MasukLeon terlihat menyipitkan mata. Senyum tipis terlukis di bibirnya dan itu membuat Brianna lega karena sepertinya Leon akan bermurah hati membantunya.
Tapi, ia salah. Brianna benar-benar putus harapan sewaktu Leon menepis tangannya. “Tidak!” Wanita yang ada di depannya itu tersenyum penuh ejekan dan melangkah mendekat pada Brianna. ‘Here we go ….’ batinnya berpasrah. Niat hati ingin melepaskan lelah, kedatangannya ke tempat ini malah membuatnya mendapat label sebagai ‘penggoda suami orang.’ Tapi, wanita itu tiba-tiba berhenti. Sepasang matanya melebar seperti halnya Brianna karena Leon mendadak merangkul bahunya. Tubuh mereka berbenturan saat Leon mengatakan, “Ya. Aku ke sini memang untuk bertemu dia.” Kebas, Brianna merasakan hentakan tak karuan di dalam rongga dadanya. “Bohong!” sangsi wanita itu, menatap curiga sewaktu Leon turun dari kursinya tanpa melepas rangkulannya. “Kalian berdua saling kenal?” “Mana ada perempuan gila yang sembarangan mengklaim pria asing jadi pacarnya, Nona?” balas Leon yang Brianna tahu itu berisikan sindiran untuknya. Brianna lah perempuan gila itu! “Ayo pergi, Sayang.” Ajakan darinya penuh penekanan sewaktu mengatakan ‘Sayang’, yang mendengarnya saja membuat Brianna merinding. Akhirnya, mereka keluar meninggalkan hingar-bingar tanpa sempat Brianna mencari Katie. Sedang wanita yang menyiramnya itu masih mengikuti mereka hingga parkiran, entah apa yang ingin dipastikannya. Tetapi gerak-gerik Brianna bersama Leon tak luput dari pengawasan. Di samping sedan mewah yang ada di sudut tempat, Leon lebih dulu berhenti. Brianna belum sempat mengatakan apapun saat Leon melepas coat yang ia kenakan dan menyerahkannya. Jelas untuk menutupi pakaiannya yang menjadi transparan akibat basah. “Masuk, aku antar pulang!” Ketus, tapi membuat Brianna lega. Di dalam mobil, hampir tak ada percakapan yang terjadi setelah Brianna mengatakan di mana ia tinggal. Di balik kemudinya, Leon duduk dengan tenang saat Brianna tak tahu harus menutupi rasa malunya dengan cara apa. Hening panjang di antara mereka hancur saat suara pria itu mendadak terdengar. “Kenapa kamu tidak pergi saja dari sini, Brianna? Suamimu tidak memberimu nafkah atau bagaimana, sampai kamu jungkir balik kerja dan membuat keributan di klub?” “Jangan sok tahu!” “Aah, atau jangan-jangan … kamu datang ke sini memang punya tujuan seperti yang dituduhkan oleh perempuan tadi?” ‘Maksudnya dia menuduhku jadi simpanan suami orang?’ sahut Brianna dalam hati. ‘Yang benar saja! Yang ada malah suamiku yang selingkuh!’ Meskipun sangat kesal, Brianna lebih memilih untuk diam daripada diturunkan di tengah jalan. Mobil yang dikemudikan oleh Leon berhenti di rumah tempat Brianna tinggal, rumah sewa yang ditinggalinya bersama Katie, tak jauh dari kantor cabang Arcadia. Baru selangkah keluar dari mobil, sebuah pemandangan menodai matanya. Di rumah seberang jalan, lenguhan samar seorang wanita terdengar dari dalam mobil yang ‘bergoyang.’ Brianna memalingkan wajahnya sembari berdecak, “Apa tidak ada tempat lain untuk melakukan itu?” “Melakukan apa?” sahut Leon yang juga keluar dari mobilnya. “Kamu juga tahu, ‘kan? Kenapa harus tanya?” “Tidak,” sangkalnya. “Seseorang memutuskan sesuatu itu seringnya karena diri mereka sudah terbiasa melakukannya. Sepertinya kamu juga—” “Tidak!” “Ya sudah kalau tidak, kenapa kamu marah? Aku hanya mengemukakan pendapat.” Bibir memang bicara demikian, tapi mata biru Leon tak bisa berbohong bahwa sebenarnya ia sedang mengejek Brianna terang-terangan. “Terima kasih untuk tumpangannya, Leon. Aku kembalikan mantelmu besok. Kamu bisa pergi.” Brianna merapatkan pakaian hangat lengan panjang itu untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah yang dalam keadaan gelap. Aneh … seingatnya tadi Katie sudah menyalakan lampu. Brianna mencoba menyalakannya, tapi tidak berhasil. Beberapa kali percobaan, masih tak bisa. “Sial!” umpatnya seraya berlari kecil keluar. “Leon!” panggil Brianna dengan urgensi. Menghampiri Leon yang hampir masuk ke dalam mobil. Ia tepis semua rasa malunya untuk meminta tolong sekali lagi. “La-lampunya tidak mau nyala, b-bisa … tolong kamu perbaiki?” “Kamu pikir aku tukang? Panggil saja pemilik rumahnya!” “Yang punya rumah tinggalnya jauh dari sini. Please ini yang terakhir… aku takut kalau gelap.” Pria itu tampak mempertimbangkan sebelum dengus napasnya terdengar kasar. Ia memutar kedua bola matanya dengan malas kemudian menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan melewati Brianna. “Kamu itu mau jadi bebanku atau bagaimana?” “S-sepertinya di sekitar sini baru saja hujan,” kata Brianna seraya berjalan di belakangnya, “Apa listriknya mati karena kena petir?” “Mana aku tahu, memangnya aku peramal cuaca!” Brianna terkejut sewaktu kilatan putih menerangi malam di luar, gemuruh yang disertai suara petir menggelegar, menggetarkan kaca jendela. Ia tanpa sadar menarik kemeja di punggung Leon untuk mencari perlindungan dan— “Akh!” Heels yang ia kenakan tak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Ia kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke lantai jika Leon tak menangkap pinggangnya dengan cepat. Kini mereka berdua berhadapan dalam jarak yang menghilang. Di bawah gelap selain hanya diterangi oleh cahaya dari luar, Brianna bisa melihat Leon yang menundukkan kepalanya. “Jujur, kamu sengaja melakukan ini semua untuk menggodaku, ‘kan?” bisik Leon di depan wajahnya. “A-apa maksudmu? Tidak—” Brianna tersudut, ia melangkah ke belakang untuk menghindarinya, meletakkan tangan di dada Leon yang bidang untuk mencegahnya mendekat lebih jauh. “Kalaupun iya, tidak apa-apa. Aku anggap itu sebagai imbalan yang tadi kamu janjikan.” “Ahh—” Tangan Leon berpindah dari pinggang Brianna. Sebagai gantinya, Leon mencengkeram pinggulnya dan menekan Brianna kepadanya. Napas Brianna patah-patah, sesak merasakan sentuhan pucuk hidung Leon yang penuh godaan di dekat telinganya. “Leon ….” Brianna mencoba melepaskan diri, tetapi tidak bisa. Ia terperangkap, tak bisa bergerak. Gaduhnya suara hujan yang ada di luar sama berisiknya dengan debar jantungnya yang berpacu gila-gilaan sewaktu ia sekuat tenaga mendorong Leon agar menyisih dari hadapannya. ‘Tidak boleh begini ….’ batin Brianna. Tangan besar Leon menyusuri lekuk tubuhnya setelah menyelusup ke dalam coat yang ia kenakan. Akal sehatnya seperti menghilang sewaktu sentuhan itu beranjak naik, melewati dada Brianna, bergeser ke dagu dan pipinya. “Leon—” Serupa bisikan yang menggoda, bariton pria itu menyela, “Kita mulai dari mana, Brie?”Meninggalkan rumah saat hari sudah terang, Robert menuju ke Halden seorang diri. Akan ia temukan Brianna dan meminta rumah itu menjadi haknya.Lucia benar saat mengatakan rumah baru mereka sudah ditagih pelunasannya. Orang properti menelponnya tadi pagi, menyebut jatuh temponya yang tinggal sebentar lagi.Berkendara sejauh itu, Robert dibuat kecewa karena ia tidak menemukan Brianna di tempat kerjanya. Salah seorang staf yang ia tanyai secara acak menjawab, “Katanya dia izin cuti.”Menghubungi Brianna pun percuma, panggilannya tak pernah tersambung. Mantan istrinya itu jelas telah memblokirnya.Robert berkacak pinggang di lobi Arcadia sebelum menghela dalam napasnya dan memindai satu demi satu staf yang berlalu-lalang.Ia ingin mencari teman baik Brianna yang dikenalnya, gadis itu harusnya tahu di mana Brianna sekarang.Ah, itu dia!“Katie!” panggilnya pada seorang perempuan yang datang dari arah parkiran, berjalan bersama dengan dua orang staf lainnya.Kedua mata perempuan itu melebar
Tempat yang dituju oleh Brianna sangat jauh dari vila milik Leon yang kapan hari didatanginya. Sebuah bangunan yang ukurannya jauh lebih kecil, dengan beberapa penjaga dan pelayan yang berada di sana.Lokasinya ada di dekat pantai, jauh dari vila-vila atau penginapan lain yang dijumpai Brianna selama perjalanan. Dengan diantar oleh Leon sendiri, mereka tiba di sana sekitar pukul tiga dini hari setelah Ricky memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.Aroma asin yang dibawa oleh angin malam menyinggahi indera pembaunya saat ia keluar.Senyum Leon yang terlihat dari cahaya lampu justru menekan dadanya lebih dalam. Meski pria itu seakan sedang memastikan Brianna akan baik-baik saja di sini, tapi jauh di dalam hati ... Brianna merasakan kehampaan.Ombak terdengar samar di kejauhan, datang dan pergi.Pintu berdaun dua berukir itu menyambutnya, lantai marmernya memantulkan gema langkahnya yang melintasi ruangan demi ruangan.Brianna memandang sebuah koper kecil berisikan pakaiannya dari Leo
“Jangan bicara seperti itu pada Brianna, Ma!”Tinggi nada bicara Leon menggema di sepenjuru ruangan, membekukan Brianna yang berdiri di antara ibu dan anak itu dengan perasaan yang tak karuan.“Jangan karena Mama kehilangan Fiona lalu bisa melampiaskan kekecewaan itu pada Brianna!”Leon selangkah maju, menuju Nyonya Susan yang mendengus kasar. Tepat saat itu, Brianna mencegahnya, menahan pergelangan tangannya agar ia tetap berada di tempatnya dan tidak melangkah lebih dekat pada sang Ibu.Manik biru Nyonya Susan diliputi kebencian kala menatap Brianna dan mengatakan, “Awalnya aku memaklumi keberadaanmu di sini, Brianna. Tapi setelah skandal itu muncul dan Leon melakukan keteledoran sampai meninggalkan Fiona yang mati tanpa ada teman di sampingnya membuatku berpikir bahwa kamu masih sama jahatnya seperti dulu!”“Ma—““Apakah yang Mama katakan salah, Leon?” Nyonya Susan tak ingin disela sewaktu bicara.Beberapa detik beliau menatap Leon sebelum kembali menghujam Brianna lewat tatapan di
Brianna meremas jemarinya yang ada di atas paha, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang mengaduk-aduk hatinya. Di sampingnya, sepasang alis lebat Leon nyaris bersinggungan saat bergumam, "Apa yang mereka bicarakan?" Flash kamera bertubi-tubi terlihat, mengepung mereka dari segala arah. Yang meski tak ada satu pun tangan yang berusaha membuka pintu mobil, tapi ini cukup untuk membuat Brianna terintimidasi. Selagi ia membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang terjadi, wajah Ricky terlihat di antara kerumunan itu. "Minggir, tolong beri jalan!" serunya di tengah keributan. "Minggir, minggir!" Dalam waktu singkat, pemuda itu masuk ke dalam mobil, mengambil alih kemudi saat Leon berpindah ke kursi penumpang di bagian belakang. Tangan Leon yang terulur ke depan meminta Brianna untuk mengikutinya. "Kita pergi dari sini," kata Ricky. Dari sampingnya, Leon merangkul Brianna, menyembunyikan wajahnya, seakan memastikan ia tidak terus dipotret oleh reporter yang ada di lap
"Anak di dalam sana itu, milik Leon, 'kan?" Dagu Andrew sekilas mengedik ke arah perut Brianna sebelum kembali mengunci mata hazelnya. "Jadikan itu milikku, tinggalkan dia dan—" "Kamu benar-benar sudah gila, Andrew." Sebisa mungkin, Brianna menjaga nada bicaranya yang nyaris menjerit. Pria itu tersenyum di depan Brianna, alih-alih merasa bersalah, di wajahnya justru tergambar sebuah kepuasan. "Hentikan semua ini! Jangan menggangguku lagi!" "Jangan berpikir bisa menghentikan aku, Brianna. Bersikaplah seperti anak baik lagi mulai sekarang. Aku memegang rahasiamu lebih besar daripada siapapun!" "Aku tidak takut!" balas Brianna, mengencangkan rahangnya. "Aku bisa menuntut atas semua yang sudah kamu lakukan padaku dan aku beritahukan ke semua orang kalau kamu tidak lebih dari pria mesum yang—" "Coba saja." Andrew menyela kemudian tertawa renyah. Kepalanya miring beberapa derajat ke kiri, menikmati pias wajah Brianna yang mati-matian meredam ketakutan. "Kalau kamu mengatakan siapa a
Di dalam kamarnya, Brianna menatap meja yang menunjukkan beberapa lembar foto hasil USG yang tempo hari dilakukannya di klinik milik dokter Kai Lorgan. Angannya tertinggal di waktu makan malamnya yang gagal, keinginan untuk mengatakan kejujuran perihal kehamilannya pun tertunda. Leon masih dalam masa berduka. Mata sendu dan raut kehilangannya saat mereka berdiri mengantar kepergian Fiona ke tidur abadinya masih terbayang jelas. Untuk sementara, Brianna ingin membiarkannya tenang. Lagipula, meski ia menyebutkan ia tengah hamil, Brianna tidak yakin kabar ini akan disukai oleh orang tua Leon. Mengingat tatapan dingin Nyonya Susan membuatnya menghela napas dalam. ‘Apa aku tidak akan disukai oleh ibu pria yang aku cintai lagi?’ Sebelumnya sudah ibunya Robert, haruskah sekarang ibunya Leon juga? “Hah ....” Tapi ia memang sudah berniat untuk memberitahu Leon perihal itu, dan ia memiliki caranya sendiri. Foto-foto hasil print USG itu disusunnya di dalam kotak berwarna putih, ia selipk







