MasukMatahari mulai menembus awan kelabu yang sejak pagi menggantung di atas kota. Cahaya pucat menyusup melalui dinding kaca kantor pusat Megantara Group, menerangi ruang kerja Viktor yang tetap terasa dingin meski pendingin ruangan telah dimatikan.Di atas meja, berkas-berkas menumpuk tanpa tersentuh, Sudah hampir satu jam Viktor berada di sana, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di kantor. Setiap kali pena di tangannya bergerak, yang terlintas justru wajah Arunika.Tatapan kosong, Senyum yang dipaksakan, Dan kalimat yang terus menghantuinya."Kau akan lebih bahagia tanpa aku."Tok...Tok... Dimas, Asisten kepercayaannya segera masuk."Tuan.""Apa Nyonya sudah sarapan?"Dimas menundukkan kepala pelan "Bibi Lina mengatakan Nyonya hanya minum beberapa teguk teh."Viktor memejamkan mata "Lalu?""Beliau kembali masuk ke kamar."Keheningan memenuhi ruangan."Tuan..." Dimas ragu-ragu melanjutkan."Ada seseorang ingin bertemu.""Siapa?""Dokter Maya."Viktor mengangguk pelan "Persilaka
Fajar datang tanpa warna, Langit masih diselimuti awan kelabu. Gerimis semalam menyisakan embun yang menempel di dedaunan taman, sementara udara dingin merayap masuk melalui celah jendela kamar yang belum tertutup rapat, Viktor membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lakukan setiap pagi adalah mencari tangan Arunika, Namun kali ini Yang disentuhnya hanyalah seprai yang telah dingin.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat."Aru..."Ia bangkit tergesa, tatapannya menyapu seluruh kamar, Pintu kamar mandi terbuka tapi kosong, Balkon juga kosong. Perasaan tidak enak kembali memenuhi dadanya, Ia segera melangkah keluar.Suasana rumah begitu sunyi. Tak terdengar suara televisi, tak ada denting peralatan makan dari dapur. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, memecah keheningan. Viktor menemukan Arunika di ruang makan, Perempuan itu duduk di kursi yang sama seperti kemarin Masih mengenakan piyama berwarna krem, rambut panjangnya dibiarkan terurai tanpa disisir. Di hadapannya terle
Hujan turun sejak dini hari, Butiran air membentur kaca-kaca besar rumah itu, meninggalkan jejak bening yang perlahan meluncur ke bawah. Langit kelabu membuat seluruh ruangan terasa lebih suram dari biasanya. Di meja makan yang panjang, hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring.Arunika duduk diam, Semangkuk sup hangat di depannya masih utuh. Uapnya perlahan menghilang, sama seperti selera makannya yang seolah ikut lenyap sejak malam itu. Viktor memperhatikannya tanpa berkedip."Aru..."Pria itu mendorong pelan mangkuk sup itu sedikit lebih dekat."Coba makan beberapa sendok saja."Arunika mengangkat wajah, Ia tersenyum.Senyum kecil, Senyum yang begitu dipaksakan hingga membuat dada Viktor terasa nyeri."Aku belum lapar.""Kau belum makan sejak semalam.""Aku bilang belum lapar." Jawabannya tetap lembut, Tetapi cukup untuk membuat Viktor menghela napas panjang, Ia tidak memaksa lagi.Beberapa detik kemudian, Arunika berdiri."Kupikir aku ingin kembali ke kamar.""Tu
"Viktor...?"Suara lirih itu menghilang begitu saja di dalam kamar yang masih diselimuti gelap. Arunika membuka matanya perlahan. Cahaya remang dari lampu tidur memantulkan bayangan samar di langit-langit kamar. Selimut yang semalam menutupi tubuhnya kini hanya tersisa di pinggang, sementara sisi ranjang di sebelahnya terasa dingin ketika telapak tangannya meraba perlahan, dan Kosong.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berharap Viktor hanya sedang berada di kamar mandi.Namun suara gemericik air tak terdengar, Pintu kamar mandi terbuka, Tidak ada siapa pun di sana. Dadanya langsung dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.Sejak kejadian itu...Sejak darah membasahi pakaiannya dan dokter menyatakan bahwa anak mereka tak lagi bisa diselamatkan, Arunika tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak. Sedikit saja Viktor menjauh dari sisinya, rasa panik itu kembali datang tanpa permisi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri."Viktor pasti hanya turun ke bawah..."Ia
"Kenapa... justru aku yang masih hidup...?"Suara lirih itu memecah keheningan dini hari.Viktor yang baru saja membuka pintu kamar langsung menghentikan langkahnya. Jemarinya masih menggenggam gagang pintu, tetapi tubuhnya seolah membeku di tempat.Di bawah cahaya temaram lampu tidur, Arunika duduk di lantai, bersandar lemah pada sisi ranjang. Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah yang basah oleh air mata.Di pangkuannya, tergenggam sebuah amplop putih.Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan selembar foto kecil dari dalamnya.Foto USG.Benda sederhana yang kini menjadi kenangan dari anak yang tak pernah sempat ia dekap.Arunika mengusap permukaan foto itu dengan ujung jarinya, seolah takut gambar kecil itu akan menghilang jika disentuh terlalu keras, Air matanya kembali jatuh. "Ayah..." bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar jendela. "aku gagal..." Dadanya naik turun menahan sesak yang tak kunjung reda. "Aku gagal menjaga cucumu..."Kali
Sirene ambulans meraung memecah malam. Lampu rotator berkelip cepat, membelah lalu lintas yang mulai menyingkir memberi jalan. Di dalam ambulans, suasana berubah tegang. Arunika terbaring di atas brankar dengan wajah yang semakin pucat. Napasnya terdengar pendek dan tidak teratur, sementara Viktor tak pernah melepaskan genggaman tangannya. "Aru..." Viktor membelai punggung tangan perempuan itu. "Dengar suaraku." "Kita hampir sampai." Arunika berusaha membuka matanya, tetapi kelopak itu terasa begitu berat, Pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan menjauh. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram erat kemeja Viktor mulai kehilangan tenaga. Sedikit demi sedikit, Genggaman itu mengendur. Lalu terlepas. Tangan Arunika jatuh lemas di sisi tubuhnya. "Aru?" Nada suara Viktor berubah panik. Ia segera menggenggam kembali tangan itu, Kulitnya terasa dingin, Sangat dingin sampai Bibir Arunika yang tadi masih bergerak kini terkatup lemah, nyaris tanpa warna. Matanya te
Bunyi monitor berdetak pelan dan tidak stabil, setiap jeda di antara bunyi itu terasa lebih panjang dari seharusnya, seolah waktu sengaja diperlambat hanya untuk menguji siapa yang masih bertahan di dalam ruangan itu.Cahaya putih dari lampu operasi memantul di kulit Aru yang pucat, membuat warna d
“…Rey…”Suara itu pecah di ujung nafas, lalu tubuh Aru menegang sesaat sebelum melemah kembali di pelukan Bisma. Dadanya naik dengan tarikan pendek yang tidak selesai, seperti udara berhenti di tengah jalan dan tidak pernah benar-benar masuk.“Aru.”Bisma menunduk, wajahnya sangat dekat, cukup untu
Pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka, namun bunyinya tetap terasa keras di telinga Aru, seperti sesuatu yang mengunci ruang terlalu rapat, membuat udara di dalamnya terasa lebih padat dari sebelumnya. Ia masih berdiri di depan wastafel, bahunya sedikit terangkat, napasnya tidak sepenuhnya
Pintu mobil bahkan belum sepenuhnya tertutup ketika Aru sudah lebih dulu keluar. Langkahnya cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja melewati situasi seperti itu, dan suara sepatu kecilnya memukul lantai teras dengan ritme tidak rata. Ia tidak menoleh. Tidak menunggu.“Aru…”Suara Bisma







