FAZER LOGIN"Ah, Mas..," desah Alya. Bastian langsung menggiring Alya ke tempat tidur. Bibirnya kembali menyesap dada Alya. Mirip seperti Soni, tapi jelas Bastian lebih agresif karena sambil menyesap kedua gununv secara bergantian, tangannya mereka gunung tersebut. Perlahan, bibir Bastian turun ke perut dan tangannya menurunkan dan melepas celana Alya. Tinggallah segitiga yang menutupi bagian intinya. Tangan Bastian menyusup masuk ke dal bagian inti Alya yang kini mulai basah. Ia bermain dan memasukkan jarinya perlahan di sana. Bagian inti Alya terasa sempit, meski sudah beberapa kali dimasukkan jari-jari Bastian. Berbeda jauh dengan milik Siska. "Punya kamu sempit banget, Al. Aku jadi makin penasaran," bisik Bastian, ditelinga Alya. "Lakukan aja, apa yang kamu mau lakukan ke aku, Mas."Sudut-susut bibir Bastian sedikit terangkat saat mendengar Alya mengucapkan hal itu. Seolah, ia baru saja mendapatkan persetujuan yang sangat berarti. Dengan cepat, Bastian melebarkan paha Alya dan membuka s
"Ah.."Tubuhnya hampir jatuh ke belakang. Untungnya, Bastian refleks langsung menarik lengannya dengan cepat. Dan akhirnya, Alya langsung menabrak dada Bastian cukup keras. Kedua tangan lelaki itu spontan menahan pinggang Alya agar tidak jatuh.Suasana mendadak menjadi hening.Alya masih memegang lengan Bastian cukup erat karena kaget. Sedangkan Bastian menunduk menatap Alya yang kini benar-benar berada sangat dekat dengannya."Kamu nggak apa-apa?" tanya Bastian pelan.Alya mengangguk pelan. Nafasnya sempat tidak teratur karena kaget."Nggak apa-apa. Lantainya licin..." gumamnya pelan.Bastian menghela napas pelan. "Untung nggak jatuh."Namun setelah itu, tidak ada lagi yang bicara. Dan entah kenapa, posisi mereka juga tidak berubah sedikitpun. Tangan Bastian masih berada di pinggang Alya. Sedangkan Alya perlahan sadar kalau jarak wajah mereka sekarang terlalu dekat.Degup jantung Bastian terdengar jelas.Dan Alya bisa merasakan itu. Tatapan mereka saling bertemu cukup lama. Bastian s
"Aku paham, Mas," ucap Alya. Ia masih berdiri di dekat meja makan. Kain lap di tangannya perlahan berhenti bergerak. Beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa selain apa yang barusan ia ucapkan. Tatapan Bastian terlihat serius, tidak menyiratkan rasa bercanda sama sekali. Hanya saja, Alya sadar kalau Bastian bicara seperti itu karena kasihan pada Soni. Hal itulah yang membuat dada Alya terasa semakin tidak nyaman."Aku tau ini tiba-tiba," ucap Bastian pelan.Alya sempat menunduk sebelum akhirnya menarik napas pelan."Kamu ngomong kayak gini karena Soni?" tanyanya hati-hati.Bastian terdiam sebentar. "Salah satunya, iya.""Dan yang lainnya?" tanya Alya, penasaran. Bastian terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab jujur."Entah kenapa, aku mulai capek hidup setengah-setengah kayak sekarang, Al."Alya menatap lurus ke wajah Bastian. Sedangkan Bastian bersandar di dekat wastafel sambil menatap lantai beberapa saat."Aku dateng ke sini hampir tiap hari. Main
"Wahh," ucap Alya. Ia tersenyum dan terpana karena tangisan Soni langsung berhenti seketika begitu melihat wajah Bastian. Mata kecil bayi itu membulat beberapa detik sebelum akhirnya bibirnya membentuk senyum lebar kecil yang menggemaskan. "Heh... ketawa dia," gumam Alya pelan. Bastian ikut tersenyum tanpa sadar. Raut wajahnya yang sejak tadi terlihat berat perlahan mulai melembut. "Jagoan Ayah seneng lihat Ayah, hm?" tanyanya lirih, sambil menggoyang pelan tubuh Soni. Soni malah semakin heboh menggerakkan tangan kecilnya sambil mengeluarkan suara-suara bayi yang belum jelas. Sesekali ia tertawa kecil saat Bastian sengaja mendekatkan wajahnya. "Aduh, kamu lucu banget sih, nak,” gumam Bastian pelan. Alya memperhatikan mereka berdua dari dekat sambil tersenyum tipis. Sudah beberapa kali ia melihat Bastian bermain dengan Soni. Namun setiap melihatnya lagi, perasaan Alya tetap terasa hangat. Karena Soni memang terlihat sangat dekat dengan Ayahnya. Bastian kemudian dud
"Oh ya?" tanya Andini. Ia tersenyum kecil, saat mendengar nada posesif suaminya. Tangan kanannya menyentuh pipi Satria secara perlahan. "Padahal aku nggak pergi kemana-mana, loh...""Masalahnya, bukan kamu yang kemana-mana. Tapi orang lain yang tiba-tiba dateng."Andini langsung tertawa kecil. "Kamu lucu banget ih, kalo cemburu kayak gini.""Saya serius, An," tegas Satria. "Iya, aku tau, sayang," jawab Andini, pelan. Suasana kamar kembali tenang. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas keduanya yang perlahan melebur dalam keheningan malam.Satria mengusap lembut pinggang Andini sebelum akhirnya mengecup pelan kening istrinya. Andini refleks memejamkan matanya sesaat."Kamu cantik banget sih hari ini," gumam Satria lirih.Andini langsung salah tingkah. "Apaan sih, dari tadi muji cantik terus.""Karena kamu emang cantik, An."Andini menggeleng pelan sambil menahan senyum. Ia sudah terlalu hafal bagaimana suaminya kalau sedang manis seperti ini.Beberapa detik kemudian, Sat
"Jangan marah, Bro," ucap Jonathan. Ia langsung tertawa pelan melihat ekspresi saudara kembarnya itu. Sedangkan Siska hanya menggeleng pelan sambil menahan malu.Beberapa menit kemudian, keluarga Johan akhirnya benar-benar pulang. Suasana rumah yang sejak sore tadi ramai, kini perlahan mulai kembali tenang.Pintu depan tertutup pelan setelah mobil terakhir keluar dari halaman rumah. Andini langsung menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke sofa ruang tamu."Hah... akhirnya selesai juga," ucap Andini. Satria yang berdiri di dekatnya tersenyum kecil. "Kamu capek, ya?""Lumayan..""Aku perhatiin kamu sibuk banget sih tadi, sampe nggak duduk sama sekali.”Andini menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum tipis. "Ya mau gimana lagi, tamunya kan banyak banget."Satria mengusap pelan pundaknya sekilas."Ya udah. Sekarang kita istirahat, yuk!""Iya."Tidak lama kemudian, rumah benar-benar terasa sepi. Siska sudah masuk ke kamarnya lebih dulu karena kelelahan setelah seharian menema
"Makasih... " ucap Andini. Andini merasa sangat terhina dengan semua perlakuan Rania terhadapnya. Ia tersenyum tipis. "Ibu tenang aja, saya akan menjauhi Satria. Tapi maaf, saya nggak butuh ini."Andini mengembalikan lembaran cek yang tadi diberikan Rania. "Saya rasa, pembicaraan kita sudah sele
"Bunda.. " panggil Satria dengan suara yang berat dan tegas, saat ia baru saja menginjakkan kaki di rumah utama. Rumah di mana ia dibesarkan dengan sangat keras sehingga membentuk Satria yang kuat seperti sekarang. Satria tidak mudah jatuh meski dihantam gunung ataupun gedung-gedung tinggi yang me
"Istri?!" Andini membulatkan matanya. Satria terkekeh. "Saya cuma becanda. Tapi, kalau kamu udah siap sih, aku seneng banget.""Apaan sih, bikin kaget aja.." ucap Andini, sambil mengerucutkan mulutkan. Ia takut Satria menagih janjinya waktu itu. Jujur, saat ini ia masih belum siap untuk menjalani
"An.. " panggil Satria, ketika Andini berjalan semakin menjauh. "Tolong berhenti, An! Saya mau bicara!" pekik Satria. Ia mengambil dan bergegas mengenakan celana yang tergeletak di lantai dan mengenakannya. Lalu berjalan dengan langkah cepat dan panjang untuk bisa mengejar Andini. Ia menahan And







