Mag-log inKondisi Arthur semakin stabil meski ia belum siuman.Arthur sudah di pindahkan ke ruang perawatan.Sejak Arthur di pindahkan, Rose sama sekali tidak beranjak di samping suaminya. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. Rose juga tidak melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Arthur yang terbebas dari infus.Bi Arum sedang pulang ke rumah karena ingin mengambil keperluan Rose selama Arthur masih di rumah sakit. Dan Bi Arum juga ingin masak untuk Rose.Ken dan Alana juga sudah pulang karena mereka harus berangkat ke kantor. Ken harus ada di kantor Bramasta grup untuk menggantikan Arthur.Tetapi mereka berdua akan kembali ke rumah sakit lagi saat sore nanti setelah pulang kantor.Agam dan Melani juga akan datang nanti sore karena Melani belum datang ke rumah sakit sementara Agam sudah pernah datang kemarin saat donor darah.Saat ini hanya ada Rose dan Arthur di ruang perawatan itu."Pa...."Tidak ada sahutan dari Arthur. Hanya ada bunyi alat monitor yang terdengar pela
"Papa!"Rose langsung terbangun sambil berteriak.Tubuhnya refleks bangun dari posisi tidur. Tangannya masih terpasang infus.Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi kening dan lehernya.Tangannya langsung memegang dada yang terasa sesak.Matanya bergerak ke segala arah dengan panik.Beberapa detik Rose masih belum sadar di mana dirinya berada saat ini.Yang ada di kepalanya hanya bayangan Arthur yang terbaring bersimbah darah.Belati.Darah.Tatapan Arthur yang sangat sayu.Semuanya terasa begitu nyata.Rose mimpi buruk. Ingatan tentang suaminya yang di tusuk oleh Jessica di depannya matanya begitu jelas di ingatannya."Papa... Papa..."Suara teriakannya membuat Alana dan Bi Arum yang tadi tertidur di sofa langsung terbangun.Alana langsung berdiri."Rose!"Bi Arum juga buru-buru menghampiri ranjang pasien Rose."Nona Rose!"Alana langsung duduk di samping Rose dan memegang kedua pundaknya."Rose! Lihat aku! Rose tenangkan diri kamu.""Al, Papa... Aku mau lihat Papa!""Rose, tena
Hujan badai masih menghampiri Rose.Operasi Arthur berhasil tetapi pria itu masih berada di ruang ICU karena masih belum melewati masa kritis.Luka tusukan di dada kiri Arthur cukup dalam dan untungnya tidak terkena organ penting.Ken, Agam, Restu yang mendonorkan darah untuk Arthur. Kondisi Rose masih sangat kacau. Sejak Arthur di pindahkan ke ruang ICU, Rose sama sekali tidak beranjak di depan ruang ICU.Alana dan Bi Arum sudah beberapa kali meminta Rose untuk makan tetapi gadis itu tidak mau karena nafsu makannya benar-benar hilang. Hanya satu buah biskuit dan sebotol air mineral yang berhasil masuk ke dalam tubuhnya.Air matanya tidak berhenti mengalir.Rose tidak sendirian di sana karena Alana, Bi Arum dan Ken setia menemani Rose.Agam dan Restu harus kembali ke ruang eksekusi untuk memberikan pelajaran pada Jessica.Meski Ken berada di rumah sakit, pria itu juga tampak sibuk agar memastikan berita tentang Arthur tidak tersebar di media sosial karena akan menguntungkan pihak yan
Pintu ruang tindakan terbuka.Rose sontak berdiri dan langsung mendekati perawat yang keluar. "Sus, bagaimana suami saya?" tanya Rose tidak sabar. Suaranya terdengar serak karena sejak tadi terus menangis. Tampak matanya yang bengkak. Perawat itu tampak ragu sesaat sebelum akhirnya menjawab."Nyonya, kondisi Tuan Arthur masih dalam penanganan. Tapi beliau kehilangan cukup banyak darah dan sekarang membutuhkan transfusi darah segera. Apa ada keluarga yang memiliki golongan darah O?"Rose langsung membeku.Golongan darah O.Ia langsung mengingat golongan darah suaminya. Suaminya memang memiliki golongan darah O."Golongan darah saya B, Sus. Di rumah sakit tidak ada stok golongan darah O?" tanya Rose."Maaf Nyonya, stok darah golongan O di rumah sakit saat ini tidak ada."Rose menatap perawat itu dengan wajah memucat."Maksudnya... tidak ada?"Perawat menarik napas pelan."Kemarin ada kecelakaan besar dan cukup banyak pasien yang membutuhkan transfusi darah. Stok darah golongan O yang
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rose sama sekali tidak melepaskan tangan Arthur. Ia ikut masuk ke dalam ambulance.Sementara Ken dan Alana kembali ke ruangan VIP karena ingin mengajak Melani untuk ikut bersama mereka. Tidak mungkin Ken dan Alana meninggalkan Melani dan Rio di restoran seafood itu.Seharusnya saat ini mereka sedang menikmati sajian seafood sambil bercanda gurau tetapi semua itu langsung sirna karena kejadian yang sama sekali tidak mereka bayangkan.Semua makanan yang sudah mereka pesan tadi, pihak restoran membungkuskannya karena sama sekali belum ada satu pun yang memakannya. Meski Melani dan Rio tetap berada di ruang VIP, mereka menunggu agar makan bersama."Aku ikut kalian ke rumah sakit," ucap Melani sambil menggendong Rio saat mereka sedang keluar dari ruang VIP."Kami antar kamu dan Rio pulang saja, Mel. Suasana rumah sakit tidak baik untuk Rio. Pengecualian saat kemarin Rio bersama Mamanya karena gedungnya memang khusus dan tidak banyak yang lalu lalang
"Aaaarrgghhh!"Kejadiannya terjadi begitu cepat. Satu Arthur menahan tangan Jessica yang memegang belati. Dan tangan yang lain menarik Rose hingga pegangan tangan Jessica terlepas. Pria itu mendorong istrinya ke belakangnya. Melihat itu dengan cepat Ken dan Alana membantu menahan Rose hingga Rose tidak terjatuh. "Al, bawa Rose keluar dari sini," pinta Ken pada Alana."Aku tetap mau di sini. Papa.." pinta Rose yang tidak ingin meninggalkan suaminya."Rose, tolong ikut Alana."Rose menggeleng. "Aku mau tetap di sini!" Rose tetap kekeh tidak ingin meninggalkan toilet."Rose, tolong dengarin Ken. Biarkan Tuan Arthur dan Ken menyelesaikan masalah ini. Kita keluar dari sini ya. Kamu harus menenangkan diri kamu. Ingat kandungan kamu Rose," bujuk Alana.Tapi Rose tetap lah Rose yang kadang bersikap keras kepala. Ia tetap tidak ingin keluar dari toilet itu apalagi suaminya sedang berada dalam bahaya.Agam, serta tim keamanan restoran dan pelayan restoran yang tadi masuk ke dalam toilet.Seme







