LOGIN"Gimana? Udah semua?" tanya Siska. Ia baru turun dari lantai atas langsung melihat sekeliling dan tersenyum tipis. Suasana rumah memang sudah cukup ramai sejak pagi tadi. Beberapa koper berjejer rapi di ruang keluarga. Imah dan Oty sibuk memastikan seluruh kebutuhan Arka dan Rosa sudah masuk ke dalam tas. Andini beberapa kali memeriksa perlengkapan si kembar dengan teliti, sementara Satria membantu para staf rumah membawa koper-koper yang akan dibawa."Ini kita mau liburan apa pindahan sih?" tanya Siska lagi, sambil duduk di sofa.Andini yang baru sadar akan kehadiran Siska, langsung menoleh ke arahnya. "Coba aja nanti kalo lo udah punya anak kembar. Baru deh bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang."Siska tertawa kecil. "Kan di sana juga udah disiapin semuanya, An.""Iya. Tapi tetep aja. Gue lebih tenang kalo bawa sendiri. Apalagi kalo urusan kebutuhan si kembar.""Iya juga sih."Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa
"Selesai juga," gumam Siska, pelan. Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, bangkit dari duduknya, dan berjalan kembali menuju ruang keluarga.Di sana, Rania, Satria, dan Andini masih duduk santai sambil mengobrol ringan."Gimana?" tanya Andini begitu melihatnya datang.Siska langsung duduk kembali di sofa."Katanya nggak perlu siapin apa-apa.""Hah? Serius?" tanya Andini, dengan alis yang saling bertaut."Iya. Katanya, semua kebutuhan selama di Joguar udah disiapkan sama keluarga Jonathan."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Berarti, mereka emang udah pikirin banyak kemungkinan dari awal.""Iya, sepertinya begitu, Yah."Rania yang sejak tadi mendengarkan tersenyum tipis. "Kalian emang nggak salah memilih Jonathan dan keluarganya."Siska hanya tersenyum kecil.Sedangkan Rania melanjutkan, "Nggak semua orang bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik seperti itu. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Dan mereka, sama sekali nggak mau membuat kita cemas dan
"Hah..," gumam Siska, sambil menghembuskan nafas perlahan. Ruangan menjadi hening beberapa saat.Siska menundukkan pandangannya. Ia mengerti apa yang dimaksud Rania. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir yang begitu melelahkan, rasanya sulit baginya untuk tidak merasa khawatir.Satria yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. "Nenek benar, Sis."Siska menoleh ke arah Ayahnya. "Kamu atur aja semuanya sesuai rencana kalian.""Tapi, Yah...""Nggak apa-apa," potong Satria pelan. "Sekarang yang penting justru kita memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Kalo emang tinggal dua hari lagi, ya mulai disiapkan dari sekarang."Siska terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.Satria lalu melanjutkan, "Nanti kamu tanya Jonathan apa saja yang perlu kita siapkan di sini. Biar semuanya bisa berjalan lebih cepat. Soalnya, waktu untuk persiapannya kan juga nggak banyak.""Iya, Yah."Andini yang duduk di samping Rania ikut mengangguk setuju. "Iya, Sis. Lo
"Hah..," gumam Siska, pelan. "Kenapa hidup ada aja sih masalahnya, belum selesai satu udah ada lagi yang lainnya. Dosa apa sih aku Tuhan... Kok kayaknya masalah datang terus ga berenti-berenti," lanjutnya, dengan rasa lelah yang tiba-tiba saja datang lebih besar dari sebelumnya. ***Pagi hari datang lebih cepat daripada yang Siska sadari. Ia bahkan tidak benar-benar tidur semalaman. Hanya beberapa kali memejamkan mata sebelum kembali terbangun dan melihat ke arah pintu ICU.Sekitar pukul enam pagi, seorang perawat keluar dari ruangan tersebut."Bu Siska?"Siska yang matanya masih terpejam, langsung membuka mata dan bangkit dari duduknya. "Iya."Perawat tersenyum tipis. "Ibu Rania sudah sadar, Bu."Mendengar kabar itu, membuat beban besar yang ada di pundak Siska terangkat seketika."Beneran, Sus?" tanya Siska, memastikan. "Iya, Bu. Tapi beliau masih lemas. Nanti Ibu bisa masuk sebentar.""Baik, terima kasih, Sus," ucap Siska, sambil mengangguk cepat dan berjalan menuju ruang ICU.
"Aamiin," ucap Andini dan Satria, hampir bersamaan. Operasi yang berjalan dengan baik itu memang membuat mereka sedikit lebih tenang. Namun bukan berarti semuanya telah selesai. Masih ada masa pemulihan yang harus dilewati.Masih ada hasil patologi yang harus ditunggu. Dan yang paling penting, masih ada Rania yang harus berjuang untuk benar-benar pulih.Beberapa saat setelah dokter pergi, seorang perawat datang menghampiri mereka."Kalau ingin melihat pasien, nanti bisa bergantian ya, Pak, Bu."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Saya duluan, ya.""Iya, Yah," jawab Siska. Perawat itu langsung mempersilakan Satria untuk masuk. Dan ia segera mengikuti perawat menuju area ICU.Begitu masuk ke dalam ruangan, langkahnya otomatis melambat. Rania sedang terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajah perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar itu tampak jauh lebih pucat.Satria berdiri cukup lama di samping ranjang. Ia tidak banyak bicara.
"Ayo!" jawab Andini. Andini dan Siska tiba di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit kemudian. Begitu pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan cepat menuju ruang tunggu yang berada di dekat area pemeriksaan. Satria sudah berada di sana lebih dulu. Pria itu sedang berdiri sambil berbicara dengan salah satu perawat ketika melihat kedatangan mereka. "Ayah!" panggil Siska. Satria yang sudah selesai bicara, segera berjalan menghampiri Siska dan Andini. "Gimana keadaan Nenek?" tanya Siska dan Andini hampir bersamaan. Satria menghela napas pelan. "Nenek masih dalam pemeriksaan." "Diperiksa apanya?" tanya Andini. "Dokter lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh. CT Scan, MRI, sama beberapa pemeriksaan lain." Siska langsung mengangguk pelan. "Jadi, kita harus tunggu hasilnya dulu ya, Yah?" "Iya," jawab Satria, singkat. Mereka akhirnya duduk di ruang tunggu. Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Siska beberapa kali melihat ke arah pintu ruang
"Apa?" Satria mengerutkan kening. "Iya! Kamu lihat kan, aku baru aja sampai dan langsung ke sini. Kalau harus ke rumah atau hotel kan butuh waktu, sayang!" rengek Zaskia. Dia menunjuk koper yang tadi ia bawa. Satria melihat ke arah Siska untuk meminta jawaban. Sayangnya, Ia hanya diam tidak memb
"Siska?" Andini memastikan. Dia membulatkan mata dan bangkit dari tempat duduknya. 'Siska baru aja datang kan?! Dia nggak denger semua yang gue omongin tadi kan?!' batin Andini, penuh harap."Iya! Ini gue!" tegas Siska. "Di mana Ibu? Gue nggak salah denger kan lo bilang tadi Ibu gue?" tanya Sisk
"Ibu... " ucap Zaskia pelan. Zaskia berhenti sejenak. Dia harus memilih kata terbaik agar Siska mau menerimanya kembali dan membantunya untuk bisa dekat dengan Satria. Ia menatap lurus ke arah Siska. "Pada saat itu... Ibu seperti terhipnotis, sayang!" "Ibu akan mencoba menjelaskan karena sekara
"Ayo!"Satria bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Andini yang sudah berdiri di samping meja. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Saat mereka sudah di dalam mobil, Satria membantu memasangkan sabuk pengaman kepada Andini. Andini tersenyum. 'Apa kemajuan ini aku manfaatkan







