MasukDi dalam ruangan rumah sakit yang hening , tampak Aina yang terbaring lemah mulai membuka kedua matanya.Saat membuka kedua matanya itu. Aina dapat melihat dengan jelas, sosok kecil Arya yang menunduk dengan kedua matanya yang berkaca-kaca sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya. “Arya!” Panggilnya dengan suara yang lemah.Arya mengalihkan tatapan matanya, senyum sumringah terpancar jelas. “Mamah.” Ucapnya sambil memeluk tubuh Aina yang terbaring lemah. “Syukurlah Mamah bangun.” Tambahnya sambil terisak pelan.Aina tersenyum tipis, usapan lembut pada Arya ia lakukan. Lima menit berlalu dengan posisi itu, akhirnya Arya mulai melepaskan pelukannya dan menghentikan tangisan.Saat merasa pelukannya dan sang putra terlepas, Aina mulai berkata. “Maafin Mamah, udah bikin Arya cemas.”Arya menggelengkan kepalanya. “Gapapa, yang penting sekarang Mamah udah bangun."Aina hanya bisa kembali memperlihatkan senyum manisnya yang dibalas juga oleh Arya dengan senyum yang tak k
Di saat Hans masih berlari tak tau arah. Tiba-tiba langkahnya harus terhenti, karena dirinya mendengar suara seorang wanita memanggil namanya saat ada di ruang tamu. “Hans!” Dengan mengalihkan tatapan matanya, Hans melihat bahwa Hani adalah orang yang sedang memanggilnya.Melihat Hans yang sedang memandangnya, Hani bergegas berdiri dari duduknya dan menghampiri tempat Hans berada. Saat sudah sampai, ia menatap wajah Hans dengan tatapan yang tajam. “Mau kemana kamu?” tanyanya dengan keras.Hans menghela napas. Sorot mata yang tampak lelah, ia perlihatkan pada sang Ibu. ”Cari istri dan anakku yang tiba-tiba ga ad—”“Mamah yang usir mereka, jadi ga usah coba-coba cari mereka lagi.” Hani dengan cepat memotong ucapan Hans yang belum selesai.Sudah bisa menebak, bahwa kepergian istri dan anaknya karena perintah sang Ibu. Hans hanya bisa mengusap wajahnya kasar. “Mah... Hans tau Mamah marah, tapi ga seharusnya Mamah usir mereka.”“Mereka ga ada hubungan darah sama kita Hans, jadi su
Hans tentu saja tak terima dengan apa yang diucapkan Ibunya itu. “Mah!”“Cukup Hans, ga ada lagi yang mau Mamah perdebatkan sama kamu.” Hani dengan cepat tak membiarkan Hans kembali menyanggah ucapannya.Hans tentu saja tetap tak ingin menyerah. Namun saat ia akan kembali bersuara untuk membalas lagi ucapan Ibunya, tiba-tiba saja dirinya merasakan tangan lembut Aina menggenggam tangannya. Mengalihkan tatapannya pada Aina, Hans dapat melihat bahwa istrinya itu dengan raut wajah yang memelas sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.Aina yang memang bersikap seperti itu, karena tak ingin perdebatan antara Ibu dan anak di depannya semakin berlanjut. Mulai berkata. “Hans, lebih baik kita biarin Mamah istirahat dulu. Sekarang lebih baik kita keluar dan bicarain tentang kelanjutan rumah tangga kita berdua aja.”Hans menghela napas. Lirikan singkat, ia lakukan pada Ibunya. “Yaudah, ayo!” ucapnya akhirnya setelah kembali menatap wajah Aina.Dengan memperlihatkan senyum simpul di wajahnya, Aina
Mendengar kata-kata menantunya itu, Hani tentu saja merasa terkejut. “Kamu bilang apa Aina?”Aina yang menebak Ibu mertuanya tadi hanya sebatas mendengar obrolannya tentang Arya yang bukan anak kandung, dengan berat hati menjawab. “Aina sekarang lagi hamil dan anak ini juga anak pria lain...”“Aina!” Hans dengan panik berteriak memanggil nama Aina yang malah membeberkan kehamilan pada Ibunya.Di sisi lain, betapa terkejutnya Hani mendengar setiap kata dari menantunya itu. Bahkan saking terkejutnya, kepalanya terasa semakin pusing dan pandangan yang berkunang-kunang mulai menguasai dirinya. Tanpa sadar wanita paruh baya itu mulai kehilangan kesadaran. Namun untungnya Hani yang duduk di sisi ranjang tentu membuat tubuhnya yang pingsan tak terbentur ke lantai yang keras.Akan tetapi Aina dan Hans yang menyadari ketidaksadaran Hani, tentu saja merasa panik. “Mah!” Ucap mereka secara berbarengan.***Dua jam setelah Hani yang pingsan dan dokter yang Hans panggil untuk memeriksa wanita tu
Hani yang mendengar panggilan anak dan menantunya itu. Dengan segera mulai masuk ke dalam kamar dan menghampiri mereka berdua. “Sekali lagi Mamah tanya, apa maksud perkataan kamu Hans?” Ucapnya dengan cepat saat sudah sampai di depan anak dan menantu perempuannya. Mendengar pertanyaan itu, Hans tentu saja tak bisa menjawab. Ia tampak mulai memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan keberadaan sang Ibu.Tak kunjung mendapat jawaban dari Hans, Hani kembali membuka suara. “Hans jawab! Apa maksud perkataan kamu? Kenapa kamu bilang Arya anak orang lain yang kamu akui menjadi anak kamu?” Teriakan yang sangat menggelegar Hani utarakan pada putranya.Namun Hans tetap terdiam dan tak merespons juga ucapan Hani barusan. Sudah tak tahan, Akhirnya Hani memutuskan untuk mengalihkan pandangannya pada Aina. Sorot mata yang tajam tampak jelas di matanya. “Kalo Hans ga bisa jelasin, lebih baik kamu aja yang jelasin sama Mamah!” Ucapnya dengan penuh penekanan.Aina hanya bisa menundukkan kep
Hari-hari berlalu dengan cepat, akhirnya genap sudah satu bulan setelah malam panas yang dilalui Aina bersama Rey berlalu juga. Selama satu bulan itu, Aina belum juga berbicara jujur pada suaminya yang mana hal itu tentunya membuat Hans merasa marah dan kesal. Apalagi dengan sikap Aina yang tiba-tiba berubah murung dan tak pernah keluar rumah, itu tentu saja membuat kekesalan dan kemarahan di hati Hans semakin lebih besar lagi. Karena rasa kesal itu, akhirnya hari ini juga Hans memutuskan meminta penjelasan lagi dari istrinya, Aina. Dengan tekad yang kuat, pagi itu juga setelah selesai melakukan makan pagi hanya berdua dengan Aina. Tak ada Arya, karena sang putra sedang menginap di rumah Ibunya. Hans segera membuka obrolan. “Aina!” Aina mengalihkan pandangannya pada Hans, sorot mata penuh tanda tanya tampak jelas di matanya. Hans menghela napas sebentar. Tatapan serius ia pancarkan pada Aina. “Mau kapan kamu ngejelasin apa yang terjadi sama kamu dan Rey satu bulan lalu?”Mendeng
Melihat sang menantu hanya terdiam, Hani dengan cepat kembali memanggil nama menantunya itu. “Aina!”Aina yang tersadar dari lamunannya, menatap Hani lagi. “Ah… iya Mah. Ada apa?”Hani menghela napas kasar. “Jawab pertanyaan Mamah!”Aina yang memang tadi mengatakan jawaban dari pertanyaan Hani, di
Malam harinya, tampak Aina yang sedang tidur. Terusik saat merasakan telapak tangan seseorang menyentuh dahinya. “Hans!” ucapnya di saat membuka kedua kelopak mata, melihat sang suami sedang duduk di samping ranjangnya.Terkejut dengan Aina yang tiba-tiba terbangun, tentu membuat Hans menarik telap
Hans lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kasar. “Oke!” ucapnya tanpa diduga dan disangka-sangka oleh Aina.Tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Aina tentu saja menatap Hans, dengan bola mata yang sudah kembali membulat sempurna. “Seriusan?” Hans menatap Aina dengan tatapannya yang dal
Dini yang mendengarkan hal yang mengejutkan itu, tentu saja merasa tercengang. “Itu ga mungkin!” ucapnya saking tak percayanya dengan apa yang didengarnya.Dengan raut wajahnya yang masih datar, Hans kembali berkata. “Kenapa ga mungkin?”“Karena bagaimana bisa seorang suami—” merasa tak bisa menyel







