Share

Bab 7

Author: Moona
Tubuh Alya seketika membeku.

Setelah terdiam beberapa saat, dia melepaskan tusuk rambut giok dari sanggulnya, lalu menyerahkannya kepada tabib keliling. "Tuan, terimalah ini sebagai biaya pengobatan."

Dalam perjalanan pulang, dia melewati halaman kediaman Nadia. Di sana, Adrian sedang menyuapi Nadia obat dengan penuh perhatian. Gerakannya begitu lembut, seolah sedang merawat harta paling berharga di dunia.

"Sudah kembali?" Adrian hanya melirik Alya sekilas, lalu kembali membujuk Nadia. "Ayo, minum satu suap lagi."

Alya tidak menjawab. Dia langsung berjalan kembali ke halaman kediamannya.

Namun, di luar dugaannya, malam itu juga desas-desus menyebar ke seluruh kediaman adipati seperti wabah.

"Aku dengar waktu nyonya ditemukan, pakaiannya berantakan."

"Benar. Bahkan tusuk rambut yang selalu dipakainya diberikan kepada tabib liar itu. Jangan-jangan mereka punya hubungan."

"Benar-benar mempermalukan kediaman adipati."

Rumor itu makin meluas. Bahkan, seluruh ibu kota pun ikut membicarakannya.

Adrian semula hendak menyuruh pengurus kediaman meredam rumor tersebut. Namun, Nadia menarik lengan bajunya. "Adipati, meredam rumor itu menghabiskan banyak uang. Itu hanya gosip. Tidak akan membuat orang mati."

Adrian sedikit mengernyit. Pada akhirnya, dia tetap mengurungkan niatnya.

Dia menoleh kepada Alya. "Alya, selama aku percaya padamu, itu sudah cukup."

Mendengar itu, Alya justru tersenyum.

Senyumnya begitu pilu hingga bahkan air matanya tidak sanggup keluar.

Syukurlah, malam itu juga Rina akhirnya kembali dari Kota Nordan dengan membawa dekret kekaisaran.

Dengan tangan gemetar, Alya membuka gulungan sutra kuning itu. Saat mencelupkan kuas ke tinta, setiap goresan terasa seperti mengiris hati.

[Hamba, Alya, memohon agar diizinkan bercerai dari Adipati Wira, Adrian, dan tidak akan pernah bertemu lagi dengannya seumur hidup.]

Dia sendiri menyerahkan dekret kekaisaran itu kepada Rina dan memintanya segera membawanya ke istana malam itu juga untuk memohon stempel persetujuan dari Kaisar.

Saat sosok Rina menghilang di tengah pekatnya malam, Alya akhirnya tidak sanggup lagi berdiri dan jatuh terduduk di lantai.

Malam itu, begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.

Dia teringat saat Adrian berlutut di tengah salju sambil memohon agar dia bersedia menikah dengannya.

Teringat kelembutan Adrian saat mengajarinya memanah dengan sabar.

Serta teringat kesungguhan Adrian ketika berkata, "Alya-ku, aku tidak akan membiarkanmu menderita sedikit pun."

Lalu, sekarang?

Demi menyenangkan kekasih barunya, Adrian membuat aturan konyol bahwa seluruh kediaman adipati hanya boleh menghabiskan sepuluh koin tembaga sehari.

Demi melihat Nadia tersenyum, dia memaksa Alya yang lukanya belum sembuh untuk menarikan Tarian Angsa Terbang.

Demi menyelamatkan Nadia, Adrian tanpa ragu meninggalkannya sendirian di tengah kepungan kawanan serigala.

Alya memeluk lututnya erat-erat. Akhirnya, dia menangis.

Kali ini, dia menangis sejadi-jadinya, seolah ingin menghabiskan seluruh air mata yang dimilikinya dalam hidup ini.

…

Keesokan harinya, seluruh kediaman adipati dihiasi lampion dan kain merah untuk merayakan ulang tahun Nadia.

Alya berdiri di bawah serambi, memandangi hiasan merah yang memenuhi halaman.

Dulu, ulang tahun Alya juga pernah dirayakan semeriah ini. Adrian bahkan mulai mempersiapkannya sebulan sebelumnya dan berkata akan memberinya hadiah ulang tahun terbaik di seluruh ibu kota.

"Nyonya, sudah waktunya ke jamuan." Rina mengingatkannya dengan suara pelan.

Di ruang perjamuan, musik dan tarian berlangsung meriah.

Kasih sayang Adrian pada Nadia sungguh mencapai tingkat yang memuakkan.

Di depan semua tamu, Adrian berkali-kali merapikan anak rambut di pelipis Nadia, lalu mengupas buah anggur dengan tangannya sendiri dan menyuapkannya dengan hati-hati ke mulut Nadia.

"Adipati benar-benar memanjakan Nona Nadia."

"Aku dengar demi pesta ulang tahun ini, adipati sampai mengundang rombongan opera terbaik di ibu kota."

"Dulu, waktu ulang tahun nyonya adipati, rasanya juga tidak semeriah ini."

Semua bisikan itu terdengar jelas di telinga Alya. Namun, hatinya sudah tidak lagi terasa sakit. Dia hanya duduk diam di sudut ruangan, menatap pertunjukan di atas panggung dengan tenang.

Setelah beberapa putaran minum arak, Adrian tiba-tiba berdiri. Di hadapan seluruh tamu, dengan tatapan penuh kelembutan, dia berkata kepada Nadia, "Nadia, setelah kita bersama selama ini, maukah kamu masuk ke kediaman adipati dan menjadi istri sandingku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status