ANMELDEN“Kamu terlihat muram. Apa terjadi sesuatu?”
Rara menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Jefri. Ia menatap Jefri yang menggunakan jubah mandi.Biasanya, ia akan merasa gugup tiap melihat Jefri berpenampilan seperti ini. Tapi, ia kini tidak merasakan apa-apa karena moodnya sedang turun.Padahal harusnya ia tidak merasa begini karena keputusannya sendiri.Ya, dia sudah memantapkan diri untuk menjodohkan Sandra dengan Jefri. S“K-kak Sandra?” Rara menelan ludah, “Kenapa kakak tiba-tiba di sini? Bukannya tadi tidur?” Raut wajah Sandra bertambah masam membuat Rara terhenyak. Baru kali ini ia melihat Sandra seperti itu! Apa yang terjadi padanya? “Ayo kita balik, Ra,” ucap Sandra dingin. Rara kembali menelan ludah dan mengangguk pelan. Ia tidak berani bilang kalau Jefri belum memberinya piring kotor karena tertekan dengan aura mencekam dari Sandra. Rara akhirnya berbalik badan. Ia lalu mendorong troli kembali ke arah kantor. Sandra ikut berjalan di sampingnya. Ia melirik Jefri dengan tajam dan menggigit kuku dengan kesal. Sial, ia sangat terlambat tadi! Padahal sudah susah payah ia menjauhkan keduanya selama ini. Bahkan, ia sudah sampai berhasil memutus kontak keduanya hingga mereka benar-benar tidak bertemu. Tapi, malam ini dia malah kecolongan! Harusnya dia tidak tidur tadi. “Kenapa kamu
“Biar aku yang mengantar makan siangnya. Kamu pergi belanja saja,” celetuk Sandra ketika Rara bersiap mendorong troli makan. Rara menoleh ke Sandra. Ia menggeleng, “Aku bisa antarkan ini dulu, kok. Kakak pasti lelah kan habis masak?” “Tidak juga,” Sandra mengangkat bahunya santai, “Sudah, sudah. Sini biar aku yang antar. Kamu pergi belanja sekarang saja, nanti keburu makin panas,” Rara menghela napas. Ia akhirnya melepaskan troli tersebut pelan-pelan yang segera direbut Sandra. Wanita itu segera membawanya keluar di bawah tatapan Rara. Lagi-lagi seperti ini. Sudah beberapa hari ini Sandra tak membiarkannya untuk mengantar makanan. Padahal, tiap giliran Rara mengantar makanan, Sandra lah yang akan memasak makanan. Dan Rara tahu hal itu sangat melelahkan. Tapi, selalu saja Sandra bersikeras untuk mengambil giliran Rara. ‘Aku harus menanyakan alasannya nanti setelah pulang kerja,’ batin Rara. Dia memang sudah dari lama ingin bertanya, tapi selalu lupa karena kesibukan di motel.
‘Wanita itu memang bukan tunangannya,’ batin Hani sambil bolak-balik melihat database di depan layar komputernya. Sedari datang ke kantor, ia langsung membuka database para staf hotel dan memerhatikan satu-satu foto para staf di sana. Mencari sosok wanita yang semalam bersama Leo. Meski kemarin ia sudah mengetahui acara yang didatangi Leo itu adalah reuni bersama teman SMAnya, tapi Hani ingin lebih memastikannya lagi. Dan hasilnya nihil. Tidak ada satu pun foto yang sesuai perawakan wanita kemarin di database staf Hani menghela napas lega. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan mengusap seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Sudah Hani duga, ia terlalu terpengaruh omongan Septa. Memang sebaiknya ia memercayai instingnya sendiri. Pintu kantornya diketuk. Tak lama, Leo muncul dari sana. Ia mengangkat alisnya melihat Hani duduk kelelahan di atas kursi. “Apa yang habis anda lakukan, nona?” tanya Leo sambil berjalan mendekat. Ia mengintip ke layar komputer Hani. “Anda sedang m
“Maksud kakak apa?” Rara berusaha tertawa, “Itu cuma candaan garing om Jefri aja, kok!” “Hmm, entahlah. Tapi, rasanya tidak seperti itu,” Sandra mengangkat bahunya sambil memasang wajah sangsi. Apa yang terjadi dengan Sandra? Biasanya dia hanya tertawa dan menerima info tentang Jefri dengan senang hati. Tapi, kali ini …. Ia terdengar seperti tengah menjelekkan Jefri? ‘Mana mungkin seperti itu,’ tepis Rara menyangkal pemikiran di benaknya itu. Sandra sangat menyukai Jefri. Hubungan mereka juga lebih baik, walaupun Rara tidak yakin tentang hal itu. Tapi intinya, tidak mungkin Sandra menjelek-jelekkan Jefri, kan? Ketika Rara tengah sibuk berpikir, Sandra justru menatap Rara dengan tatapan kasihan. Ah, Rara yang malang. Dia sama sekali belum sadar kalau sedang menjadi korban dari Jefri. Ia bahkan tidak bisa memahami makna dari balik kalimat Jefri tadi! Sudah waktunya Sandra menyadarkan perempuan itu pelan-pelan. “Apa dia suka membuat candaan seperti itu?” tanya Sandra
“Kak Sandra beneran tidak pulang hari ini?” tanya Rara sambil menatap khawatir Sandra yang sedang makan malam di meja resepsionis. “Kakak kan kemarin sudah shift kerja seharian,” Sandra menggeleng. Ia melahap makanannya dengan santai lalu berkata, “Mulai minggu ini kamar motel kan terisi penuh semua. Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja sendiri,” “Selain itu,” Sandra melirik Jefri yang menyantap makanannya dengan santai. Ia tidak memerhatikan tatapan Sandra padanya atau mungkin dia sadar tapi tidak memedulikannya. Hal itu membuat wajah Sandra mengeras. Ia kembali menatap Rara. “Aku juga khawatir kalau terjadi sesuatu padamu,” lanjut Sandra. “Khawatir?” Rara mengerutkan alis, “Memang akhir-akhir ini terjadi sesuatu di sini?” “Oh, tidak,” Sandra meringis, “Aku hanya khawatir saja karena sedang banyak orang berdatangan ke kota ini,” Sesuatu yang Sandra khawatirkan tentu saja adalah sosok Jefri. Ia tidak ingin kejadian Jefri mencium Rara saat mereka hanya berdua terjadi k
‘Kamu benar-benar menggelikan, Hani,’ rutuk Hani dalam hati. Ia kini berada di taksi yang bertempat di belakang taksi Leo. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti pria itu karena tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Untung saja taksinya tadi cepat datang. Ia tidak mungkin membuntuti Leo menggunakan mobilnya karena pria itu pasti akan langsung mengenalinya. Hani menghela napas. Sekarang, ia perlu memikirkan bagaimana caranya menyelinap masuk ke tempat pertemuan Leo itu. Semoga saja bukan tempat yang eksklusif. “Nona, taksi di depan berhenti di depan restoran itu,” ujar sopir taksi yang mengagetkan Hani, “Apa saya perlu berhenti di sana juga?” Hani segera memandang ke depan. Di depannya, terlihat sebuah restoran mewah bergaya modern yang cukup besar. Sepertinya ada dua lantai di dalamnya. Apakah acara Leo adalah makan malam intimate dengan pasangannya? “Nona?” panggil sopir lagi yang menyadarkan Hani, “Jadi bagaimana?” “Oh, iya. Tolong berhenti di sana,” pi
“Ini,” ucap Jefri sambil menyodorkan segelas air ke Rara. Rara segera menerima gelas tersebut, “Terima kasih,” ucapnya dengan senyum kecil kemudian meminumnya dalam sekali tegak. Jefri tertawa pelan, “Sehaus itu?”Rara mengangguk malu-malu. Bagaimana tidak haus? Daritadi ia terus-menerus mendesah
“N-nyonya Rachel Sillvian! Selamat datang!”Seorang petugas resepsionis segera mendekati Rachel, “Maaf atas keributan ini. Bukankah anda akan check in nanti malam?”Rara tersentak. Jadi, tamu VIP yang dimaksud seniornya tadi adalah Rachel?“Jam penerbanganku jadi lebih awal, makanya aku cepat sampai
Rara memang seharusnya menjelaskan dengan benar perkataannya semalam ke Jefri sebelum mereka mulai tadi. Bukan karena sekarang tubuhnya remuk meski kenyataannya begitu, tapi ia menjadi kecanduan dengan ‘kelas’ mereka sekarang! Rara duduk terbengong di atas mobil Jefri. Dua jam sebelumnya terasa b
“O-om! Kita di luar!” seru Rara panik. Ia melirik kanan-kiri untuk memastikan keadaan.Untungnya, ia tinggal di ujung perumahan yang merupakan daerah yang jarang dilewati oleh warga. Apal







