LOGIN
"Seperti bunga yang mekar dalam gelap malam, disirami darah, dan bercahaya berkat sinar rembulan. Aku mengakuimu untuk menjadi milikku"
Gang sempit di belakang kampus terasa lebih sunyi dari biasanya. Udara dingin menyelinap melalui kain hoodie hitamnya, tetapi Selenia tidak menggubrisnya. Ia baru saja selesai belajar kelompok dan ingin segera pulang. Langkahnya terhenti. Sebuah perasaan aneh menjalari tubuhnya, seperti ada sesuatu yang mengintai dalam kegelapan. Ia menoleh ke belakang, kosong. Hanya bayangan bangunan tua dan lampu jalan yang redup. Ini perasaan yang konyol, batinnya. Ia mempercepat langkah, tetapi angin malam tiba-tiba berdesir, membawa bisikan halus yang hampir seperti panggilan. Sebelum sempat bereaksi, tubuhnya tertarik ke dalam bayangan. Selenia terkejut. Sebuah tangan kuat melilit lehernya, mengangkat tubuhnya dengan mudah. Ia menendang, meronta, tapi tak ada gunanya. Tangan kekar Raven bermain dengan kasar di leher Selenia. Gadis itu terengah-engah, sesak nafas. Lehernya harus menahan bobot tubuhnya, pria sialan itu mengangkat lehernya demi menyamakan tinggi mereka. "L-Lepaskan, sialan" Bukannya melepaskan, Raven malah menyeringai. Menampakkan dua taring tajamnya yang berkilat tertimpa cahaya lampu jalan yang temaram. Selenia tersentak melihatnya, gadis itu bergetar ketakutan. "Jangan lakukan a-apapun yang akan kau sesali!" Malam yang sepi, dengan udara yang dingin. Raven mengangkat tubuh Selenia lebih tinggi, menabrakkan tubuh rapuh itu ke tembok. Keduanya bersitatap di gang sepi. Aura gelap yang pekat akan negatifitas terasa menegangkan. "Mari kita cicipi dulu, yang katanya darah murni dari gadis suci titisan dewi" Menurunkan tubuh Selenia, Raven meletakkan satu tangannya di bahu Selenia untuk menahan pergerakan gadis itu. Sedang tangan lainnya di samping tubuh sang gadis untuk mencegahnya kabur. "A-Apa yang mau kau- Akhh!" Bermain-main dengan cara yang berbeda, Raven menancapkan taringnya bukan pada tempat yang seharusnya. Ia tak mengigit Selenia di leher, melainkan di area bawah tulang selangka sang hawa. Menghantarkan gigil yang menjalari punggung Selenia. Setelahnya, Raven menghisap dengan brutal. Membiarkan gadis itu mulai memucat bak kertas polos. Gigitan itu bukan sekadar rasa sakit. Ada sesuatu yang lebih dari itu, dingin yang menjalari tubuhnya, mencengkeram organ dalamnya, membuatnya lemas seketika. Darahnya terasa seolah mengalir keluar, menyatu dengan pria itu. Hawa panas menjalari punggungnya. Seluruh tubuhnya bergetar, kelopak matanya berkedip lemah. "Uhh.... H-Hentikan" Darahnya memang tidak dihisap habis, namun cukup untuk membuat gadis bersurai putih itu tumbang. Bulu mata putihnya nan lentik bergerak pelan sebelum sang empunya benar-benar kehilangan kesadaran. "Kau yang akan mati di tanganku. Kujadikan cadangan makanan saja, darahmu segar sekali sih~" Membersihkan sisa darah di bibirnya, Raven tersenyum mengerikan sebelum akhirnya memboyong tubuh sang gadis dalam kegelapan malam. --- "Selenia, pakai jimat yang nenek berikan. Di luar sana bahaya, takutnya ada makhluk jahat" Memutar matanya dengan malas, Selenia Vanderbilt hanya melenguh panjang untuk menjawab ucapan sang nenek. Gadis dengan rambut panjang seputih salju itu kemudian memakai hoodie hitam kesayangannya, lalu melangkah keluar kamar dan berpamitan pada orang tuanya. "Mama, Len pergi dulu ya" "Iya, hati-hati sayang" Sepatu boots yang stylish sudah terpasang di kedua kaki manisnya. Selenia segera keluar dari pintu utama kediamannya, dengan ransel di punggungnya. Menghirup udara malam yang dingin sudah biasa bagi Selenia. Ini semua karena kondisi langka yang dideritanya. Putih, adalah warnanya. Rambut putih, kulit putih, alis dan bahkan bulu mata pun putih. Selenia menderita albino. Keluar di siang hari saat matahari bersinar terik akan menjadi masalah besar baginya. Mata biru cerahnya sangat sensitif akan cahaya, pun kulitnya mudah terbakar. Ia seperti vampir yang dibesarkan bak tuan putri oleh Vanderbilt. Selenia tidak percaya akan kalimat pendeta yang dahulu pernah datang ke kediaman Vanderbilt saat dirinya berusia tujuh tahun. Selenia adalah anak cahaya titisan Dewi penghakiman, Librae. Anak yang akan tumbuh menjadi gadis pembawa cahaya, menghapuskan kegelapan. Bohong. Itu semua hanya bualan belaka bagi Selenia. Kalau benar ia titisan Dewi, harusnya ia tak dilahirkan dengan kondisi yang membuatnya menderita kan? Harusnya ia malah dianugerahi kekuatan. Tapi apa? Albino? Selenia jadi harus hidup dalam bayang. Memainkan liontin di kalung yang disebut jimat pelindung itu, Selenia jadi berpikir. Bukankah tidak masuk akal kalau benda kecil ini dapat melindunginya dari bahaya besar? Pelindung dari makhluk jahat katanya? Haha, lelucon kuno. Bagi Selenia, kalau sudah waktunya mati ya akan tetap mati. Karena itu takdir kan? Mana ada takdirnya Selenia mati dibunuh orang jahat, tapi jadi terselamatkan berkat jimat pemberian neneknya ini? "Haha... Aneh" Selenia Vanderbilt yang lugu dan manis. Usia dua puluh tiga tahun. Mahasiswi fakultas kedokteran. Putri semata wayang Eugene Vanderbilt dan Elaine Vanderbilt. Berpikir dengan nalar, selalu mencari penjelasan logis. Tidak percaya cerita takhayul dan mitos. Bersih dan suci. Tak tahu dirinya diincar oleh sosok dalam gelapnya malam. --- "Kau akan mati di tangan seorang gadis titisan dewi. Tunggu saja ajalmu, Makhluk hina penguasa kegelapan" Seorang wanita tua yang telah bungkuk menyeka darah di sudut bibirnya. Kedua mata butanya tak dapat menyamarkan penglihatannya akan kegelapan pekat dihadapannya. Meski netranya tak berfungsi, batinnya masih dapat meraba sosok di hadapannya. Seorang pria bernetra merah darah. Rambut hitam jelaga dengan segaris perak membuatnya sangat mengerikan. Alarm tanda bahaya seolah menyala dalam benak si wanita tua, merasakan bendera merah berkibar di alam bawah sadarnya. Ia tahu tak seharusnya menantang sang penguasa dunia hitam. Namun inilah takdir yang sudah digariskan, ia harus menyampaikan apa yang dititipkan padanya. Ia adalah pembawa berita kematian. "Beraninya kau, makhluk rendahan" Tawa menghina terdengar dari mulut sosok yang duduk santai di singgasana kebanggaannya. Aroma tembakau menguar kuat, bercampur dengan aroma amis darah. Mata merah yang mempesona bak permata rubi itu berkilat, memancarkan amarah. Seringainya membuat bulu kuduk berdiri. Raven Drachov, pria yang telah hidup lebih dari satu abad. Makhluk yang terperangkap dalam keabadiannya sendiri. Hampir jengah dengan hidupnya. Kini, saat ia menemukan hiburan dalam hidup monoton, seorang wanita tua bangka dengan lancang menyatakan bahwa ajal akan segera menjemputnya? Ia tak salah dengar? "Kau akan menyesal telah menantangku, wanita renta" "Kau yang akan menyesal, bila tak mengindahkan himbauanku" Bangkit dari singgasana, Raven melangkah ke hadapan wanita buta itu. Mencengkram wajah keriput itu dengan ekspresi jijik, pria bertubuh tegap tersebut membiarkan kuku-kukunya memanjang atas keinginannya, mulai menusuk kulit si wanita tua. Erangan tipis terdengar, namun itu mengalun bak melodi indah di telinga Raven. Raven adalah pecinta musik, dan ada tiga musik yang sangat dicintainya : Erangan kesakitan, suara kematian, dan terakhir musik instrumental. "K-Kau takkan mendapatkan apapun walau membunuhku" Mata merah itu kembali berkilat. "Mati" Dengan sekali cengkraman yang bahkan tak ada setengah dari tenaga sang adam, wanita tua itu sudah meregang nyawa di tangannya. Tersenyum mengerikan, pria itu merubah tubuh dingin si wanita renta menjadi sekelompok gagak yang bergerak sesuai perintahnya. "Hm, pembunuhku di masa depan? Menarik. Cari gadis sialan dalam ramalan payah itu. Akan ku tunjukkan padanya arti tantangan" Raven Drachov. Usia lebih dari satu abad. Dikenal sebagai raja dunia hitam, pun penguasa dalam kegelapan. Bisnis ilegal seperti perdagangan miras, narkoba, bahkan perdagangan manusia ada di tangannya. Menguasai dunia mafia, pemilik gudang senjata rahasia, dan melatih anak-anak untuk menjadi assassin kelas atas. Kotor dan gelap. Terakhir, dia adalah vampir yang berambisi untuk hidup abadi setelah sebelumnya mengutuk keabadian itu sendiri. --- Menatap gadis bersurai putih itu dari kejauhan, tanpa banyak bicara Raven segera menerjangnya. Dibawanya Selenia ke tempat yang benar-benar gelap, menghimpit tubuh gadis itu dalam posisi yang intim. Setelah beberapa dialog yang tidak menyenangkan dan aksi brutalnya menghisap darah Selenia, gadis itu tumbang. Jatuh ke tangannya. Namun Raven menjadi bingung sendiri. Inikah gadis yang akan membunuhnya kelak? Lemah, rapuh, namun indah. Sungguh menarik. Raven ingin melihat, apa yang bisa dilakukan kelinci kecil ini untuk membunuhnya. Mengangkat gadis itu di bahunya bak karung beras, anehnya vampir brutal sepertinya menyentuh Selenia seakan menyentuh bunga yang rapuh. Meski gaya menggendong yang tidak lazim, ia benar-benar menyentuh Selenia dengan lembut. Dengan iseng, Raven menepuk pelan bokong semok Selenia yang tak sadarkan diri. "Yah, lumayan. Cadangan makanan"Langit tidak pernah benar–benar sunyi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk berbicara.Dan ketika ia berbicara, bahkan para dewa pun berlutut.Sang Pencipta murka.Suara-Nya tidak sekadar menggema, tetapi menghantam keberadaan Librae hingga retakan cahaya menjalar di tubuh dewinya yang selama ini berdiri anggun dengan timbangan emas.“Kau ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan hamba-hambaku. Kau menimbang bukan demi keseimbangan, melainkan demi dendammu sendiri. Satu penghakiman yang kau paksa telah merenggut banyak kehidupan yang tak kau hitung.”Langit bergetar. Timbangan di tangan Librae retak halus.Untuk pertama kalinya sejak ia diciptakan, Librae merasakan sesuatu yang asing.Takut.Ia berlutut. Gaunnya yang selalu tampak sempurna kini kusut oleh cahaya yang menghakimi.“Kau bukan lagi Dewi Penghakiman,” lanjut suara itu, lebih sunyi namun jauh lebih tajam. “Kebijaksanaanmu masih dangkal. Kau belum mengerti bahwa keadilan tanpa belas kasih hanyalah kesombongan.”“Tidak… San
Lucas menatap ibunya dengan keyakinan penuh."Jadi, aku hanya perlu menghindari konfrontasi dengan ayah, kan?" Tanyanya pelan.Selenia tersenyum."Iya. Kamu harus bersembunyi. Pastikan kamu aman"Anak itu mengangguk patuh. Rencana ibunya jelas: Jangan berkonfrontasi dengan Raven. Selenia akan memancing ayahnya untuk melakukan tugas dari Librae. Kemudian penghakiman dilakukan. Setelah kematian Raven tertunai, sebelum jiwanya pergi Selenia akan menyegel tubuh dan jiwa itu agar kembali pulih.---Selenia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi napasnya ia atur setenang mungkin.“Raven,” sapanya pelan, menatap pria itu tanpa mundur sedikit pun. “Tuan Raven.”Senyum Raven nyaris lembut, namun tak menutupi tatapan lapar di matanya, tatapan yang bisa membuat siapa pun merasa seperti sedang dilucuti tanpa sentuhan.“Dan kau, Selen,” jawabnya. “Masih menyembunyikan diri di balik nama palsu. Selen? Terdengar lebih cocok jika itu Selenia Drachov.”“Apa maksudmu? Aku lahir dan dibesarkan
"TIDAK!"Teriakan Aileen menggema sampai lorong rumah sakit yang lengang itu. Beberapa perawat menoleh sekilas, lalu kembali pada kesibukan masing-masing. Lucas meringis pelan, tapi tidak benar-benar tersinggung. Ia justru melirik ayahnya dengan senyum tipis yang menahan geli.Raven tidak membalas senyum itu. Ia duduk dengan kedua tangan terlipat, punggungnya bersandar pada kursi besi yang terasa terlalu sempit untuk tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya jauh berkelana. Bau antiseptik, suara alat medis yang berdetak stabil, dan langkah-langkah ringan para perawat terasa begitu kontras dengan dunia yang biasa ia kuasai. Dunia yang gelap, bising, dan dipenuhi darah. Tempat seperti ini membuatnya canggung dengan cara yang tidak ia akui.Lucas mendekat dan berdiri di depannya. “Ayah tidak terlihat santai,” ujarnya pelan.“Aku selalu terlihat santai,” jawab Raven tanpa mengalihkan pandangan.Lucas terkekeh kecil. “Tidak kali ini.”Ada jeda di antara mereka. Hening yang tida
Hari itu matahari bersinar lembut, tidak terlalu terik, tidak pula mendung. Angin berembus ringan, membuat dedaunan taman berdesir pelan. Selen berjalan berdampingan dengan Aileen, mendengarkan celotehan rekan kerjanya yang tak pernah kehabisan topik.Mereka benar benar tampak seperti dua wanita biasa yang menikmati akhir pekan. Tidak ada aura tragedi. Tidak ada bayangan masa lalu.Ketika mereka melewati taman yang berdiri di atas bekas tanah keluarga Vanderbilt, langkah Selen sempat melambat. Matanya menyapu bangku bangku kayu baru, jalur jogging yang rapi, anak anak kecil yang berlari sambil tertawa.“Iya, Bu Aileen,” gumamnya pelan, “tidak seram sama sekali.”Aileen tertawa kecil. “Kan sudah kubilang. Orang orang itu cuma suka membesar besarkan cerita lama.”Selen tersenyum tipis, tetapi dadanya terasa berat. Ada gema jauh di dalam dirinya, seperti suara yang berusaha menembus dinding tebal.Ia mengabaikannya.Mereka duduk di kursi luar sebuah kafe mungil. Meja kayu kecil, dua cang
Membujuk pria tua itu ternyata jauh lebih sulit daripada menyelinap masuk ke kantor posnya.Lucas harus membantu menyusun ulang beberapa paket, membersihkan meja, bahkan pura pura tertarik pada koleksi perangko kuno sebelum akhirnya diizinkan menggunakan komputer tua di sudut ruangan. Mesin itu besar dan tebal, monitornya menggembung di belakang, kipasnya berdengung keras setiap kali dinyalakan.“Jangan macam macam,” peringat pria tua itu, meski nadanya tidak lagi sekeras tadi. “Internetnya lambat. Dan jangan unduh apa apa.”Lucas mengangguk patuh, lalu duduk. Ezra berdiri di sampingnya, dagunya bertumpu di bahu Lucas.“Ini jadi makin serius ya,” bisik Ezra.Lucas tidak menjawab. Jarinya mulai mengetik.Ia mencoba satu per satu kata kunci. Vanderbilt Medical Student. Selenia Vanderbilt Faculty Archive. Eugene Vanderbilt daughter university. Tahun demi tahun ia geser ke belakang. Situs berita lama. Forum usang. Arsip digital yang nyaris tak terindeks.Waktu terasa berjalan lebih cepat
Hari minggu pagi.Lucas izin keluar pada Raven, berkata ia ingin main sekaligus belajar bersama dengan Ezra. Karena suasana hatinya yang belakangan lebih baik, Raven mengizinkan tanpa banyak bertanya. "Ayahku jadi lebih kooperatif belakangan ini. Lihat, dia mengizinkanku main keluar hari ini" Celoteh Lucas."Itu karena ayahmu mungkin mau bawa pacarnya ke rumah. Ingat, dia terlalu tampan untuk ukuran ayah anak satu, tahu" Jawab Ezra.Lucas mengangkat kedua bahunya. Dia tak peduli. Apapun itu, yang penting ia bisa pergi mencari tahu hari ini.Datang langsung ke tempat di mana keluarga Vanderbilt terbakar hangus tujuh tahun yang lalu...Tapi sekarang, hanya taman dengan warna-warni cerah yang menyambut mereka. Ezra kegirangan, langsung melompat ke ayunan kosong sambil berteriak "punyaku, punyaku!"Rumputnya hijau rapi, jalur jogging dicat merah bata, bangku besi berwarna kuning dan biru berdiri manis di bawah pohon muda yang belum terlalu rindang. Ayunan berderit pelan ketika Ezra langs







