LOGIN"Syukurlah kalau dia sudah bersikap biasa, Lira." Mefi menelepon Lira sambil makan siang hari itu dan Lira pun bercerita bahwa sikap Melinda sudah biasa saja. "Aku juga lega, Mefi. Semoga semuanya tetap begini saja." "Ya, untuk ukuran Bu Melinda yang sangat anggun dan berwibawa, dia tidak akan mungkin marah seperti orang gila hanya karena Chef Raynard menyukaimu. Seharusnya dia bisa menerima kenyataan itu dengan lebih baik.""Tidak perlu membahas tentang itu, Mefi. Yang penting hubunganku dengan Bu Melinda tetap baik. Itu saja sudah cukup." Lira dan Mefi pun masih mengobrol sejenak, sebelum akhirnya mereka saling menutup telepon dan kembali bekerja. Melinda sendiri akhirnya kembali ke kantor dan ia kembali rapat dengan Lira. "Kau mengerti yang aku mau, Lira?" "Aku mengerti, Bu. Aku akan langsung mengerjakannya." Lira masih membuat beberapa catatan di kertasnya dan tidak menyadari kalau Melinda terus menatapnya. Awalnya tatapan itu hanya tatapan sekilas tapi makin lama menjadi m
Camilla menutup teleponnya setelah bicara cukup panjang dengan Bu Tanaya. Ia pikir ia akan kesal sendiri dengan setiap ucapannya. Namun, entah mengapa, ia malah lega. Camilla tidak bisa menjanjikan apa pun lagi pada keluarga Tanaya, ia juga tidak bisa membiarkan Melinda berharap tapi berakhir sakit hati seperti Vanessa waktu itu. Ya, entah sejak kapan Camilla jadi memikirkan perasaan orang lain, padahal dulunya Camilla hanya memikirkan perasaannya sendiri dan keluarganya. Camilla mengembuskan napas panjang. "Baiklah, anggap saja satu masalah sudah selesai," gumamnya sambil menatap berkas tentang Lira lekat-lekat. Sementara itu, Bu Tanaya menutup teleponnya dengan perasaan yang masih tidak baik. Tentu saja ia menerima semua ucapan Camilla, tidak mungkin ia marah, tapi ia mengerti jelas maksudnya, Raynard menolak dijodohkan dengan Melinda. "Ada apa? Setelah menutup telepon, mengapa ekspresimu seperti itu?" tanya Pak Tanaya. "Bu Camilla ingin membatalkan perjodohan Raynard dan Meli
Raynard langsung berpamitan ke kamarnya setelah selesai bicara. Dan Camilla makin geram menatap punggung anaknya itu."Anak itu benar-benar tidak bisa diatur!" geramnya."Kau mau mengaturnya seperti apa lagi? Dia bukan anak kecil lagi!" sahut Lisbeth. "Dan Ibu sangat setuju dengannya, biarkan dia mencari bahagianya sendiri. Tugas kita sebagai orang tua itu hanya memberi restu." "Aku juga setuju, Ibu," timpal Lucas. "Sejauh yang kulihat, Lira adalah wanita yang sangat baik. Dia dipercaya oleh Melinda berarti dia kompeten. Dan dia bisa membuat Raynard menyukainya berarti dia punya sesuatu yang spesial." "Hmm, kalau aku boleh ikut bicara, aku juga menyukai Lira. Dan bahkan Raline sangat menempel padanya dan tidak mau lepas," timpal Rania juga. Lisbeth terkekeh. "Kau dengar sendiri kan? Lucas dan Rania juga menyukai wanita itu, lalu mengapa kau tidak menyukainya? Ah, mungkin karena Lira belum pernah bertemu langsung dengan Camilla. Coba kalian atur agar mereka bertemu, baru Camilla bis
Raynard memanggil Lira, tapi Lira tidak menoleh lagi. Raynard ditinggalkan seorang diri dengan perasaan yang juga tidak karuan. Waktu itu, Raynard serius ingin mendekati Rania, tapi ia tahu Rania dan Lucas saling mencintai. Tidak mungkin ia merebut wanita yang dicintai kakaknya, terlebih wanita itu juga tidak mencintainya. Kali ini, ia serius lagi pada Lira. Dan walaupun ia tahu keluarga Tanaya akan menjadi halangannya, Raynard bersumpah tidak akan mundur. Ya, Lira benar perkenalan mereka masih sangat singkat, tapi Raynard menyukai wanita itu dengan cara yang berbeda. Dan tidak banyak wanita yang bisa membuat Raynard merasa seperti ini sebelumnya. "Istirahatlah, Lira. Maaf aku membuatmu terkejut dengan perasaanku, tapi kalau perasaan ini tidak diungkapkan, aku mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak." Raynard mengembuskan napas panjangnya dan menatap pintu rumah itu lebih lama, sebelum akhirnya ia kembali ke mobilnya. Ia pergi, tapi ia akan kembali besok. Sementara Lira sendiri ma
Lira membeku. Ucapan Raynard membuat langkahnya kembali terhenti dan ia membelalak menatap pria itu. Jantung Lira memacu makin kencang dan ia sama sekali tidak bisa mempercayai pendengarannya."Itu ... kau bicara apa, Raynard?" ucap Lira akhirnya, berusaha tertawa dan bersikap santai. Namun, ekspresi Raynard sangat serius saat ini. "Aku menyukaimu, Lira. Dan aku serius. Aku tidak pernah menyukai Melinda, tapi aku menyukaimu." Kalau dirinya ada di posisi lain dan dengan kondisi yang berbeda juga, mungkin Lira sudah melonjak kegirangan bisa disukai pria sempurna seperti Raynard. Itu adalah idaman setiap wanita. Namun, entah mengapa saat ini, perasaannya malah makin tidak jelas. Raynard menyukainya, padahal Melinda menyukai pria itu. Lira tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri saat ini. Karena yang ia tahu hanya satu, Raynard tidak boleh menyukainya. Tidak boleh. Lira mengerjapkan mata dan kembali tertawa. "Ya, ya, terima kasih sudah menyukaiku karena aku juga menyukaimu. Siapa y
Lira tahu tidak seharusnya ia berbohong pada Melinda. Tapi jujur pun terasa tidak benar saat itu. Lira pun akhirnya hanya bisa menyesali jawabannya setelah ia kembali ke kantor sore itu. Lira gelisah, ia bahkan tidak tenang saat sudah duduk di meja kerjanya. Tidak ada satu hal pun yang bisa ia kerjakan dengan fokus. "Tidak seharusnya aku berbohong. Ya Tuhan, semoga saja tadi Bu Melinda tidak melihat apa pun dan dia tidak menyadari kebohonganku. Lira, apa yang sudah kau lakukan?" gumamnya. Lira terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia sangka. Ia ingin semuanya kembali ke awal di saat ia belum berkenalan dengan Raynard saja, tapi bagaimana caranya? Bahkan saat sedang berdua dengan Raynard saja rasa hatinya sudah berbeda. Lira terus mengembuskan napas panjangnya sampai teman yang melihatnya pun bingung sendiri. "Kau baik-baik saja, Lira? Kau sakit?" "Ah, tidak, aku baik-baik saja." "Kau pucat." "Benarkah?" Lira memegangi pipinya sendiri. Ia tidak sadar kalau dirinya pucat. "M
Rania benar-benar lelah setelah mencuci baju mertuanya yang begitu banyak. Bukan hanya mertuanya, bahkan baju kakak perempuan Elvan, suami, dan anaknya juga. Semua bajunya berkain melar yang tidak boleh masuk mesin cuci. Rania berkeringat sampai ia terpaksa mandi lagi malam itu. Elvan sendiri ter
"Jangan gila, Pak! Bagaimana caranya melepaskannya?" desis Rania tidak percaya pada permintaan gila Lucas. "Apanya yang bagaimana? Kau yang pilih, mau melepasnya sendiri atau aku yang melepaskannya?" "Anda mesum sekali. Itu ... apa yang harus kulakukan tanpa celana dalam?" "Lepas saja lalu biark
Rania sengaja pulang ke rumahnya begitu pagi keesokan harinya. Ia ingin bertemu Elvan dulu agar ia bisa meminta ijin ibu dan adiknya menginap. Namun, setibanya di rumah, Elvan malah sudah tidak ada. "Ke mana Elvan? Ini baru jam enam pagi," lirih Rania sambil meraih ponselnya. Baru saja ia akan me
"Datanglah ke kamarku malam ini." Rania masih sibuk memasak untuk makan malam saat ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Lucas masuk sampai ia menghela napas panjang. "Kemarin kan sudah, apa dia mau lagi hari ini? Dasar hyper!" geram Rania. Ia pun menatap jamnya, memperkirakan sisa waktu yang ia







