MasukMendengar tangis Raisa yang pecah dan terdengar semakin histeris di seberang telepon, pertahanan Alan runtuh. Rasa bersalahnya membuncah, mengalahkan logika bahwa ia seharusnya berada di rumah duka saat ini.Ia bisa membayangkan Raisa yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar, persis seperti saat traumanya kambuh dulu."Raisa, hei! Tenang dulu, jangan nangis kayak gitu," ucap Alan panik, suaranya naik satu nada. Ia mondar-mandir di samping mobilnya, mengacak rambutnya dengan frustrasi."Aku takut, Mas... jangan tinggalin aku sendiri..." rintih Raisa di sela isakannya. Suaranya terdengar sangat sesak, seolah oksigen di sekitarnya benar-benar habis.Alan memejamkan mata sejenak, menoleh ke arah pintu rumahnya di mana bendera kuning sudah terpasang. Hatinya tercabik. Di dalam sana ada jenazah ibunya, tapi di telepon ini ada wanita yang nyawanya seolah sedang di ujung tanduk karena ketakutan."Ya sudah, kamu tunggu di sana! Jangan matikan teleponnya, tetap bicara sama aku," ucap Alan
Alan mencengkeram gagang telepon itu hingga tangannya bergetar. Ia bisa melihat binar harapan di mata ayahnya, sesuatu yang selama ini menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan sel penjara. Senyum itu seolah mengiris-iris hati Alan."Pa..." suara Alan pecah. Ia menunduk, tak sanggup membalas tatapan tulus pria di balik kaca itu.Ayahnya mulai menyadari ada yang tidak beres. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan cemas di dahi. "Kenapa, Lan? Ibu sakit lagi? Kamu butuh biaya untuk obatnya? Bilang sama Papa, Nak."Alan menggeleng perlahan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, jatuh membasahi meja kayu di depannya. "Ibu udah nggak sakit lagi, Pa," bisik Alan serak. "Ibu... Ibu udah pergi."Hening seketika menyergap ruangan sempit itu. Ayah Alan terpaku. Gagang telepon yang ia pegang perlahan merosot dari tangannya, tergantung tak berdaya di kabelnya. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, seolah berusaha menolak kenyataan yang baru saja ia de
Alan melangkah terburu-buru menyusuri selasar rumah sakit yang sepi. Napasnya memburu, terasa panas di tenggorokan. Begitu ia sampai di depan pintu ruang jenazah, langkahnya melambat. Di sana, Rain sudah berdiri menunggunya dengan wajah sembab di samping sebuah brankar.Matanya menangkap sosok yang terbujur kaku di bawah kain putih itu. Dengan tangan gemetar, ia menyingkap sedikit penutup wajah ibunya. Wajah itu tampak begitu pucat, namun sekaligus sangat tenang, seolah semua beban hidupnya telah menguap begitu saja.Alan membungkuk, merengkuh tubuh dingin itu ke dalam pelukannya. Bahunya bergetar hebat saat ia mendaratkan kecupan lama di kening sang ibu. "Maafin Alan, Bu... Maafin Alan karena nggak bisa jagain Ibu. Tenang di sana ya, Bu," bisiknya dengan suara serak yang nyaris hilang.Rain yang tadinya sudah menyiapkan sejuta amarah karena keterlambatan Alan, mendadak luruh. Melihat kerapuhan pria di depannya, tangis Rain justru pecah tanpa bisa ditahan. Ia mendekat, menepuk bahu A
Alan sedikit mengguncang bahu Raisa, suaranya naik satu nada untuk menembus mimpi buruk yang seolah mengunci kesadaran wanita itu."Raisa! Hei, bangun! Itu cuma mimpi!"Raisa tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya masih bergetar, tidak fokus menatap langit-langit kamar. Napasnya pendek-pendek dan cepat, seperti orang yang baru saja berlari maraton.Butuh beberapa detik bagi Raisa untuk menyadari bahwa ia berada di dalam kamar yang hangat, bukan di dalam mobil yang gelap atau di lorong rumah sakit yang dingin."Mas... Alan?" bisiknya lirih, suaranya hampir hilang. Ia menatap tangan Alan yang masih memegang bahunya, lalu perlahan beralih menatap wajah pria itu yang tampak sangat cemas."Iya, ini aku. Kamu aman," ucap Alan lembut, perlahan melepaskan pegangannya dan beralih mengusap kening Raisa yang basah oleh keringat dingin. "Tadi kamu mimpi buruk. Kamu nggak sengaja nyenggol vasnya sampai pecah."Raisa menoleh ke arah lantai, melihat serpihan kaca dan bunga yang berse
Sementara itu, suasana di kediaman Fajar dan Ratri terasa begitu dingin dan kaku. Begitu menginjakkan kaki di dalam rumah, Ratri langsung melangkah cepat menuju kamar, mengabaikan sapaan asisten rumah tangga. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari yang masih gemetar.Pikirannya melayang kembali ke lorong rumah sakit tadi. Bayangan wanita itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak."Nggak mungkin... Itu nggak mungkin Raisa," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. "Anak itu sudah habis. Dia sudah mati di jurang itu."Fajar masuk tak lama kemudian. Ia menutup pintu dengan debuman pelan, matanya menyipit memperhatikan tingkah aneh istrinya sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Sambil mendengus, ia melepas jasnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kasur, tepat di samping Ratri."Kamu kenapa sih? Dari tadi di mobil diam saja, sekarang malah kayak orang kesurupan," tanya Fajar dengan nada ketus.Ratri mendongak, wajahnya pias. Ia langsung
Alan mengikuti arah pandang Raisa, dan seketika itu juga jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sudut ruangan itu, berdiri sosok ibu dan ayah tiri Raisa. Kehadiran mereka yang tiba-tiba terasa seperti hantaman keras bagi Alan.Ia segera menoleh ke arah Raisa. Wajah wanita itu pias, seputih kapas. Jemarinya mulai gemetar hebat, dan tatapannya kosong namun penuh ketakutan—sebuah tanda bahaya yang sangat dipahami Alan. Traumanya. Jika dibiarkan semenit saja di sini, Raisa bisa hancur.Tanpa membuang waktu, Alan menyambar jemari dingin Raisa, menggenggamnya kuat-kuat, lalu menariknya menjauh. Ia memilih jalur memutar, keluar melalui pintu samping gedung demi menghindari pertemuan yang bisa menjadi bencana itu. Raisa saat ini adalah porselen retak; ia belum siap menghadapi masa lalunya.Setelah sampai di area parkir yang lebih tenang, Alan menghentikan langkah. Raisa hanya diam, mematung dengan napas yang mulai tersengal."Hei, tenang! Raisa, lihat aku!" seru Alan lirih, mencoba menembus







