LOGIN"Polisi sudah siap, Surya?" "Mereka sudah di belakang." "Bagus! Langsung kurung gudang itu dan jangan biarkan satu pun lolos. Raynard sudah di sana menyusul Lira." "Baik, Pak." Surya melajukan mobilnya makin cepat sambil memberi instruksi pada para polisi yang mengikuti di belakang.Sementara itu, di dalam gudang, suasana masih hening. Bos rentenir terdiam melihat tas uang dan langsung meminta anak buahnya mundur. "Kau benar-benar membawa uangnya?" "Tentu saja! Ada di sini!" Suara Lira bergetar. Sang bos memberi kode anak buahnya untuk mengambil uangnya, tapi Lira memeluk tasnya erat-erat. "Tidak! Lepaskan dulu Ruli dan Dinda baru aku akan memberikan uangnya," seru Lira dengan gagah berani. Bos rentenir tertawa. "Kau pikir aku bodoh, hah? Kau mau menipuku? Ambil uangnya!" titah sang bos lagi. Namun, Lira buru-buru mengeluarkan amplop dari tasnya. "Sudah kubilang ini uangnya." Lira mengeluarkan bendel uang itu dan bos rentenir terdiam lagi. "Baiklah, itu memang uang. Tapi be
"Apa yang terjadi, Raynard?" Suara Lucas memecah keheningan setelah Raynard menutup teleponnya. "Apa yang terjadi pada Lira, Raynard?" tanya Rania juga dengan kecemasan yang sama. Raynard sudah bangkit berdiri dari duduknya dan tatapannya sangat cemas. "Lira dalam bahaya, aku harus menolongnya." Jantung Rania seperti jatuh ke perutnya. "Apa maksudmu dalam bahaya?""Adiknya membuat masalah dengan rentenir. Ada wanita yang diculik, dan Lira pergi menyelamatkannya. Aku harus pergi sekarang!" Tanpa basa-basi lagi, Raynard langsung melesat pergi. Sementara Lucas langsung bangkit berdiri juga. "Aku akan menyusulnya! Siapkan orang dan panggil polisi, Surya!" "Baik, Pak!" "Surya!" seru Sissy cemas. "Aku mau melahirkan! Hati-hati ya!" "Aku akan hati-hati! Tolong temani Sissy, Rania!" "Aku akan menemaninya." Dan para pria pun menghilang dengan cepat. "Ya Tuhan, mengapa ada hal seperti ini di hari bahagia ini? Mendadak perutku mulas memikirkannya, Rania!" "Tenang, Sissy! Tidak akan
Dinda melajukan motornya pulang malam itu. Ia sekantor dengan Ruli dan mereka pulang di jam yang sama. Sudah lama Dinda menyukai Ruli, tapi akhir-akhir ini, Dinda mulai merasa lelah. Ia memang bukan orang kaya sedangkan Ruli menyukai wanita kaya. Dinda mulai pasrah, walaupun hatinya masih belum berubah. Karena itu, saat melihat Ruli mendadak diserang oleh dua pria yang entah siapa, hati Dinda bergejolak. Selain memang hatinya yang baik, tapi yang di sana adalah pria yang ia sukai. Dinda ketakutan dan sangat cemas, apalagi ia melihat bagaimana para pria itu memukuli Ruli. Dinda menoleh ke sekeliling dan tidak ada siapa pun di sana. Ia sempat menelepon polisi, tapi entah itu nomor yang benar atau tidak karena tidak ada yang mengangkatnya. Dan Dinda tidak bisa menunggu. Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ruli. Bukan agar dicintai oleh pria itu, tapi ia tidak akan tega membiarkan Ruli diserang. Dinda masih berpikir para pria itu adalah perampok. Tin tin tin tin .
Dua minggu berlalu dan dua minggu itu mengubah banyak hal di antara Raynard dan Lira.Hubungan mereka tidak bisa disebut sebagai pasangan. Bahkan, setiap kali Raynard mencoba menyinggung hal itu, Lira akan langsung menghindar atau mengganti topik. Namun, jika ditanya apakah mereka hanya teman biasa, jawabannya juga tidak sesederhana itu.Karena kenyataannya, mereka sudah terlalu dekat untuk sekadar disebut teman.Raynard sering menjemput Lira sepulang kerja, walaupun Lira selalu bilang tidak perlu. Mereka makan bersama, kadang hanya di warung sederhana, kadang di tempat yang sedikit lebih layak. Raynard tidak pernah memaksakan tempat mewah lagi setelah tahu Lira tidak nyaman.Lira sendiri mulai terbiasa dengan kehadiran Raynard. Ia tidak lagi terlalu gugup setiap kali pria itu mendekat. Ia tidak lagi kabur setiap kali Raynard menggoda. Bahkan beberapa kali, Lira bisa membalas candaan Raynard, walaupun tetap dengan wajah yang memerah.Namun satu hal yang tidak berubah, Lira tetap belum
"Tidak apa, aku juga salah. Seharusnya aku bisa menolaknya. Maafkan aku." Raynard begitu lega saat akhirnya membaca balasan pesan dari Lira pagi itu. Ia pikir Lira marah padanya, tapi ternyata tidak. Raynard pun membalasnya lagi dan mengajak Lira makan siang, tapi Lira menolaknya. Kalau tidak marah, seharusnya Lira menerima, tapi mengapa ia malah menolaknya. "Maaf, aku ada rapat siang ini, aku tidak keluar, aku makan di kantor saja," tulis Lira. "Bagaimana kalau nanti malam, Lira?" balas Raynard lagi penuh harap. "Maaf, aku tidak bisa malam ini. Besok aku hubungi lagi ya." Lira mengembuskan napas panjang setelah mengirim pesannya. Ia menggigit bibirnya. Bukan maksudnya menghindari Raynard lagi, tapi ia malah belum siap bertemu dengan pria itu lagi setelah ciuman singkat di mobil itu. Lira masih canggung dan setiap mengingat ciuman itu, jantung Lira memacu tidak karuan. Namun, bukan Raynard namanya kalau ia menyerah dan menjauh. Semakin ia dijauhi, ia akan semakin mendekat. Ka
Raynard tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia sudah ingin mencium Lira sejak kemarin, tapi ia menahan diri. Bahkan ia sudah bertekad tidak akan melakukannya sebelum Lira resmi menerimanya. Namun, ia tidak tahan lagi. Begitu bibirnya bertemu dengan bibir Lira, hasrat Raynard makin mengentak. Ia terdiam sejenak, membiarkan bibir mereka menempel, seolah meminta ijin pada Lira. Dan wanita itu tetap diam. Diamnya Lira, Raynard anggap sebagai persetujuan, sebelum akhirnya Raynard memagut bibir manis itu dengan super lembut. Lira yang merasakannya pun tersentak. Seolah akhirnya sadar, Lira sontak mendorong dada Raynard menjauh. "Raynard, apa yang kau lakukan?" pekiknya dengan tatapan yang goyah dan panik. Bahkan dadanya naik turun saking tersengal. "Ah, Lira, maafkan aku ... aku ...." "Aku turun dulu. Itu ... aku akan meminta Mefi membantu menurunkan parcelnya!" Buru-buru Lira keluar dan memanggil Mefi. Bahkan Raynard belum sempat mengejar untuk menjelaskan apa pun, tapi Mefi
Rania masih memegangi dadanya yang berdebar kencang setelah ia keluar dari kamar Lucas. Ia pun segera memperbaiki blousenya dan menyembunyikan tali bra-nya dengan rapi saat ia bertemu Surya di depan kamar. "Ah, Pak Surya, aku sudah selesai." Surya mengangguk. "Aku akan membawa barangmu ke mobil,
Lucas dan Rania langsung tersentak kaget begitu mendengar ketukan di kaca jendelanya. Sontak, Rania mendorong Lucas dan menoleh. Ia pun langsung membelalak saat melihat Yetty sudah di sana. Entah apa ibunya itu melihat adegan di dalam mobil atau tidak. "Itu ibuku, Pak! Astaga!" seru Rania panik s
Lucas menatap Rania dari kejauhan. Ia masih duduk di dalam mobilnya. Truk besar yang menghalangi jalan di depan gang pun sudah pergi, tapi Lucas masih tetap diam dan belum meminta Surya mendekat. Hingga saat ia melihat bagaimana bengisnya wajah Dita yang terus menghina keluarga Rania, Lucas pun ti
Rania membuka matanya pagi itu dan ia bisa merasakan tubuh lain yang memeluknya begitu kokoh dari belakang, bahkan tangan kekar itu masih memeluk bahunya dengan posesif, seolah tidak mau melepaskannya sedikit pun.Rania tahu ini kamar Lucas. Rania juga sudah terbiasa dengan pelukan pria itu, aroma







