LOGINBelum sempat Pak Karto menyelesaikan kalimat sombongnya, Yanto merogoh saku celananya lalu menarik seikat tebal uang kertas pecahan seratus ribuan. Tanpa ragu, Yanto melemparkan gepokan uang merah itu tepat ke dada Pak Karto.
SRAAAK! Lembaran uang merah yang tebal itu berterbangan di udara sebelum jatuh berserakan memenuhi tanah di depan kaki Pak Karto dan anak buahnya. Pak Karto terperanjat kaget, matanya melotot selebar menatap hamparan uang seratus ribuan di atas tanah. Dua anak buahnya seketika bungkam, menganga tak percaya. "D-dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?!" Pak Karto syok berat, tangannya gemetar menunjuk uang yang berserakan di bawahnya. "Nggak penting kami dapat uangnya dari mana! Yang penting, utang Bu Ningsih dan Mbak Dewi LUNAS!" bentak Yanto dingin. Yanto maju satu langkah besar. Ia membusungkan dadanya yang tegap dan mengunci pandangan Pak Karto dengan aura dominan yang amat menekan. "Mulai detik ini, jangan pernah injakkan kaki kotor kamu di rumah mereka! Dan jangan pernah kamu ganggu mereka lagi! PAHAM?!" ancam Yanto dengan suara berat berwibawa. Anak buah Pak Karto sempat hendak maju hendak menggertak, tapi tatapan mata Yanto yang tajam dan tubuhnya yang tegap membuat mereka ciut seketika. Pak Karto sendiri tersentak kaget. Keringat dingin menetes deras di pelipisnya. Tanpa membuang waktu, Yanto menggandeng tangan Dewi dan Bu Ningsih, membawa kedua wanita itu melangkah pergi meninggalkan si rentenir yang masih terpaku syok. "A-ayo cepat pungut uangnya! Jangan sampai ada yang kelewatan!" teriak Pak Karto panik pada dua anak buahnya begitu sadar dari rasa terpukaunya. Yanto tak sudi lagi menoleh. Dengan langkah tegap, ia terus melangkah menembus kegelapan jalanan desa, mengapit Bu Ningsih dan Dewi di kedua sisinya. *** Suasana malam yang semula mencekam kini perlahan berubah hangat dan menenangkan. Di sepanjang perjalanan pulang, langkah Bu Ningsih terasa jauh lebih ringan. Beban utang yang bertahun-tahun meremukkan pundaknya sirna seketika, berganti rasa haru yang membuncah. Sementara di sisi kanan Yanto, Dewi melangkah pelan seraya sesekali melirik lengan kekar pemuda di sampingnya. Jemari gadis polos itu beberapa kali menyenggol pelan jemari Yanto, menyalurkan desir getaran aneh yang membuat dadanya berdebar liar sepanjang jalan. Tak terasa, derap langkah mereka bertiga akhirnya sampai di pekarangan rumah kayu Bu Ningsih. Udara malam desa terasa kian sejuk, diiringi derik jangkrik yang bersahut-sahutan. "Ayo masuk, Nduk, To! Ibu nyalakan lampu dulu," ucap Bu Ningsih dengan suara lega. Janda semok itu mendorong pintu depan lalu melangkah masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu minyak dan merapikan ruang dalam, membiarkan Yanto dan Dewi tertinggal di teras yang temaram. Dewi tidak langsung menyusul ibunya. Gadis ayu itu membalikkan badan, berdiri pas berhadapan dengan Yanto di bawah naungan bayang-bayang atap teras. Ia mendongak pelan, menatap wajah tegap Yanto dengan mata berbinar penuh rasa kagum. Pemuda yang dulu kerap dihina warga kini berdiri begitu gagah, menjelma menjadi sosok pahlawan yang menyelamatkan masa depan dan martabat keluarganya. Dewi memberanikan diri maju satu langkah. Jemari halusnya terulur mencengkeram lembut ujung kaos Yanto, menariknya pelan hingga jarak tubuh mereka makin merapat. "Mas Yanto..." panggil Dewi dengan suara bisikan yang bergetar manis, napas hangatnya menerpa leher tegap Yanto. "Iya, Mbak Dewi?" sahut Yanto seraya menatap dalam-dalam mata bening gadis itu. Dewi membasahi bibirnya yang ranum. Pipi mulusnya memerah padam di bawah temaram cahaya teras, sementara dadanya yang padat naik turun memburu. "Gara-gara Mas Yanto, aku sama Ibu selamat," desis Dewi pelan seraya menggeser tubuhnya makin merapat, menempelkan dadanya ke dada bidang Yanto. "Aku jadi nggak enak." "Nggak usah sungkan Mbak! Kan kemarin kalian juga bantuin aku toh," balas pemuda berkulit kecoklatan itu ramah. Dewi membasahi bibirnya yang ranum, pipinya memerah padam di bawah temaram lampu teras. Dan dengan malu-malu, ia berkata, "A- anu Mas Yanto. Aku cuma mau bilang makasih banyak ya," ucap Dewi dengan pipi memerah dan wajah malu-malu yang kentara. Yanto mengusap kepala Mbak Dewi dengan lembut, "Sama-sama Mbak. Aku juga senang bisa bantuin kamu." Dewi terkesiap kaget. Sentuhan lembut Yanto di kepalanya membuat wajah gadis itu semakin memerah. "Ayok masuk, Mbak!" ajak Yanto yang hanya dibalas anggukan kecil perempuan cantik itu. Malam itu suasana di kontrakan Bu Ningsih terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu temaram di teras menyinari Yanto yang baru saja pulang dari rumah Bu Broto. Di tangannya masih ada sisa uang yang ia dapatkan hari ini. Dewi berdiri di depannya, jemarinya meremas ujung kaos oblongnya dengan gugup. Wajah gadis itu tampak tegang, matanya sesekali melirik ke arah uang di tangan Yanto. "Mas Yanto, uang yang tadi buat lunasin Pak Karto, aku bakal ganti secepatnya. Aku nggak enak kalau Mas yang nanggung semua, aku janji bakal kerja lebih keras," ucap Dewi dengan suara bergetar. Ia menunduk, takut menatap mata pemuda yang sudah dua kali menyelamatkan keluarganya itu. Yanto menarik napas panjang. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal sedepa. Dewi otomatis mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding kayu kontrakan. Yanto meletakkan satu tangannya di dinding, mengunci ruang gerak gadis itu dengan lembut tapi tegas. Lalu ia berucap...Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto
"Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal
"Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala
"Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s
Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto
"Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper







