Masuk"Duduk dan lihat baik-baik foto ini, Dimas. Tolong, gunakan akal sehatmu dan jangan bicara sebelum kau benar-benar memahaminya."Suara Arka terdengar berat, dingin, dan memotong udara seperti bilah pedang. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja kerjanya, tepat di hadapan Dimas yang baru saja masuk dengan wajah bingung.Siang itu, tepat pukul dua. Terik matahari Jakarta menembus kaca jendela ruang kerja Arka di lantai teratas Menara Adhiguna, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas karpet tebal. Suasana ruangan yang biasanya tenang kini terasa sangat menyesakkan. Udara dingin dari pendingin sentral seolah membeku di sekitar meja mahoni tempat kedua pewaris keluarga itu berhadapan.Dimas, yang masih mengenakan jas rapinya sehabis meeting dengan divisi logistik, menarik kursi dan duduk. Keningnya berkerut melihat ketegangan di wajah kakak sepupunya.Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto hasil cetakan resolusi tinggi dari tangkapan layar CCTV."Ini
Layar tablet itu akhirnya meredup dan mati, menyisakan pantulan wajah Arka dan Nia yang menegang di atas permukaan kacanya yang gelap.Arka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menyembunyikan tablet itu kembali ke dalam tas kerjanya, mengunci rapat-rapat bukti kejahatan yang baru saja mereka saksikan."Kita urus ular itu nanti siang," kata Arka, suaranya kembali melembut saat menatap istrinya. "Pagi ini, kita punya janji yang jauh lebih penting dari Bella maupun Dimas."Nia tersenyum tipis, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia mengangguk. "Preschool Amara.""Ya. Kita harus pastikan putri kita mendapatkan tempat terbaik." Arka melirik jam di pergelangannya. "Aku akan bersiap-siap. Kau urus sarapan jagoan kecil kita."Nia segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju kitchen island di dapur bersih mereka yang bernuansa monokrom. Ia mengambil celemek dan mulai menyiapkan sarapan khusus untuk putri mereka yang kini menginjak usia tiga tahun.Menu pagi ini kaya
"Kirim sekarang, Anton. Aku tidak butuh basa-basi. Apa wajahnya terlihat atau tidak?"Suara bariton Arka Adhiguna memecah keheningan ruang makan yang biasanya hanya diisi oleh denting halus sendok dan garpu. Nadanya mendesak, tajam, dan tidak sabaran.Di seberang meja, Nia meletakkan cangkir teh hangatnya perlahan. Ia menahan napas, matanya menatap lekat pada suaminya yang sedang menempelkan ponsel di telinga dengan cengkeraman erat."Jernih, Pak," suara Anton terdengar penuh kemenangan di ujung telepon, volumenya cukup keras hingga Nia bisa mendengarnya samar-samar. "Tim forensik digital berhasil membuang noise pada pikselnya. Kami menggunakan algoritma super-resolution terbaru. Bapak bahkan bisa melihat tahi lalat di lehernya kalau Bapak mau.""Bagus," desis Arka. Matanya berkilat buas. "Kirim ke email pribadiku. Sekarang.""File terkirim, Pak. Selamat menikmati sarapan dengan menu 'kebenaran'."Klik. Sambungan terputus.Pagi itu, langit Jakarta di luar jendela kaca besar tampak men
"Pak Arka, maaf mengganggu. Ini laporan audit internal bulan lalu yang Bapak minta kemarin sore. Saya taruh di meja atau perlu saya jelaskan poin-poinnya sekarang?"Suara itu lembut, mendayu, namun penuh percaya diri.Arka tidak menoleh dari layar laptopnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan sebelum pintu ruangannya tertutup rapat. Aroma parfum jasmine yang samar namun memabukkan sudah lebih dulu menyusup ke indera penciumannya."Taruh saja di situ," jawab Arka datar, matanya tetap terpaku pada grafik saham Adhiguna yang sedang merah. "Saya sedang sibuk."Namun, tidak ada suara kertas diletakkan. Tidak ada suara langkah kaki menjauh.Hening beberapa detik.Arka akhirnya mendongak, sedikit kesal. "Bella, saya bilang..."Kalimatnya terhenti di tenggorokan.Bella berdiri tepat di samping mejanya, bukan di depan meja seperti karyawan biasa. Jarak mereka sangat dekat, mungkin kurang dari setengah meter.Wanita itu mengenakan blus sutra berwarna cream yang potongannya sedikit lebih ren
Dimas berhenti, tapi tidak menoleh. "Apa lagi?""Tunda tanda tangannya," perintah Arka tegas. "Beri waktu satu minggu. Kakak minta satu minggu aja. Kalau dalam seminggu kamu masih yakin, silakan angkat dia. Tapi tolong, pelajari dulu track record-nya. Lakukan background check profesional, standar prosedur HRD untuk level direktur."Dimas diam sejenak, menimang-nimang."Oke. Seminggu," jawab Dimas singkat tanpa menoleh. "Tapi hasilnya nggak bakal berubah, Kak. Bella orang baik."Pintu tertutup. Dimas pergi."Kita kehabisan waktu, Anton. Situasinya jauh lebih buruk dari dugaan kita. Dimas... dia gila. Dia baru saja meminta izin untuk mengangkat Bella sebagai Direktur Keuangan Barata Logistik."Hening sejenak di ujung telepon. Suara napas Anton terdengar berat, seolah baru saja dipukul di ulu hati."Direktur Keuangan? Itu bunuh diri, Pak," suara Anton akhirnya terdengar, nadanya bercampur antara kaget dan ngeri. "Barata Logistik itu memegang arus kas operasional terbesar di grup. Kalau B
"Kak, jujur aja, aku masih nggak bisa lupa sama pidato Bella malam itu. Caranya ngomong, caranya natap audiens, bahkan cara dia bangkit setelah jatuh... dia punya mental baja, Kak. Dia punya aura pemimpin yang selama ini aku cari buat dampingin aku."Dimas meletakkan cangkir kopinya dengan semangat yang meluap-luap. Matanya berbinar, sorot mata khas orang yang sedang dimabuk asmara sekaligus kekaguman buta."Dia bukan cuma cantik, Kak Arka. Dia cerdas. Dia 'intan yang belum diasah', persis seperti kata Kak Nia dulu."Arka Adhiguna hanya menyandarkan punggungnya di kursi kulit besarnya, menatap adik sepupunya itu dengan wajah datar yang sulit ditebak.Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik menembus kaca jendela ruang kerja Arka di lantai 40 Menara Adhiguna. Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 WIB.Suasana di ruangan itu sebenarnya tenang, dengan pendingin udara yang mendesis halus. Namun, bagi Arka, kata-kata Dimas barusan terasa seperti sirene bahaya yang meraung-raung.Empat hari t







