“Kamu tahu gak Ra ?’’ bisik Aga, suaranya seperti mantra, “Sejak dulu aku nggak pernah bisa tenang setiap kali kamu dekat. Kamu bukan cuma sekretaris magang di sini. Kamu…”
Ara buru-buru memotong, “Berhenti Ga! Jangan ngomong hal yang bisa bikin kita nyesel.”Tapi Aga justru semakin mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal.Ruang kerja Aga semakin terasa menyesakkan bagi Ara. Dinding kaca tinggi, sofa kulit hitam elegan, meja kerja dengan berkas-berkas tertata rapi, semua jadi saksi ketegangan di antara mereka. Sunyi.Hanya suara jam dinding yang berdetak lambat, berpacu dengan jantung Ara yang terasa hendak meloncat keluar.“Kenapa aku harus menyesal?” suara Aga rendah, berat, namun penuh kepastian. Ara sontak mengerjap, tubuhnya kaku. “Ga, ini di kantor!” bisiknya buru-buru, kedua matanya melirik gugup ke arah pintu. Bayangan kalau ada staf masuk dan melihat mereka berdua membuat darahnya berdesir tak karuan.Aga mendekat sedikit, senyum miring terDi sebuah ruangan rumah sakit yang remang dengan aroma obat-obatan, Ana duduk di atas brankar. Tangannya memeluk perut, seolah sedang menahan sakit, padahal wajahnya sama sekali tak menunjukkan penderitaan, hanya ekspresi kesal yang dibuat-buat. Seorang dokter paruh baya berdiri di hadapannya, mengenakan jas putih yang sudah sedikit kusut. Ia menghela napas berat sambil menatap catatan medis kosong yang seharusnya terisi data pasien sebenarnya. “Kenapa lagi sekarang?” tanya dokter itu dengan suara lelah, jelas-jelas sudah terbiasa dengan ulah Ana. Ana memanyunkan bibir mungilnya, memainkan jarinya di tepi brankar. “Darurat! Nanti kamu bilang aja aku kritis,” katanya ringan, seolah permintaan itu hal sepele. Dokter itu mengerutkan kening, tatapannya menajam. “Kamu yakin masih mau main drama ini? Berapa kali kamu sudah minta aku bikin rekayasa hasil tes, rekam medis palsu, laporan kritis? Kamu nggak capek
Aga mengangguk pada salah satu pria yang membawa flashdisk. Tanpa perlu banyak kata, pria itu berjalan menuju meja kendali multimedia di sisi ruangan. Semua mata mengikuti langkahnya.“Ga! Jangan coba-coba!” Rafi berteriak, suaranya penuh panik, tak lagi sekencang tadi.Tapi terlambat.Beberapa detik kemudian, layar besar di belakang panggung yang tadinya hanya menampilkan dekorasi pesta, berubah.Tayangan pertama muncul. Foto-foto Rafi bersama Ana di sebuah restoran mewah. Tangan mereka saling menggenggam, tatapan penuh cinta.“Ya Tuhan…” beberapa tamu menutup mulut mereka.Disusul rekaman pesan singkat di layar. Suara narasi dari sistem otomatis membacakan:“Sayang, jangan lupa ketemu malam ini. Aku rindu…”Teriakan kecil terdengar dari beberapa tamu perempuan.“Apa-apaan ini!” teriak Mama Hera, wajahnya pucat pasi. Ia langsung menatap ke arah Rafi dengan sorot mata kecewa bercampur marah.Namun itu belum selesai. Tiba-tiba video diputar. Ra
Suasana hening. Semua tamu menatap Rafi yang baru saja menampar wajah Ara. Ara tersenyum sinis sambil memegang pipinya. Sementara Aga ingin langsung membalas akan tetapi tangan nya di tahan oleh Ara. ‘’Thanks Raf!’’ ucap Ara datar. “Ara… kamu ini makin gak masuk akal. Jangan bikin orang-orang lihat sisi buruk kamu. Bukan hanya selingkuh, tapi kamu juga suka memutar balikkan fakta.’’ Ucap Raffi. Pyarrrr! Gelas wine yang ada di depan Ara terhempas ke lantai, pecah berantakan. Suara itu memantul di seluruh ruangan, membuat banyak orang tersentak. Beberapa tamu wanita menjerit kecil. “Fitnah?” suara Ara bergetar namun lantang. “Benarkah itu fitnah?’’ Ana menutup wajah dengan kedua tangannya, berpura-pura menangis tersedu. “Mama… lihat sendiri kan? Kak Ara benci sama Ana. Ana gak tahu lagi harus gimana, Ma…” Mama Indri langsung merangkul Ana, wajahnya penuh amarah bercampur bingung. “Ara! Kamu keterlaluan! Apa pantas kamu mempermalukan adikmu sendiri di depan semua orang? Ka
Beberapa hari kemudian … Ballroom hotel malam itu benar-benar semarak. Lampu kristal bergemerlapan di langit-langit, musik lembut mengalun, dan para tamu dengan pakaian terbaik mereka saling bertegur sapa. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan. Aga masuk dengan penuh wibawa, menggandeng Ara di sisinya. Beberapa tamu menoleh, sebagian mengenal Aga sebagai pengusaha muda sukses, sebagian lain hanya terpukau melihat pasangan itu. Ara melangkah pelan, jantungnya terus berdetak kencang seolah ia sudah tahu ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Dan benar saja. Begitu matanya menangkap sosok yang duduk di meja dekat panggung utama, seluruh tubuh Ara menegang. Mama Indri duduk anggun dengan kebaya hijau tua, namun tatapannya menusuk tajam seperti belati. Di sampingnya ada Papa Umar, wajahnya kaku, menahan sesuatu yang sulit dibaca. Tapi yang membuat darah Ara berdesir justru pemandangan di samping mereka. Ana, adiknya,
Malam itu, suasana rumah keluarga Indri tidak lagi terasa hangat. Lampu ruang tamu menyala terang, tapi hawa yang mengendap di sana penuh dengan emosi. Mama Indri duduk di sofa, wajahnya tegang dan penuh amarah. Di pangkuannya, ponsel terus ia genggam erat. Sementara Ana duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit bersandar ke ibu mereka. Pura-pura masih terisak, ia sesekali mengusap pipinya dengan tisu. Namun sorot matanya, yang sayup-sayup tampak dari sela bulu mata yang basah, menyimpan kemenangan.“Dia harus tahu rasa,” gumam Mama Indri, jari-jarinya gemetar menekan tombol di layar ponsel. Setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya suara lembut Ara terdengar di seberang.“Halo, Ma?” suara itu terdengar lelah, namun sopan.“Arabella!” bentak Mama Indri, keras hingga membuat Ara refleks menjauhkan ponselnya dari telinga. “Kamu pulang sekarang juga! Mama gak mau dengar alasan apa pun. Pulang malam ini juga!”‘’Mama kenapa sih?’’‘’Ara pulang seka
Di tempat berbeda, rumah Mama Indri terasa begitu hening sore itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Biasanya, di jam seperti ini, Mama Indri duduk santai menonton acara televisi sambil menikmati teh hangat dan kue kecil. Namun kali ini, suasana itu pecah begitu pintu rumah terbuka perlahan.Ana masuk dengan wajah berantakan. Rambutnya kusut, matanya sembab, dan pipinya tampak memerah seperti baru saja ditampar atau menangis lama. Dia berjalan pelan, menyeret langkah, seolah seluruh tenaga hilang dari tubuhnya.“Ana?” panggil Mama Indri yang langsung berdiri dari sofa. Ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya. “Kamu kenapa, Nak?”Ana berhenti sejenak, menatap ibunya dengan mata berkaca. Bibirnya bergetar seperti ingin bicara, tapi tak ada suara keluar. Lalu, tiba-tiba ia berlari kecil, langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat. “Mama…” isaknya pecah, tubuhnya bergetar keras.Mama Indri terkejut. Tangannya refleks mengu