Share

Bab 78

Author: Saggyryes
last update Last Updated: 2026-01-09 05:56:21

"Muat.. " ucap Andini.

"Sampe kelolodan tapinya.. " Ia terkekeh.

"Uihh.. Enak banget dong dia.. " ucap Siska.

Andini tertawa. "Merem melek pokoknya mah... "

Siska terbahak. "An... An... Akhirnya lo bisa ngikutin juga kalo gue lagi ngomong beginian."

"Ya kan karena sekarang gue udah ngerasain." Andini nyengir.

"Iya, sih.. Tapi, lo pakai pengaman kan?" tanya Siska. Ia khawatir sahabatnya itu belum sepenuhnya paham.

"Pernah pakai sih, tapi seringnya nggak. Abis, lebih enak nggak pake." jawab Andini, jujur.

"Astaga, An! Nanti kalau lo hamil, gimana?" tanya Siska, ia sangat takut hal itu terjadi setelah Ibunya mengingatkan. Makanya, sekarang ia memperingati Andini.

Andini menggedikkan bahunya. "Ya nggak apa-apa. Tinggal tanggung jawab dong... " ucapnya, santai.

Siska mengerutkan kening. "Emangnya lo udah siap? Terus... tuh laki-laki, mau tanggung jawab?"

"Kalau soal siap sih, udah pasti.. nggak. Tapi kalau soal tanggung jawab, gue yakin dia mau." ucap Andini, yakin.

Siska membulatk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 85

    "Iya sih.. " jawab Andini. 'Benar juga kata Tante. Apalagi sekarang Satria adalah salah satu orang terdekat yang tidak lain adalah kekasihku.' batin Andini. Ia terkikik dalam hati. 'Aku nggak bisa langsung ambil keputusan sendiri begitu aja.'Andini bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya dan segera mengirim pesan kepada Satria. Saat ia selesai menekan tombol kirim, ponselnya mulai bergetar. Nomor yang tertera bukanlah nomor yang ia kenal. Ia mencoba menimbang, lalu akhirnya mengangkat panggilan telpon tersebut. "Halo, siapa ini?" tanya Andini dengan kening berkerut. "Apa benar, ini nomor.. Andini Larasati?!" tanya seorang perempuan dengan suara paraunya yang khas. Masih terdengar isakkan tangis disela-sela suaranya saat ia berbicara. Alis sebelah kanan Andini naik. "Iya, benar. Ini siapa, ya?" tanya Andini sambil berjalan kembali menuju sofa panjang dimana Cinta dan Siska berada. Seper

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 84

    "Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang perusahaan properti kepada Dion dan membuatnya seperti sekarang?"Raya mengangguk lemah. "Tapi bukannya berterima kasih, dia malah menusuk kami dari belakang. Apa menurut Tante, orang seperti itu harus mendapatkan bekas kasih dari kami?!" tanya Satria. "Tapi, Sat.. Saya yakin ada alasan khusus kenapa Dion bersikap seperti itu. Terlebih, saya yakin kalau sebenarnya... Dion nggak pernah melakukan korupsi atau penyelewengan apapun." tutur Raya. "Pasti ada kesalahan, Sat. Ada orang yang ingin menjebak Dion dengan data yang tidak benar dan membuatnya ke luar dari perusahaan ini secara paksa."'Tebakan yang tepat, Tan! Tapi sayang, semua itu sudah aku sulap seperti nyata!' batin Satria. 'Sekara

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 83

    "Sebenarnya..." Andini melirik ke arah Siska. "Sebenarnya apa, An? Kok jawabnya ngegantung gitu sih?" tanya Cinta."Sebenarnya, aku cuma memar pada bagian kening dan kaki aja Tan, nggak ada cedera serius." jawab Andini jujur.Cinta mengerutkan kening"Terus, kenapa kamu harus dirawat dan bermalam di rumah sakit kalau nggak ada yang serius, An?" "Ini karena.. Pak Satria dan Siska khawatir dengan kondisi aku, Tan. Jadi, mereka meminta aku untuk beristirahat disini selama satu atau dua malam." "Iya, Tan. Kami berfikir, ini mungkin bisa jadi salah satu cara untuk mengurangi trauma dalam diri Andini. Karena setelah kejadian, Andini sempat nggak sadarkan diri." Siska menjelaskan "Pas nggak sadarkan diri, ia menangis dan tubuhnya demam. Makanya, kami khawatir dan meminta Andini dirawat di sini untuk menenangkan hati dan pikirannya, Tan." lanjutnya. Cinta membulatkan mata, ia tidak menyangka Andini yang begitu kuat dimatanya bisa menjadi seperti itu. Dengan cepat, Cinta berjalan mengha

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 82

    "Raya... " gumam Cinta. Ia melihat ke arah Andini sekilas, seolah meminta persetujuan. Dengan cepat, Andini mengangguk menyetujui. Cinta kembali melihat layar ponsel dan segera menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. "Jadi, gimana Ibu Cinta, apa Andini berkenan mencabut gugatan itu?" tanya Raya, penuh harap. "Maaf Bu Raya, Andini tetap akan menjalani gugatan yang telah dilayangkan untuk Dion." jawab Cinta. Meski hatinya sangat kesal dengan Dion, tapi Cinta tidak bisa bersikap dan bertutur kata tidak sopan kepadanya. Bagaimanapun, sikap dan perilakunya, tak terkecuali yang terucap dari mulutnya merupakan cermin pribadi yang selalu memberikan dampak besar bagi Andini. Jadi, meski ia kesal, ia selalu berusaha maksimal untuk mengontrol emosinya. Terdengar isakan tangis dari balik ponsel Cinta. Ia yakin, kali ini, Raya sedang menangis meratapi kemalangan yang menimpa anak semata wayangnya karena ulahnya sendiri. "Maaf Ibu Cinta, a-apa Andini tidak bisa dibujuk Bu? Saya... " ucap

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 81

    "Tante.. " panggil Andini. Siska dan Andini saling pandang saat melihat kedatangan Cinta dan Agung. Cinta mematikan ponselnya dan mempercepat langkahnya untuk segera mendekati tempat tidur dimana Andini berada. "Kamu kenapa nggak bilang sih, An?" tanya Cinta, ketika sudah berada di samping tempat tidur Andini. Wajahnya terlihat merah karena menangis dan menahan amarah. Air mata masih menetes dipipinya. Ia tidak tahan melihat anak yang selama ini ia urus setengah mati diperlakukan seperti itu.Ini adalah salah satu hal yang membuat Andini tidak mau memberitahu mereka. Menurutnya, Cinta terkadang terlalu berlebihan dalam menghadapi sebuah musibah dan kemalangan. Ia akan menangis terus menerus dan sulit untuk diminta berhenti. Terlebih, kini kesehatannya mudah sekali turun jika ia terlalu sedih dan banyak pikiran. Andini menghapus lembut sisa air mata yang ada di pipi Cinta. "Tante jangan nangis, aku nggak apa-apa kok."Ia menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk senyuman lebar. Sama

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 80

    "Cantik... " ucap Satria, tanpa berkedip. Ia terus memandang wajah cantik Andini yang mulus, tanpa cela. Ia tidak menyangka bisa memiliki hubungan dan menjadi orang pertama yang bisa menikmati mahkota berharga miliknya. 'Andai Andini mau menjadi istriku, aku pasti akan sangat bahagia dibuatnya.. Sayang dia menolak dan memintaku untuk menunggu.' batin Satria. 'Ah.. Andini sudah membuat aku makin menggila!'Ia menggelengkan kepala perlahan. Tanpa melepas pandangannya dari Andini. Ia tidak sadar kalau sejak tadi, netra Siska terus memperhatikan gerak geriknya. Sadar Ayahnya menatap Andini terlalu dalam, Siska menyenggol pundak Ayahnya dengan pundaknya sendiri. "Apa, Sis?" tanya Satria tanpa rasa bersalah. Siska menata galak ke arah Satria. Karena ditatap seperti itu, Satria mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang terjadi. "Jangan terlalu berlebihan menatap Andini! Kalau sampai Ayah jatuh cinta padanya, aku yang repot!" ucap Siska, seraya berbisik di telinga S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status