Share

Realita di Stasiun Gambir

Penulis: Tinta Senyap
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 11:00:16

​Pagi terakhir di Bandung terasa terlalu singkat. Soraya duduk di restoran Hotel Savoy Homann, menikmati sarapan bubur ayam hangat dengan irisan cakwe dan telur rebus. Di hadapannya, Dosen Brata sedang membaca koran lokal sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.

​Suasana tenang. Tidak ada Rian yang memaksanya makan wagyu, tidak ada Subagyo yang meremas pahanya di bawah meja. Hanya ada diskusi ringan tentang hasil seminar kemarin dan rencana revisi kurikulum yang ingin diajukan Brata.

​"Kamu punya bakat riset," komentar Brata tiba-tiba, melipat korannya.

"Notulensi yang kamu buat rapi. Poin-poinnya tajam. Kamu menangkap esensi debat kemarin dengan baik, bukan cuma mencatat omongan orang."

​"Terima kasih, Pak. Saya belajar dari Bapak," jawab Soraya tulus.

​"Simpan bakat itu," Brata menatap mata Soraya.

"Jangan biarkan tumpul karena kebanyakan drama di Jakarta."

​Kata 'Jakarta' membuat selera makan Soraya hilang seketika. Dia meletakkan sendoknya. Jakarta berarti kembali ke apartemen Ria
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Grafik yang Menurun Tajam

    ​Tiga bulan setelah pengukuhan Guru Besar.​Ruang kerja di rumah Dago Pakar kini didominasi oleh suara mesin oksigen portable yang mendesis ritmis. Hiss... klik. Hiss... klik.​Profesor Brata duduk di kursi bacanya yang menghadap jendela taman. Selimut wol menutupi kakinya. Di hidungnya, terpasang selang kanula oksigen transparan. Di tangannya, buku 'The Black Swan' karya Nassim Nicholas Taleb terbuka di halaman yang sama sejak satu jam lalu. ​Dia tidak membaca. Dia menatap daun-daun kering yang jatuh di halaman.​Soraya masuk membawa nampan berisi obat-obatan dan segelas air hangat. Dia baru pulang dari kampus, masih mengenakan setelan kerjanya yang rapi. Wajahnya terlihat lelah, tapi dia berusaha tersenyum cerah saat melihat suaminya.​"Waktunya minum obat, Mas," kata Soraya lembut. Dia berlutut di samping kursi Brata.​Brata menoleh pelan. Gerakannya lambat, seperti video yang diputar slow motion. Wajahnya tirus, tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang semakin keriput dan

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Pidato Pengukuhan di Mimbar Jati

    ​Dua Tahun Kemudian.​Aula Barat Gedung Sate Bandung yang legendaris itu hari ini terasa berbeda. Ruangan yang biasanya digunakan untuk acara kenegaraan yang kaku, hari ini dipenuhi oleh lautan manusia berjubah hitam-hitam. Aroma bunga melati dan sedap malam yang dirangkai di tiang-tiang kayu jati memenuhi udara, bercampur dengan aroma buku tua, debu karpet tebal, dan kebanggaan intelektual yang menyesakkan dada.​Di atas mimbar jati yang megah, berdiri seorang wanita yang kecerdasannya kini diakui secara nasional. Cahaya lampu sorot jatuh tepat di wajahnya, membuat kulitnya tampak bersinar di tengah keremangan aula.​Prof. Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev.​Usianya baru menginjak 37 tahun. Dia memecahkan rekor sebagai Guru Besar Bidang Ekonomi Pembangunan termuda di universitasnya. Pencapaian ini bahkan mematahkan rekor suaminya sendiri, Brata, yang dulu dikukuhkan di usia 39 tahun. Sebuah ironi manis yang sering menjadi bahan candaan di meja makan mereka.​Soraya mengenakan toga

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Turbulensi di Atas Awan

    Pagi di Mandalika seharusnya indah. Matahari terbit dari ufuk timur, menyepuh lautan biru dengan warna emas yang berkilauan. Suara deburan ombak yang tenang seharusnya menjadi musik pengantar bangun tidur yang sempurna bagi siapapun yang menginap di resort mewah ini.Namun bagi Soraya, pagi itu terasa seperti penghakiman. Dia terbangun di ranjang hotelnya yang luas dengan kepala berdenyut nyeri. Bukan karena alkohol, tapi karena kurang tidur. Semalaman dia hanya berguling ke kiri dan ke kanan, dihantui oleh sensasi bibir Gilang yang menempel di bibirnya. Rasa asin, rasa putus asa, rasa rindu... semuanya bercampur menjadi racun yang manis.Soraya menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa bengkak. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja? Dia bangun, menyeret kakinya ke kamar mandi. Di depan cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya pucat."Lo istri orang, Ya," bisiknya pada cermin. "Dan lo baru aja mengkhianati laki-laki paling baik di

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ombak Pasang di Kuta Mandalika

    Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok.Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi ungu dan oranye yang dramatis. Deburan ombak Samudra Hindia terdengar berirama, menghempas pasir putih Pantai Kuta Mandalika yang kini telah disulap menjadi kawasan resor kelas dunia.Di ballroom terbuka Pullman Lombok Merujani Mandalika Beach Resort, para tamu undangan mulai berdatangan. Angin laut yang membawa aroma garam bercampur dengan wangi parfum mahal para pejabat dan investor.Soraya berjalan masuk melewati gerbang pemeriksaan undangan. Dia mengenakan jumpsuit sutra berwarna emerald green dengan potongan halter neck yang elegan namun tetap sopan. Punggungnya tertutup selendang tenun Lombok yang dia beli di bandara, sebuah upaya diplomatis untuk menghargai budaya lokal sekaligus menutupi kulitnya dari angin malam. Dia datang sendirian. Tanpa Brata."Selamat malam, Ibu Soraya. Perwakilan dari Prof. Brata, benar?" sapa panitia ramah."Benar. Suami saya berhalangan hadir kare

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Grafik Stabilitas yang Membosankan

    Tiga Tahun Kemudian.Waktu di Dago Pakar berjalan dengan ritme yang teratur, seperti detak metronom yang tidak pernah meleset satu ketukan pun.Soraya duduk di ruang kerjanya yang luas di rumah, menatap layar laptop. Di dinding di belakangnya, tergantung ijazah Doktoral dan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat atas kontribusinya dalam tim percepatan ekonomi daerah. Namanya kini panjang dan berat: Dr. Soraya Adhitama, S.E., M.Ec. Dev. Di usia 35 tahun, dia memiliki segalanya. Karir cemerlang sebagai konsultan independen, suami Guru Besar yang dihormati, rumah mewah tanpa hutang, dan investasi yang tersebar di reksadana dan obligasi negara. Variabel kehidupannya stabil. Sangat stabil.Tidak ada lagi drama kekurangan uang obat. Ibu Wati sehat. Dimas sukses dengan bisnis kontraktor kecil-kecilannya (yang tentu saja dibimbing oleh Brata di balik layar)."Soraya," suara Brata memanggil dari ruang tengah.Soraya keluar. Brata sedang duduk di sofa kulit, membaca koran Kompas dengan kac

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Kurva Pemulihan yang Lambat

    Pukul 04.30 WIB.Alarm di ponsel Brata berbunyi, memecah keheningan subuh di Dago Pakar. Biasanya, pada dering pertama, tangan Brata akan langsung bergerak mematikannya, lalu dia akan bangun dengan gerakan efisien untuk memulai rutinitas paginya: shalat, baca jurnal, dan lari pagi. Tapi pagi ini, alarm itu berbunyi terus. Satu menit. Dua menit. Soraya terbangun. Dia menggeliat di balik selimutnya, menatap sisi ranjang sebelah kanan. Guling pembatas masih ada di sana, berdiri tegak seperti tembok Berlin mini."Mas?" panggil Soraya serak. "Alarmnya."Tidak ada jawaban. Brata masih terbaring diam, punggungnya memunggungi Soraya. Soraya merasa aneh. Brata tidak pernah telat bangun. Dia adalah manusia paling disiplin yang pernah Soraya kenal. Soraya mengulurkan tangan melewati guling, mengguncang bahu suaminya pelan."Mas Brata? Bangun, udah subuh." Saat tangannya menyentuh kulit bahu Brata yang tertutup piyama, Soraya tersentak. Panas. Sangat panas."Mas!" Soraya langsung bangun, menyin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status