ログインMalam harinya, Rose lebih dulu masuk ke dalam kamar karena Arthur sedang bertemu dengan Agam dan Ken di ruang kerja suaminya.Tadi sore, suaminya memang menghubungi Agam dan Ken agar datang ke rumah setelah waktu makan malam. Arthur memang sengaja meminta kedua asisten pribadinya datang ke rumah setelah makan malam karena ia tidak ingin meminta Ken datang sebelum makan malam, ia sadar Ken saat ini sudah bukan pria lajang yang bebas di panggil kapanpun. Pria itu saat ini sudah ada istrinya dan Arthur tidak ingin Ken meninggalkan istrinya untuk makan malam sendiri.Di dalam kamar, Rose tampak gelisah. Gadis itu jalan mondar mandir sambil menggigit kukunya."Ih aku kok kayak gadis perawan yang ingin di unboxing suaminya. Padahal aku dan Papa kan sudah sering melakukan itu. Sampai ada hasilnya lagi ini. Kok aku deg-degan banget ya. Apa karena aku dan Papa sudah cukup lama tidak melakukan itu makanya aku grogi seperti ini," ucap Rose.Alasan ia masuk ke kamar duluan karena ia memang ingin
"Kami pulang!" seru Rose begitu masuk ke dalam rumah. Rose berjalan berdampingan dengan suaminya. Sementara di belakang mereka ada Jaka yang membawa semua belanjaan Rose tadi. Baik itu gado-gado maupun salt bread."Jaka, tolong kamu simpan semuanya di dapur dulu ya. Sama titip pesan sama Bi Arum, gado-gadonya di bagikan ke semua asisten rumah tangga ya. Punyaku dan Papa di pisahkan saja," ucap Rose."Baik Nona."Jaka langsung membawa gado-gado serta salt bread ke dapur. Sementara itu Rose dan Arthur langsung menuju lantai dua."Sayang, apa kita pindah kamar kita ke lantai satu saja. Aku gak tega lihat kamu naik tangga ini. Padahal di rumah ini ada liftnya tetapi kamu lebih suka naik tangga," ucap Arthur saat mereka sedang naik tangga.Tadi ia mengajak istrinya menggunakan lift saja untuk ke lantai dua. Tetapi Rose menolak karena gadis itu ingin naik tangga. "Nanti saja kita pindah ke lantai satu kalau kandunganku sudah masuk trimester tiga. Kalau sekarang masih aman untuk naik turun
"Rose!"Arthur langsung sigap menahan tubuh istrinya sebelum terjatuh.Suasana mendadak hening beberapa detik.“Maaf... maaf...” ucap seorang pria memakai hoodie hitam sambil menundukkan kepala.Arthur langsung memelototi pria itu tajam. "Kalau jalan lihat-lihat dong!"Pria berhoodie hitam itu kembali menundukkan kepala.“Maaf, saya nggak sengaja,” ucapnya pelan sebelum buru-buru pergi meninggalkan kedai.Arthur masih menatap tajam ke arah pria itu.“Main kabur saja!" hardik Arthur yang terlihat emosi.Beberapa pengunjung mulai menoleh ke arah mereka.Jaka yang berdiri di dekat Rose ikut waspada sambil memperhatikan kepergian pria misterius itu hingga menghilang di antara kendaraan parkir.Arthur tampak masih ingin mengejar pria tersebut, namun Rose langsung menggenggam lengan suaminya.“Sudah, Pa. Aku nggak papa kok. Pria tadi itu pasti nggak sengaja. Sudah jangan di lebarkan masalahnya. Yang penting aku baik-baik saja," ucap Rose pelan karena ia tidak ingin membuat keributan di keda
Rose sesekali menoleh ke arah suaminya. Ia sadar sejak masuk dalam mobil, suaminya lebih diam dari sebelumnya. Ekspresi pria itu tidak seperti biasanya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang Rose sendiri tidak mengetahuinya. Namun untuk bertanya pada suaminya, Rose belum berani karena ia yakin nanti suaminya pasti akan memberitahunya."Jaka, nanti kalau ketemu penjual gado-gado kita singgah ya. Atau kamu tahu dimana yang jual gado-gado yang enak?" tanya Arthur.Jaka menoleh ke arah kaca spion kecil untuk melihat ke belakang. "Baik, Tuan. Siapa yang menginginkan gado-gado, Tuan?""Rose ingin makan gado-gado. Biasa Jaka, Nonamu ini paling nggak bisa tidak ngiler kalau habis melihat video makanan. Nanti kita nggak hanya singgah untuk beli gado-gado saja, karena masih ada yang diinginkan oleh Rose," ucap Arthur yang sengaja ingin mencairkan suasana di dalam mobil yang awalnya hening.Apalagi ia sadar sejak tadi istrinya beberapa kali memandangnya. Ia tidak ingin membuat istrinya memikirk
"Papa nggak malu tanya begitu sama Dokter Mala?" tanya Rose pelan begitu mereka sudah keluar dari ruang Dokter Mala."Nggak lah. Kan memang harus di tanya, Sayang biar lebih jelas. Lagian Dokter Mala pasti sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu dari suami istri yang sama seperti kita," ucap Arthur."Iya sih. Tapi rasanya malu saja. Itu kan hal yang sangat pribadi ya."Arthur terkekeh pelan melihat wajah Rose yang masih memerah meski sudah keluar dari ruangan Dokter Mala.“Yang malu cuma kamu kayaknya,” goda Arthur sambil merangkul pinggang istrinya saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.Rose langsung mencubit pelan lengan suaminya. “Papa ini ya. Wajar dong aku malu meski sama Dokter Mala. Papa sih nanya sama Dokter Mala sangat frontal gitu.”Arthur malah tertawa melihat ekspresi istrinya.“Memangnya salah kalau suami memastikan kondisi istrinya aman? Apalagi kan untuk itu,” tanyanya santai sambil menaik turunkan alisnya.Rose mendengus pelan walau sudut bibirnya mula
Rose dan Arthur sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana Rose akan kontrol kandungan.Sejak berangkat, Rose tidak melepaskan genggaman tangan suaminya.Sejak bangun tidur tadi, Rose sedikit lebih tenang meski rasa takut dalam dirinya masih tersisa. Hanya saja karena ia ingin bertemu dengan anak-anaknya, Rose menguatkan diri untuk tetap berangkat ke rumah sakit.Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Arthur. Satu tangan Arthur memeluk pinggang Rose.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hanya ada terdengar musik yang memang sengaja Jaka putra agar suasana dalam mobil tidak hening.Baik Arthur maupun Rose memang diam sejak tadi.Seharusnya jadwal kontrol Rose jam satu siang, tetapi tadi saat Rose sedang tidur, Arthur menghubungi pihak rumah sakit agar mengubah waktu kontrol kandungan Rose dan pihak rumah sakit mengubahnya menjadi jam tiga sore."Benaran nggak terlambatkan kita datang ke rumah sakitnya," ucap Rose."Nggak Sayang. Aku sudah hubungi pihak rumah sakit. Dan pi
"Benaran sudah baikan? Kalau masih kurang enak badan, hari ini istirahat saja, Sayang. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Arthur.Sudah lebih dari lima kali pria itu bertanya pada Rose karena ingin memastikan gadis itu benar-benar sudah fit untuk berangkat ke kantor hari ini."Aku benaran su
“Sa-sayang?”Mendengar Arthur memanggil Rose dengan panggilan Sayang membuatnya terkejut, seolah kata itu baru saja menampar kesadarannya."Kenapa, Nona Mega?" tanya Arthur dengan santai."Kamu dan dia?" Suara Mega terdengar bergetar.Arthur mengangguk. "Rose adalah calon istriku."Di bawah meja, t
Sepanjang jalan setelah mengantar Alana pulang ke kostnya, Rose lebih banyak diam. Lampu-lampu jalanan Jakarta malam itu tampak berpendar samar di balik kaca mobil, tapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Ia menatap lurus ke depan, sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pel
Rose langsung melepaskan pelukannya dengan Arthur, lalu gadis itu menatap Arthur dengan kening berkerut.Ia berusaha untuk tetap tenang padahal saat ini ia sudah merasa gugup. "Ma-maksud Papa?" "Akhir-akhir ini aku melihat ada yang lain dengan kamu, Sayang. Maksud aku, kamu sering menginginkan se







