Mag-log inLeon ooh Leon 😂😂😂
“Kamu—apa yang kamu lakukan, Leon?!” Brianna melebar kedua matanya, mendorong Leon agar membebaskannya karena mereka berada di tempat yang … ‘rawan.’ Jika ada yang melihat mereka berduaan di tempat sepi seperti ini, apa yang akan terjadi? Tapi sekalipun Brianna memberontak, tapi Leon tetap menghalangi jalannya. Tak seinci pun beranjak sehingga secara praktis Brianna tetap terperangkap di sana. “Kamu sudah gila?!” Hanya ditanggapi dengan mengangkat salah satu alisnya saja. Brianna menjauhkan tangannya dari dada Leon, mengembuskan napasnya dan memutar kedua bola matanya dengan malas. Seberapa kuat usahanya mencoba melarikan diri, itu tak akan berhasil. “Sejak kapan kamu di sini?” tanya Brianna. “Baru saja, melihat kamu dan menunggumu lewat.” “Padahal aku hampir bertemu dengan orang yang parfumnya mirip dengan penguntit itu, Leon. Tapi gara-gara kamu aku malah kehilangan jejak.” Alis lebat Leon berkerut dengan cepat, “Penguntit itu di sini?” “Hanya dugaanku. Wangi parfum meman
Di kantor Arcadia, Brianna memandang ponselnya yang berulang kali bergetar karena ada panggilan dari Robert. Meski nomornya tidak disimpan, tapi ia bisa mengenalinya dengan jelas. Brianna mengabaikannya, memilih untuk membaca laporan uji struktural yang kemarin diserahkan oleh tim lapangan melalui Katie. Hasilnya sekali lagi sangat memuaskan. Keseragaman angka yang tertera di sana membuat Brianna mengangguk penuh rasa senang. “Waktunya pergi ke RNE, Bu project manager,” ucap Katie yang berhenti di seberang meja. “Jangan terlambat, anak-anak yang lain sudah aku beri tahu untuk berangkat tadi.” “Iya,” jawab Brianna kemudian menutup laptopnya. Ia simpan terlebih dahulu lalu menghadap pada cermin kecil yang ada di samping monitor, membubuhkan kembali lipstik di bibirnya. “Kamu cantik seperti biasa,” puji Katie sebelum Brianna meninggalkan kursinya. Meraih paper bag berisikan mantel milik Leon yang malam itu diletakkan di punggungnya. “Kenapa harus dikembalikan?” Katie bertanya saa
Di dalam salah satu kamar, seorang pria tengah bersiap untuk pergi. Ia mengancingkan kemeja yang ada di pergelangan tangannya, tersenyum menghadap cermin yang memantulkan kedatangan seorang wanita dan memeluknya dari belakang. “Apa kamu akan pergi sekarang, Robert?” tanya wanita itu. Pria yang dipanggilnya ‘Robert’ itu kemudian menoleh sehingga kini mereka berdiri berhadapan. Sebuah kecupan diberikan untuk wanita itu teriring jawaban, “Iya, Lucia.” Jari tangan wanita itu bergerak menyusuri garis dagu Robert dan berhenti di bibirnya. Mengusap bagian bawah bibir pria itu sementara tangannya yang lain menjelajahi dada dan perut Robert sebelum berhenti pada bagian sensitifnya. “Lucia—jangan menggodaku! Aku benar-benar harus pergi untuk bertemu pembeli biar rumah ini terjual dengan cepat.” “Ya, aku tidak suka kalau terus kamu minta ke sini karena ranjangnya itu pernah kamu pakai dengan dia.” Lucia melirik ke arah ranjang yang ada di dekat mereka. Bibirnya tertekuk penuh rasa jijik se
Di dalam kamar rawatnya, Fiona duduk dengan mata yang tertuju pada jendela. Di mana di sana ia bisa melihat gugusan mawar yang sedang mekar. Merah, indah dan sangat cantik. Berdiri dengan tangkainya sendiri, kuat dan tegar meski buliran gerimis jatuh pada siang kelabu ini. Fiona rasa … itu jauh berbeda dengan dirinya yang lemah dan selalu menjadi beban siapapun. Kunjungan dari dokter beberapa saat yang lalu membuatnya sejenak merenung. Meski kondisinya dinyatakan stabil, akankah ke depannya akan terus demikian? Sekalipun tampak berhasil, sejauh yang pernah Fiona baca, kemungkinan pendarahan ulang dan penyempitan pembuluh otak pasca operasi tetap bisa terjadi. Dan buruknya, itu akan membuat dirinya semakin rapuh. Saat itu ia berpikir, mati mungkin lebih ramah daripada harus terus membebani bahu orang di sekitarnya, terutama Leon dan keluarga Ronan. “Selamat siang,” sapa sebuah suara pria yang membuat Fiona bangun dari lamunannya. Saat ia menoleh, ia melihat Ricky yang menunduk d
Jika tak ingat ada Katie bersamanya, Brianna sudah pasti akan berteriak. Ia berjalan meninggalkan kamar seraya menjawab, “Iya.” Langkahnya ia buat sepelan mungkin agar tak menimbulkan gema. Brianna lebih dulu mengintip melalui jendela dan memastikan Leon memang benar di depan rumahnya. Pria itu di sana, berdiri menyandarkan dirinya di pintu sedan, memasukkan ponsel ke dalam saku coat panjang yang ia kenakan. Saat Brianna keluar dan menghampirinya, Leon menegakkan punggungnya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Brianna setelah berhenti dan bersilang pandangan dengannya. “Ingin bertemu denganmu saja.” “Ini sudah sangat malam.” “Lalu kenapa?” Salah satu alisnya terangkat, seolah tak peduli dengan apapun larangan Brianna. “Apa aku tidak boleh menemui pacarku sendiri?” Brianna mendengus dan bersedekap, “Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Leon.” “Sama.” Tawa lirihnya terdengar sebelum pandanganya turun, mengamati Brianna dan bertanya, “Kamu maasih belum tidur?” “Belum.” “K
Leon menoleh ke arah ranjang rawat Fiona. Ia baru saja melihat ada gerakan sehingga bergegas untuk ke sana. Fiona telah membuka matanya, menatapnya dengan sayu dan terlihat mencerna situasi, barangkali mempertanyakan di mana ia berada sekarang. “Kamu sudah sadar?” “Kak Leon ….” sapanya, nyaris tak terdengar. “Iya. Aku di sini, Fiona.” Leon menekan tombol panggil yang ada di atas meja. Tak lama kemudian dokter datang bersama dengan beberapa orang perawat. Mereka memeriksa keadaan Fiona. Dokter pria berkacamata itu tampak mengangguk beberapa kali sebelum memandang Leon dengan tersenyum. “Kondisi Nona Fiona sudah cukup stabil. Untuk melihat apakah fungsi vitalnya membaik, kami harus terus mengawasinya, Pak Leon,” terang beliau. “Beberapa hari ke depan tetap penting untuk memastikan tidak ada komplikasi lanjutan. Jadi kami meminta agar keluarga menjenguk secara bergantian.” Leon mengangguk tak keberatan. “Baik. Terima kasih, Dokter.” Dokter kemudian pergi bersama dengan para pera







