Short
Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi

Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi

بواسطة:  Windمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24فصول
606وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Semua orang tahu bahwa Putra Mahkota Harjuna adalah sosok yang elegan dan berbudi luhur. Di ibu kota, entah berapa banyak putri keluarga bangsawan yang mendambakannya sebagai calon suami. Namun, tak seorang pun tahu betapa liarnya dirinya saat malam tiba, saat dia menindih Keswari di atas ranjang dan mempermainkannya tanpa henti. Pada malam ke-1.001 sejak mereka diam-diam bertemu di lorong rahasia, Keswari terbaring lemas di atas selimut sutra yang berantakan. Sambil menatap Harjuna yang tampak benar-benar puas, dia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. "Pangeran, setengah bulan lagi, Pangeran akan menikahi Kak Manika dan membawanya ke Istana Timur ...." Jari-jari Keswari mencengkeram ujung selimut erat-erat. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar. "Bisakah ... pada hari yang sama ... Pangeran juga menerimaku sebagai selir?" Gerakan Harjuna yang sedang mengikat sabuk pakaiannya seketika terhenti. "Nggak bisa." Dia berbalik. Wajahnya yang tampan tampak jauh lebih dingin di bawah cahaya lilin. "Aku sudah berjanji pada Manika. Seumur hidup ini, hanya akan ada dia seorang. Aku nggak akan menerima selir." Wajah Keswari seketika memucat. "Kalau begitu ... aku ini dianggap apa?"

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

Suara Keswari bergetar.

"Jadi ... apa aku harus hidup seperti ini selamanya? Menjadi seseorang yang nggak pernah bisa muncul ke hadapan dunia?"

"Memangnya ada pilihan lain?" Harjuna menatapnya dengan senyuman tipis yang sulit ditebak, tetapi sorot matanya sedingin es. Dia seolah mengejek angan-angan Keswari yang terlalu tinggi. "Keswari, memangnya posisi apa yang kamu inginkan?"

Dia membungkuk, lalu perlahan mengusap bibir Keswari dengan ibu jarinya.

"Aku sudah bilang, seumur hidup, aku hanya mencintai Manika seorang. Tapi aku menyukai tubuhmu. Jadi, selain status dan kasih sayang, apa pun akan kuberikan kepadamu. Setelah aku menikahi Manika, kita tetap akan bertemu melalui lorong rahasia."

Nada bicaranya mendadak berubah dingin.

"Tapi ingat, jangan sampai hubungan kita diketahui Manika. Kalau sampai dia tahu sedikit saja dan jadi sedih gara-gara itu, kamu akan tahu akibatnya."

Keswari bagaikan disambar petir. Dia hanya bisa terpaku di tempat.

Ternyata sejak awal pria ini memang tidak pernah berniat memberinya status. Di dalam hati pria ini, dirinya hanyalah mainan yang harus terus disembunyikan.

Keswari menatap punggung Harjuna yang perlahan menjauh. Tubuhnya sedikit gemetar, sementara berbagai kenangan masa lalu bermunculan tanpa bisa dibendung.

Dia adalah putri selir di Kediaman Adipati Bhagawan, sedangkan Manika adalah putri sah yang begitu dimuliakan.

Sejak kecil, mereka berdua selalu menjadi perbandingan yang paling mencolok. Manika mengenakan kain brokat terbaik dan perhiasan paling indah. Bahkan guru-guru mereka selalu memujinya karena kecerdasannya.

Sementara Keswari selamanya hanya bisa berdiri di balik bayang-bayang. Dia mengenakan pakaian bekas kakaknya dan memakai alat tulis yang paling biasa.

Bahkan Putra Mahkota Harjuna, pria yang diidam-idamkan seluruh gadis bangsawan di ibu kota, hanya mencintai Manika seorang.

Dia masih mengingat dengan jelas Festival Kota tiga tahun lalu. Di hadapan seluruh pejabat istana, Harjuna pernah berjanji, "Dalam hidup ini, hanya ada Manika seorang. Aku nggak akan pernah menerima selir."

Hingga kini, peristiwa megah hari itu masih menjadi buah bibir seluruh ibu kota.

Sampai malam saat hujan itu ....

Malam itu, Harjuna dijebak dengan obat perangsang. Dia salah mengira Keswari sebagai Manika, lalu mengambil kesuciannya.

Semula Keswari mengira keesokan harinya yang menantinya hanyalah seutas kain putih untuk mengakhiri hidup.

Namun tak disangka, sejak malam itu, Putra Mahkota yang selama ini dikenal dingin menjadi seolah kerasukan. Dia membangun lorong rahasia dan memanggilnya ke Istana Timur tiap malam.

Selama tiga tahun penuh, kecuali saat dirinya sedang datang bulan, hampir setiap hari pria itu menginginkannya.

Dia sudah melihat begitu banyak sisi Harjuna yang tak pernah diketahui orang lain. Putra Mahkota yang selalu tenang dan mampu mengendalikan diri di depan semua orang, bisa kehilangan kendali dan menjadi begitu bernafsu di hadapannya.

Pewaris takhta yang bersikap dingin kepada siapa pun itu, bisa menindihnya di atas ranjang dan melampiaskan seluruh hasratnya tanpa menahan diri.

Dia sempat mengira, kedekatan seperti itu setidaknya berarti Harjuna menyimpan sedikit perasaan untuknya ....

"Nona, sudah waktunya minum obat." Seorang pelayan tua masuk sambil membawa semangkuk obat, memutus lamunan Keswari.

Dengan tangan gemetar, Keswari menerimanya. Aroma pahit obat itu memang menusuk hidung, tetapi entah mengapa dia tidak sanggup menelannya.

Dari luar pintu, seorang dayang berbisik dengan tergesa-gesa, "Bi, cepatlah. Waktunya sudah tiba. Nona Keswari harus segera minum obat pencegah ...."

Sebelum kalimatnya selesai, pelayan tua itu langsung membentaknya, "Jangan banyak bicara!"

Tangan Keswari bergetar hingga mangkuk obat itu jatuh ke lantai. Prang!

"Obat pencegah kehamilan?" Suaranya bergetar. Dia tak percaya pada apa yang baru didengarnya. "Selama ini ... yang selalu kuminum ... adalah obat pencegah kehamilan?"

Wajah pelayan tua itu tampak serbasalah. "Ini perintah Yang Mulia Pangeran."

Hati Keswari terasa seperti ditusuk pisau.

Ternyata selama tiga tahun ini, pria itu sama sekali tidak pernah menginginkan dirinya mengandung anaknya. Dirinya malah begitu bodoh hingga mengira obat itu adalah ramuan kesehatan yang sengaja disiapkan untuknya.

Keswari tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu mengangkat semangkuk obat yang baru diseduh dan meneguknya hingga habis.

Rasa pahitnya menusuk lidah, tetapi masih tak seberapa dibandingkan kepedihan di dalam hatinya.

Saat kembali ke Kediaman Adipati Bhagawan melalui lorong rahasia, langkahnya terasa begitu ringan seolah melayang.

"Keswari, kemarilah." Baru saja memasuki halaman, Wening, ibunya, memanggilnya dengan wajah penuh sukacita.

"Jenderal Abimanyu dari perbatasan mengirim orang untuk melamar." Wening menggenggam tangan Keswari.

"Kamu memang putri selir, nggak bisa dibandingkan dengan kakakmu. Meski Jenderal Abimanyu bertugas jauh di perbatasan, dia tampan, berbudi baik, dan terhormat. Ini sudah jodoh terbaik yang bisa Ibu carikan untukmu."

Keswari mendongak. Baru saat itu dia menyadari bahwa entah sejak kapan, rambut di pelipis Wening telah dipenuhi uban. Hatinya langsung terasa sesak.

Selama bertahun-tahun, dia terus menunggu Harjuna memberinya status, menolak entah berapa banyak lamaran hingga membuat ibunya cemas sampai rambutnya memutih.

"Baik," ucapnya lirih. "Aku akan menikah."

Wening langsung berseri-seri. "Bagus! Bagus sekali! Syukurlah kamu akhirnya sadar!"

Takut putrinya berubah pikiran, Wening segera berdiri. "Ibu akan segera memanggil mak comblang. Kebetulan kakakmu akan menikah dan masuk ke Istana Timur setengah bulan lagi. Kita jadwalkan pernikahanmu di hari yang sama. Dua kebahagiaan sekaligus!"

Keswari menunduk sambil mengangguk. Dia mengantar ibunya hingga ke gerbang. Saat kembali, kebetulan dia melihat orang-orang dari Istana Timur mengangkat peti-peti besar berisi hadiah pertunangan ke dalam kediaman.

"Pangeran benar-benar memanjakan Nona Manika!"

"Kudengar kain brokat ini sengaja didatangkan jauh-jauh khusus untuk dijadikan gaun pengantin Nona Manika!"

"Yang Mulia bilang, Nona Manika pantas mendapatkan yang terbaik!"

Setiap kalimat itu menusuk hati Keswari bagaikan pisau. Dia berbalik hendak kembali ke paviliun kecilnya, tetapi tanpa sengaja menginjak kaki seseorang.

Manika menjerit, lalu langsung menamparnya. "Matamu buta, ya? Sepatu baruku jadi kotor gara-gara kamu injak! Ini sepatu dari kain brokat yang baru saja diberikan Pangeran!"

Keswari buru-buru meminta maaf, "Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar nggak sengaja ...."

"Memangnya permintaan maafmu ada gunanya?" sahut Manika dengan angkuh. "Putri selir rendahan sepertimu sama saja dengan ibumu yang cuma seorang selir, sama-sama nggak pantas tampil di depan orang!"

Segala kepedihan yang selama ini dipendam Keswari akhirnya meluap. Untuk pertama kalinya, dia membalas, "Kak, tolong jaga ucapanmu! Kakak boleh menghinaku, tapi jangan menghina ibuku!"

Suasana di sekeliling mereka mendadak hening. Anehnya, Manika tidak kembali mempersulitnya. Sebaliknya, ekspresinya tampak sedikit terkejut.

Mengikuti arah pandang kakaknya, Keswari menoleh ke belakang. Ternyata Harjuna entah sejak kapan sudah berdiri di bawah serambi, menatap mereka dengan sorot mata dingin.

Tatapannya hanya menyapu Keswari sekilas, seolah melihat orang asing. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju Manika, menggenggam kedua tangan gadis itu yang mulai dingin, lalu mengembuskan napas hangat ke atasnya.

"Cuacanya sedingin ini, kenapa berdiri di luar?"

Melihat Harjuna sama sekali tidak marah atas sikap kasarnya tadi, hati Manika langsung tenang.

"Yang Mulia, tadi Keswari menginjak sepatu baruku. Aku cuma menegurnya sedikit, tapi dia malah berani membantah. Dia benar-benar membuatku kesal." Sambil berkata begitu, dia mengentakkan kaki dengan manja.

"Kalau begitu, untuk apa masih bicara dengannya?" kata Harjuna dengan nada datar. Akhirnya, dia melirik Keswari. "Kamu berani melawan Manika dan bicara tanpa tahu batas. Hukumannya berlutut selama empat jam."

Senyum Manika langsung merekah. "Yang Mulia memang tegas!"

Dia memeluk lengan Harjuna dengan mesra, melirik Keswari dengan penuh kemenangan sebelum pergi bersamanya.

Angin dingin berdesir. Keswari berlutut di atas salju. Pakaiannya yang tipis sudah lama basah oleh salju yang mencair.

Rasa dingin menjalar dari kedua lututnya ke seluruh tubuh, tetapi tetap tak sebanding dengan perih di hatinya.

Dua jam kemudian, pelayannya, Ratih, datang dengan mata memerah. Dia membantu Keswari berdiri. "Nona, cepat bangun. Lutut Nona bisa beku!"

Kedua kaki Keswari sudah mati rasa. Dia hanya bisa berdiri dengan susah payah sambil dipapah.

Ratih mengusap lututnya sambil terisak. "Tuhan benar-benar nggak adil. Nona Manika adalah putri sah, jadi semua yang terbaik menjadi miliknya. Bahkan Putra Mahkota juga ...."

"Sudahlah," sela Keswari pelan dengan suara serak.

"Tapi apa salah Nona?" Ratih tak kuasa menahan tangis. "Jelas-jelas Nona Manika yang main tangan lebih dulu. Pangeran juga melihatnya, tapi malah menghukum Nona. Ini benar-benar nggak adil ...."

Keswari memandang ke arah Istana Timur, lalu tiba-tiba tersenyum. Senyum itu begitu getir hingga Ratih pun berhenti menangis.

Benar, semua ini memang tidak adil. Namun, sekarang dia sudah tidak ingin memperjuangkannya lagi.

Yang dia harapkan hanyalah hari pernikahannya segera tiba, agar dia bisa meninggalkan ibu kota dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
24 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status