Masuk‘Bodoh! Kenapa aku malah mengajak dia tidur?’ batin Brianna dalam kepanikan begitu ajakan itu lolos dari bibirnya.
Wajahnya memanas, Brianna ingin menampar dirinya keras-keras. Menarik ucapan pun percuma karena Leon sudah mendengarnya dan memutar tubuhnya menghadap pada Brianna. “Katakan sekali lagi,” pinta Leon dengan nada bicara yang menuntut. Selangkah mendekat pada Brianna yang menelan ludah dan berusaha menjaga bahunya tetap tegak. Padahal Brianna hanya asal berucap dan ingin tahu bagaimana tanggapan Leon. Tapi sekarang, rasa percaya dirinya mendadak hilang. “A-aku tidak bermaksud—” Bibir Brianna terbungkam rapat, kalimat pembelaannya hanya sampai di tenggorokan saat Leon menundukkan kepalanya dan berbisik, “Tidak bermaksud apa?” “M-maksudnya aku salah bicara.” Salah satu alis lebat Leon menukik ke atas. “Salah bicara bagaimana?” Panas di wajahnya telah menjalar ke sekujur badan, sadar semakin bicara akan semakin salah kaprah, Brianna memilih untuk menjauh dari Leon. Melarikan diri adalah satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan sekarang ini. “Lupakan saja!” Brianna berbalik, hampir tersandung kakinya sendiri agar cepat keluar dari ruangan itu. Ia berlarian menuju lift yang membawanya ke lantai bawah. “Astaga bodohnya Brianna!” hardiknya pada diri sendiri, menatap bayangan wajahnya di pintu lift yang buram. Otaknya berusaha keras membantah apa yang baru terjadi, tapi kalimat itu terus terngiang di kepalanya. ‘Ayo tidur denganku!’ Tuhan, siapa pun yang mendengar pasti mengira ia sedang menukar diri sendiri demi proyek! ‘Sial, bagaimana aku harus menghadapi Leon setelah ini?’ Rasanya sangat ingin menguap dari muka bumi. Seharian, Brianna tak bisa membentuk pikiran yang koheren lagi. Fokusnya hanya sibuk mencari cara bagaimana pria itu agar mengubah keputusan untuk tak menyingkirkan Arcadia, nama perusahaan tempat Brianna bekerja dari proyek ini. Melihatnya yang kusut sejak keluar dari ruang CEO, Katie mengajaknya untuk mencari angin segar dengan pergi ke sebuah klub malam. Di depan meja counter, Brianna meneguk minuman pesanannya. ‘Di manapun tempatnya, pria sama saja,’ batinnya, tertuju pada Robert dan Leon yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Brianna menatap Katie yang belum lama pergi dari sampingnya, menari bersama beberapa orang di bawah lampu. Brianna hendak menyesap minumannya lagi sebelum kedatangan seorang wanita yang berdiri di dekatnya membuat terkejut. Wajahnya penuh amarah, netranya basah oleh air mata. Sebelum Brianna sempat bertanya, gelas di tangan wanita itu terangkat tinggi, minuman yang dibawanya menyiram tepat ke wajah dan bahunya. “Apa yang kamu lakukan?!” Brianna terkejut dengan tindakan wanita itu. Ia turun dari kursinya, mengusap wajahnya yang basah meski itu sia-sia. Cairan lengket mengalir dari dagunya, membasahi pakaian. Tubuhnya kaku, jantung berdebar di antara rasa kaget dan malu yang besar. “Perempuan murahan! Kamu ‘kan jalang yang disimpan suamiku?!” Hardikan wanita itu memicu reaksi dari orang-orang di sekitar. Ada yang tak peduli tapi sebagian besar lainnya memilih untuk menyaksikan. “Aku bahkan tidak kenal siapa suamimu!” balas Brianna. “Jangan bohong! Ciri-cirimu sama dengan perempuan yang mau dia temui!” Pembelaan Brianna disangkal sebab wanita itu masih belum usai mencecar, “Kamu sendirian karena menunggunya datang, ‘kan?” “Tidak, aku tidak sendiri! Aku datang dengan—” Brianna menunjuk Katie, tapi temannya itu menghilang entah ke mana. Jika tahu akan jadi seperti ini, Brianna pasti akan menolak ajakan Katie tadi. ‘Sial!’ Ia menengok sekeliling, tak ada wajah yang dikenalnya kecuali— “Masih mau mengelak?!” desak wanita asing itu. “Dasar jalang murahan!” “Hei! Jangan membuat keributan di sini!” celetuk salah seorang pengunjung yang mulai kesal dengan ulah mereka. “Tuntut saja perempuan simpanan itu, Nona!” usul pengunjung lain yang membuat Brianna semakin terdesak. Suara mereka tumpang tindih di telinga, menghimpitnya. Brianna berjalan meninggalkan wanita itu, menghampiri seorang pria yang duduk di sudut lain meja counter dan tampak tak terganggu dengan keributan yang terjadi di sekitarnya. Satu-satunya wajah yang ia kenal di antara keramaian itu, pria yang tengah mengangkat gelas berkaki berisikan cocktail. Leon. Brianna melingkari lengan kekar Leon yang terkejut dengan apa yang ia lakukan. Kedua mata biru pria itu melebar, mencerna situasi, meminta penjelasan. Tapi Brianna tak peduli sebab ia memilih untuk menatap wanita yang menuduhnya sebagai simpanan itu seraya mengatakan, “Ini pacarku, aku datang dengannya.” “Uhukk—” Pada detik yang sama, minuman yang diteguk oleh Leon nyaris menyembur keluar. Brianna melihat pria itu tersedak, batuk sebanyak beberapa kali sebelum meletakkan gelasnya ke atas meja counter. Suara bisikan bercampur dengan gaduhnya musik, ratusan pasang mata mengarah pada keduanya, seakan sedang menunggu kelanjutan drama yang tengah digantung. “Apa katamu?!” tanya Leon seraya menoleh pada Brianna. “Berpura-puralah dan bantu aku, Leon.” “Tidak,” tolak Leon seraya menguraikan tangan Brianna. “Pergi sana!” Brianna semakin erat memeluk Leon, tak mengindahkan pria itu dan bersikeras bertahan. Ia pikir, kesalahpahaman dengan wanita yang menuduhnya sebagai simpanan itu harus diselesaikan di sini. Karena jika tidak, ia khawatir bisa berkelanjutan di kemudian hari. “Please, Leon … akan aku lakukan apapun yang kamu minta, tapi tolong selamatkan aku dulu.” “Apapun?” tanya Leon, salah satu sudut bibirnya terangkat. Tatapannya penuh perhitungan. Brianna mengangguk yakin, akan ia telan semua risikonya, “Apapun.”Meninggalkan rumah saat hari sudah terang, Robert menuju ke Halden seorang diri. Akan ia temukan Brianna dan meminta rumah itu menjadi haknya.Lucia benar saat mengatakan rumah baru mereka sudah ditagih pelunasannya. Orang properti menelponnya tadi pagi, menyebut jatuh temponya yang tinggal sebentar lagi.Berkendara sejauh itu, Robert dibuat kecewa karena ia tidak menemukan Brianna di tempat kerjanya. Salah seorang staf yang ia tanyai secara acak menjawab, “Katanya dia izin cuti.”Menghubungi Brianna pun percuma, panggilannya tak pernah tersambung. Mantan istrinya itu jelas telah memblokirnya.Robert berkacak pinggang di lobi Arcadia sebelum menghela dalam napasnya dan memindai satu demi satu staf yang berlalu-lalang.Ia ingin mencari teman baik Brianna yang dikenalnya, gadis itu harusnya tahu di mana Brianna sekarang.Ah, itu dia!“Katie!” panggilnya pada seorang perempuan yang datang dari arah parkiran, berjalan bersama dengan dua orang staf lainnya.Kedua mata perempuan itu melebar
Tempat yang dituju oleh Brianna sangat jauh dari vila milik Leon yang kapan hari didatanginya. Sebuah bangunan yang ukurannya jauh lebih kecil, dengan beberapa penjaga dan pelayan yang berada di sana.Lokasinya ada di dekat pantai, jauh dari vila-vila atau penginapan lain yang dijumpai Brianna selama perjalanan. Dengan diantar oleh Leon sendiri, mereka tiba di sana sekitar pukul tiga dini hari setelah Ricky memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.Aroma asin yang dibawa oleh angin malam menyinggahi indera pembaunya saat ia keluar.Senyum Leon yang terlihat dari cahaya lampu justru menekan dadanya lebih dalam. Meski pria itu seakan sedang memastikan Brianna akan baik-baik saja di sini, tapi jauh di dalam hati ... Brianna merasakan kehampaan.Ombak terdengar samar di kejauhan, datang dan pergi.Pintu berdaun dua berukir itu menyambutnya, lantai marmernya memantulkan gema langkahnya yang melintasi ruangan demi ruangan.Brianna memandang sebuah koper kecil berisikan pakaiannya dari Leo
“Jangan bicara seperti itu pada Brianna, Ma!”Tinggi nada bicara Leon menggema di sepenjuru ruangan, membekukan Brianna yang berdiri di antara ibu dan anak itu dengan perasaan yang tak karuan.“Jangan karena Mama kehilangan Fiona lalu bisa melampiaskan kekecewaan itu pada Brianna!”Leon selangkah maju, menuju Nyonya Susan yang mendengus kasar. Tepat saat itu, Brianna mencegahnya, menahan pergelangan tangannya agar ia tetap berada di tempatnya dan tidak melangkah lebih dekat pada sang Ibu.Manik biru Nyonya Susan diliputi kebencian kala menatap Brianna dan mengatakan, “Awalnya aku memaklumi keberadaanmu di sini, Brianna. Tapi setelah skandal itu muncul dan Leon melakukan keteledoran sampai meninggalkan Fiona yang mati tanpa ada teman di sampingnya membuatku berpikir bahwa kamu masih sama jahatnya seperti dulu!”“Ma—““Apakah yang Mama katakan salah, Leon?” Nyonya Susan tak ingin disela sewaktu bicara.Beberapa detik beliau menatap Leon sebelum kembali menghujam Brianna lewat tatapan di
Brianna meremas jemarinya yang ada di atas paha, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang mengaduk-aduk hatinya. Di sampingnya, sepasang alis lebat Leon nyaris bersinggungan saat bergumam, "Apa yang mereka bicarakan?" Flash kamera bertubi-tubi terlihat, mengepung mereka dari segala arah. Yang meski tak ada satu pun tangan yang berusaha membuka pintu mobil, tapi ini cukup untuk membuat Brianna terintimidasi. Selagi ia membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang terjadi, wajah Ricky terlihat di antara kerumunan itu. "Minggir, tolong beri jalan!" serunya di tengah keributan. "Minggir, minggir!" Dalam waktu singkat, pemuda itu masuk ke dalam mobil, mengambil alih kemudi saat Leon berpindah ke kursi penumpang di bagian belakang. Tangan Leon yang terulur ke depan meminta Brianna untuk mengikutinya. "Kita pergi dari sini," kata Ricky. Dari sampingnya, Leon merangkul Brianna, menyembunyikan wajahnya, seakan memastikan ia tidak terus dipotret oleh reporter yang ada di lap
"Anak di dalam sana itu, milik Leon, 'kan?" Dagu Andrew sekilas mengedik ke arah perut Brianna sebelum kembali mengunci mata hazelnya. "Jadikan itu milikku, tinggalkan dia dan—" "Kamu benar-benar sudah gila, Andrew." Sebisa mungkin, Brianna menjaga nada bicaranya yang nyaris menjerit. Pria itu tersenyum di depan Brianna, alih-alih merasa bersalah, di wajahnya justru tergambar sebuah kepuasan. "Hentikan semua ini! Jangan menggangguku lagi!" "Jangan berpikir bisa menghentikan aku, Brianna. Bersikaplah seperti anak baik lagi mulai sekarang. Aku memegang rahasiamu lebih besar daripada siapapun!" "Aku tidak takut!" balas Brianna, mengencangkan rahangnya. "Aku bisa menuntut atas semua yang sudah kamu lakukan padaku dan aku beritahukan ke semua orang kalau kamu tidak lebih dari pria mesum yang—" "Coba saja." Andrew menyela kemudian tertawa renyah. Kepalanya miring beberapa derajat ke kiri, menikmati pias wajah Brianna yang mati-matian meredam ketakutan. "Kalau kamu mengatakan siapa a
Di dalam kamarnya, Brianna menatap meja yang menunjukkan beberapa lembar foto hasil USG yang tempo hari dilakukannya di klinik milik dokter Kai Lorgan. Angannya tertinggal di waktu makan malamnya yang gagal, keinginan untuk mengatakan kejujuran perihal kehamilannya pun tertunda. Leon masih dalam masa berduka. Mata sendu dan raut kehilangannya saat mereka berdiri mengantar kepergian Fiona ke tidur abadinya masih terbayang jelas. Untuk sementara, Brianna ingin membiarkannya tenang. Lagipula, meski ia menyebutkan ia tengah hamil, Brianna tidak yakin kabar ini akan disukai oleh orang tua Leon. Mengingat tatapan dingin Nyonya Susan membuatnya menghela napas dalam. ‘Apa aku tidak akan disukai oleh ibu pria yang aku cintai lagi?’ Sebelumnya sudah ibunya Robert, haruskah sekarang ibunya Leon juga? “Hah ....” Tapi ia memang sudah berniat untuk memberitahu Leon perihal itu, dan ia memiliki caranya sendiri. Foto-foto hasil print USG itu disusunnya di dalam kotak berwarna putih, ia selipk







