MasukBrianna menahan napas, jantungnya bertalu keras sewaktu berpikir ia telah tertangkap basah oleh anak buahnya sendiri.
Dalam ketegangan yang mencekik leher itu, mendadak anggota timnya yang lain menyela dengan mengatakan, “Kami hanya sebentar saja pergi ke sana dan pulang karena ada keributan.” “Aah iya, ada wanita gila yang jadi simpanan dan dilabrak istri sah.” Anak buah Brianna yang tadi menatapnya itu membenarkan. “Astaga, selain gila sepertinya wanita itu juga punya kebodohan yang menembus tulang!” “Kenapa dia mau-mau saja jadi simpanan?” Brianna sangat lega saat pandangan menelisik anak buahnya itu telah berpindah darinya. Tak apa meski ia harus disebut gila dan bodoh oleh mereka. Ia melirik Leon dan kebetulan pandangan mereka bersirobok. Intensitasnya dalam menahan senyuman meningkat, menikmati situasi saat Brianna jadi bahan olok-olokan anak buahnya sendiri. Sedetik kemudian, Leon berdeham dan berujar, “Saya memang ada di sana, tapi tidak melihat kalian.” “Apa Pak Leon juga pergi karena ada keributan?” Sebelum diungkit lagi, Brianna segera membubarkan semua anggota timnya. “Bubar, bubar!” usirnya. “Bukan waktunya bergosip. Katie, bawa mereka pergi!” Katie menurut, ia yang berjalan paling depan untuk membawa para bawahannya pergi dari sekitaran Brianna dan Leon berdiri. Setelah mereka menjauh, Brianna menoleh pada Leon dan mendorong napasnya dengan kasar. “Apa mempermainkan orang lain memang sudah jadi kelebihanmu?” tanya Brianna, menyinggung kembali perihal Leon yang mengundang orang lain untuk menangani proyek ini padahal Arcadia masih ada di sana. Pria itu bergeming, seringai terbit di salah satu sudut bibirnya dan itu membuat Brianna semakin kesal. “Sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Aku pikir egoismu itu sudah hilang, ternyata belum,” lanjutnya. “Tolonglah jangan bersikap begini, sekali ini saja.” Rahang tegas pria itu mengetat saat Brianna memberi penekanan pada ‘egois’ yang dikatakannya. Leon selangkah mendekat, baritonnya berbisik saat ia menunduk dan menjawab, “Aku sudah setuju dengan tawaranmu, tapi kamu yang tidak memberi kepastian. Jadi aku berikan kesempatan itu ke orang lain.” Salah satu tangannya mengarah ke depan, ibu jarinya mengusap ringan dagu kecil Brianna. “Jangan kesal dengan asumsimu sendiri. Ingat, sisa satu hari untuk membawa semua orang Arcadia pergi dari sini, Brianna Ellery!” Senyumnya yang janggal terlihat sebelum Leon melangkah pergi meninggalkan Brianna. ‘Jadi tidur dengannya itu benar jadi syarat biar aku tetap ada di sini?’ Apa tidak ada cara lain? Rasanya benar-benar frustrasi menghadapi Leon yang keras kepala. Menjelang sore, Brianna yang masih ada di sekitar lokasi pembangunan rumah sakit itu mendapat panggilan telepon dari Kepala Divisi. Pria dari seberang sana itu tak ingin berbasa-basi dan langsung menanyakan perihal berjalannya proyek. “Bagaimana, Brianna? Kekacauan yang dilakukan project manager sebelumnya sudah bisa kamu atasi, ‘kan?” “Masih … saya usahakan, Pak Ronny.” “Kalau kamu tidak bisa selesaikan, kamu tahu konsekuensinya, ‘kan?” Nada bicara pria paruh baya dari seberang ponsel itu lebih terdengar seperti sebuah ancaman. “Kalau gagal, kamu akan dipecat. Namamu bisa dipastikan punya riwayat buruk dan tidak akan bisa kerja di manapun.” “Pak Ronny—” “Lakukan apapun buat menyelamatkan nama baik Arcadia, Brianna!” Kepala Divisi mengakhiri panggilan tersebut sebelum Brianna memberi penjelasan apapun. Matanya terpejam, beban menekan kedua bahunya semakin berat. Ia membuka mata dengan cepat saat merasakan sentuhan dingin di pipi sebelah kirinya dan menoleh ke sana. Katie menyodorkan segelas kopi dingin untuknya seraya bertanya, “Ada apa?” “Pak Ronny bilang aku pasti dipecat kalau tidak bisa membuat Arcadia bertahan di sini,” jawab Brianna seraya menerima kopi dari Katie, dan berterima kasih setelahnya. “Main pecat saja ... kalau dia pikir dia mampu kenapa bukan dia saja yang ke sini?” Bersama-sama, mereka mendorong napas yang membelit penuh sesak. “Brianna, kamu tahu ‘kan Mariana yang datang ke sininya dengan kita itu?” Katie mengernyit pada Brianna saat mereka memutuskan untuk duduk di teras. “Dia kenapa, Kat?” “Dia benar-benar bergantung sama pekerjaan ini. Anaknya perlu operasi bulan depan.” Mendengar itu, ada rasa bersalah yang semakin membebani Brianna. Karena biar bagaimanapun, ia lah yang bertanggung jawab atas mereka semua. Dalam hati ia bergumam seorang diri, ‘Syarat tidur dengan Leon itu hanya sekali, ‘kan?’ Sementara ini, yang ia perlukan hanyalah tidak ditendang dari sini. Nanti ke depannya akan seperti apa, Brianna akan memikirkannya lagi. Ia bangun dari duduknya, menjauhi Katie yang dengan bingung memanggilnya. “Brianna, mau ke mana kamu?” “Mobilnya aku bawa, Kat!” Brianna menuju ke tempat kerja Leon, RN Empire untuk bicara dengannya. Di lantai yang sebelumnya sudah pernah ia datangi, ia lebih dulu menemui sekretaris Leon. “Ada yang perlu saya bicarakan dengan Pak Leon,” kata Brianna langsung. “Apakah beliau ada waktu?” Pemuda itu menengok jam tangannya sebelum menjawab, “Segera ya, Nona. Karena Pak Leon ada jadwal lain dengan Nexora untuk menandatangani—” Brianna tak menunggu kelanjutan kalimat itu, mendengar Nexora disebutkan saja membuatnya cemas setengah mati. Ia berlari menuju ke ruang CEO. Membuka pintu berdaun dua itu dan masuk ke dalam sana. Leon yang tadinya duduk dan menunduk membaca dokumen mengangkat wajah pada kedatangan Brianna yang tiba-tiba dan berhenti di seberang meja. “Ayo kita lakukan, Leon,” kata Brianna yang seketika membuat salah satu alis lebat pria itu terangkat, diliputi kebimbangan. “Jangan menandatangani apapun dengan Nexora. Tidur denganku, kapan kamu mau melakukannya?” Leon tertawa lirih, nyaris tak terdengar sewaktu bangun dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri Brianna. “Yakin?” tanya Leon memperjelas. “Setelah ini, kamu tidak bisa mundur.” “Ya, yakin.” Brianna tak sempat mengelak sewaktu Leon merengkuh pinggangnya dan membuat tubuhnya terangkat ke atas meja. “Ah!” Napas Brianna tercekat, jarak mereka menipis. Salah satu lengan kekar Leon melingkari pinggangnya, tak memberi ruang untuk mundur. Sepasang mata birunya memindai manik hazel Brianna yang gugup, sebelum mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Karena kamu sudah setuju, kita tidak perlu menundanya lagi. Sekarang, Brie. Di sini.” “Kamu gila—Ahh—!” Brianna secara spontan merenggut vest di dada Leon sebab pria itu tiba-tiba memberi dorongan, membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir berbaring di atas meja sedang Leon menunduk di atasnya. Bibirnya bergerak tanpa suara, jantungnya berdebar tak karuan saat tangan Leon menyusuri kakinya yang terbalut oleh stoking tinggi hingga di pertengahan paha. “Buka kakimu untukku, Brie ….”Meninggalkan rumah saat hari sudah terang, Robert menuju ke Halden seorang diri. Akan ia temukan Brianna dan meminta rumah itu menjadi haknya.Lucia benar saat mengatakan rumah baru mereka sudah ditagih pelunasannya. Orang properti menelponnya tadi pagi, menyebut jatuh temponya yang tinggal sebentar lagi.Berkendara sejauh itu, Robert dibuat kecewa karena ia tidak menemukan Brianna di tempat kerjanya. Salah seorang staf yang ia tanyai secara acak menjawab, “Katanya dia izin cuti.”Menghubungi Brianna pun percuma, panggilannya tak pernah tersambung. Mantan istrinya itu jelas telah memblokirnya.Robert berkacak pinggang di lobi Arcadia sebelum menghela dalam napasnya dan memindai satu demi satu staf yang berlalu-lalang.Ia ingin mencari teman baik Brianna yang dikenalnya, gadis itu harusnya tahu di mana Brianna sekarang.Ah, itu dia!“Katie!” panggilnya pada seorang perempuan yang datang dari arah parkiran, berjalan bersama dengan dua orang staf lainnya.Kedua mata perempuan itu melebar
Tempat yang dituju oleh Brianna sangat jauh dari vila milik Leon yang kapan hari didatanginya. Sebuah bangunan yang ukurannya jauh lebih kecil, dengan beberapa penjaga dan pelayan yang berada di sana.Lokasinya ada di dekat pantai, jauh dari vila-vila atau penginapan lain yang dijumpai Brianna selama perjalanan. Dengan diantar oleh Leon sendiri, mereka tiba di sana sekitar pukul tiga dini hari setelah Ricky memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.Aroma asin yang dibawa oleh angin malam menyinggahi indera pembaunya saat ia keluar.Senyum Leon yang terlihat dari cahaya lampu justru menekan dadanya lebih dalam. Meski pria itu seakan sedang memastikan Brianna akan baik-baik saja di sini, tapi jauh di dalam hati ... Brianna merasakan kehampaan.Ombak terdengar samar di kejauhan, datang dan pergi.Pintu berdaun dua berukir itu menyambutnya, lantai marmernya memantulkan gema langkahnya yang melintasi ruangan demi ruangan.Brianna memandang sebuah koper kecil berisikan pakaiannya dari Leo
“Jangan bicara seperti itu pada Brianna, Ma!”Tinggi nada bicara Leon menggema di sepenjuru ruangan, membekukan Brianna yang berdiri di antara ibu dan anak itu dengan perasaan yang tak karuan.“Jangan karena Mama kehilangan Fiona lalu bisa melampiaskan kekecewaan itu pada Brianna!”Leon selangkah maju, menuju Nyonya Susan yang mendengus kasar. Tepat saat itu, Brianna mencegahnya, menahan pergelangan tangannya agar ia tetap berada di tempatnya dan tidak melangkah lebih dekat pada sang Ibu.Manik biru Nyonya Susan diliputi kebencian kala menatap Brianna dan mengatakan, “Awalnya aku memaklumi keberadaanmu di sini, Brianna. Tapi setelah skandal itu muncul dan Leon melakukan keteledoran sampai meninggalkan Fiona yang mati tanpa ada teman di sampingnya membuatku berpikir bahwa kamu masih sama jahatnya seperti dulu!”“Ma—““Apakah yang Mama katakan salah, Leon?” Nyonya Susan tak ingin disela sewaktu bicara.Beberapa detik beliau menatap Leon sebelum kembali menghujam Brianna lewat tatapan di
Brianna meremas jemarinya yang ada di atas paha, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi yang mengaduk-aduk hatinya. Di sampingnya, sepasang alis lebat Leon nyaris bersinggungan saat bergumam, "Apa yang mereka bicarakan?" Flash kamera bertubi-tubi terlihat, mengepung mereka dari segala arah. Yang meski tak ada satu pun tangan yang berusaha membuka pintu mobil, tapi ini cukup untuk membuat Brianna terintimidasi. Selagi ia membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang terjadi, wajah Ricky terlihat di antara kerumunan itu. "Minggir, tolong beri jalan!" serunya di tengah keributan. "Minggir, minggir!" Dalam waktu singkat, pemuda itu masuk ke dalam mobil, mengambil alih kemudi saat Leon berpindah ke kursi penumpang di bagian belakang. Tangan Leon yang terulur ke depan meminta Brianna untuk mengikutinya. "Kita pergi dari sini," kata Ricky. Dari sampingnya, Leon merangkul Brianna, menyembunyikan wajahnya, seakan memastikan ia tidak terus dipotret oleh reporter yang ada di lap
"Anak di dalam sana itu, milik Leon, 'kan?" Dagu Andrew sekilas mengedik ke arah perut Brianna sebelum kembali mengunci mata hazelnya. "Jadikan itu milikku, tinggalkan dia dan—" "Kamu benar-benar sudah gila, Andrew." Sebisa mungkin, Brianna menjaga nada bicaranya yang nyaris menjerit. Pria itu tersenyum di depan Brianna, alih-alih merasa bersalah, di wajahnya justru tergambar sebuah kepuasan. "Hentikan semua ini! Jangan menggangguku lagi!" "Jangan berpikir bisa menghentikan aku, Brianna. Bersikaplah seperti anak baik lagi mulai sekarang. Aku memegang rahasiamu lebih besar daripada siapapun!" "Aku tidak takut!" balas Brianna, mengencangkan rahangnya. "Aku bisa menuntut atas semua yang sudah kamu lakukan padaku dan aku beritahukan ke semua orang kalau kamu tidak lebih dari pria mesum yang—" "Coba saja." Andrew menyela kemudian tertawa renyah. Kepalanya miring beberapa derajat ke kiri, menikmati pias wajah Brianna yang mati-matian meredam ketakutan. "Kalau kamu mengatakan siapa a
Di dalam kamarnya, Brianna menatap meja yang menunjukkan beberapa lembar foto hasil USG yang tempo hari dilakukannya di klinik milik dokter Kai Lorgan. Angannya tertinggal di waktu makan malamnya yang gagal, keinginan untuk mengatakan kejujuran perihal kehamilannya pun tertunda. Leon masih dalam masa berduka. Mata sendu dan raut kehilangannya saat mereka berdiri mengantar kepergian Fiona ke tidur abadinya masih terbayang jelas. Untuk sementara, Brianna ingin membiarkannya tenang. Lagipula, meski ia menyebutkan ia tengah hamil, Brianna tidak yakin kabar ini akan disukai oleh orang tua Leon. Mengingat tatapan dingin Nyonya Susan membuatnya menghela napas dalam. ‘Apa aku tidak akan disukai oleh ibu pria yang aku cintai lagi?’ Sebelumnya sudah ibunya Robert, haruskah sekarang ibunya Leon juga? “Hah ....” Tapi ia memang sudah berniat untuk memberitahu Leon perihal itu, dan ia memiliki caranya sendiri. Foto-foto hasil print USG itu disusunnya di dalam kotak berwarna putih, ia selipk







