LOGIN“Gerry... perjelas.” Suara Aru terdengar tenang.Namun semua orang di ruangan itu tahu ketenangan Arunika selalu menjadi pertanda sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang terjadi di dalam kepalanya.Gerry menatap layar tabletnya beberapa saat, Seolah sedang memastikan kembali data yang baru diterimanya, Lalu ia mengangkat wajah.“Pria yang berdiri di samping ayah nona di foto itu bukan orang asing.”Hening... Monitor jantung di samping ranjang Bisma berdetak pelan.Tut.Tut.Tut.“Aku sudah dengar bagian itu.” Tatapan Aru tidak bergeser.“Lanjutkan.”Gerry menarik napas panjang" Nama pria itu adalah Mahendra Pratama.”Tubuh Bisma langsung menegang, Hampir tidak terlihat. Tetapi Aru melihatnya, Karena sejak dulu, ia selalu memperhatikan hal-hal kecil pada Bisma.“Mahendra?” Paman Dion mengernyit.“Nama keluarga yang sama.”“Iya.”Gerry mengangguk.“Secara hukum pria itu meninggal dua puluh lima tahun lalu dalam kecelakaan kapal.”Keheningan kembali turun menyelimuti ruangan itu, Lalu
Aru berdiri membeku di depan pintu itu, Jantungnya masih berdetak keras akibat lorong panjang yang dipenuhi foto-foto Bisma. Namun sekarang ada hal lain yang membuat napasnya terasa berat.Suara ayahnya, dan suara Paman Adrian, Bersama, Di tempat yang seharusnya tidak ada.Gerry bergerak sedikit di depan Aru, naluri melindunginya muncul otomatis. Namun Aru mengangkat tangan pelan.“Tidak.”“Nona...”“Aku masuk sendiri.”Paman Dion menghela napas panjang, Ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Arunika saat perempuan itu sudah mengambil keputusan. Perlahan Aru mendorong pintu, engsel tua itu mengeluarkan bunyi lirih.Ruangan di baliknya jauh berbeda dari lorong yang suram, Hangat, tenang. Bahkan ada aroma kopi yang masih tersisa di udara, Seperti seseorang baru saja duduk di sana beberapa menit lalu.Di tengah ruangan berdiri seorang pria berambut putih yang sangat dikenalnya, Tubuh Aru langsung menegang, Semua kemarahan yang selama ini ditahan, kerinduan, kehilangan, Seketika bercamp
Mobil berhenti bahkan sebelum benar-benar masuk ke area rumah sakit, Lampu darurat menyala di beberapa sisi gedung. Hujan masih turun deras, membasahi halaman yang kini dipenuhi kendaraan keamanan dan ambulans.Namun ada sesuatu yang salah.Keadaan yang terlalu sepi, tidak ada suara panik, dan petugas yang berlarian, Dan tidak ada kekacauan seperti yang dibayangkan Aru ketika mendengar rumah sakit diserang. Justru itulah yang membuat tengkuknya meremang.“Ini jebakan,” gumam Gerry.Aru sudah membuka pintu sebelum pria itu selesai bicara.“Nona!”“Aku tahu.”Sepatu Aru menghantam genangan air. Dingin langsung merambat ke pergelangan kakinya. Namun ia terus berjalan cepat menuju pintu utama.Paman Dion dan Gerry menyusul di belakang, Begitu masuk ke dalam gedung, aroma antiseptik langsung menyambut mereka, Lobi terlihat normal.Seorang resepsionis masih duduk di mejanya, Dua perawat masih berjalan di koridor, Tidak ada tanda-tanda penyerangan.“Ini tidak masuk akal,” bisik Paman Dion. G
“Bisma?”Suara Aru nyaris tidak terdengar.Satu kata itu terasa asing saat keluar dari bibirnya sendiri, Mobil yang melaju di tengah hujan mendadak terasa sempit, Udara di dalam kabin seperti menghilang sedikit demi sedikit.“Tidak mungkin.”Kalimat itu keluar lebih cepat dari pikirannya.Karena beberapa jam lalu Bisma berada di meja operasi, Beberapa jam lalu ia hampir kehilangan nyawanya. Dan sekarang Gerry mengatakan ada rekaman yang menunjukkan Bisma berada di lokasi ledakan?“Itu tidak mungkin.”Kali ini Aru mengulanginya dengan lebih tegas.Gerry mengangguk pelan.“Awalnya saya juga berpikir begitu, nona.”“Lalu?”“Karena itu saya meminta rekamannya diperiksa tiga kali.”Jemari Aru perlahan mengepal di atas pangkuannya.“Dan?”“Wajahnya terlihat seperti Bisma.”Seperti, Bukan Bisma. Perbedaan kecil itu langsung ditangkap Aru, Matanya menyipit.“Seperti?”Gerry membuka laptop lagi, Beberapa detik kemudian sebuah cuplikan CCTV muncul di layar.Gambar malam hari, Kualitas rendah, H
“Ini rencana Ayah.”Suara Aru terdengar pelan di dalam mobil yang mendadak sunyi, Hujan masih turun di luar. Tetesannya menghantam atap mobil dengan ritme yang tidak beraturan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca yang basah, menciptakan bayangan samar yang bergerak mengikuti laju hujan.Gerry menoleh.“Maaf, nona?”Aru tidak langsung menjawab, Tatapannya tetap lurus ke depan. Namun perlahan jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.“Orang tua itu memiliki sesuatu yang sangat besar.”Suaranya terdengar lebih tenang sekarang, Terlalu tenang.“Dan dia tidak ingin aku mengetahuinya.”Dion mengernyit.“Atau orang lain,” lanjut Aru pelan.Keheningan kembali turun, Karena semakin mereka mengikuti jejak ayah Aru, semakin terlihat bahwa semua kejadian ini bukan kebetulan, Kematian palsu.Safe house.Hendra.Warisan.Surat.Flashdisk.Semuanya seperti potongan puzzle yang sengaja disebar, Dan seseorang terus memastikan mereka selalu terlambat satu langkah.“Kalau benar begitu...” Dion mengh
“Gerry, di mana Fara dan Raka?”Suara Aru memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di ruang ICU, Tatapannya masih tertuju pada layar laptop. Pada foto yang baru saja muncul, Pada wajah ayahnya.Hidup, Benar-benar hidup, Dan berdiri di samping seseorang yang membuat dadanya terasa dingin.“Fara sedang di luar, nona. Raka masih bersama tim pengamanan.”“Panggil mereka.”Gerry langsung mengangguk.“Aru...” suara Bisma terdengar pelan dari atas ranjang.Namun Aru belum menoleh, Pandangannya masih terpaku pada layar.Ia menangisi makam kosong.Ia hidup dengan kehilangan.Dan sekarang sebuah foto menghancurkan semua kenyataan yang selama ini ia yakini.“Suruh mereka menjaga Bisma dan Reyhan.”Kalimat itu keluar tenang. “Kau ikut aku dan Paman Dion.”Gerry langsung mengerti.“Nona...”“Sekarang.”Tidak ada nada tinggi.Tidak ada kemarahan.Tetapi semua orang tahu Arunika sudah mengambil keputusan, Dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Baru saat itu Aru akhirnya menoleh, Tatapa







