로그인Hani membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjap sejenak, mencoba mengingat kembali hal yang telah dia lakukan sebelumnya.
Ketika melihat bayangan Merphilus di ujung kasur, Hani segera beranjak duduk.
“Kamu sudah bangun?” tanya Merphilus dengan seulas senyum di wajahnya.
“Kenapa … kita berhubungan?” ulang Hani, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar.Merphilus tidak menjawabnya. Tapi, sorot matanya yang serius meyakinkan Hani kalau ia tidak salah dengar tadi.“Itu …. Bukankah itu karena Anda ingin melampiaskan hasrat juga?” ucap Hani tidak yakin, “Karena Anda bilang kita cocok …. Karena sudah pernah berhubungan.”“Apa menurutmu kita memang berhubungan saat tahun baru itu?”Apa maksudnya itu? Bukankah jawabannya sudah sangat jelas?Hani mengangguk pelan. Ia berjengit ketika Merphilus tiba-tiba menghela napas kasar.
Hani membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjap sejenak, mencoba mengingat kembali hal yang telah dia lakukan sebelumnya.Ketika melihat bayangan Merphilus di ujung kasur, Hani segera beranjak duduk.“Kamu sudah bangun?” tanya Merphilus dengan seulas senyum di wajahnya.Bukannya menjawab, Hani justru menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya. Ia menatap was-was Merphilus dengan sorot mata tajam.Merphilus mendengus pelan melihatnya. Ia lalu melangkah mendekati Hani.“Jangan mendekat!” seru Hani yang kini memundurkan posisinya, “Saya akan teriak kalau anda berani mendekat lagI!”
Leo mengetuk-ngetuk pelan jemarinya di atas paha. Matanya memandang keluar kaca taksi dengan gelisah. Sesekali keringat mengalir di dagunya.Pria itu kini sedang berada di dalam taksi menuju hotel Amarose. Ia tadi memesannya langsung setelah kepergian Jefri dan Rara. Tidak membuang waktu sedikit pun.Ya, urusan yang dia maksud ke Jefri tadi adalah ini. Menuju hotel Amarose untuk memergoki Merphilus dan Hani. Leo merasa bersalah karena harus membohongi bosnya itu, tapi ia sendiri tidak bisa mengatakan urusannya ini juga.Tidak bisa selama ia belum bisa mendapatkan bukti yang memberatkan Merphilus. Dan malam ini, ia akan mendapatkannya.Leo menelan ludah ketika hotel Amarose mulai terlihat di matanya. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan seiring taksinya mulai menepi di depan hotel itu.“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir taksi.Leo mengangguk. Ia menyodorkan uang sambil mengucapkan terima kasih yang segera diterima sang sopir. Ia lalu keluar dari sana dan taksi segera menin
Hani menelan ludah. Ia mengalihkan pandangannya, tidak menjawab pertanyaan Merphilus barusan.Merphilus menyeringai. Ia mendekatkan dirinya lagi dan mencium rahang Hani. Perempuan itu berjengit pelan.Ia mengerang ketika ciuman Merphilus terus turun ke bawah. Menuju leher jenjangnya lalu perpotongan bahunya yang tidak tertutupi gaunnya.Sebuah gigitan diberikan Merphilus di sana. Menimbulkan ruam kemerahan yang segera dijilatnya.Napas Hani mulai kembali terengah. Wajahnya perlahan merekah merah. Ia tercekat saat satu tangan Merphilus tiba-tiba mencengkram pinggangnya.“Tu-Tuan … Tunggu …” erang Hani yang tidak digubris Merph
“.... Leo? Apa kamu mendengar saya? Leo, jawab!”Leo tersentak. Ia menatap Jefri yang mengerutkan alisnya dan Rara yang menatapnya khawatir. Kesadaran segera masuk dalam kepalanya.“Ma-maafkan saya, Pak Direktur! Saya tidak sengaja melamun!” serunya gelagapan. Bagaimana bisa ia bengong ketika berada di hadapan bosnya?!Jefri mendengus pelan. Sementara Rara masih menatapnya khawatir. “Om tidak apa-apa?” tanyanya.Leo mengangguk. “Saya tidak apa-apa. Maafkan saya, Nyonya,” ucapnya.“Jadi, di mana Hani?” tanya Jefri, mengembalikan percakapan mereka ke topik awal. “Tadi kamu bilang dia di toilet.
Hani menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha untuk tetap tenang meski kepanikan kini menggedor-gedor dirinya.“B-bicara? Apa yang perlu kita bicarakan, Tuan?” balas Hani jenaka.Ia berusaha memundurkan langkahnya pelan-pelan menuju ujung lorong.Tapi, Merphilus sepertinya bisa membaca rencananya karena pria itu ikut berjalan maju. Menambah kepanikan Hani.“Banyak hal. Tentang kamu yang sulit dihubungi, hubungan kita yang putus mendadak, dan,” mata Merphilus berubah menajam.“Ucapanmu tentang Rara waktu itu.”Hani tersentak melihat sorot wajah Merphilus menggelap. Ia akhirnya buru-buru berbalik, hendak ber
“Kamu sudah paham kan, Kate? Untuk sidang berikutnya, kamu akan menjadi saksi kunci. Jadi, pastikan kamu berbicara sesuai isi dokumen ini,” ucap Marco tegas sambil menatap serius Kate. “Jangan mengacaukannya sama sekali,”Kate mengangguk pelan. Marco kembali berbicara dengan pengacara Rachel, memba
“Apa? Anda berhasil menemukan saksi untuk membantu kita?” tanya Rara kaget pada Lexus yang duduk di seberangnya. Lexus mengangguk. Ia menyesap sejenak kopi yang disuguhkan Hani lalu menjawab, “Septa mengabari saya kemarin dan saya juga sudah bertemu dengan saksi baru kita,”“Septa?” Hani menaikkan
“Sidang hari ini dengan tuntutan kepada terdakwa nyonya Rachel Sullivan oleh nona Rara Hestelia, dimulai,”Suara ketukan palu hakim membahana di ruang sidang. Rara lagi-lagi membetulkan posisi duduknya. Ia melirik Rachel di kursi pesakitan yang masih menatapnya tajam. Sekarang
Kate menelan ludah. Ia menatap bergantian Rachel dan Jefri yang sedang saling berhadapan. Aura di antara mereka berdua sangat dingin, membuat Kate merinding. Kalau bukan karena tuntutan untuk menjaga Rachel yang baru siuman dari para petinggi agensi, Kate pasti sudah lari ketakutan. “Aku dengar







