INICIAR SESIÓNAra menelan ludah. Ia berdiri, melangkah pelan ke depan dan meletakkan laporan itu di hadapan Aga. Sekilas, mata Ara dan Aga bertemu. Detik itu, Aga menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya.
Ara buru-buru menunduk, wajahnya memanas.Nisa mendesis dalam hati. Jemarinya mengetik laptop lebih keras dari sebelumnya.“Baik,” suara Aga dalam dan tegas, memecah keheningan. “Hari ini kita bahas progres proyek kerjasama Dhananjaya Grup dengan tiga mitra baru, termasuk pembaruan data finansial dan evaluasi timeline. Nisa, catat.”“Baik, Pak,” jawab Nisa cepat, suaranya profesional meski tatapannya sempat melirik Ara dingin.Ara kembali ke kursinya. Jantungnya berdebar kencang. Sejak pagi, bayangan ciumannya dengan Aga di mobil tadi masih mengganggu pikirannya.Presentasi dimulai. Salah satu manajer berdiri menjelaskan proyeksi di layar proyektor.Sesekali Aga mengangguk, sesekali juga menyela dengan pertanyaan tajam. Aura tegasnya membuat semua orang berHoekkkk! Hoeekkk! Suara muntah itu memecah sunyi pagi. Udara kamar mandi masih dingin, sementara cahaya matahari baru saja menyelinap melalui celah jendela. Kayla berdiri terpaku di depan wastafel, kedua tangannya mencengkeram tepinya erat-erat seolah tubuhnya bisa roboh kapan saja. Perutnya bergejolak hebat, rasanya mual tak tertahankan. Kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang. Wajahnya pucat pasi, hampir tak ada darah yang tersisa di sana. “Aku kenapa…” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, sebelum rasa mual itu kembali menyerang. Hoekk! Tubuh Kayla gemetar. Setelah muntah untuk kesekian kalinya, tenaganya benar-benar terkuras. Kakinya melemah, membuatnya terpaksa terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Tok tok tok. Dari luar kamar terdengar suara ketukan, disusul teriakan khas Miko yang selalu c
Pagi itu, halaman rumah masih basah oleh embun ketika mobil Miko melaju perlahan meninggalkan gerbang. Tidak seperti biasanya, motor sport kesayangannya terparkir rapi di garasi. Hari ini ia memilih mobil, bukan karena gengsi, melainkan karena satu alasan sederhana namun penting: kondisi Kayla belum sepenuhnya pulih. Kayla duduk di kursi penumpang, mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding kemarin pagi. Sesekali ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan yang berlalu, seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata rumah besar, keluarga, dan kini… kakak yang mengantarnya ke sekolah. “Kamu yakin gak apa-apa?” tanya Miko sambil meliriknya sekilas. Kayla mengangguk pelan. “Iya. Cuma agak pusing dikit.’’ Miko tidak menjawab, hanya memperlambat laju mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan
“Tetep aja, Kay,” balasnya ngotot. “Aku kakak kamu!” Kayla menghela napas berat, menyerah sambil tersenyum. “Oke… Kak Miko.” “Good job,” sahut Miko puas. Keduanya tertawa kecil. Tawa yang ringan, tulus, dan hangat, tanpa beban, tanpa luka. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasa aman…mereka merasa utuh. ** Pagi harinya, Kayla terbangun setelah tidur yang begitu nyenyak. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cat lembut dan hiasan yang masih terasa asing baginya. Aroma kamar ini berbeda bersih, hangat, dan menenangkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela besar. Sinar matahari menyelinap, jatuh tepat di wajahnya. Kayla mengedip beberapa kali. Tidak mimpi. Semua ini nyata. Rumah besar. Kamar indah. Orang tua kandung. Keluarga yang selama ini hanya ada di lubuk hatinya sebagai angan-angan.
Beberapa hari berlalu sejak Kayla siuman. Kondisinya berangsur membaik, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Luka-luka itu perlahan sembuh, namun bekasnya tetap ada, bukan hanya di kulit, tapi juga di hati.Hari itu dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.Namun, Kayla tidak kembali ke kontrakan sempit yang selama ini ia sebut rumah. Tidak ada lagi kunci berkarat, dinding lembap, atau kasur tipis yang setiap malam menemaninya menangis diam-diam. Mobil yang ia tumpangi justru melaju ke arah yang sama sekali berbeda menuju sebuah kawasan elit yang bahkan dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar.Kayla turun dengan langkah ragu. Kakinya sedikit gemetar, entah karena lemah atau karena perasaannya yang terlalu penuh. Ia mendongak.Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Bangunan dua lantai dengan pilar kokoh, jendela-jendela besar berbingkai putih, dan halaman luas yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Mawar, melati, dan anggrek
Rafi menatap putranya lekat-lekat. “Nyatanya dia memang suka sama kamu. Dan karena itu, dia yang menyuruh Vania menyamar jadi Mikha. Supaya posisinya aman, supaya tidak ada yang menghalangi dia mendekati kamu.” Kata-kata itu seperti pukulan telak bagi Miko. Dadanya terasa berat. Ingatannya berputar cepat, memutar ulang kejadian-kejadian kecil yang dulu ia anggap sepele. Sikap Adel yang selalu ingin tahu, caranya terlalu sering ikut campur, tatapannya yang kadang terasa aneh semua itu kini terasa masuk akal. Miko terdiam lama, mencoba mencerna semuanya. Tanpa sadar, bayangan Dinda muncul di kepalanya. Dinda yang dulu berkali-kali memperingatkannya. Dinda yang mengatakan bahwa Adel bukan gadis sebaik yang terlihat. Dinda yang sering cemburu setiap kali ia pulang sekolah dibonceng Adel, sampai berkali-kali memilih putus karena merasa tidak didengarkan. Saat itu Miko tidak percaya. Ia mengira Dinda hanya berlebihan, terlalu posesif, terlalu manja. Kini, saat semua terbong
Sepulang sekolah, langkah Miko terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seragamnya masih rapi, tas masih menggantung di bahu, tapi pikirannya sudah berlari lebih dulu ke satu tempat rumah sakit. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas, seolah ada firasat yang sejak tadi menekan dari dalam. Begitu pintu ruang perawatan dibuka, Miko sontak terhenti. Matanya membola. Kayla sudah sadar. Gadis itu setengah duduk di atas brankar, wajahnya masih pucat namun matanya terbuka dan hidup. Di sampingnya, Marsha tengah menyuapi potongan buah dengan gerakan lembut, penuh kesabaran. Sementara di sofa dekat jendela, Rafi duduk tenang sambil menatap layar ponselnya, sesekali melirik ke arah Kayla. Pemandangan itu membuat Miko bingung sekaligus terkejut. “Mama sama Papa ngapain di sini?” tanya Miko spontan, suaranya sedikit tertahan. Rafi mendongak, menatap putranya sekilas sebelum menjawab santai, “Kamu baru p







