LOGIN"Uhm.." renguh Siska. Di kamar hotel, lampu redup masih menyala. Seprai sudah berantakan. Siska terbaring, napasnya perlahan mulai kembali teratur. Sedangkan Johan duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lututnya.Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara."Kamu bsik-baik aja, Sis?" tanya Johan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Siska menganggukkan kepalanya perlahan. Ia menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya menjawab."Iya. Aku cuma sedikit… capek."Johan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dari raut wajah Siska, ia tahu ini bukan sekadar soal malam ini.Siska bangkit perlahan, meraih gaun malamnya yang tergeletak di samping tempat tidur."Aku balik ya, " ucapnya datar.Johan menoleh, matanya sedikit membulat. "Kamu, nggak perlu buru-buru juga, Sis."Siska menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku datang ke sini bukan buat tinggal, Jo."Nada suaranya tegas, tanpa emosi berlebih. Johan hanya tersenyum tipis, seolah sudah menduga."Oke."Beberap
"Akhirnya..," ucap Siska, saat ponselnya kembali bergetar.Ia melirik sekilas, lalu bergegas mengambilnya.Putri :Hotel Griya Dots, VIP Room 101. Tadi dia info, dia udah standby.Siska membaca pesan tanpa membalasnya. Ia bangkit dari duduknya tanpa banyak berpikir. Setelah itu, ia mengambil tas kecil. Memasukkan dompet dan ponsel. Tidak lupa ia mengambil kunci mobil.Ia keluar dari kamar dan menutup pintu seperti biasa. Pelan, tanpa suara.Perjalanan menuju hotel sangat lancar. Kini, Siska berdiri di depan kamar VIP nomor 110. Ia terdiam beberapa detik, namun ia yakin tadi pesan yang di kirim Putri 110. Iapun tidak ingin repot dan memastikannya kembali.Akhirnya, ia mengetuk pintu perlahan. Lalu, pintu sedikit terbuka.Siska langsung mengernyit. "Johan?"Pria di depannya sama terkejutnya. Hanya saja, Johan adalah orang yang dingin dan pendiam. Ia sangat pintar dan terbiasa mengatur ekspresinya tanpa sadar. Sehingga, hal itu tidak terlihat dari raut wajahnya yang terkesan tenang. "Iy
"Hah.."Siska menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tanpa berpikir panjang, keran air dibuka. Suara air mengalir memenuhi ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi seolah menekan."Mungkin perasaanku akan lebih baik setelah mandi nanti," ucap Siska pelan. Ia berdiri beberapa detik. Lalu, tangannya bergerak membuka laci kecil di samping wastafel. Ia mengambil botol aromaterapi yang biasa ia pakai dengan aroma lavender. Tutupnya dibuka, lalu beberapa tetes ia tuangkan ke dalam air yang mulai memenuhi bathtub.Aroma lembut itu perlahan menyebar.Ia menghirupnya dalam-dalam. Bahunya yang sejak tadi tegang, kini sedikit turun.Air terus mengalir. Siska akhirnya mulai membuka pakaiannya satu per satu secara perlahan. Seolah, setiap gerakan butuh waktu lebih lama dari biasanya. Setelah air di dalam bathtub cukup penuh, ia mematikan keran."Aku rasa cukup," ucapnya Beberapa detik ia hanya berdiri di pinggir, menatap air yang sed
"Apa?" tanya Bastian. Ia jelas kaget dengan nada dan pilihan kata Siska. Itu bukan sekadar marah. Tapi itu adalah campuran dari rasa kecewa, terluka, dan kehilangan kepercayaan dalam waktu bersamaan."Beb, tenang dulu," jawabnya cepat, suaranya sedikit tertahan. "Nggak kayak gitu. Aku sama Alya nggak ada apa-apa sebelumnya. Kita baru kenal hari ini dan itupun karena project Keluarga An. Kejadian barusan itu cuma..."Siska tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi justru sebaliknya. Tawa yang tipis dan hambar."Barusan?" ulangnya pelan. "Dan kamu pikir itu bikin apa yang udah kamu lakuin sama Alya jadi lebih baik?"Bastian terdiam sesaat. Ia tahu, penjelasan seperti itu tidak akan terdengar meringankan di telinga siapa pun."Aku emang salah dan aku akui itu. Tapi bukan berarti aku main di belakang kamu, Beb. Aku nggak pernah berfikir jauh sampe seperti itu. Kamu yang paling tau gimana besarnya rasa cinta dan sayang aku ke kamu.""Cukup, Bas," ucap Siska. Ia kembali mengangkat tangan ka
"Kamu benar-benar menarik," gumam Alya. Ia tidak benar-benar berhenti. Jarak yang sudah semakin tipis itu, perlahan mulai menghilang. Napas mereka saling bersentuhan lebih dulu. Hangat dan teratur. Tapi anehnya terasa semakin berat.Bastian masih diam sesaat. Tangannya tetap berada di bahu Alya. Seolah, ia ingin menahan atau mungkin justru memastikan jarak itu tidak berubah sama sekali. Dan saat Alya sedikit memiringkan wajahnya, bibir mereka akhirnya saling bersentuhan. Singkat, sangat singkat.Namun cukup untuk membuat Bastian membeku sepersekian detik.Melihat reaksi Bastian, Alya tidak langsung mundur. Justru sebaliknya. Ia kembali mendekat. Semakin dekat. Dan kali ini lebih pelan dan yakin. Yakin kalau Bastian tidak menolaknya. "Uhm..," renguh Alya. Bastian menarik napas dalam, tapi entah kenapa ia tidak langsung menjauh. Sebagai laki-laki normal, reaksi itu datang begitu saja. Ada dorongan halus yang sulit diabaikan. Apalagi dengan Alya yang berdiri sedekat itu, tanpa ragu,
"Silahkan,"Pintu apartemen terbuka pelan. Bastian melangkah masuk lebih dulu, diikuti Alya di belakangnya.Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup tertata rapi. Aroma kopi samar masih tertinggal, bercampur dengan wangi sabun yang bersih. Lampu-lampu hangat membuat suasana terasa nyaman, tidak kaku seperti kantor."Nggak apa-apa nih, Mas?" tanya Alya dengan senyum sedikit menggoda. "Nggak apa-apa, masuk aja," ucap Bastian singkat sambil meletakkan kunci mobil di meja dekat pintu.Alya melangkah masuk perlahan, matanya langsung berkeliling. Ia memperhatikan setiap sudut. Mulai dari sofa, meja kerja kecil di pojok, sampai rak yang berisi kamera dan beberapa lensa."Kamu rapi banget sih, Mas..," gumamnya, nyaris seperti bicara sendiri."Biasa aja," jawab Bastian sambil membuka jaketnya.Alya berjalan pelan ke arah rak kamera. "Ini semua punya kamu, Mas?""Iya," jawab Bastian singkat.Sebenarnya, ia masih bingung dengan sikap Alya sekarang. Padahal, pagi tadi dia bilang belum pernah
"Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu
"An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda
"Sempurna!" Zaskia berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil. Sesampainya di hotel, ia menuju meja resepsionis, lalu menerima digital key untuk masuk ke dalam kamar presiden suite. "Sat, kamu udah sampai?" tanya Zaskia, saat panggilan telpon sudah terhubung. Sa
"Yah, aku mau bicara!"Pesan singkat yang diterima Satria pagi ini. Ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan berjalan ke luar kamar. "Sis.. " panggilnya. Saat ia sedang berada di depan pintu kamar anak semata wayangnya. Namun, sudah beberapa kali ia mencoba memanggil, pintu kamar tidak juga







