Share

Bab 5

Author: Saggyryes
last update publish date: 2025-11-03 13:29:45

‘Ugh! Tapi kayaknya nggak bakal kurestuin ah! Dia kayaknya playboy!’ Siska melanjutkan pemikirannya.

Setelah beberapa saat mendengarkan obrolan kedua pemegang jabatan tinggi itu, Siska mulai bosan dan jengah.

“Yah, udah kelar belum?” tanya Siska sedikit merengek. “Takut Andini nungguin.”

Dan lagi, ia semakin malas mendengar Dion bicara.

Satria pun menurut kali ini. Ia juga sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama putrinya.

"Saya rasa pembahasan kita sudah cukup sampai di sini, Dion. Mengenai target bulan ini dan selanjutnya, saya harap kita bisa mencapainya."

"Iya Pak. Kalau begitu, saya izin undur diri."

Satria mengangguk sementara Dion membereskan beberapa dokumen yang dia bawa, kemudian pergi dari ruangan itu.

Siska berjalan menghampiri Satria dan menaruh lengan di pundak Ayahnya.

"Ayo, Ayah …," rengek Siska lagi.

Satria mengerutkan kening.

"Sayang,lain kali, kamu tidak boleh seperti itu! Ayah kan sedang kerja! Dan kamu tau, Ayah selalu tau waktu! Ayah tidak mau bawahan Ayah nanti membicarakan dan beranggapan tidak baik tentang kamu, Sis!"

"Iya, maaf Ayah!” bujuk Siska sambil menggenggam tangan Satria dan mengayunnya seperti anak kecil.

Lagi, Siska menambahkan keluhannya. “Habis aku kesal sama Dion! Aku kira dia cool tapi ternyata kulkas!"

"Hush! Nggak boleh gitu!” tegur Satria. “Bagaimanapun sikap Dion di luar, dia adalah CEO terbaik yang kita miliki."

Siska mengerucutkan mulutnya. "Iya ... iya ...."

"Ya udah, kamu tunggu sebentar! Ayah mau rapihkan dokumen dan matikan laptop dulu."

"Baik Ayah."

Siska kembali duduk di sofa, sedangkan Satria mulai bersiap.

"Ayo sayang!"

"Ayok!"

'Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa pulang bareng Ayah.' batin Siska.

Putri semata wayang Satria itu tersenyum melihat wajah Ayahnya yang selalu menjadi panutan.

Keluar dari ruangan, Siska langsung menghampiri meja Andini. "An, udah selesai belom?"

"Udah nih!” Andini mencangklong tasnya, kemudian pamit, "Mba Dila, aku duluan ya!"

"Iya, hati-hati ya An!" Dila melambaikan tangan singkat.

"Saya juga pulang dulu ya, Dil,” tambah Satria. “Kalau ada sesuatu yang mendesak, kamu bisa segera menghubungi saya seperti biasa."

"Baik Pak."

“Lho, Om—eh, Pak Satria sudah mau pulang juga?" tanya Andini, ragu.

Satria mengangguk sambil menjawab singkat, "Iya!"

Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat parkir.

"Sis, nanti gue bareng mobil lo aja ya!" bisik Andini.

"Tumben, biasanya lo lebih seneng naik mobil Ayah!" ledek Siska.

Andini nyengir. Biasanya, Andini memang lebih memilih naik mobil Satria daripada Siska. Dengan alasan mobil Satria lebih keren dan dingin. Padahal, tujuan Andini adalah untuk bisa lebih dekat dengan Satria dan mendapatkan kesempatan yang selama ini dia inginkan.

Tapi kali ini berbeda, Andini sudah capek berpura-pura. Satria sangat peka, sedangkan Siska tidak.

"Lagian, gue nggak bawa mobil An! Tadi ke sini naik taksi online." ucap Siska menjelaskan.

Mulut Andini membentuk huruf O.

"Nggak apa-apa kan kita naik mobil Ayah?" lanjut Siska lagi.

"Ya mau gimana lagi." jawab Andini lemas.

"An, lo mau duduk di depan bareng Ayah atau di belakang?" tanya Siska saat mereka sudah sampai di samping mobil Satria.

Belum sempat Andini menjawab, Satria sudah mewakili. "Andini di bangku belakang aja, sayang. Kan kakinya sedang sakit. Betul kan, An?"

Mau tidak mau, Andini mengangguk.

Padahal, dia ingin sekali duduk di samping Satria. Sambil sesekali mengambil kesempatan menyentuh punggung tangannya saat dia sedang mengganti gigi setir mobil, pura-pura mengambil permen atau bahkan tissu.

"Nggak apa-apa An?"

"Iya, nggak apa-apa."

Mereka masuk ke dalam mobil dan Satria mulai mengendarai mobilnya.

"An, lo pulang ke rumah gue dulu aja ya! Kaki lo kan lagi sakit."

"Nggak usah Sis, gue pulang aja. Kasihan Tante nggak ada yang bantuin untuk jualan besok."

Siska menarik nafas dan membuangnya kasar.

"Bisa nggak sih lo pikirin diri lo dulu! Lagian kan udah lama banget lo nggak nginep!" bujuk Siska. Dia menatap sambil cemberut ke arah Andini.

Andini terkekeh melihat wajah anehnya itu. Ia pun menyerah. "Iya deh, iya!"

Sesampainya di rumah Siska.

"An, lo mau mandi duluan apa gimana?"

"Lo duluan deh Sis. Gue mau nelpon Tante dulu. Mau info kalau gue nginep di sini," jawab Andini tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Oke deh."

Sudah lama Andini tidak menginap di sini. Tepatnya sejak Satria pergi ke luar negeri.

Andini harus fokus membantu Tantenya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya. Karena penghasilan Omnya yang hanya buruh biasa tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka.

Sejak kepergian orang tuanya yang mendadak, dan usaha mendiang Ayahnya diambil alih Om dari Ayahnya, Andini menggantungkan hidup kepada mereka berdua.

Untunglah rumah peninggalan orang tuanya tidak diambil, sehingga mereka masih bisa tinggal di sana.

"Gih An, gue udah kelar nih! Gue bantuin Ayah di ruang makan ya," ujar Siska setelah selesai dari kamar mandi.

"Oke, oke."

Andini menaruh ponselnya di atas nakas, mengambil pakaian yang sudah disiapkan Siska dan bergegas masuk ke kamar mandi. Letak kamar mandi itu ada di dalam kamar Siska.

Baru saja Andini membuka baju, tiba-tiba ada sesuatu yang terbang melewatinya. Spontan Andini berteriak sambil keluar dari kamar mandi.

“Ah!”

“Andini kenapa?!”

Tidak disangkanya, yang pertama datang dengan raut panik adalah Satria. Di saat ia tidak mengenakan sehelai bajupun.

Spontan Satria menutupi matanya rapat dengan telapak tangan. “Astaga!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 273

    "Hah..," Siska menghela nafas pelan. Ia memandang lurus ke depan. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca depan mobil, bergerak perlahan mengikuti laju kendaraan yang cukup stabil. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan banyak tekanan sekaligus.Johan tidak berkata apa-apa. Tangannya tetap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Siska. Ia sadar kapan harus diam. Dan malam ini, jelas bukan waktunya untuk bertanya.Mobil terus melaju tanpa arah yang jelas.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Siska akhirnya menoleh sedikit ke arah Johan. "Jo..""Hm?" tanya Johan. Ia langsung merespon, dengan suara yang dijaga untuk tetap tenang.Siska diam sebentar, seolah memilih kata yang cocok. "Kamu.. mau nggak nemenin aku malam ini?"Tidak ada nada manja dan juga tidak terdengar rapuh. Tapi cukup jelas kalau itu bukanlah permintaan biasa.Johan menoleh sekilas, lalu tersenyum ti

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 272

    "Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 271

    "Aku..," jawab Siska, ragu. Ia memutar gelas di tangannya pelan sambil menatap cairan di dalamnya. Seolah, sedang mencari sesuatu di sana."Untuk sekarang, aku nggak tau, Bas," ucapnya akhirnya.Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak juga bergetar. Dan justru itu yang membuatnya terasa semakin jauh.Bastian mengernyit tipis. "Nggak tau gimana maksud kamu, Beb?"Siska menggedikkan bahunya pelan. "Ya nggak tau aja, Bas. Aku nggak bisa langsung bilang iya atau nggak. Karena jujur perasaan aku masih kayak gini."Ia menunjuk dadanya sendiri, singkat. Terlihat jelas rasa nyeri yang tersirat di dalam diri Siska. Namun, ia sengaja tidak mengatakannya. Beberapa lama, hening sejenak. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi, ada sesuatu yang tersirat di wajah Bastian. bukan marah, tapi lebih ke arah tidak puas."Ya tapi aku juga manusia, Beb. Aku laki-laki. Dan kadang hal kayak gitu.," ucap Bastian. Ia berhenti sejenak, menahan napas. Masih mencoba menimbang semua ucapan yang akan ke

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 270

    "Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 269

    "Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 268

    "Hah.. "Bastian menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah sekian lama berdiri tanpa arah di tengah apartemen.Kepalanya benar-benar terasa berat. Bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti berbicara sejak tadi."Kenapa sih, ada aja masalah. Dan kali ini malah lebih berat dari sebelumnya. Terkait Siska, pula," gumamnya lirih.Ia menatap kosong ke depan. Pertanyaan yang sama masih terus berulang tentang alasan Alya yang tidak menghentikannya dan menyerahkan keperawanannya kepada laki-laki yang sudah ia tahu memiliki pasangan. Dan pasangannya itu, temannya sendiri. Bastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dengan malas. Tangan kanannya mengacak cukup kencang rambutnya sendiri, sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi.Air dingin langsung mengguyur tubuhnya tanpa peringatan. Ia berdiri diam di bawah shower, membiarkan air jatuh terus menerus, seolah bisa membersihkan dan menghempaskan seluruh masalah yang ada d

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 70

    "Nggak!" jawab Satria. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Sebelum pengkhianatan yang ia terima, Satria memang berkenan jika Zaskia datang dan menginap di rumah. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Ia sudah tidak percaya pada Zaskia. Terlebih, banyak dokumen penting yang ia simpan di rumah.

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 77

    "Nggak!" tegas Bob. 'Dia pikir aku laki-laki murahan yang bisa dipake sana sini, apa! Kalau bukan karena dia mantan istri Pak Satria, sudah sejak lama aku sumpel mulutnya yang menyebalkan itu!' batin Bob. 'Wajahnya saja yang cantik, tapi mulut dan hatinya bikin geleng-geleng kepala. Entah apa

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 67

    "Uhm... " renguh Andini. Tadi, ia membalikkan posisi dan turun ke bagian inti Satria. Rasa penasaran ingin mencoba membuatnya beralih ke sana. Kini, tidak perduli dengan desahan Satria, Andini justru makin asik mengulum dan mengemut bagian intinya yang berukuran super jumbo. 'Pantas waktu pertam

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 61

    "Bob!" panggil Satria melalui telpon. "Iya, Pak.""Segera cari tau alasan Andini berubah sikap kepada saya!" perintah Satria. Dengan suara tegas dan berat. "Baik, Pak!" jawab Bob. "Oh ya, Pak! Barusan saya sempat lihat Andini dan Dion di lobby." Ia memberi informasi. Tadi, ia sempat meminjam c

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status