LOGIN[Maaf. Sepertinya saya sedikit terlambat. Saya perlu ke toilet][Oke, om. Hati-hati tersesat :D]Hani tersenyum-senyum melihat Leo menjawabnya dengan emot tertawa. Membuatnya membayangkan tawa pria itu.Hani kembali mematikan ponselnya. Ia menarik napas. Baiklah, waktunya kembali latihan.Sedari tadi, Hani berlatih menyampaikan perasaannya ke Leo sembari menunggu pria itu. Meski latihan yang dimaksud hanyalah membayangkan adegan yang ingin dibuatnya nanti.Hani sudah banyak menonton film romantis untuk bahan belajarnya. Jadi, ia pasti tidak akan gagal sekarang!Tapi, 15 menit berlalu, Leo masih belum kembali. Sekarang pukul 23.45. Tersisa 15 menit lagi hingga acara kembang api dimulai.Hani menatap resah ponselnya. Ia tadi baru mengirim pesan ke Leo, tapi pria itu belum membalasnya.Bahkan membacanya saja belum!‘Apa dia buang air besar?’ batin Hani mengira-ngira. Tapi, masa selama ini?Atau dia beneran tersesat? Rasanya tidak mungkin. Apa dia sebaiknya menyusulnya saja?Hani menat
“O-om Jefri?” cicit Rara. Jefri tidak mengubrisnya. Ia masih terus memukuli Bima yang berteriak kesakitan. Auranya terasa gelap dan menyeramkan. Seolah ia hendak membunuh Bima sekarang. “O-om! Berhenti!”Rara berusaha bangkit dan mendekati Jefri yang masih membelakanginya. “Om, jangan! Sadar, om!”Jefri tersentak ketika merasakan Rara memeluknya dari belakang. Gerakannya seketika terhenti. Di depannya, wajah Bima hampir tak berbentuk. Bahkan entah masih bernapas atau tidak.“Aku udah nggak apa-apa, om,” ucap Rara dengan suara gemetar. Ia mengeratkan pelukannya pada Jefri. “Aku nggak apa-apa,”Tapi, seakan mengkhianati dirinya, air mata Rara justru mengalir deras. Ia lalu terisak kencang ketika bayangan kejadian tadi melintasi benaknya. Kalau Jefri tidak datang tadi, mungkin Bima sudah menodai tubuhnya. Jefri segera berbalik badan. Ia memeluk Rara seerat mungkin membuat
“Bagus banget!”Hani menatap terpesona pemandangan di depannya. Matanya berbinar-binar. Ia tidak menyangka rooftop hotel ini akan begitu indah!Ada meja-meja kayu di sana yang sebagian sudah diduduki oleh orang-orang. Di depan barisan meja itu, terdapat sebuah panggung kecil. Seseorang tengah memainkan piano di sana, menampilkan lagu-lagu klasik yang menentramkan hati. Tempat ini benar-benar pas untuk menjalankan rencananya! Belum lagi dengan pemandangan langit malam yang memanjakan mata. Hani menoleh ke Leo yang ada di sebelahnya. Pria itu juga terlihat kagum dengan desain rooftop ini. Matanya menelisik kesana-kemari dengan antusias. Penampilan pria itu terlihat sangat menawan malam ini. Jas beludru biru dongker membalut tubuhnya berpadu dengan warna celananya yang senada. Rambutnya dibuat klimis seperti waktu itu. Meski yang sekarang lebih rapih. Benar-benar pemandangan yang indah. Lebih indah dari pemandangan di rooftop. ‘Rasanya seperti diberkahi,’ batin Hani berdebar. Rasan
Sepuluh menit setelah Rara pergi dari kamarnya, Bima menelpon. Ia ingin memesan teh hangat untuk membantunya tidur. Rara masih menyanggupinya dengan ringan. Bima juga terlihat merasa bersalah karena telah mengganggu Rara, jadi Rara berusaha mengabaikan itu. Tapi, setelahnya, Bima tidak berhenti mengganggunya. Ia akan menelpon Rara tiap sepuluh menit sekali lalu mengajukan permintaan yang berbeda-beda!Kali ini, Rara sangat yakin pria itu benar-benar aneh!Rara menghela napas ketika menelungkupkan dirinya di atas meja. Ia baru saja menerima permintaan Bima untuk yang kelima kalinya. Benar-benar melelahkan. “Kapan kak Sandra pulang?” gumam Rara. Ia tadi sempat mengirimkan pesan untuk Sandra, tapi tidak ada jawaban dari wanita itu. Apa dia ternyata pergi ke acara kembang api itu?Rara menghela napas panjang. Jefri juga belum kembali. Tadi saat Rara bertanya lewat pesan, pria itu bilang masih ada kesibukan di hotelnya. Tapi, akan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin.RIII
“Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara yang sedang berdiri bersandar di bingkai pintu, menoleh ke belakang. Alisnya seketika mengerut melihat Sandra berpakaian rapih. “Mau keluar?” tanya Rara. Sandra mengangguk. “Aku ingin mengambil barang dari temanku sebentar,” jawabnya, “Jadi, apa tebakanku benar? Kamu sedang menunggu tuan Jefri?”Rara memerhatikan tatapan menyelidik Sandra. Ia kembali menoleh keluar dan menggelengkan kepala. “Aku hanya memerhatikan para tamu yang pergi tadi,” ucap Rara pelan, “Mereka tidak terlihat sangat senang ingin merayakan tahun baru,”Sandra menelan ludah. Ia merasa iba mendengar jawaban Rara. Sandra tahu kalau ia keterlaluan karena tidak membolehkan Rara merayakan tahun baru bersama Jefri padahal mereka keluarga. Tapi, ia juga tidak bisa melepas kekhawatiran Jefri akan melakukan sesuatu padanya. Ini semua demi Rara. “Aku tidak akan pergi lama,” ucap Sandra. Ia lalu mel
Rara termangu mendengar ucapan Sandra. Tidak menyangka wanita yang dia anggap kakak akan berkata seperti itu. Bukankah ini sudah terlalu parah? Rara menggigit bibirnya. Ia membalas sengit tatapan Sandra. “Bukankah kakak terlalu berpikiran buruk ke om Jefri?” tanya Rara, “Dia selama ini sudah menolong kakak. Tapi, kakak malah membalasnya seperti ini?” Rara menaikkan nada suaranya, “Lagipula om Jefri juga tidak mungkin akan melakukan sesuatu padaku selama ada kakak!” “Ra, kamu terlalu dicuci otak olehnya!” seru Sandra, “Semua orang juga berpikiran sama denganku kalau melihat perilakunya padamu!” “Dan kamu tadi bilang kalau dia tidak akan melakukan apa pun selama ada aku?” Sandra mengerutkan wajahnya masam. “Kamu tidak ingat dia sangat bersikeras untuk pergi bersamamu ke acara kembang api sampai ingin memberikan pekerja padaku?! Dia terobsesi padamu, Ra!” Rara menghela napas. Ia menggeleng-gelengkan kepala. “Kan kakak sendiri yang bilang kalau kita kekurangan pekerja,” ucapnya
“Gaun baru?” tanya Septa dengan satu alis terangkat begitu melihat penampilan Rara malam ini. Matanya memicing.“Dari siapa?” tanyanya yang entah kenapa terdengar agak ketus.&
Rachel menelusuri lamat-lamat ekspresi Jefri. Wajah pria itu mengeras dan sorot ekspresinya terlihat gelap. Tatapan tajamnya terasa dingin tapi tetap menusuk Rachel. Rachel menggigit bibirnya sejenak kemudian menyeringai lebar.
“Aku akan bekerja sama dengan tante,” Ucapan Septa itu membuat senyum puas terukir lebar di wajah Rachel. Mata wanita itu berkilat-kilat senang, tapi hal itu terlihat mengerikan di mata Septa. Ia menatap Rachel gusar yang kini terkekeh. “Pikiranmu sudah tercerahkan ya sekarang,” kekeh Rachel. Sep
Bagi Septa, kegiatan bermain sekarang adalah kesempatannya untuk mengorek informasi dari Rara. Tapi bagi Rara, ini adalah kesempatannya agar menghindari Jefri yang masih memiliki kemungkinan untuk datang malam ini.Meski kemarin malam pria itu tidak datang, tapi Rara masih merasa resah. Apalagi memi







