Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 135: Apa Tujuannya Sebenarnya?

Share

CHAPTER 135: Apa Tujuannya Sebenarnya?

Author: Heiho
last update publish date: 2026-03-01 15:02:44
Jefri menatap lamat-lamat putrinya yang masih menundukkan kepala. Putrinya itu baru saja mengaku semua hal padanya dan Jefri bisa menyimpulkan kalau Rara memang sudah merencanakan ini sedari awal.

Jefri menghela napas pelan. Kalau memang begitu, dia tidak bisa menyalahkan Hani dan Septa sepenuhnya karena sudah berbohong. Mereka pasti melakukannya karena diminta Rara untuk merahasiakannya.

“Apa ayah beneran sudah bertemu Rara?” tanya Hani pelan, memecahkan kesunyian di antara mereka. Ia akhirnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 219: Sia-Sia

    “Jadi, tugas utama kita sekarang adalah presentasi di acara pesta itu?” tanya Merphilus yang dijawab anggukan Hani. “Baiklah. Catat itu, Liam,” suruh Merphilus sambil melirik Liam di sampingnya.“Baik, pak,”Merphilus menatap kembali dokumen di tangannya. “Lalu, kapan dilaksanakan meeting besar itu?” tanyanya lagi tanpa mengangkat wajahnya. “Jadwalnya akan menyusul. Tapi, kemungkinan akan dilaksanakan dalam 2-3 hari lagi,” balas Hani. Merphilus mengangguk. Ia lanjut membaca isi dokumen itu. Hani menghela napas pelan. Pertemuan hari ini berjalan lancar lagi. Sepertinya, ia sudah mulai cukup terbiasa melakukan pertemuan seperti ini. Ia bisa menjelaskan lebih baik dari terakhir kali. Meski sesekali masih kebingungan menjelaskan.Mungkin, ini karena Merphilus juga sudah memberikan ruang yang nyaman untuknya. Sama seperti awal pertemuan, pria itu juga sekarang tidak menertawakan atau mengejeknya tiap dia salah bicara. Pria itu bahkan terkesan menghormatinya, seolah mereka adalah rek

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 218: Kalian Dekat, kan?

    “Hah?! Kenapa tiba-tiba begitu?!” seru Hani tak terima, “Lagian, bukannya pesta itu tidak ada?”Jefri mendengus, “Mana mungkin tidak ada. Itu kan pesta penting. Kamu tidak lupa kalau pesta itu juga bertujuan untuk mengetahui proyek setahun ke depannya?”“Tentu saja aku ingat,” dengus Hani.Pertanyaan Hani itu sebenarnya berdasarkan rumor para staf juga. Ia sempat mendengar para staf saling bergosip tentang keberlangsungan pesta itu.Hal yang dimaklumi mengingat sekarang sudah jauh dari agenda pesta awal tahun biasanya.“Pestanya hanya diundur, nona,” jelas Leo yang membuat Hani menoleh padanya, “Pak direktur sengaja mengundurnya karena kemarin ingin fokus dengan pernikahannya bersama Nona Rara.”Hani mendengus. Memang enak ya jadi direktur. Bisa mengatur seenaknya saja. . “Tapi, tetap saja ayah lagi-lagi bicara mendadak seperti ini,” desah Hani. Ia bersedekap. “Tuan Merphilus juga pasti protes kalau tiba-tiba begini.”“Karena itu, sudah jadi tugasmu untuk membuatnya tidak marah,” uca

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 217: Sekali Saja

    “Selamat pagi, Rara.” Rara melenguh pelan saat merasakan kecupan di sekujur wajahnya. Ia perlahan membuka mata dan melihat Jefri tersenyum di depannya. “Pagi, mas,” sapanya dengan suara serak. Ia berdehem sejenak karena merasakan tenggorokannya tidak enak. Jefri melebarkan senyumnya. “Biar mas ambilkan minum,” ucapnya lalu mengambil gelas di atas nakas. Pria itu lalu membantu Rara untuk duduk. Tangannya yang lain menopang punggung Rara. Setelah posisi Rara pas, Jefri segera mengarahkan gelas itu ke mulut Rara. Membantunya untuk minum perlahan. “Kamu berteriak terlalu keras semalam,” ucap Jefri geli. Wajah Rara memerah. Kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia menggeleng-geleng. “Jangan dibahas,” ucapnya malu. Jefri tertawa geli. Ia menyenderkan wajahnya ke kepala Rara. “Tapi, semalam kamu memang berteriak lebih kencang dari biasanya,” ucap Jefri melanjutkan, tidak memedulikan peringatan Rara barusan. “Apa semalam lebih enak dari biasanya?” “A-aku nggak mau bahas,”

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 216: Mas Ahli

    “Bukan apa-apa!” bantah Rara sambil mengalihkan pandangannya. “Kamu membuat mas semakin penasaran.”Rara mengaduh pelan saat Jefri kembali mengarahkan wajahnya ke hadapannya. Ia mengerut melihat tatapan menggebu Jefri. “Katakan,” ucap Jefri tegas sambil sedikit meremas wajah Rara.Rara menelan ludah. Ia menggulirkan bola matanya ke arah lain lalu berkata gagap, “A-aku kira, hal baru tadi maksudnya …. Ga-gaya bercinta baru …. Atau pakai alat-alat aneh ...”“Alat aneh?” Jefri mengerutkan alisnya, terlihat berpikir sejenak. Ia kemudian tersadar. “Maksudmu sex toy?”“Jangan diucapin!”Jefri menyeringai. Tatapannya terlihat geli ke Rara yang memerah padam. “Kita bisa lakukan kalau kamu mau–”“Nggak!”Jefri tertawa. Istrinya ini cepat sekali membantahnya. “Padahal itu ide kamu sendiri,” ucap Jefri ringan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Meski mas sedikit kaget kamu memiliki ide tersebut.”Ucapan itu membuat Rara semakin malu. Ia benar-benar merasa seperti orang mesum sekarang. A

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 215: Hal Baru

    ‘Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu?’ batin Rara malu mengingat ucapan Jefri tadi. Meski ucapan Jefri tidak salah, tapi tetap saja atmosfer malam ini terasa berbeda dari malam-malam bersama mereka biasanya!Rara mengubah lagi posisi duduknya di atas kasur. Kakinya bergerak gelisah. Di belakangnya, ia mendengar suara kucuran air. Jefri sedang mandi di dalam sana. Rara menghela napas, berusaha menghilangkan kegugupannya meski tidak berhasil. Hal ini membuat Rara merasa deja vu. Ia teringat dengan momen ‘kelas’ pertama bersama Jefri. Sayangnya, ia tidak bisa mengingat bagaimana cara menghilangkan kegugupannya itu. Rara hanya ingat semua dimulai dengan kecupan dan sentuhan pelan dari Jefri, lalu mereka—“Kamu belum berganti baju?”Rara tersentak dari lamunannya. Ia segera mendongak dan wajahnya memerah padam.Jefri menggunakan baju handuk yang memperlihatkan dada bidangnya. Tetes air mengalir di badannya, begitu juga dengan ujung-ujung rambutnya. Pria itu segera mengusap rambutnya

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 214: Kamu Menikmatinya, kan?

    ‘Padahal aku sudah susah payah menjauhinya!’ gerutu Hani dalam hati sambil menjaga jarak seaman mungkin di sebelah Merphilus.Pada akhirnya, Hani terpaksa mengikuti perintah Jefri. Lagipula, ayahnya itu juga sangat memaksa dan Hani tidak ingin ada keributan karena hal itu.Setidaknya keadaan masih ramai sepanjang mereka berjalan menuju lobi hotel. Jadi, kekhawatirannya bisa berkurang.Begitu juga ketika mereka di luar hotel. Hani menghela napas lega melihat banyaknya orang di luar.Ia menoleh ke Merphilus, “Di mana mobil anda, Tuan?”“Dia masih tertahan di depan hotel. Di sana sedikit macet katanya,” jelas Merphilus sambil menaruh kembali ponselnya di saku.Liam pasti habis memberitahunya lewat pesan.“Anda jadi masih harus menemani saya sekarang.”Hani tertawa kaku. Pria itu sedang mengoloknya kan sekarang?Ia pasti tahu kalau Hani sebenarnya sangat enggan menemaninya.“Sudah menjadi tugas saya untuk menemani anda,” ucap Hani seformal mungkin.Merphilus tersenyum. Terlihat mencurigaka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 129: Mempromosikan Motel

    [Ayah sudah mulai pindah tempat. Dia pergi ke kota Timur, sih, tapi tetap berhati-hati, ya!]Rara menghela napas membaca pesan Hani. Sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan tak sengajanya dengan Leo. akhirnya Jefri mulai bergerak ke daerah lain. ‘Berarti satu daerah totalnya tiga bulan, ya’ batin

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 125: Sekretaris Jefri?!

    “Apa?” Jantung Rara berdegup semakin kencang, “Apa maksud anda?” Leo mengamati lekat wajah di hadapannya. Matanya memicing. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan tebakannya itu. Meski sudah sering melihat foto Rara yang diberikan Jefri, tapi ia belum pe

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 130: Pelanggan Datang

    “Hari ini om Jefri pergi lagi untuk mencari Rara?” tanya Septa. Ia melirik Hani yang tengah merebahkan dirinya di sofa.“Iya. Dari kemarin juga kerjaannya begitu, sih,” balas

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 118: Jefri Mencari Rara

    “Kalian bilang belum bisa menemukannya?”Leo menelan ludah ketika mendengar nada dingin Jefri. Ia melirik para staf lain di ruangan itu yang ikut menegang sambil menatap Jefri yang berdiri di depan jendela, membelakangi mereka semua. “Be-benar, pak,” ucap salah satu staf gugup,

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status