Compartilhar

BAB 85 ONE-NIGHT STAND

Autor: Grei Graw
last update Data de publicação: 2026-10-24 10:50:23

Keintiman di atas tempat tidur itu berubah hangat di tengah remang cahaya kamar. Julian menahan bobot tubuhnya di atas Dara, memastikan dirinya tidak terlalu menindih wanita yang masih berada di bawah pengaruh alkohol tersebut. Ciuman mereka berlangsung makin dalam, menumpahkan segala emosi yang selama ini tertahan di dada masing-masing.

Dara meremas bahu tegap Julian erat-erat, membiarkan jemarinya meraba kain kemeja putih pria itu. Dalam benaknya yang masih samar, ia merasa seolah-olah dekapa
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 153 SEBUAH ULTIMATUM

    Dara menggelengkan kepala perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Kalau begitu, masalahnya jauh lebih besar dari yang kita kira, Julian. Kamu tidak bisa melawan mereka sendirian.""Aku tidak sendirian, Dara," potong Julian cepat. Pria itu menatap lurus ke mata Dara dengan sorot penuh keyakinan. "Aku sudah memutuskan sejak semalam. Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur oleh perjanjian bisnis yang kotor itu, apalagi sampai mengorbankan kamu dan Claudya.""Tapi risikonya terlalu besar," balas Dara dengan suara bergetar. "Keluargamu bisa kehilangan segalanya. Dan Karen... perempuan itu tidak akan tinggal diam melihat posisinya terancam."Julian bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati Dara yang masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Tanpa ragu, pria itu meraih kedua tangan Dara dan menggenggamnya erat. Hangat telapak tangan Julian sedikit meredakan gemetar di jemari Dara."Biarkan aku mengurus semuanya. Aku akan cari cara lain untuk menyelamatkan pe

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 152 KONSEKUENSI KECIL DARI KEPUTUSAN BESAR

    Julian mengabaikan panggilan dari Stefan sejenak. Ia langsung menggeser ikon hijau pada layar ponselnya untuk menerima panggilan dari nomor asing tersebut."Halo?" ucap Julian dengan suara berat dan waspada, menduga-duga apa lagi masalah yang harus ia hadapi malam ini."Selamat malam, apa benar ini dengan Bapak Julian?" suara seorang pria terdengar tegas dari seberang sambungan, diiringi suara bising kendaraan bermotor di latar belakang.Kening Julian berkerut dalam. "Ya, benar. Ini siapa?""Saya petugas kepolisian yang bertugas di sektor wilayah tempat kejadian kecelakaan tadi sore, Pak. Kami hanya ingin mengonfirmasi keadaan Bapak, sekaligus menanyakan kondisi wanita yang bersama Bapak tadi—Ibu Dara," ujar petugas tersebut dengan sopan.Julian menarik napas lega secara perlahan, meski ketegangan di dadanya belum sepenuhnya hilang. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding."Ah, iya, Pak. Kami sudah berada di tempat aman. Kondisi kami baik-baik saja, tidak ada luka serius," jawab Julian

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 151 ANTARA PAKSAAN DAN KEBENARAN

    Mendengar kalimat itu, Karen langsung berdiri dari sofa sambil menjerit histeris. Wajahnya merah padam, menyangkal dengan suara bergetar dan air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya."Jangan asal bicara, Julian! Kamu memfitnahku!" teriak Karen histeris, menatap Julian dengan kilat amarah dan kepanikan yang luar biasa.Viktor yang tadinya duduk dengan senyum meremehkan kini ikut berdiri secara spontan. Wajah pria itu mendadak pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia kehilangan kata-kata, tidak menyangka Julian akan berbicara seperti itu.Ayah Julian terhuyung mundur satu langkah, mencengkeram tepi meja ruang tamu dengan jari-jarinya yang gemetar hebat. Napas pria paruh baya itu memburu, menatap Karen dan Viktor bergantian dengan pandangan tidak percaya."Apa benar apa yang dikatakan Julian, Karen?" suara Ibu Julian terdengar bergetar lemah, menatap calon menantunya dengan tatapan penuh kekecewaan dan jijik. "Jawab Ibu!"Karen menggeleng kuat-kuat, berlari mendekati I

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 150 JANGAN SOK SUCI!

    Julian membaca pesan itu berulang kali. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menyembunyikan kepanikan luar biasa di dadanya. Ia tahu betul watak ayahnya. Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Jika ia tetap diam di sini, ayahnya benar-benar akan datang membawa Karen dan menciptakan kekacauan di rumah Dara, tepat di saat kondisi Dara dan ayahnya sedang sangat lemah."Ada apa, Julian?" tanya Dara dengan suara pelan. Wanita itu menangkap perubahan drastis pada raut wajah Julian yang mendadak pucat dan tegang.Julian langsung mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menata suaranya agar terdengar setenang mungkin di depan Dara."Tidak ada apa-apa, Dara. Hanya urusan pekerjaan," jawab Julian berbohong, berusaha tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan."Jangan berbohong, Julian," desis Dara tajam. Matanya menyelidik lekat-lekat ke dalam mata pria itu. "Aku melihat pesan masuk itu dari orang tuamu, kan? Mere

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 149 TRAUMA VS ANCAMAN BARU

    Dengan sisa tenaga dan rasa panik yang menyelimutinya, Julian mencari benda di sekitar hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyikut kaca spion samping demi mencari celah, atau mencari batu besar di pinggir jalan untuk memecahkan kaca jendela belakang agar bisa membuka pintu.Julian menyambar batu pembatas jalan yang tergeletak di pinggir trotoar, lalu memukulkannya ke bagian sudut kaca belakang mobil SUV Dara hingga retak dan hancur. Dengan tergesa-gesa, ia memasukkan tangannya melalui celah pecahan kaca untuk meraih pengunci pintu dari dalam. Begitu terdengar bunyi kuncinya terbuka, Julian langsung menyambar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar."Dara! Kamu bisa dengar suara aku?" panggil Julian dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh kedua bahu Dara.Dara merintih pelan. Kesadarannya perlahan kembali meski kepalanya masih terasa sangat pening dan berputar. Saat membuka mata, hal pertama yang ditangkap oleh pandangannya adalah wajah Julian yang dipenuhi peluh,

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 148 BENTURAN KERAS DI JALAN RAYA

    Viktor terpaku di tempatnya. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah tangan Julian yang masih menggenggam pergelangan tangan Dara. Suasana basemen parkiran mendadak terasa makin dingin dan sunyi."Dara..." panggil Viktor, suaranya terdengar bergetar karena terkejut.Dara menatap Viktor dengan pandangan dingin. Rasa sedih yang tadinya sempat terselip kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi kekecewaan yang sudah bulat. Ia tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari mulut pria itu.Saat Viktor melangkah maju dan hendak membuka suara untuk membela diri, Julian tiba-tiba bergerak. Tanpa melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Dara, tangan kiri Julian membuka pintu bagian pengemudi sedan hitamnya yang terparkir tepat di samping mereka. Dengan cepat, ia meraih sebuah map cokelat tebal dari dalam kabin."Sebelum kamu sibuk mencari pembelaan atau membalikkan keadaan, lebih baik kamu lihat ini dulu Viktor," ucap Julian tajam, suara dinginnya.Julian membuka map tersebut dan menari

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status