FAZER LOGINAgak apa? Kotor?" potong Citra lembut, tanpa nada tersinggung. Ia mengambil selembar tisu gulung dari atas meja, lalu mengelap permukaan bangku kayu itu dengan telaten sebelum menatap Adipati. "Duduklah. Ini bersih. Dan percayalah, rasanya jauh lebih enak daripada sarapan hotel bintang lima yang biasa kamu makan."Adipati menghela napas pasrah. Ia menurunkan tubuh tingginya dan duduk di atas bangku kayu kusam itu. Lututnya yang panjang terpaksa menekuk agak sempit karena keterbatasan ruang, membuat posturnya terlihat sedikit lucu di antara pengunjung warung lainnya."Bu Sum! Nasi uduknya dua porsi ya, lengkap pakai telur balado, tempe orek, sama kerupuknya yang banyak!" panggil Citra ceria."Siap, Mbak Citra! Masnya baru ya? Ganteng amat kayak pemain sinetron!" sahut Bu Sum dari balik racikan makanannya, tertawa lepas tanpa beban.Wajah Adipati terasa panas mendengar pujian blak-blakan dari ibu penjual nasi uduk tersebut. Di dunianya, pujian terhadap ketampanan atau keberadaannya sela
Matahari pagi menyusup malu-malu di antara celah gorden tebal kamar bernuansa abu-abu dan perak milik Adipati. Sinar keemasannya memantul pada meja marmer dan perabotan kristal yang berkilat dingin. Bagi Adipati, pagi hari biasanya berarti satu hal: jadwal ketat, setelan jas yang kaku, sarapan rendah kalori yang disiapkan ahli gizi pribadi, serta keheningan canggung yang diawasi oleh barisan pelayan berpakaian seragam rapi.Namun pagi ini, nuansa itu menguap.Di ujung tempat tidur, Adipati terbangun bukan oleh suara alarm jam tangan mewahnya, melainkan oleh aroma samar minyak kayu putih dan kehangatan tulus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap ke samping. Citra sudah tidak ada di atas sofa panjang tempat gadis itu tertidur semalam.Saat Adipati melangkah keluar dari kamar dengan pakaian kasual, kaos polos hitam dan celana kain yang santai, sesuatu yang sangat jarang ia kenakan, suara gelak tawa kecil terdengar dari arah dapur bersih. Ia mendapati Citra sedang sibuk mera
Hati Citra serasa diiris tipis-tipis mendengar tuduhan itu."Bukan! Bukan begitu!" seru Citra refleks, suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya bergetar hebat. "Kamu tahu itu bukan karena kontrak, Adipati! Aku... aku juga manusia biasa. Aku punya perasaan!"Adipati memutar tubuhnya dengan cepat. Langkah kakinya yang lebar dan penuh intimidasi kembali mendekati Citra. Dalam hitungan detik, tubuh tegap itu sudah kembali menjulang tepat di depan Citra, mengikis habis jarak yang baru saja diciptakan."Kalau begitu jelaskan padaku!" Adipati menundukkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Citra. Matanya berkilat marah dan sarat akan frustrasi. "Kalau ini bukan soal kontrak, kenapa kamu selalu memunculkan tembok itu setiap kali kita makin dekat? Kenapa kamu selalu mengingatkanku pada kertas tak berguna itu saat tubuh dan hatimu jelas-jelas menyerah padaku?!"Citra mendongak, menantang tatapan Adipati meski matanya kini mulai berkaca-kaca. Air mata penyesalan dan keputusasaan menu
Hening kembali merayapi kamar transit itu, namun keheningan kali ini tidak lagi membawa ketenangan. Ruangan berukuran medium itu mendadak terasa terlampau sempit, seolah-olah seluruh oksigen di dalamnya telah terserap habis oleh hawa panas yang mengepul dari tubuh Adipati dan Citra. Dengus napas mereka yang terengah-engah beradu di udara, menjadi ritme tunggal yang memecah kesunyian.Adipati masih membenamkan wajahnya di ceruk leher Citra. Dengung denyut nadi gadis itu yang berdetak cepat di bawah permukaan kulitnya yang halus seakan menjadi petunjuk bahwa Citra sama terombang-ambingnya. Keharuman alami tubuh Citra perpaduan antara wangi pandan dan kehangatan kulit manisnya terus-menerus menusuk indra penciuman Adipati, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan logika yang susah payah ia bangun sejak tadi.Jemari Citra masih terbenam di antara helai rambut tebal Adipati. Sentuhan yang awalnya bermaksud menenangkan itu justru terasa bagaikan siraman bensin pada bara api yang belum sepenuhnya pa
Adipati tidak menjawab dengan kata-kata. Bibirnya yang hangat akhirnya menemukan bibir lembut Citra. Berbeda dari ciuman-ciuman mereka terdahulu yang impulsif, sentuhan bibir Adipati kali ini dimulai dengan sangat perlahan, penuh penghayatan yang dalam dan kerinduan yang telah lama tertahan. Ia menyesap bibir atas Citra dengan kelembutan yang memabukkan, menuntut respons tanpa perlu bersikap kasar.Gairah yang membakar di dalam dada Adipati kian membara saat ia merasakan jemari Citra membalas remasannya di kemejanya. Gadis desa yang awalnya polos dan selalu bersikap segan padanya itu kini mulai menyerap getaran gairah yang sama. Citra sedikit membuka bibirnya, membiarkan alunan napas mereka menyatu. Ciuman itu bertambah dalam, lambat, dan penuh dengan penekanan intensif yang membuat kepala Citra terasa berputar.Adipati mendesah pelan di sela ciuman mereka, suara serak kepriaan yang membakar suasana. Tangan kirinya yang tadinya menopang punggung Citra kini merangkak naik, menelusup ke
Adipati membiarkan kesunyian itu mengalun sejenak, melebur bersama kehangatan napasnya yang teratur di pucuk kepala Citra. Di tengah kegelapan pekat yang membungkus ruangan kondominium transit itu, tidak ada lagi bayangan-bayangan hitam masa lalu yang mencekiknya. Ketakutan akan dikurung, memori dingin yang melumpuhkan, hingga trauma masa kecilnya seolah-olah menguap, tergantikan oleh satu presensi yang teramat nyata di dalam pelukannya Citra.Tangan kokoh Adipati yang melingkari pinggang Citra perlahan mengetat, bukan lagi karena dorongan kepanikan atau rasa takut, melainkan oleh sebuah desakan baru yang jauh lebih kuat, lebih murni, dan teramat membakar. Sebagai seorang pria dewasa yang matang dan berkuasa, Adipati selalu dikenal dingin, terstruktur, dan memiliki kendali diri yang tak tergoyahkan. Ia tidak pernah membiarkan wanita mana pun melintasi batas benteng pribadinya, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi atau memiliki status sosial yang setara dengannya. Namun, malam ini,







