaan. “Kitten, kau bahkan bisa menutupinya dengan hinaan, tapi tanganmu sudah mengkhianatimu. Kau mengukirku di kertas, garis demi garis… seolah aku sudah terpatri di kepalamu.”“Berhenti mengada-ada!” Valeriah mencoba meraih buku itu lagi, tubuhnya setengah berdiri dari kursi pesawat. Tapi Kael dengan mudah menahan bahunya, membuatnya kembali terhempas duduk. Sentuhan itu tidak keras, tapi cukup memberi tekanan kalau ia memang berkuasa penuh.Tatapan hijau gelap itu
Suasana bandara internasional Toronto dipenuhi hiruk-pikuk penumpang yang berlalu-lalang dengan koper masing-masing. Valeriah berjalan cepat, sepatu boots-nya berdetak di lantai marmer, sementara Morgan mengikuti dari belakang sambil menarik koper besar.Mereka tiba di check-in counter. Seorang petugas berseragam biru muda menyambut dengan senyum profesional, lalu meminta paspor Valeriah terlebih dahulu.“Miss Valeriah?” tanyanya sambil memverifikasi layar.Valeriah mengangguk kecil. “Ya.”Petugas itu mencetak boarding pass, lalu menyerahkannya dengan nada ramah. “Kursi Anda, Nona, business class, 2A.”Morgan yang berdiri di sebelahnya langsung mencondongkan tubuh dan menyerahkan pasportnyaPetugas itu tetap tenang, memeriksa layar kembali. Lalu ia mencetak boarding pass Morgan dan menyerahkannya. “Untuk Tuan Morgan Lowell… kursi 26D. Ekonomi.”Valeriah mengerutkan kening. “
Valeriah terbangun dengan tubuh lelah, mata terasa berat seolah baru selesai menangis semalaman. Sunyi. Hanya suara detik jam dinding di apartemen mungilnya.Ia keluar dari kamar lalu menoleh sekilas, mendapati Morgan masih duduk di kursi dekat pintu dengan posisi tegap, seperti patung hidup. Pengawal itu bahkan tidak melepas jasnya, hanya membuka kancing paling atas dan menundukkan kepala, entah tidur atau sekadar memejamkan mata.Dengan hati-hati Valeriah bangkit, langkahnya tertatih karena balutan di kakinya. Ia berjalan kembali ke kamar menuju kamar mandi. Begitu lampu menyala, ia menatap cermin di hadapannya.Sekilas ia ingin mengusap wajahnya yang kusut, tapi tangannya berhenti. Pandangannya membeku.Terlihat jelas bekas merah samar dilehernya, berwarna lebih gelap dari kulitnya yang pucat. Ia menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Dengan ragu ia membuka kancing mantel yang masih dipakainya sejak tadi malam, membiarkannya terjatuh di lantai.
Conveno Hotel, Toronto, Canada.Suite room itu berantakan. Tirai setengah terbuka, menyisakan cahaya kota yang masuk samar ke dalam ruangan. Bantal sofa tercampak ke lantai, kursi miring, bahkan meja kopi kaca di dekat sofa masih menyimpan jejak gelas anggur yang belum tersentuh.Kaelmore duduk bersandar di sofa kulit hitam, hanya mengenakan celana panjang santai. Rokok menyala di antara jari-jarinya, asap tipis membubung, melingkar sebelum menghilang di udara. Ia mengembuskan napas pelan, membiarkan aroma tembakau memenuhi dadanya. Tapi pikirannya tidak ada di sini. Ia kembali pada momen saat Valeriah mengerang dibawahnyaIa adalah pria pertama yang menjamah Valeriah.Di kota besar di mana pergaulan bebas sudah menjadi hal biasa, di mana pesta, alkohol, dan cumbuan cepat seringkali dianggap lumrah, Valeriah tetap mempertahankan dirinya. Bukan karena ia polos, bukan pula karena tak tahu apa-apa, melainkan karena ia pasrah. Dan pilihan itu jatuh pada Kael,
Ruang makan rumah itu hangat diterangi lampu gantung berwarna keemasan. Aroma sup hangat berpadu dengan suara sendok kecil Valeriah yang sibuk mengaduk nasi dan lauknya. Leah duduk di sebelah kanan, sementara Alesco di ujung meja, memperhatikan piring kecil putrinya yang berantakan dengan sisa sa
Langit sore merona oranye, cahaya matahari menimpa taman bermain dengan lembut. Musik ceria masih mengalun, tapi langkah keluarga kecil itu kini menuju kedai es krim.Valeriah sudah lebih dulu memilih rasa. “Aku mau cokelat! Sama sprinkle warna-warni, Mama!” serunya antusias.
Kacau...Semuanya sungguh kacauLeah tak tahu jika ada saat dimana dia menjadi sangat kacau selain lima tahun lalu“Hari yang indah untuk bertemu dokter cantik, bukan?” suaranya ringan, nyaris jenaka, seakan ia hanya pasien biasa yang datang untuk berkonsultasi. T
Leah tak tahu jika keputusannya mengusir Franco Mordeli akan membuat dirinya berhadapan dengan Elizabeth Mordeli, ibu dari Franco.Wanita paruh baya itu datang ke klinik tanpa membuat janji, mengenakan gaun biru tua yang elegan dengan mantel tipis di bahunya. Wajahnya terawat, sorot matany






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore