LOGIN"Yakin?" tanya Satria, memastikan. Andini mengangguk. Ia sangat yakin dengan keputusannya. "Baiklah kalau begitu." tutur Satria pasrah. "Ya udah, Ayah balik ke kantor gih!" perintah Siska. "Kan udah ada aku di sini.""Memang kamu bisa urus Andini sendirian?" tanya Satria, ragu. Siska mengerutkan kening. "Bisalah, Ayah! Lagian, Andini kan bukan bayi yang harus aku gendong-gendong..." Ia mengerucutkan mulutnya. Sebal dengan pertanyaan Satria yang seolah meragukan kemampuannya. "Lagian, kalau butuh makanan atau minuman, kan bisa pesan online. Zaman sekarang udah canggih Ayah, jangan dipersulit." lanjutnya. Alis Satria saling bertaut. 'Padahal aku cuma ngomong satu kalimat, tapi Siska jawabnya banyak banget.. Persis kayak Ibunya.' batin Satria. Sebenarnya, ia ingin sekali menemani Andini. Tapi, jika ia memaksa, Siska pasti akan curiga. "Baiklah, Ayah balik kantor dulu ya." ucap Satria, akhirnya. Dalam hati ia berharap Andini mencegahnya. Namun hal itu tidak akan mungkin terjadi
"Baguslah." jawab Satria. Ia bersyukur bisa kembali melihat senyuman di wajah Andini. Jujur, saat tadi mengantar Andini ke rumah sakit, ia sempat khawatir Andini membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih seperti semula. Namun, perkiraannya ternyata salah. Andini, lebih kuat dari apa yang ia bayangkan. "An... " panggil Siska. Andini melihat ke arahnya, ia kembali menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk senyuman yang sempurna. Dia tau Siska sangat khawatir. Terlebih, ini bukan kali pertama ia mengalaminya. Maka dari itu, ia berusaha maksimal untuk tetap tenang dan tersenyum agar kekhawatiran Siska bisa lebih terurai. "Iya, kenapa Sis?" tanya Andini. Masih tetap mempertahankan senyuman di wajah cantiknya. "Apa.. Nggak sebaiknya kamu ngikutin permintaan aku dulu?"Andini mengerutkan kening. Siska terlalu banyak meminta sesuatu padanya. Ia bingung permintaan mana yang Siska maksud sekarang. "Permintaan apa sih, Sis? Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja kok."Ujung bibir
"Lepas... " teriak Andini. Brak! Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Andini dan Dion yang tadi berada di balik pintu, kini sudah pindah di tembok sebelah kiri, dekat tangga. Jauh dari pintu. Hal itu disebabkan karena Andini yang terus memberontak dan membuat mereka bergeser. Sehingga Satria bisa dengan mudah masuk ke dalam. Satria membulatkan matanya saat melihat perempuannya mengalami pelecehan. Spontan, ia langsung meninju Dion dengan kencang dan membuatnya jatuh dan menggelinding turun dari tangga. "Dasar, Berengsek!" umpat Satria. "Bangun kamu!"Karena khawatir dengan sikap Dion, setelah rapat selesai, Satria langsung bertanya keberadaan Andini pada Bob. Bob bergegas mencarinya di meja sekretaris, namun Andini tidak ada di tempat. Menurut informasi dari Dila, Andini sedang membeli minuman dingin di mesin mandiri yang berada di lobby. Dengan sigap, Bob menginfokan kepada Satria dan mereka mencoba mencari Andini bersama-sama di lobby. Sayangnya, batang hidung Andini tid
"Nggak!" jawab Satria. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Sebelum pengkhianatan yang ia terima, Satria memang berkenan jika Zaskia datang dan menginap di rumah. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Ia sudah tidak percaya pada Zaskia. Terlebih, banyak dokumen penting yang ia simpan di rumah. Bisa saja Zaskia mencuri dan melakukan suatu hal yang merugikan dirinya. Kini, Satria hanya memperbolehkan Zaskia berkunjung untuk melihat anak semata wayangnya, Siska.Zaskia mengerutkan kening. 'Aku ngarepin apa sih! Bukankah itu adalah jawaban yang pasti keluar dari mulut Satria?' batin Zaskia. 'Tapi, kenapa rasanya kesel banget. ' "Terus aku harus tinggal di mana kalau bukan di sini?" tanyanya ketus. "Kamu bisa mencari hotel atau apartemen seperti biasa. Dan hubungi Bob untuk melakukan pembayaran jika kamu benar-benar tidak punya uang." jawab Satria. "Lalu, untuk mencari hotel, gimana? Kendaraan... " tanya Zaskia kembali. Semakin banyak saja alasan yang ke luar dari mulutnya untuk
"Gila!" bentak Satria. "Terserah kamu, Sat. Itu tawaran yang aku berikan jika kamu ingin rahasia ini terjamin." ucap Zaskia. Ia masih mempertahankan senyuman di bibirnya. Ia yakin Satria akan mengabulkan permintaannya jika hal tersebut berhubungan dengan anak semata wayangnya. Persis seperti saat dulu ia meminta cerai. Ia berjanji akan tetap menjadi Ibu yang baik dan memberikan perhatian terhadap anaknya jika Satria tetap mengaktifkan seluruh kartu debit dan kreditnya serta memberikan akses keluar masuk untuk datang ke rumah. Sayangnya, saat itu ia lupa meminta kartu debit dan kredit atas nama dirinya sendiri. SehinggaSehingga, dengan mudah Satria dapat memblokir semuanya. Satria terdiam. Ia mencoba berfikir dan menimbang sejenak. Netranya tidak lepas melihat ke arah lift dan tangga yang jarak diantara keduanya tidak terlalu jauh. Ia khawatir Siska turun dan mendengar pembicaraan mereka berdua. Satu menit berlalu. Mata hitam legamnya kembali melihat ke arah Zaskia. "Oke. Dengan
"Satria!" panggil Zaskia saat batang hidungnya baru memasuki ruang tamu. 'Ah! Dia sudah ada di sini ternyata!' batin Satria. Wajah Satria yang tadinya sumringah karena baru selesai ganti oli, berubah masam seketika ketika mendengar suara Zaskia. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan Zaskia yang terus berteriak memanggilnya. Seolah, tidak ada orang dan suara yang memanggilnya. Zaskia berlari kecil mengejar langkah Satria yang panjang. Lalu, ia menahannya dengan menggenggam pergelangan tangan Satria."Aku bilang berhenti, Sat! Sebelum aku teriak dan menyebut nama Andini yang tidak lain sahabat putri kita di sini!" ancam Zaskia. Mendengar ucapan Zaskia membuat Satria berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Zaskia. Wajahnya memerah menahan amarah karena Zaskia berani menyangkut pautkan nama Andini dalam masalah mereka berdua. Zaskia tersenyum tipis. 'Sial! Ternyata ancamanku berhasil 100%!' batin Zaskia. 'Bisa-bisanya aku kalah dengan anak yang baru netas seperti Andini!'"Apa







