MasukHari berlalu dengan cepat. Hingga akhirnya, tibalah hari pesta keluarga Nickelson diadakan.Hani sudah duduk di mobil menuju hotel tempat pesta diadakan. Ia mengenakan gaun berwarna merah muda-putih tanpa lengan, yang panjangnya hanya mencapai mata kaki dengan bagian selangkanya ditutupi kain transparan. Memperlihatkan kulit putih mulusnya. Berbeda dengan biasanya, ia kali ini tidak mengeritingkan rambutnya. Tapi, mengepangnya dan menyampirkannya ke pundak. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Rara bahkan memujinya berkali-kali tadi.“Jadi, apakah kamu mengajak Tuan Merphilus ke pesta ini?” celetuk Jefri tiba-tiba.Hani yang sedang minum, seketika tersedak. Ia terbatuk-batuk dan Rara buru-buru memberikan sapu tangan untuk mengelap air yang tumpah ke gaunnya. Wanita itu menyikut pelan Jefri yang hanya memasang gestur wajah tak berdosa.Hani menerimanya dan menatap Jefri kesal. “Kenapa tiba-tiba ungkit itu?” sungut Hani. Jefri menaikkan bahunya ringan. “Ayah hanya penasaran. Siapa ta
Perkataan Merphilus itu terus terngiang di kepala Hani sampai besok paginya. Ia bahkan masih mengingatnya saat sedang diinterogasi Jefri dan Rara sekarang.Semalam Hani tak bertemu mereka ketika pulang karena keduanya sudah tidur. Tapi, pagi ini mereka langsung menyeret Hani ke meja makan dan memaksanya duduk berhadapan dengan mereka.Hani merasa seperti tahanan di meja pengadilan. Apalagi pasutri itu sama-sama memberikan tatapan tajam padanya.“Jadi, teman ekskulmu yang datang kemarin, tiba-tiba mengabari ingin balik semalam makanya kamu pergi dari pesta untuk menemuinya?” ucap Jefri yang segera diangguki Hani.Ya, tadi ia menggunakan alasan teman ekskulnya itu lagi. Dalam hati, Hani meminta
“Kenapa … kita berhubungan?” ulang Hani, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.Merphilus tidak menjawabnya. Tapi, sorot matanya yang serius meyakinkan Hani kalau ia tidak salah dengar tadi.“Itu …. Bukankah itu karena Anda ingin melampiaskan hasrat juga?” ucap Hani tidak yakin, “Karena Anda bilang kita cocok …. Karena sudah pernah berhubungan.”“Apa menurutmu kita memang berhubungan saat tahun baru itu?”Apa maksudnya itu? Bukankah jawabannya sudah sangat jelas?Hani mengangguk pelan. Ia berjengit ketika Merphilus tiba-tiba menghela napas kasar.
Hani membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjap sejenak, mencoba mengingat kembali hal yang telah dia lakukan sebelumnya.Ketika melihat bayangan Merphilus di ujung kasur, Hani segera beranjak duduk.“Kamu sudah bangun?” tanya Merphilus dengan seulas senyum di wajahnya.Bukannya menjawab, Hani justru menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya. Ia menatap was-was Merphilus dengan sorot mata tajam.Merphilus mendengus pelan melihatnya. Ia lalu melangkah mendekati Hani.“Jangan mendekat!” seru Hani yang kini memundurkan posisinya, “Saya akan teriak kalau anda berani mendekat lagI!”
Leo mengetuk-ngetuk pelan jemarinya di atas paha. Matanya memandang keluar kaca taksi dengan gelisah. Sesekali keringat mengalir di dagunya.Pria itu kini sedang berada di dalam taksi menuju hotel Amarose. Ia tadi memesannya langsung setelah kepergian Jefri dan Rara. Tidak membuang waktu sedikit pun.Ya, urusan yang dia maksud ke Jefri tadi adalah ini. Menuju hotel Amarose untuk memergoki Merphilus dan Hani. Leo merasa bersalah karena harus membohongi bosnya itu, tapi ia sendiri tidak bisa mengatakan urusannya ini juga.Tidak bisa selama ia belum bisa mendapatkan bukti yang memberatkan Merphilus. Dan malam ini, ia akan mendapatkannya.Leo menelan ludah ketika hotel Amarose mulai terlihat di matanya. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan seiring taksinya mulai menepi di depan hotel itu.“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir taksi.Leo mengangguk. Ia menyodorkan uang sambil mengucapkan terima kasih yang segera diterima sang sopir. Ia lalu keluar dari sana dan taksi segera menin
Hani menelan ludah. Ia mengalihkan pandangannya, tidak menjawab pertanyaan Merphilus barusan.Merphilus menyeringai. Ia mendekatkan dirinya lagi dan mencium rahang Hani. Perempuan itu berjengit pelan.Ia mengerang ketika ciuman Merphilus terus turun ke bawah. Menuju leher jenjangnya lalu perpotongan bahunya yang tidak tertutupi gaunnya.Sebuah gigitan diberikan Merphilus di sana. Menimbulkan ruam kemerahan yang segera dijilatnya.Napas Hani mulai kembali terengah. Wajahnya perlahan merekah merah. Ia tercekat saat satu tangan Merphilus tiba-tiba mencengkram pinggangnya.“Tu-Tuan … Tunggu …” erang Hani yang tidak digubris Merph
“Hahh?” alis Rara mengerut semakin dalam, “Jangan ngomong aneh-aneh!” dengusnya. Septa tertawa, “Harusnya di momen kayak gini kamu langsung salah tingkah, Ra!”Rara menggeleng-geleng. Bagaimana bisa ia salah tingkah ketika ia tahu Septa adalah orang yang suka bercanda?Apalagi, ajakannya tadi sang
‘Apa ini?’ batin Rara resah. Percakapan di meja sudah beralih ke topik lain, tapi Rara tidak ikut menimbrung. Pikirannya penuh. Entah kenapa, perkataan Jefri barusan tidak terdengar seperti sebuah guyonan. Terasa ada implikasi di dalamnya. Seolah ia tengah memperjelas hubungannya dengan Rachel
Rara mungkin sudah tahu dari awal kalau kalimat itu memiliki makna tersirat di baliknya. Dari pertama kali Jefri mengatakannya, Rara tahu itu bukan cuma ucapan kosong. Meski begitu, Rara selama ini menyangkal prasangkanya itu. Lebih tepatnya, ia berharap kalau hal itu tidak benar dan ia
Pikiran Rara masih terus terngiang dengan ucapan pria itu pada keesokan harinya. Padahal, itu hanya ucapan biasa yang mungkin juga doa Jefri agar Rara bisa dekat dengan lelaki seumurannya, setelah kejadian dengan Satrio. Tapi, entah kenapa rasanya aneh. Seolah terasa ada … makna lain di dalamnya.







