ログインRachel segera masuk ke dalam restoran Hanz Barbeque begitu ia sampai. Matanya segera menangkap sosok Septa yang sedang duduk di pojok ruangan. Rachel segera mendekatinya.
Septa menaikkan alisnya heran begitu melihat wajah masam Rachel. Alisnya kemudian mengerut ketika Rachel duduk membanting dirinya di atas kursi. Wanita itu benar-benar terlihat kesal.“Apa terjadi sesuatu?” tanya Septa. Tidak biasanya ia melihat Rachel sekesal itu.Rachel mendengus, “Tidak usah pedulikan tante. Langsung saja ucapkan apa yang ingin kau omongkan!”Alis Septa semakin terlipat. Lagi-lagi muncul keanehan dalam diri wanita itu. Dalam keadaan apa pun, Rachel tak pernah berkata ketus seperti ini!“Hari ini aku melihat ruam merah di lengan Rara,” ucap Septa akhirnya, berusaha tidak memedulikan keanehan Rachel.“Bentuknya seperti kissmark,”Rachel segera mencondongkan wajahnya ke Septa begitu mendengar perkataan terakhir pria itu. Septa sendi‘Aku benar-benar tidak bisa memakai gaun ini,’ batin Rara resah ketika melihat pantulan dirinya di cermin yang sudah memakai gaun itu.Gaun yang memiliki model bahu terbuka itu membuat pundak Rara terekspos dan menampilkan dengan jelas kissmark yang ditinggalkan Jefri.Rara menggigit bibir. Ia merapihkan rambutnya, yang untungnya sedang digerai, untuk mencoba menutupi kissmark tersebut. Percobaannya berhasil, tapi hal itu tetap membuat Rara was-was karena tatanan rambutnya bisa saja berubah ketika ia bergerak yang akhirnya memperlihatkan kissmark itu lagi.Rara mengeratkan bibirnya. Sial! Kalau tahu begini, Rara akan menolak ketika ditawari tadi!Rara segera memutar cepat otaknya untuk
“Oh, iya. Sudah sembuh!” balas Rara.Rara buru-buru menaiki motor Septa agar percakapan barusan tidak berlanjut. Ia, tidak memerhatikan raut Septa yang berubah datar.“Ayo kita berangkat sekarang! Hani sama om Jefri pasti udah nunggu!” seru Rara ketika sudah di atas jok.Septa kembali tersenyum dan mengangguk. Setelah memberikan helm ke Rara, ia segera menjalankan motornya menuju hotel Diamond.Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di hotel Diamond. Rara terkagum-kagum melihat betapa megahnya hotel itu. Rasanya dua kali lebih besar dari hotel Amerson!“Ini memang hotel om Jefri yang terbesar di antar
Rachel segera masuk ke dalam restoran Hanz Barbeque begitu ia sampai. Matanya segera menangkap sosok Septa yang sedang duduk di pojok ruangan. Rachel segera mendekatinya. Septa menaikkan alisnya heran begitu melihat wajah masam Rachel. Alisnya kemudian mengerut ketika Rachel duduk membanting dirinya di atas kursi. Wanita itu benar-benar terlihat kesal. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Septa. Tidak biasanya ia melihat Rachel sekesal itu. Rachel mendengus, “Tidak usah pedulikan tante. Langsung saja ucapkan apa yang ingin kau omongkan!”Alis Septa semakin terlipat. Lagi-lagi muncul keanehan dalam diri wanita itu. Dalam keadaan apa pun, Rachel tak pernah berkata ketus seperti ini!“Hari ini aku melihat ruam merah di lengan Rara,” ucap Septa akhirnya, berusaha tidak memedulikan keanehan Rachel. “Bentuknya seperti kissmark,”Rachel segera mencondongkan wajahnya ke Septa begitu mendengar perkataan terakhir pria itu. Septa sendi
“Mungkin karena kalian sedang berhubungan gelap sekarang?”Rachel memerhatikan lamat-lamat reaksi yang akan dikeluarkan Jefri. Ia berekspektasi pria itu akan mengeluarkan tatapan mengancam padanya yang menuntun Jefri untuk tidak sengaja membongkar rahasianya. Tapi nyatanya, tidak ada perubahan di raut wajah pria itu. Berbeda dengan pikiran Rachel, Jefri justru menarik sudut bibirnya semakin tinggi dan mengangkat kedua bahunya santai. “Pikiranmu terlalu liar,” ucap Jefri tenang, “Hanya karena sebuah karet rambut yang lupa dikembalikan, kau berpikiran kemana-mana?”Rachel menggeram pelan. Ia mendengus kesal dan berbalik badan kemudian meninggalkan Jefri di ruangan tersebut. Begitu pintu tertutup, raut wajah Jefri berubah datar. Sorot matanya ikut berubah menggelap. Ia menatap karet rambut di tangannya lalu memasukkannya kembali ke kantong vestnya. Jefri kemudian ikut melangkah keluar dari ruangan. Kate yang daritadi duduk menu
[Ayo kita ketemu malam ini, Tan]Rachel menyeringai lebar saat melihat pesan yang dikirimkan Septa. Ia menaruh kembali ponselnya dan bersenandung pelan. “Anda terlihat senang, nyonya,” ucap penata riasnya yang sedang membersihkan make-up di wajah Rachel. Wanita itu memang baru saja melakukan pemotretan untuk majalah fashion terkenal di seluruh negara. Rachel tertawa pelan, “Mungkin karena aku akan mendapat jackpot malam ini,”. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke Kate yang berdiri di sampingnya. “Apa Jefri sudah datang ke hotel Diamond?” tanya Rachel. Hotel diamond adalah tempatnya akan mengadakan fashion show di akhir pekan nanti.Kate mengangguk. “Beliau baru memberitahu saya tadi,” beritahunya. Rachel mengangguk. Seringai di wajahnya berubah menjadi senyum lebar. Sudah lama ia tak bertemu dengan pria itu. Terakhir ia melihatnya malah saat pria itu mendatangi si gadis jalang! Apa dia perlu melakukan sesuatu padany
Jefri tak segera menanggapi. Ia menatap Rara datar dengan tatapan yang menggelap. Rara tidak memahami maksud dari tatapan itu, tapi ia menduga kalau pria itu marah akibat ucapannya tadi. Tapi, kenapa ia harus marah? Toh, ucapan Rara tidak salah juga. Alis Rara mengernyit ketika senyum kecil terbentuk di wajah pria itu. Ternyata dia tidak marah?Meski begitu, Jefri masih tak bersuara dan keheningan itu terasa canggung bagi Rara. Jadi, ia segera memalingkan pandangan dan bersiap untuk menutup pintu hingga suara Jefri menghentikannya. “Kalau om bilang, om maunya sama kamu, gimana?”Apa-apaan ini? Dia benar-benar mempermainkannya, ya?Rara mendengus pelan. Tanpa menatap Jefri, ia menjawab, “Om cuma merasa begitu karena udah lama bercinta sama aku aja,”Jefri ber-hm pelan. Rara yang mendengarnya mengeratkan pegangannya di pinggir pintu. Ia tersentak ketika tangan Jefri kembali mengusap rambut Rara. “Benar, kamu p







