Home / Fantasi / Mas Yanto Kuli Idaman / Bab 08: Pijatan yang Bikin Candu

Share

Bab 08: Pijatan yang Bikin Candu

Author: Nytheria_Blue
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-25 20:58:50

Bu Broto menggeser duduknya mendekat ke arah Yanto, hingga paha mulusnya menempel ke lutut pemuda itu.

Dengan wajah sedikit memerah, janda kaya itu berdeham. "Tunggu Yanto! Aku belum selesai bicara."

"E-eh? Ada apa lagi ya, Bu?" tanya Yanto seraya menatap mata sang janda.

Bukannya langsung menjawab, Bu Broto kembali membuka laci mejanya. Ia mengambil seikat tebal lembaran uang seratus ribuan, lalu menjejalkannya langsung ke telapak tangan Yanto.

Yanto terbelalak kaget melihat tebalnya gepokan uang merah di tangannya. "Bu... ini uang apa lagi? Bukannya tadi sudah dikasih?"

"Anggap saja itu bayaran tambahan buat kamu," terang Bu Broto seraya mengipas-ngipasi wajahnya yang masih terasa panas dengan kipas batik.

"Jumlahnya lima juta. Dan tugas kamu cuma satu, datang lagi besok! Pinggang sama kakiku juga sering pegal. Dan... ada beberapa masalah 'lain' yang harus kamu tangani," lanjut Bu Broto dengan nada suara bermakna rahasia.

Yanto mengulum senyum dominannya seraya mengantongi uang itu. 'Gila! Lima juta tunai? Kalo gini utang Bu Ningsih dan Mbak Dewi bisa lunas seketika!'

"Baik Bu, saya siap datang kapan saja," sahut Yanto mantap dengan tatapan percaya diri.

Bu Broto menggigit bibir bawahnya yang ranum, menatap Yanto dengan sorot mata penuh candu.

"Soal yang di dalam kamar tadi, jangan bilang siapa-siapa ya! Paham?" pancing Bu Broto dengan suara agak serak.

Yanto mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Siap, Bu. Apa yang terjadi di kamar ini akan jadi rahasia kita berdua."

Sentilan ucapan Yanto membuat Bu Broto menelan ludah gugup, jantungnya kembali berdebar liar menatapi ketampanan pemuda di depannya.

Saat keluar dari kamar utama, Yanto langsung disambut oleh Lastri. Asisten Bu Broto yang semula paling menghina Yanto kini hanya bisa menunduk dalam dengan wajah merah padam karena malu.

Bukan cuma karena teringat kata-kata kasarnya tadi, tapi juga karena telinganya sendiri mendengar jelas rentetan suara erangan dan desahan pasrah sang majikan dari dalam kamar.

"M-makasih ya Mas Yanto udah bantu menyembuhkan migrain Bu Broto," bisik Lastri terbata-bata tanpa berani mendongak. "Maaf, tadi aku sudah ngomong kasar sama Mas."

Yanto hanya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan, melangkah melewati Lastri tanpa perlu banyak bicara.

​Langkah kaki Yanto terdengar mantap menapak lantai marmer dingin rumah mewah itu menuju pintu depan. Sosoknya kini tampak jauh lebih tegap dan percaya diri dibanding saat pertama kali menjejakkan kaki di sana.

​Begitu memutar gagang pintu kayu jati yang kokoh dan melangkah keluar, pemandangan dua wanita yang diliputi rasa cemas langsung menyambut penglihatannya.

​Di teras depan, Bu Ningsih dan Dewi berjalan bolak-balik dengan jemari saling meremas gelisah. Wajah mereka berdua tampak tegang dan pucat, berulang kali melirik pintu utama yang tak kunjung terbuka, takut jika Yanto justru mendapat masalah di dalam.

"Mas Yanto!" Dewi langsung berlari kecil menghampiri Yanto begitu pintu depan terbuka. "Gimana? Bu Broto nggak marah-marah, kan?"

Yanto menyunggingkan senyum lebar, lalu mengeluarkan gepokan uang merah dari saku celananya dan memamerkannya di udara.

​"Aman, Mbak Dewi. Bu Broto nggak marah kok. Pijatanku bikin migrain kronisnya sembuh total," ujar Yanto seraya tersenyum tenang.

​Yanto merogoh saku celananya, lalu menarik seikat tebal uang kertas pecahan seratus ribuan dan menunjukkannya tepat di depan mata Dewi dan Bu Ningsih. ​"Bahkan, Bu Broto langsung bayar uang muka lima juta tunai," lanjut Yanto.

​"Ya ampun, Mas Yanto!" Dewi membelalak kaget, mulutnya menganga tak percaya menatapi gepokan uang merah di tangan Yanto.

​Gadis polos itu refleks menyentuh lengan berotot Yanto, menatap pemuda itu dengan binar kagum yang membuncah. "B-banyak banget, Mas! Kamu serius?"

​"Serius, Mbak. Sekarang kita punya uang tunai buat menyumpal mulut Pak Karto dan melunasi semua utang," tegas Yanto protektif, jemari hangatnya mengusap lembut punggung tangan Dewi yang menempel di lengannya.

​Bu Ningsih yang berdiri di samping putrinya menarik napas dalam-dalam, mengelus dadanya yang padat seraya menatap Yanto dengan sorot mata bergetar. '​Lima juta cuma dari pijatan kepala?' batin Bu Ningsih syok, sebelum teringat kembali desahan nikmatnya sendiri kemarin sore. 'Pasti Bu Broto juga dibuat melayang dan ketagihan sama jari-jari sakti Yanto.'

​"Bukan cuma itu," tambah Yanto, mengalihkan pandangannya pada dua wanita di depannya. "Bu Broto juga minta aku datang lagi besok buat mijat seluruh tubuhnya."

Mata Dewi membulat lebar. Gadis polos itu menyentuh lengan tegap Yanto dengan binar kagum. "Kamu serius, Mas?"

"Serius, Mbak. Sekarang kita punya uang buat melunasi semua utang ke Pak Karto. Kapan saja si rentenir itu datang, kalian berdua sudah aman," tegas Yanto protektif.

Bu Ningsih menatap Yanto dengan dada berdesir aneh, ada sedikit rasa panas dan tak rela yang mendadak menyengat hatinya.

​Membayangkan bagaimana Bu Broto yang kaya raya dan sombong itu sampai menyuruh Yanto datang lagi besok untuk memijat seluruh tubuhnya, janda semok itu membatin curiga.

'​Jangan-jangan Bu Broto nggak cuma minta dipijat?' batin Bu Ningsih gelisah, matanya menyempit menatap Yanto.

​Ia sama sekali tak menyadari kalau pijatan Yanto memiliki energi magis Gawok yang bisa menaklukkan wanita mana pun. Di pikiran Bu Ningsih, Bu Broto murni terpesona pada sosok Yanto sebagai seorang pria tegap yang berkarisma yang punya sentuhan ajaib yang luar biasa.

​Sementara itu, Dewi hanya bisa tersenyum bahagia seraya mengelus dadanya yang padat penuh rasa syukur.

Meskipun dalam hati kecilnya, gadis polos itu juga penasaran seajaib apa sebenarnya keahlian jemari Yanto sampai sanggup meluluhkan nyonya tengkulak paling galak di desa mereka.

​"Ayo kita pulang sekarang!" ajak Yanto lembut, memecah lamunan kedua wanita itu.

​Yanto memimpin langkah, melangkah turun dari teras megah lalu membukakan pintu gerbang besi tinggi rumah Bu Broto untuk Bu Ningsih dan Dewi.

​Begitu keluar dari gerbang rumah mewah itu, ketiganya melangkah pulang menyusuri jalanan desa yang mulai temaram ditelan senja. Yanto berjalan tegap di tengah, pasang badan mengapit dua wanita cantik itu dengan rasa percaya diri yang membuncah.

​Sayangnya, baru beberapa puluh meter melangkah di belokan dekat pohon beringin tua, langkah mereka mendadak terhenti.

​Dari arah berlawanan, muncul Pak Karto bersama dua anak buah bertubuh kekar. Mata culas sang rentenir langsung menyipit tajam begitu melihat Yanto, Bu Ningsih, dan Dewi.

​"Loh-loh, ada siapa ini?" Pak Karto melangkah maju seraya menepuk perut buncitnya dengan senyum mengejek. "Habis dari mana? Cari utangan lain, ta? Wes dapet, hm?"

​Dua anak buah Pak Karto tertawa terbahak-bahak, ikut memprovokasi. ​"Sudah, nyerah saja kamu, To! Kuli miskin kaya kamu nggak bakal bisa dapat—"

​SRAAKK!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 150

    Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 149: Hari Hari Damai

    "Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 148: Pesta Syukuran

    "Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 147: Bisikan Panas

    "Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 146: Hari-Hari Pengantin Baru

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 145: Ijab Kabul

    "Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status