แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Moona
Alya mengurung diri di kamar selama beberapa hari.

Sejak Rina pergi, bahkan tidak ada lagi teman bicara. Setiap hari, dia hanya duduk memandangi luar jendela dengan tatapan kosong.

Hingga tiba hari perburuan kerajaan, dia terpaksa menyeret tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya dan memaksakan diri untuk berdandan.

Di arena berburu, bendera berkibar di mana-mana. Para bangsawan menunggang kuda sambil berlomba memanah. Suasananya sangat meriah.

Adrian mengenakan pakaian berkuda hitam. Dia sedang membantu Nadia naik ke atas kuda dengan penuh perhatian.

"Adipati, aku takut," ujar Nadia manja sambil menyandarkan tubuhnya ke pelukan Adrian.

"Jangan takut," jawab Adrian lembut. "Aku akan mengajarimu."

Alya diam-diam menaiki kudanya sendiri dan mengikuti mereka dari belakang.

Dia melihat Adrian mengajari Nadia memanah dengan sabar, membimbing tangannya dan membetulkan setiap gerakannya, persis seperti dulu saat mengajarinya.

"Nyonya, bagaimana kalau kamu ikut mencoba?" Seorang nona bangsawan menyodorkan busur kepadanya.

Alya menerimanya, lalu membidik seekor rusa di kejauhan. Anak panah melesat.

"Tepat sasaran!" Semua orang berseru kagum.

Baru saja Alya hendak maju, Nadia tiba-tiba berseru, "Rusa itu cantik sekali! Aku sangat menyukainya!"

Adrian menoleh kepada Alya. "Alya, bolehkah rusa itu diberikan pada Nadia?"

Ujung jari Alya sedikit bergetar, tetapi dia hanya mengangguk tenang.

Dia sudah lama menyingkirkan pria itu dari hatinya. Alya tidak akan lagi merasa sakit karena dirinya.

Karena ini adalah pertama kalinya Nadia mengikuti perburuan, dia penasaran dengan segala hal. Setiap kali melihat sesuatu, dia selalu berhenti untuk melihat-lihat. Tidak lama kemudian, mereka bertiga pun terpisah dari rombongan utama.

Saat hendak kembali, hari sudah gelap. Baru saja mereka bersiap pergi, cuaca tiba-tiba berubah.

Puluhan serigala lapar mendadak keluar dari hutan lebat. Mata hijau mereka berkilat menyeramkan di tengah senja.

Adrian segera memasang anak panah ke busurnya. Anak panah melesat satu demi satu dan menjatuhkan beberapa serigala.

Namun, tidak lama kemudian, tabung anak panahnya kosong.

Nadia langsung menangis tersedu-sedu. "Semua salahku. Demi menghemat pengeluaran, aku tidak membeli banyak anak panah. Adipati, aku takut. Apa kita akan mati di sini?"

Adrian memandang kawanan serigala yang makin mendekat, lalu melihat Nadia yang gemetar dalam pelukannya. Akhirnya, dia mengatupkan gigi, mengangkat Nadia ke atas kuda, lalu berkata, "Alya, bertahanlah sebentar. Aku akan membawa Nadia kembali untuk memanggil bala bantuan!"

Suara derap kaki kuda makin menjauh. Alya tetap berdiri di tempat, memandangi sosok Adrian yang perlahan menghilang di balik senja.

Tiba-tiba dia tersenyum.

Kali ini, bahkan air matanya pun tidak keluar lagi.

Ternyata, ketika hati benar-benar telah mati, rasa sakit pun ikut menghilang.

Kawanan serigala semakin mendekat. Hembusan napas panas yang berbau anyir menerpa wajahnya.

Alya memacu kudanya sekuat tenaga. Suara kaki kuda yang menghancurkan ranting-ranting kering bergema nyaring di hutan yang sunyi.

Hingga akhirnya, dia tiba di tepi jurang. Di depan tidak ada jalan. Di belakang, kawanan serigala terus mengejar.

Kalau melompat, mungkin masih ada secercah harapan.

Alya memejamkan mata. Lalu, dia melompat.

....

Alya terbangun karena rasa sakit yang luar biasa.

Saat membuka mata, yang terlihat adalah atap gubuk jerami yang sederhana. Tubuhnya terbaring di atas tikar jerami yang kasar.

Luka di punggungnya terasa perih membakar, sementara kaki kanannya nyeri hingga menusuk tulang.

"Nona sudah sadar?" Seorang tabib keliling bertubuh kurus datang membawa semangkuk obat. "Kamu melompat dari jurang setinggi itu. Sungguh beruntung masih bisa selamat."

Barulah Alya teringat kejadian saat dirinya melompat dari jurang.

Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Seketika rasa sakit membuatnya menghirup napas dalam-dalam.

"Jangan bergerak." Tabib itu menahan tubuhnya. "Tulang kaki kananmu patah, dan luka di punggungmu juga robek kembali. Untung saja saat sedang memetik tanaman obat di lembah, aku menemukanmu. Kalau tidak ...."

"Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku." Suara Alya serak. Setiap kata yang keluar terasa seperti mengiris tenggorokannya.

Tiba-tiba, dari luar terdengar derap kaki kuda yang riuh hingga mengejutkan kawanan burung gereja di bawah atap.

"Nyonya!"

Beberapa pengawal kediaman adipati menerobos masuk. Pengawal yang memimpin mereka memberi hormat. "Adipati memerintahkan kami menjemput Anda pulang."

Alya menoleh kepada tabib itu. "Tolong beri tabib ini sejumlah uang sebagai tanda terima kasih."

Pemimpin pengawal itu tampak serba salah. "Nyonya, Nona Nadia menetapkan bahwa pengeluaran kediaman hanya boleh sepuluh koin tembaga sehari. Jatah hari ini sudah habis digunakan."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status