MasukHari ini Arthur mengajak Rose untuk pergi ke tempat dimana perpustakaan milik Rose yang sedang di bangun. Arthur memang sengaja mengajak istrinya ke sana sekedar melihat progres pembangunan perpustakaan itu. Mumpung hari sabtu dan ia tidak berangkat ke kantor sekaligus ingin mengajak istrinya jalan-jalan karena beberapa kali Rose sudah mengadu padanya jika gadis itu bosan di rumah terus.Tentu saja Arthur berusaha untuk tidak membuat istrinya bad mood. Maklum saja mood ibu hamil itu sangat sensitif dan Arthur tidak ingin buruknya mood istrinya akan berpengaruh pada kesehatan Rose dan janinnya."Pa, masih jauh letak perpustakaannya?" tanya Rose karena sudah dua puluh menit mereka di jalan dan belum juga tiba di lokasi perpustakaan yang dihadiahkan oleh Arthur padanya di bangun.Arthur tersenyum saja karena ia memang ingin memberi kejutan pada istrinya yang memang belum pernah ke lokasi pembangunan perpustakaan itu.Pria itu masih merahasiakan lokasi pembangunan perpustakaan itu."Papa
Rose keluar kamar untuk bertemu suaminya yang sedang berada di ruang kerja. Pelan-pelan Rose turun ke bawah karena ruang kerja Arthur berada di lantai satu.Di tangannya ada ponselnya karena ia ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja ia lihat.Tokk... Tokk... Tokk....Rose mengetuk pintu ruang kerja Arthur. Meski itu ruang kerja suaminya tapi Rose tidak ingin langsung masuk saja."Masuk..."Terdengar suara Arthur dari dalam mempersilahkannya untuk masuk. Rose pun langsung membuka pintu ruang kerja suaminya.Sementara Arthur yang di dalam ruang kerjanya, ia masih fokus dengan beberapa dokumen yang sedang ia periksa. Dokumen yang Ken kasih padanya itu memang belum sempat ia periksa saat di kantor tadi.Saat mendengar pintu ruang kerjanya di buka, ia mendongak dan terkejut melihat istrinya masuk ke ruang kerjanya.Arthur langsung berdiri dan menghampiri Rose."Sayang. Aku kira kamu sudah tidur." Arthur melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Kenapa jam segini be
Alana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sejak mereka keluar dari hotel milik Bramasta grup, senyum di bibirnya tidak pernah luntur.Setelah pertunjukan kembang api selesai, Ken langsung mengajak Alana untuk pulang. Meski besok adalah hari weekend, tapi ia tahu jika Alana pasti lelah karena di kantor tadi banyak deadline yang harus gadis itu selesaikan.Ia menatap cincin yang tersemat di jari manisnya.Ken menoleh sebentar ke arah calon istrinya yang duduk di sampingnya lalu ia kembali menoleh ke depan karena ia harus fokus menyetir.Sebelah tangannya mengusap kepala Alana dengan lembut. "Bahagia banget, Sayang?" Ken tersenyum.Alana mengangguk sembari tersenyum lebar. Lalu ia mendekat ke arah Ken dan bersandar ke bahu Ken meski pria itu sedang menyetir. "Aku memang sangat bahagia karena kekasihku baru saja melamarku tadi. Karena terlalu bahagia sampai senyuman di bibirku tidak bisa aku hentikan. Mungkin nanti aku tidur sambil tersenyum," ucap Alana hingga membuat Ken tertawa.
“Alana, be my wife please.”Alana terdiam namun detak jantungnya semakin berdegup kencang. Ia tidak menyangka Ken akan melamarnya malam ini. Ia dan Ken memang sudah berkomitmen akan menjalin hubungan yang serius dan muaranya pada pernikahan. Tetapi ia tidak menyangka akan secepat ini.“Al, aku bukan pria yang mudah untuk merangkai kata-kata manis. Aku mungkin nggak pandai bikin kamu terpesona lewat kalimat-kalimat indah seperti di film atau novel,” ucap Ken dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. “Tapi aku janji satu hal sama kamu, perasaanku sangat tulus padamu, Al. Aku memang bukan pria sempurna tapi bersama kamu aku merasakan kesempurnaan itu. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada bersama kamu dalam keadaan apapun. Al, jadilah teman hidupku dan rumah untuk aku pulang.”Alana menggigit bibirnya, menahan haru yang semakin meluap. Air mata Alana akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama kamu, Al. Bangun setiap pagi dengan kamu, berbagi ceri
“Lagi?” tanya Alana terkejut.Ken mengangguk sembari tersenyum. “Sekarang kita makan saja dulu,” ajak Ken.Mereka pun mulai memakan makan malam yang sudah tersaji di depan mereka. “Kamu suka sama menu yang aku pesan?”Alana mengangguk beberapa kali. Setelah makanan di depannya ini masuk ke dalam mulutnya, Alana memang langsung cocok dengan citarasanya. “Enak. Aku suka. Aku bukan picky eatrer sih sebenarnya. Aku cuma nggak bisa kalau rasanya aneh di lidah. Kayak terlalu pahit, atau aneh banget sampai nggak masuk akal. Tapi selain itu, aku bisa makan apa aja,” kata Alana dengan santai.Ken terkekeh pelan, matanya tidak lepas dari wajah Alana. “Jadi kalau aku masakin sesuatu, kamu bakal mau coba?”Alana menyipitkan mata, pura-pura curiga. “Masalahnya kamu bisa masak apa dulu, Ken?”“Wah, meragukan sekali nadanya. Aku itu bisa masak loh,” ucap Ken yang pura-pura tersinggung.“Benaran kamu bisa masak? Menu apa yang kamu paling jago?”“Aku bisa masak mie instan level chef profesional.”Ala
Alana melihat penampilannya di depan cermin. Ia baru selesai siap-siap, mengaplikasikan make up tipis hingga semakin membuatnya cantik. Aslinya Alana memang cantik dan saat ini semakin cantik. Rose dan Alana, dua sahabat itu sama-sama memiliki visual yang cantik hanya saja diantara mereka berdua berbeda di aura kecantikan saja.“Perfect,” gumamnya sambil tersenyum.Malam ini ia di ajak Ken untuk makan malam di luar.Alana memakai dress bewarna navy yang panjangnya di bawah lutut. Rambutnya sengaja ia gerai saja.Tadi Ken bilang akan menjemputnya pukul tujuh malam, dan saat ini baru jam enam lewat lima puluh menit.“Sepuluh menit lagi. Ken mau ajak aku makan malam dimana ya? Biasanya Ken pasti bertanya mau makan malam dimana. Mungkin kali ini Ken yang memilih sendiri tempatnya. Hmm... Semoga dress yang aku pakai cocok dengan tempat yang Ken pilih,” ucap Alana.Ia duduk di kursi yang tidak jauh dari jendela kamar, lalu ia membuka ponselnya dan melihat status Rose di aplikasi hijau.“Aku
Malam harinya rumah Arthur terasa sangat tenang. Cahaya lampu di kamar hanya seterang rembulan yang menembus tirai, memberi kesan lembut dan hangat.Arthur duduk di sofa, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto-foto yang ia ambil saat di pantai.Ada Rose yang sedang tersenyum sambil memegang
Jessica duduk di sofa sambil menikmati tayangan televisi di depannya.Satu tangan memegang gelas anggur, di sebelahnya seseorang laki-laki yang juga sedang menikmati segelas anggur.Jessica bersandar di bahu laki-laki itu. Laki-laki yang baru saja berbagi peluh dengannya. "Saat ini biarkan Arthur b
Tokk... Tokk... Tokk...Suara ketukan di pintu ruang kerja Arthur membuat udara di ruangan itu seolah membeku.Rose yang tadinya nyaris lupa diri karena jarak wajahnya dengan Arthur hanya sejengkal, sontak terlonjak mundur.Arthur dan Rose langsung salah tingkah karena tersadar oleh ketukan pintu.
Duug!Suara ponsel yang jatuh ke meja cukup keras membuat beberapa orang di sekitar menoleh. Rose terpaku, matanya tak lepas dari layar ponsel yang kini menampilkan gambar yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.Di layar ponsel Rose menampilkan pesan dari nomor baru yang baru saja masuk ke ppnselnya







