Masuk“Apa?” Jantung Rara berdegup semakin kencang, “Apa maksud anda?”
Leo mengamati lekat wajah di hadapannya. Matanya memicing.Ia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan tebakannya itu. Meski sudah sering melihat foto Rara yang diberikan Jefri, tapi ia belum pernah melihat Rara secara langsung sehingga membuatnya tidak yakin.Terlebih, bentuk dan warna rambut wanita itu berbeda dengan di foto.“Saya sedang mencari se‘Padahal aku sudah susah payah menjauhinya!’ gerutu Hani dalam hati sambil menjaga jarak seaman mungkin di sebelah Merphilus.Pada akhirnya, Hani terpaksa mengikuti perintah Jefri. Lagipula, ayahnya itu juga sangat memaksa dan Hani tidak ingin ada keributan karena hal itu.Setidaknya keadaan masih ramai sepanjang mereka berjalan menuju lobi hotel. Jadi, kekhawatirannya bisa berkurang.Begitu juga ketika mereka di luar hotel. Hani menghela napas lega melihat banyaknya orang di luar.Ia menoleh ke Merphilus, “Di mana mobil anda, Tuan?”“Dia masih tertahan di depan hotel. Di sana sedikit macet katanya,” jelas Merphilus sambil menaruh kembali ponselnya di saku.Liam pasti habis memberitahunya lewat pesan.“Anda jadi masih harus menemani saya sekarang.”Hani tertawa kaku. Pria itu sedang mengoloknya kan sekarang?Ia pasti tahu kalau Hani sebenarnya sangat enggan menemaninya.“Sudah menjadi tugas say
TAP TAPHani tersentak. Suara langkah kaki?!Hani segera mendorong bahu Merphilus hingga pria itu menjauh darinya. Ia lanjut berjalan menjauh dari sana.Bertepatan dengan itu, dua orang keluar dari belokan di ujung lorong. Hani menghentikan langkahnya. Matanya membesar.Jefri dan Rara! Untung dia tepat waktu menjauhkan diri dari Merphilus!“Hani?” panggil Jefri bingung. Alisnya mengerut dalam.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya sambil berjalan mendekat ke Hani bersama Rara.“Oh, itu,” Hani kelabakan. Ia menoleh cepat ke Merphilus yang ada di belakangnya lalu menariknya mendekat ke sisinya.“Tu-Tuan Merphilus ingin bertemu ayah dan Rara! Ia buru-buru mau pergi jadi aku mau mengantarkannya ke ruangan ayah dan Rara tadi,” jelas Hani secepat kilat. Gadis itu berusaha tidak peduli dengan tatapan Merphilus padanya.“Oh, maafkan kami, Tuan!” sesal Rara, “Apa anda menunggu lama tadi?”
“Hubungan?” alis Hani mengerut dalam, “Hubungan kami atasan dan bawahan.”“Benarkah?” Merphilus menaikkan satu alisnya, “Kalian tidak pacaran?”“Pa–” Hani berdehem Wajahnya memerah samar.“Kami sama sekali tidak pacaran,” tegasnya.“Hmm.”Hani menelan ludah melihat tatapan lekat Merphilus. Apa-apaan pria ini? Kenapa dia bertanya seperti itu?Padahal Leo tidak menunjukkan tindakan apa pun tadi. Karena dia mengusap kepala Hani? Bukankah itu tindakan biasa orang dewasa ke orang lebih muda?
Kedua wanita di depan Hani terbelalak kaget. Merphilus ikut membesarkan matanya. Ia menatap lekat Hani dari belakang.Salah satu dari wanita itu tersadar duluan lalu menggeram kesal, “Kamu tidak bisa mengusir tante seperti itu, Hani!”Hani mendengus, “Kenapa tidak? Tante sudah menghina penyelenggara acara ini dan aku sebagai salah satu penyelenggara juga, berhak mengusir tante!”“Kami keluargamu, Han!” timpal wanita lainnya yang sudah tersadar juga. Wajahnya ikut mengeras.“Keluarga? Keluarga macam apa yang menjelekkan keluarganya sendiri?” desis Hani dingin, “Sudahlah. Sebaiknya tante pergi saja baik-baik sekarang sebelum aku membuat suasana semakin
“Senang bisa bertemu dengan anda lagi,” ucap Merphilus, “Terima kasih sudah mengundang saya,”Hani mengerutkan alisnya. Merasa bingung dengan ucapan Merphilus.Bukannya pria itu tidak diundang? Hani yakin sekali kalau tidak melihat nama Merphilus di undangan dan daftar tamu!‘Jangan-jangan pria ini menerobos masuk?’ duga Hani curiga. Hal itu mungkin saja, kan? Mengingat pesta sudah semakin meriah dan sibuk. Dan mungkin saja, Merphilus masuk saat upacara pernikahan berlangsung, yang mana penjagaan sedang longgar karena orang-orang sibuk memantau jalannya upacara. Benar. Pasti begitu. Ia tinggal mencari bukti sekarang dan meminta Merphilus keluar!Hani berdehem. Ia memasang senyum sebaik mungkin. “Tuan Merphilus, saya sama sekali tidak menyangka anda di sini,” ucap Hani pura-pura ramah, “Harusnya kita bertemu di bagian depan tadi karena saya bertugas menerima tamu. Tapi, saya belum sempat kesana lagi karena ada urusan.”“Karena itu,” Hani mengulurkan tangannya, “Bolehkah saya meliha
“Saya bersedia.” “Kedua mempelai dipersilahkan untuk berciuman.” Sorak sorai dan tepuk tangan bergema di dalam aula ketika Jefri dan Rara menyatukan bibir mereka. Ucapan selamat berhamburan keluar dari bibir para tamu. Jefri dan Rara memisahkan bibir mereka tak lama kemudian. Keduanya saling menatap dengan penuh kebahagiaan. Hani yang menonton di paling depan, bertepuk tangan kencang. Tatapan matanya penuh haru melihat Jefri dan Rara bersama. Akhirnya setelah dua minggu mempersiapkan pernikahan, keduanya kini resmi berstatus suami dan istri. Rara sendiri juga resmi menjadi bagian dari keluarga Nickelson. Omong-omong tentang keluarganya itu, mereka semua akhirnya datang ke pernikahan Rara. Termasuk Septa dan keluarganya. Hani bisa melihat wajah bahagia mereka dari tempatnya berdiri. Meski begitu, Hani tetap menaruh rasa sangsi pada keluarganya itu. “Mereka terlihat sangat bahagia, ya?” celetuk Hani yang didengar Leo. Tatapannya masih tertuju pada Rara dan Jefri yang
“Jangan khawatir, nona Rara,” ucap Lexus begitu melihat wajah Rara ketakutan, “Anda lupa kalau kita juga punya kartu AS sekarang?”Rara tersentak. Ia menoleh cepat ke Lexus. “A-anda benar,” ucapnya tidak yakin. Bagaimana pun, Rara belum mengetahui kesaksian yang akan diberikan nanti, jad
Kate menelan ludah. Ia menatap bergantian Rachel dan Jefri yang sedang saling berhadapan. Aura di antara mereka berdua sangat dingin, membuat Kate merinding. Kalau bukan karena tuntutan untuk menjaga Rachel yang baru siuman dari para petinggi agensi, Kate pasti sudah lari ketakutan. “Aku dengar
“Apa, sih,” gerutu Rara, berusaha menutupi jantungnya yang terlalu menggila. “Om kan bukan suka aku yang kayak gitu—”“Suka,” potong Jefri. Ia menatap Rara serius. “Om suka sama kamu, Ra. Dalam artian romantis,”Rara menggigit bibir. Ia menatap Jefri yang kini mengangkat satu tangannya dan menempe
“RARA!”Jefri tersentak begitu masuk ke dalam ruang kerjanya. Matanya membesar melihat tubuh Rachel di lantai dan sosok Rara yang gemetar ketakutan dengan wajah pucat. “Ada satu pasien luka berat di sini! Cepat datang!” seru Jefri ke arah luar. Tak lama, datang dua perawat membawa tandu. Sama sep







