Masukpepet terus sampai dapat 😂😂😂 mau itu istri orang ya bodo amat ya Pak Leon 🤣🤣
“Tante mengatakan itu untuk melindungi Leon agar tidak disebut sebagai perebut suami orang, Fiona.”Nyonya Susan menghela dalam napasnya sebelum memandang Fiona.“Orang media terus mengejar. Dan kami pikir menyebut kalian akan menikah adalah pilihan yang paling benar. Kalaupun benar kalian menikah juga tidak ada salahnya, ‘kan?”Di atas ranjang rawatnya, tubuh Fiona meremang. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan berakhir dengan luruh.“Apa tidak ada cara lain?” tanya Fiona sekali lagi. “Kak Leon akan sangat membenciku setelah ini, Tante.”“Itu cara yang paling cepat untuk menyelamatkan kita semua,” sahut Tuan Harlan.Fiona memilin ujung selimutnya, menunduk merasakan debaran jantungnya yang tidak nyaman dan menusuk. Rasa nyerinya menyapa hingga pelipis dan menjalar di kepalanya.“Om dan Tante harusnya menanyakannya dulu ke Kak Leon.” Fiona berujar lirih, “Kak Leon pernah bilang padaku kalau Brianna itu sudah bercerai dengan suaminya. Jadi hubungan mereka itu sebenarnya tidak ada sa
Setelah meninggalkan ruang rapat, Leon mengatakan pada Ricky bahwa situasi mereka sangatlah krisis. Ia memanggil kepala pengacara RN Empire, CFO dan investor utama yang kebetulan teman dekatnya. Ia meminta pertemuan tanpa formalitas yang berlebihan.Tujuannya adalah menyelamatkan RN Empire sehingga semua dibahas secara cepat.Risiko hukum dipetakan, dana diamankan, dan rekomendasi dari tim penilai dijaga agar tidak berubah arah.Ia pontang-panting menguras otak bersama Ricky agar tidak ada pihak-pihak yang menunggangi skandal ini, terutama Josh. Partnernya yang kurang ajar itu!Leon ada di dalam mobil yang mengantarnya untuk pulang petang ini dan hendak menghela sejenak napasnya sebelum tiba-tiba Ricky yang ada di balik kemudi mengatakan, “Pak Leon, sepertinya Tuan dan Nyonya besar sudah mengambil tindakan.”Pandangan mereka bertemu selama beberapa detik di kaca spion. Kedua alis Leon berkerut dibuatnya.“Apa maksudmu, Rick?”“Saya baru membaca pesan dari orang media kalau beliau berd
“Brianna!”Suara Katie terdengar di ambang pintu, kental akan kepanikan sebelum ia menyusul Brianna masuk ke dalam kamar mandi dan mengusap punggungnya.“Kamu kenapa, Brie?”“Hukk—“Brianna tak menjawab, ia masih sibuk dengan gelombang yang memilin lambungnya dan membuatnya mual.Isi perutnya tumpah di dalam closet dan itu membuat Katie cemas.“Asam lambung?” terka Katie sekenanya, barangkali juga tidak tega melihat wajah Briana yang sudah sepucat dinding.Katie menekan flush, membantu Brianna bangun setelah muntahnya selesai. Membiarkannya untuk berkumur dan barulah mereka meninggalkan kamar mandi.“Istirahatlah, Brie,” pinta Katie saat Brianna duduk di tepi tempat tidur.“Iya.”“Kamu sepertinya terlalu banyak pikiran. Tidurlah, aku belikan obat dulu.”“Terima kasih, Kat.”Katie mengangguk sebelum menjauh darinya. Suara langkahnya menghilang di luar kamar, menyisakan Brianna yang terdiam dalam lamunan.Pandangannya tertuju pada kalender kecil yang ada di atas meja, saat Brianna mempe
“Jangan memperkeruh suasana!” tegur Katie, menoleh pada dua orang perempuan yang menatap Brianna penuh ejekan.“Apa yang kami katakan memang benar, ‘kan?” balas salah satunya. “Dia memang menggoda Leon untuk mendapatkan semua ini.”“Kalau dia memang kompeten, harusnya tidak ada hubungan lebih dari partner kerja!”Telinga Brianna memanas mendengar semua cecaran itu. Ia meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar ke atas meja sebelum bangun.Ia berjalan menghampiri dua rekannya itu. Melangkah dengan tenang meski batin bergejolak penuh amarah.“Brie,” panggil Katie. Matanya mengisyaratkan agar ia tak terlalu dekat.Tapi karena mereka yang memulai lebih dulu, maka baiklah ... Brianna akan membalasnya.Stiletto yang ia kenakan berhenti terdengar saat tiba di dekat pintu. Kedua tangannya bersedekap, dagunya sedikit terangkat. Brianna menunjukkan senyum meremehkan seperti yang mereka lakukan.“Kalian bilang apa tadi?” tanyanya. “Kalau aku kompeten tidak akan ada hubungan lebih dari partner ker
“Pak Leon,” panggil Ricky, meraih tangan Leon setelah suara gebrakan menggema lantang membungkam ruang rapat. Melihat dari sepasang telinganya yang memerah, Ricky tahu Leon sudah dikuasai oleh amarah. Terlebih, kalimat Josh yang barusan seperti terang-terangan melontarkan penghinaan untuk Brianna. Ricky khawatir ini akan memengaruhi Leon dan bagaimana RN Empire ke depannya. Hal yang harus mereka lakukan sekarang ini adalah menjauh dari keributan, dan memikirkan solusinya. “Ulangi sekali lagi!” Leon bangkit dari duduknya, menepis tangan Ricky. Mata birunya membara menatap Josh yang bergerak tidak nyaman di tempatnya berdiri. Tak ada yang berani bicara, ruangan senyap, jauh dari kebisingan yang beberapa saat lalu mereka lontarkan. Sebelum berubah kacau, Ricky membereskan dokumen yang ada di atas meja dengan cepat, berbisik pada Leon, “Akan semakin kacau kalau Anda marah di sini. Sebaiknya kita keluar.” Ricky tak menunggu persetujuan Leon, pemuda itu meraih lengan tuannya yang ber
Di balik meja kerjanya, pagi ini Leon menerima email balasan dari Brianna terkait persetujuannya untuk project yang ia tawarkan beberapa hari yang lalu. Karena tidak melalui Arcadia dan disampaikan padanya secara langsung, Brianna memberitahukan untuk menunggu sebentar. Ia akan membicarakannya dengan kepala cabang dan pihak-pihak yang terkait. Ia meraba leher belakangnya, seperti yang dikatakan oleh Fiona tentang bekas cakaran di sana, Leon baru menyadari bahwa itu pasti karena Brianna yang melakukannya. ‘Pantas rasanya perih saat mandi,’ gumamnya seorang diri. Leon mengangkat wajahnya saat mendengar suara langkah yang mendekat. Ricky, pemuda itu meletakkan beberapa map di atas meja seraya berujar, “Meeting dengan penilai independen dalam setengah jam, Pak Leon. Mereka bilang akan ada agenda tambahan.” Kedua alis Leon seketika terangkat, “Agenda tambahan?” “Iya.” “Apa itu, Rick?” “Saya belum mendapat informasi soal itu,” jawab Ricky. Leon mengangguk sebelum bangkit dari kursi







