Share

Sentuhan Dahsyat Dokter Midas
Sentuhan Dahsyat Dokter Midas
Author: VityGether

BAB 1

Author: VityGether
last update Last Updated: 2024-03-07 18:05:08

“Heh, Otak Udang! Matamu buta ya? Tidak lihat rumah perlu dibereskan?”

Midas tidak menyahut mendengar teriakan itu. Namun, ia langsung datang sambil membawa plastik hitam besar dan membereskan kekacauan yang ada.

Malam semakin larut di kediaman keluarga Lupes. Mereka sekeluarga baru saja mengadakan pesta.

Anak lelaki pertama mereka telah diangkat menjadi dokter di rumah sakit terbaik International Hospital. Jelas saja mereka sangat senang. Untuk masuk ke sana tidaklah mudah. Hanya dokter pilihan dengan prestasi luar biasa yang dapat masuk ke sana.

Karena acara itu, tentu saja rumah sangat berantakan dan dipenuhi sampah.

"Jangan lupa semua baju yang berada di belakang. Lalu semua piring yang kotor. Cuci semua. Jangan sampai ada yang tersisa."

Midas hanya mengangguk mendengar perintah dari anak pertama keluarga itu, Brian, yang saat ini tengah mabuk.

Namun, saat ia hendak memasukkan semua sampah dan botol bir yang berserakan di depan kolam renang, Brian tiba-tiba saja menendangnya dengan keras hingga Midas jatuh ke kolam.

Byur!

"Haha! Kolam itu juga banyak sampahnya, tahu!” teriak Brian lagi. Tampaknya ia menikmati momen ketika ia bisa mengganggu Midas. "Kau menunggu perintahku ya? Kenapa aku harus memerintahmu? Seharusnya kau bisa mengerti tugasmu!"

"Hei, dia sudah berusaha. Lagi pula, rumah ini sebesar lapangan. Mana bisa dia mengerjakan sendiri?" Adik Brian tidak tahan melihat ini. Dia mendorong kakaknya dengan kasar.

"Hei, aku ini membayarnya. Bukankah dia membutuhkan uang untuk hidup? Ibu memang bodoh sudah memungutnya di jalanan. Seharusnya dia tahu posisinya di rumah ini." Brian tersenyum sinis. Dia tidak menerima pendapat dari adiknya yang berusaha membantu Midas naik ke permukaan.

"Benar kan, Midas?" Brian terus berteriak kepada Midas yang masih memunguti sampah dengan basah kuyup.

Sang adik hanya bisa menggelengkan kepala melihat kejadian ini. Dia mendekati Midas dan menepuk pundaknya. "Biarkan saja pelayan yang melakukan ini." Ardi menarik tangan Midas, "jika kau membutuhkan sesuatu, kabari aku."

"Terima kasih, Ardi." Midas menoleh dan tersenyum setelah menjawabnya. Namun, Midas tetap melanjutkan tugasnya. Mau bagaimana lagi. Nyonya rumah di sana sudah membantunya untuk tetap hidup. Dia sangat paham posisinya.

"Aku beritahu padamu. Kau tidak perlu berbaik hati kepadanya. Dia dipungut di jalanan. Kita sudah berbaik hati selama ini. Permasalahan yang dialami Midas, apa kau bisa membantunya? Hei, dia ini mantan narapidana." Brian masih tidak menyerah, "jika bukan karena kita, bagaimana dia bertahan hidup?"

"Hentikan omong kosong itu!" teriak Ardi.

"Sudahlah." Midas menarik lengan Ardi sambil menggelengkan kepala. "Beristirahatlah. Besok kau harus bekerja."

Dalam keadaan kesal, Ardi meninggalkan mereka. Brian tertawa keras dan puas dengan dirinya.

"Kau sebaiknya melakukan tugasmu dengan baik. Jika tidak, aku akan menghajarmu."

"Tuan Brian. Nyonya sesak napas!" Tiba-tiba salah satu pelayan di sana berteriak.

"Bawa peralatanku ke kamarnya!"

Brian bergegas menuju kamar ibunya dengan panik. Midas melempar kresek sampah yang semula dia pegang begitu saja, kemudian berlari mengikuti Brian. Terlihat semua orang berkumpul di dalam dengan panik.

"Brian, kau dokter terbaik. Lakukan sesuatu!" teriak Ardi.

"Diam! Biarkan aku bekerja." Brian segera membuka peralatan dokternya setelah pelayan memberikannya. Dengan cekatan dia memeriksa ibunya.

Midas menatap tajam Brian. Dia mengepalkan kedua tangannya. 'Tidak! Bukan seperti itu cara dia memeriksa Nyonya.' Midas semakin mengatur getaran jantungnya yang berdetak hebat. Apalagi melihat wanita yang sudah membantunya hidup malah tidak bisa bernapas.

"Brian! Apa-apa'an ini?!" Ardi menarik lengan saudaranya. Dia sangat marah sambil menunjuk ibunya yang semakin melotot dan tidak bisa bernapas.

"Kau dokter terbaik. Apa ini hasilnya? Kau bisa memeriksa atau tidak!"

"Diam! Aku masih melakukan tugasku." Brian tak mau menyerah. Dia terus memeriksa ibunya.

'Seharusnya dia tidak menekan kanan jantungnya. Itu akan membuatnya malah mati!' Midas ingin melangkah maju dan menghentikan itu. Tapi, bagaimana bisa?

"Panggil ambulan!" Brian menyerah dan berdiri. Mendengar hal itu, Ardi segera memanggil ambulan.

"Kau mabuk dan tidak becus! Pergi dan bersihkan dirimu!" Ardi sangat marah. Dia mendorong Brian keluar kamar.

"Aku tidak bisa memeriksa karena tidak memiliki alat. Di rumah sakit aku akan menyembuhkan Ibu." Brian memegang kepalanya. Dia berjalan mondar-mandir kebingungan sampai ambulan datang.

Ardi berlari menuju kamar bersama Brian setelah para petugas masuk ke dalam. Namun, apa ini? Sang ibu memegang telapak tangan Midas dan tersenyum? Beliau dapat bernapas dengan sangat baik.

Mereka berdiri kaku. Tidak percaya dengan penglihatan mereka. Kakak adik itu sama-sama berjalan mendekati ranjang.

"Di mana pasien?" tanya salah satu petugas ambulan yang berada di belakang mereka.

"Aku baik-baik saja. Kalian pergilah," balas Nyonya Lupes dengan tersenyum ke arah beberapa petugas ambulan yang berdiri di samping pintu kamar.

Aneh. Nyonya seketika baik-baik saja. Bahkan, terlihat segar? Brian segera memeriksanya kembali. Midas pun menyingkir karena mendapat pelototan tajam dari Brian.

Ardi yang merasa bersalah, dalam diam mengantar para petugas ambulan untuk meninggalkan rumah. Tentu saja dia meminta maaf dan memberikan beberapa lembar uang.

"Lihatlah. Tentu saja aku memeriksanya dengan benar," ucap Brian tersenyum menatap Ardi yang kini terdiam saat kembali masuk ke dalam kamar. Dia malu karena sudah memaki kakaknya tadi.

"Aku dokter terbaik. Lihatlah. Ibu sangat sehat," lanjut Brian lalu pergi dari sana. Dia berjalan sambil memicingkan mata ke arah Ardi.

Brian terus berjalan dengan cepat dan berpikir, "Kenapa Ibu mendadak baik? Padahal aku tidak melakukan apa pun," gumamnya kemudian mengambil rokok dan menyalakannya saat sampai di halaman belakang rumah.

Di dalam kamar, Lupes semakin tersenyum melihat Ardi mendekat.

"Midas, biarkan ibuku beristirahat." Ardi mendekati ibunya dan tersenyum. "Jika Ibu membutuhkan sesuatu, tekan tombol pemanggil."

"Yah. Ibu memang membutuhkan istirahat." Wanita itu tersenyum saat Ardi mengecup keningnya. Dia pun melambai ke arah Midas, "kau sangat berantakan. Istirahat dan tidur."

"Baik, Nyonya."

Ketika Midas sudah selesai dengan pekerjaannya dan ingin ke kamar, Brian berteriak, "Midas! Aku mau bir dan rokok. Belikan aku seperti biasanya!"

"Tapi ini sudah tengah malam." Wajah Midas mengerut. Menunjukkan protes.

"Diam keparat! Aku akan memberimu lebih!" Brian melempar beberapa lembar uang tepat mengenai wajah Midas.

"Baiklah." Midas memunguti uang itu dan berjalan keluar dari kediaman.

"Dasar penjahat. Makan kotoran pun kau pantas."

Midas mendengar ejekan Brian. Dia hanya menghela napas. Tidak ada yang salah dengan ucapan itu. Dirinya memang orang tidak bermartabat dan miskin.

Midas segera berlari menuju supermarket yang buka 24 jam. Walaupun jauh dari lokasi kediaman, Midas harus melakukan perintah itu.

Dia bergegas menyeberang. Jalanan sangat sepi. Namun, tak lama seorang wanita memakai blazer hitam dan rok pendek berlari mendekatinya. Dia tidak sendiri. Ada beberapa pria garang berjas hitam di belakang wanita itu.

"Ah, syukurlah. Aku akhirnya bisa menemukanmu," ucap si wanita sambil menarik napas panjang.

"Dokter Midas. Waktunya Anda kembali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
danangafandi215
next bagus ceritanya
goodnovel comment avatar
Teci Ardina
awal yang bagus
goodnovel comment avatar
Sejahtera Selalu
awal yang bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 60

    Ardi yang berdiri beberapa langkah di belakang Midas tak bisa menahan senyum kecilnya saat melihat Midas sengaja menatap kamera CCTV dan tersenyum dingin. Itu bukan senyum biasa, tapiitu provokasi. Ejekan yang rapi, tepat sasaran. Ardi tahu betul, Alma akan mengamuk begitu melihat rekaman itu.“Dia pasti gila malam ini,” gumam Ardi pelan, nyaris tertawa.Midas hendak melangkah lagi, namun Ardi tiba-tiba menghentikannya. “Midas,” katanya lirih, serius, “apa kau… pernah benar-benar mencintai Alma?”Langkah Midas terhenti. Lorong terasa semakin sunyi. Ia tidak menoleh, hanya menarik napas singkat. “Dulu,” jawabnya singkat. “Hati itu pernah ada.” Lalu ia menambahkan tanpa ragu, “Sekarang, hatiku milik Mita.”Ardi menghembuskan napas lega, seolah beban lama ikut terangkat. Senyum tulus muncul di wajahnya. “Syukurlah.”Midas melirik sekilas, lalu kembali memasang ekspresi dingin. “Ayo. Kita tidak punya banyak waktu.”Keduanya pun kembali bergerak menyusuri lorong gelap, bayangan mereka meny

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 59

    Langit sore itu teduh ketika Midas berdiri di hadapan ayah Mita, ditemani Ardi dan Clara. Ruang tamu sederhana itu terasa sempit oleh ketegangan yang tak diucapkan. Lelaki paruh baya di hadapannya duduk kaku, rahangnya mengeras, tatapannya menyimpan luka lama. Sebuah luka dari tahun-tahun yang penuh ancaman dan kegagalan.“Aku tak bisa menyerahkan anakku begitu saja,” ucap ayah Mita akhirnya. Suaranya datar, tapi gemetar. “Hidupnya sudah cukup sulit. Aku tak mau dia kembali jadi sasaran.”Midas mengangguk. Tidak membantah. Tidak membela diri. Ia hanya berdiri tegak, tangan terkatup, sikapnya tenang. “Saya mengerti,” katanya pelan. “Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang untuk bertanggung jawab.”Clara mendadak berdiri dan memandang lelaki itu. Satu kalimatnya mengubah segalanya.“Kakek Midas adalah Toshiro.”Ayah Mita terperanjat. Wajahnya yang semula tegang mendadak memucat, lalu perlahan mengendur. Nama itu bukan sekadar legenda, tapi itu adalah perisai. Perlindungan yang nyat

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 58

    Mita masih menatap lelaki di hadapannya, seolah takut sosok itu menghilang jika ia berkedip terlalu lama. Lelaki di hadapannya adalah Midas yang sama, namun juga berbeda. Tatapannya kini dingin, sikapnya tegas, bahunya memikul terlalu banyak rahasia. Menjadi istri lelaki seperti itu… jantung Mita berdegup tak menentu. Ia mencintainya, itu pasti. Tapi cinta saja tak selalu cukup.“Midas,” suaranya bergetar, menahan ragu yang mengendap. “Apa… kau benar-benar mencintaiku?”Midas menoleh. Tak ada senyum berlebihan, tak ada kata puitis yang dipaksakan. Hanya kejujuran yang telanjang. Ia melangkah mendekat, meraih kedua tangan Mita, menautkannya di dadanya. “Dengar detaknya,” ucapnya pelan. “Setiap detik yang masih ada, nyawaku sekarang milikmu. Aku… mencintaimu, dan aku sadar itu.”Mita tercekat.“Aku sudah kehilangan terlalu banyak,” lanjut Midas, nadanya rendah namun pasti. “Dan aku tak akan kehilanganmu. Aku akan menemui ayahmu. Bukan untuk formalitas. Tapi untuk meminta izin, dengan ca

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 57

    Midas berdiri membelakangi taman belakang rumah Lupes. Cahaya lampu taman jatuh samar di punggungnya, memantulkan bayangan yang tampak lebih letih dari biasanya. Angin malam berhembus pelan, namun dadanya tak ikut tenang. Terlalu banyak kejadian, terlalu banyak nyawa dipertaruhkan.Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya.“Aku akan membantu,” suara Mita lembut, namun tegas. “Sampai semuanya selesai.”Midas tidak langsung menoleh. Tatapannya tetap pada pepohonan gelap di kejauhan. “Kau tahu apa yang kau lakukan?” tanyanya rendah. “Menularkan virus itu ke Tamrin… satu kesalahan kecil saja, dan kau bisa menghilang selamanya. Dunia tidak akan memberimu kesempatan kedua.”Mita terdiam. Namun Midas melanjutkan, suaranya semakin dingin. “Dan satu hal lagi. Kenapa kau ke negara J?” Ia akhirnya berbalik, menatap Mita lurus. Tatapan itu tajam, jauh berbeda dari Midas yang biasa ia kenal. “Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku, padahal kau tahu itu sangat berbahaya? Seharus

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 56

    Tomi menghampiri Alma dengan wajah merah padam, amarahnya nyaris tak terbendung. Tangannya mengepal, napasnya memburu. “Kau bilang ayahku akan membaik,” katanya tajam, nyaris bergetar. “Kau bersumpah ramuan itu menyembuhkan. Tapi lihat sekarang!”Alma menoleh dingin, namun Tomi tak peduli. “Setiap kali ramuan itu diberikan, kondisinya justru semakin parah. Bukan hanya ayahku, tapi pasien lain juga. Mereka kejang lebih sering, nafasnya memburuk. Kau tahu apa akibatnya?” Tomi tertawa pahit. “Pasien mulai kabur. Keluarga mereka menarik paksa. Mereka takut tertular. Rumah sakit ini kosong perlahan.”Ia menunjuk layar monitor di dinding yang menampilkan berita. “Masyarakat mulai bertanya. Media menekan. Mereka menuntut jawaban soal J Blood. Reputasi rumah sakit hancur, Alma. Dan saat itu terjadi, kau akan jatuh. Rumah sakit ini akan bangkrut.”Kata-kata itu menghantam Alma seperti pisau. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. “Diam,” desisnya.Namun Tomi melangkah lebih dekat. “Kau bukan l

  • Sentuhan Dahsyat Dokter Midas   BAB 55

    Alma berdiri di tengah kerumunan dengan dagu terangkat tinggi, senyumnya penuh kemenangan. Di hadapan wartawan, dewan rumah sakit, dan para investor, ia berbicara lantang tentang kejeniusannya, tentang ramuan yang mampu menaklukkan penyakit langka yang selama ini dianggap kutukan. Setiap kata keluar dengan keyakinan mutlak, seolah tak ada lagi celah untuk diragukan. Tepuk tangan menggema, kepercayaan publik mengalir deras padanya.Beberapa pengacara maju, berbisik singkat sambil menyerahkan dokumen. Tanda tangan demi tanda tangan hampir selesai. Kekuasaan rumah sakit itu, yang dulu begitu sulit digenggam, kini nyaris sepenuhnya berada di tangannya. Alma tertawa kecil, tawa puas seorang pemenang yang merasa tak tersentuh.Ia melangkah masuk ke kantor Clara. Ruangan terbesar di sana yang selalu dia inginkan dan bayangkan.Ruangan itu masih sama, dingin dan rapi, namun kini terasa seperti takhta. Alma duduk di kursi besar di balik meja, menyandarkan tubuhnya dengan santai. Jemarinya meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status