Beranda / Urban / Sepuluh Selir Ratu Arischa / Bab 5 Malam penakhlukan

Share

Bab 5 Malam penakhlukan

Penulis: Penulis Hoki
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 15:26:58

Suara terompet perang di luar sana terdengar bagaikan musik latar yang mengerikan, kontras dengan hawa panas yang membakar di dalam kamar Ratu. Ribuan prajurit pemberontak mungkin sedang mendobrak gerbang istana, namun di dalam ruangan ini, hanya ada satu perang yang paling nyata: perang memperebutkan kendali atas tubuh dan hati Arischa.

Kael masih mencengkeram tangan Lia, menekannya ke atas tonjolan keras di balik celananya yang menandakan betapa liarnya gairah pria itu. Sementara di belakang Lia, Ren tidak membiarkan satu inci pun kulit punggung Lia luput dari sentuhan bibir dan jemarinya yang terampil.

"Pilih, Ratu," Kael mengulangi dengan suara yang lebih serak, hampir seperti geraman. "Berikan perintahmu sekarang. Jika kau ingin kami bertempur, kami akan menjadi perisaimu. Tapi sebagai imbalannya... setelah fajar tiba, kau hanya boleh menjadi milik kami. Hanya kami berdua."

Lia menarik napas panjang, kepalanya mendongak saat Ren memberikan ciuman basah di perpotongan lehernya. Otak modernnya berteriak untuk lari, tapi tubuh Arischa yang haus akan sentuhan justru merespons dengan getaran yang tak tertahankan. Di kehidupan lamanya, dia bahkan tak pernah dipandang. Sekarang, dua pria paling dominan di dunia ini sedang mengemis perhatiannya di tengah dentingan pedang.

"Kau menawar denganku, Jenderal?" Lia membalikkan keadaan. Dia menggunakan tangannya yang bebas untuk menarik rambut hitam Kael, memaksa pria itu menatap langsung ke matanya yang kini berkilat emas penuh gairah. "Seorang Ratu tidak pernah menawar. Dia memerintah."

Lia melepaskan sisa jubah tidurnya yang sudah compang-camping, membiarkan kain sutra itu jatuh ke lantai marmer dengan suara desiran halus. Sekarang, dia berdiri sepenuhnya polos di depan dua pria tersebut. Di bawah cahaya rembulan yang masuk dari balkon, tubuh Lia terlihat seperti dewi yang turun ke bumi—kulitnya yang seputih porselen tampak berkilau oleh keringat tipis, dan aura dominannya membuat udara di ruangan itu terasa semakin menipis.

Kael dan Ren terpaku. Napas mereka berhenti seketika. Mata mereka menjelajahi setiap inci lekuk tubuh Lia, dari dadanya yang membusung hingga pinggulnya yang menggoda.

"Buktikan padaku," tantang Lia, suaranya kini terdengar rendah dan penuh otoritas seksual. "Buktikan bahwa kalian lebih layak mendapatkan aku daripada sepuluh ribu prajurit di luar sana. Jika kalian bisa membuatku menyerah malam ini, maka aku akan menjadi milik kalian selamanya."

Tanpa menunggu komando kedua, Kael menyambar pinggang Lia dan mengangkatnya ke atas ranjang raksasa itu dalam satu gerakan kuat. Dia menindih Lia, berat tubuhnya yang penuh otot menekan Lia ke kasur empuk. Sementara itu, Ren merangkak di sisi lain, mengurung Lia di tengah-tengah dua predator yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Kael mulai menciumi bibir Lia dengan rakus, sebuah ciuman yang meledakkan kembang api di kepala Lia. Tangan Kael yang kasar dan penuh kapalan karena pedang kini menjelajahi area-area sensitif di paha dalam Lia, memberikan sensasi yang membuat Lia melenguh. Di saat yang sama, Ren menggunakan lidahnya untuk memanjakan titik-titik saraf di belakang telinga Lia, sementara tangannya yang lihai mulai bermain di bagian intim Lia, menciptakan gelombang kenikmatan yang membuat Lia membusungkan dadanya dan meremas sprei sutra di bawahnya.

"Ahhh... Kael... Ren..." desah Lia, suaranya teredam oleh ciuman Kael yang semakin dalam.

Lia merasa dirinya hampir gila. Di antara bau keringat jantan, aroma kayu cendana, dan rasa lapar yang dipancarkan kedua pria ini, dia merasa benar-benar hidup. Dia membayangkan jika Arlan si pembully itu melihatnya sekarang, pria itu pasti akan berlutut memohon ampun melihat betapa berkuasanya Lia di atas ranjang ini.

Kael melepaskan celananya dengan cepat, memperlihatkan kejantanannya yang sudah sangat tegang dan besar. Dia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Lia yang terbuka lebar. Kael mencengkeram pinggul Lia begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.

"Katakan padaku, Arischa," bisik Kael tepat di depan bibir Lia, napasnya panas dan memburu. "Siapa pria yang akan kau ingat namanya saat kau mencapai puncakmu? Aku, atau si playboy ini?"

Ren tertawa kecil, meskipun napasnya juga sama tidak teraturnya. Dia terus memberikan stimulasi di bagian bawah dengan ritme yang semakin cepat, membuat Lia mulai kehilangan kesadarannya karena kenikmatan yang luar biasa. "Jangan dengarkan dia, Ratu. Biarkan tubuhmu yang menjawab."

Lia merasakan ujung kejantanan Kael yang panas mulai menekan pintu masuknya. Satu dorongan lagi, dan dia akan merasakan penyatuan yang sempurna. Lia menutup matanya, bersiap untuk ledakan yang akan mengguncang dunianya.

Namun, tepat saat Kael melakukan dorongan pertama yang membuat Lia memekik kecil karena terkejut dan nikmat...

BRAKKK!

Pintu kamar yang tadi sudah rusak, kini benar-benar terlempar dari engselnya hingga menghantam lemari emas di sudut ruangan.

Sesosok pria dengan pakaian serba putih yang kini ternoda darah masuk ke ruangan itu. Dia adalah Selir Pertama, Pangeran Alaric. Pria yang dikenal sebagai Malaikat Suci karena sikapnya yang tenang dan taat. Namun, pemandangan di depannya jauh dari kata suci. Di tangan kanannya, Alaric menyeret sebuah kepala manusia pemimpin pemberontak yang baru saja dia penggal. Darah masih menetes segar dari leher kepala itu ke lantai marmer.

Alaric menatap pemandangan panas di atas ranjang itu dengan mata yang berkilat cemburu dan amarah yang mengerikan. Aura membunuh terpancar begitu kuat darinya hingga Ren dan Kael refleks menghentikan gerakan mereka.

"Permainan yang indah, Ratu," ucap Alaric dengan suara dingin yang menusuk tulang. Dia melempar kepala pemimpin pemberontak itu ke tengah ruangan seperti membuang sampah. "Tapi sepertinya Anda lupa... bahwa sayalah orang pertama yang memiliki hak atas malam ini. Dan saya tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi milik saya."

Alaric melangkah mendekat sambil melepaskan jubah putihnya yang berdarah, memperlihatkan tubuhnya yang ramping namun dipenuhi bekas luka yang menandakan dia adalah petarung yang jauh lebih mengerikan dari Kael.

Kael, yang hampir saja "masuk" sedikit dan masih berada di atas tubuh Lia, menatap Alaric dengan tatapan membunuh. "Mundur, Alaric! Kau terlambat!"

"Terlambat?" Alaric tersenyum tipis, sebuah senyuman psikopat yang indah. Dia menarik pedangnya yang masih berdarah dan menodongkannya tepat ke arah leher Kael. "Pilihlah, Jenderal. Kau mau menjauh dari tubuhnya sekarang dengan kakimu sendiri, atau kau ingin aku memotong bagian tubuhmu yang ada di dalam dirinya saat ini juga?"

Lia, yang sedang berada di ambang orgasme yang menyiksa karena gantungnya adegan tersebut, hanya bisa terengah-engah dengan mata sayu. Perutnya terasa melilit karena gairah yang terhenti paksa, sementara di depannya, tiga pria terkuat di istana siap saling membantai demi memperebutkan siapa yang akan melanjutkan tugas di atas ranjangnya malam itu.

"Alaric... Kael... Hentikan..." gumam Lia lemah, namun tangannya justru mencengkeram bahu Kael lebih erat, seolah tak mau dilepaskan.

Alaric menunduk, menatap Lia dengan tatapan posesif yang gila. "Tenanglah, Ratu. Malam ini masih sangat panjang. Setelah aku membereskan dua serangga ini, aku sendiri yang akan memastikan Anda memohon untuk mati karena kenikmatan yang akan kuberikan."

Ujung pedang Alaric yang masih basah oleh darah pemimpin pemberontak itu menekan kulit leher Kael, menciptakan goresan tipis yang mengeluarkan darah segar. Namun, Jenderal Kael tidak bergeming. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, padahal nyawanya terancam dan dia sedang dalam posisi paling rentan yaitu telanjang di atas ranjang.

Ren, yang tadi begitu berani menggoda Lia, kini perlahan mundur. Wajahnya pucat pasi melihat Alaric, namun dia lebih takut melihat reaksi Kael. Semua orang di istana tahu... Jangan pernah mengusik Jenderal Kael saat dia sedang menandai wilayahnya.

"Kau pikir pedang mainan itu bisa menghentikanku, Alaric?" Kael bersuara, rendah dan bergetar seperti geraman harimau.

Bukannya menjauh, Kael justru semakin menekan tubuhnya ke arah Lia, mengabaikan pedang di lehernya. Dia menatap Alaric dengan mata yang begitu gelap dan penuh haus darah, hingga sang "Malaikat Suci" itu sempat ragu sesaat. Tatapan Kael seolah mengatakan bahwa dia akan merobek tenggorokan Alaric dengan tangan kosong sebelum pedang itu sempat memutus nadinya.

Lia terengah-engah di bawah kungkungan Kael. Jantungnya berpacu liar. Dia melihat kepala manusia yang menggelinding di lantai, dia melihat pedang yang haus darah di leher Kael, dan dia melihat kegilaan di mata Alaric.

“Lelaki ini gila...” batin Lia. Dia takut pada Alaric yang ternyata seorang psikopat, dia takut pada pemberontak di luar sana. Namun, saat dia menatap punggung lebar Kael yang melindungi seluruh tubuhnya dari pandangan Alaric, sebuah perasaan aneh muncul.

Di tengah kekacauan ini, hanya otot-otot keras Kael dan aroma besi dari tubuh pria ini yang membuatnya merasa aman. Lia merasa seolah selama dia berada di bawah Kael, tidak akan ada satu pun peluru atau pedang yang bisa menyentuhnya.

"Kael... cukup..." gumam Lia lemah. Tangannya yang gemetar justru mencengkeram lengan berotot Kael, seolah memohon agar pria itu tidak melepaskannya.

Kael menoleh sedikit, memberikan tatapan sekilas pada Lia yang terlihat sangat rapuh namun bergantung padanya. Sesuatu di dalam diri Kael bangkit, naluri protektif yang jauh lebih besar dari nafsu apa pun.

Kael kembali menatap Alaric. "Kau membunuh pemberontak itu untuk melindunginya, atau karena kau ingin menjadi orang yang membunuhnya sendiri, Alaric?"

Alaric tersenyum tipis, meski tangannya yang memegang pedang sedikit menegang. "Aku melindunginya agar dia tetap hidup untukku, Jenderal. Sekarang, menjauhlah darinya."

Kael tertawa sinis. Dia perlahan bangkit dari atas tubuh Lia, tapi tidak untuk mundur. Dia berdiri tegak di atas ranjang, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka perang dan kejantanannya yang masih menuntut, sama sekali tidak malu atau merasa terancam. Dia berdiri tepat di depan mata pedang Alaric.

"Jika kau ingin mengambilnya dariku, maka kau harus melewati mayatku dulu," tantang Kael. "Tapi ingat, Alaric... satu langkah saja kau maju, aku akan memastikan seluruh selir di istana ini melihat bagaimana seorang Pangeran suci mati dengan cara yang paling hina."

Suasana membeku. Alaric, yang biasanya sangat tenang, kini tampak gemetar karena amarah yang tertahan. Dia tahu kekuatan Kael bukan sekadar jabatan, Kael adalah monster medan perang yang tidak bisa dibunuh dengan cara biasa.

Lia meringkuk di belakang kaki Kael, menarik sprei untuk menutupi tubuhnya. Dia menatap punggung Kael yang kokoh. Pria ini kasar, dia membencinya, dan dia hampir saja menghancurkannya tadi, tapi di saat dunia ingin mengulitinya hidup-hidup, Kael berdiri sebagai tembok karang yang tak tergoyahkan.

Pria ini berbahaya, pikir Lia, air mata mulai menggenang karena rasa takut sekaligus lega yang luar biasa. Dia mengerikan. Tapi kenapa... kenapa aku merasa hanya dia yang tidak akan membiarkanku mati malam ini?

Kael menoleh ke belakang, menatap Lia dengan tatapan yang sangat intens. "Diam di sana, Ratu. Jangan berpaling. Lihatlah bagaimana aku menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh milikku."

Tepat saat Alaric menerjang maju dengan pedangnya dan Kael bersiap menyambutnya dengan tangan kosong—

*********

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 17 Bermain di dalam lift

    Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 16 Menyatu di dunia nyata

    Kutukan itu menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat karena dia merasa dicintai oleh Lia di saat jiwanya sedang hancur. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri otot-ototnya yang tegang.Namun, Lia tidak melepaskannya. Dia justru menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, lalu membisikkan sesuatu di sela-sela ciuman panas itu. "Gunakan rasa sakit ini, Arlan. Jika kau mencintaiku, jangan mati sekarang. Bakar sistem ini dengan rasa sakitmu!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia bersinar terang, menyalurkan energi gelap ke dalam tubuh Kael. Bukannya meredam kutukan, energi Lia justru meledakkan rasa sakit itu hingga menjadi kekuatan fisik murni.Kael bangkit, tubuhnya kini diselimuti aura hitam dan ungu yang menyambar-nyambar seperti petir. Matanya berubah menjadi putih sepenuhnya. Rasa sakit yang seharusnya membunuhnya kini menjadi bahan bakar kemarahannya.Lia melepaskan Kael, menatap Julian dengan senyum kemenangan yang kejam. "Lihat, Arlan yang asli. Sampahmu baru

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 15 Arlan

    Lia menanggalkan jubah luar yang dikenakannya, menyisakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di bawah cahaya lilin. Dia merangkak naik ke atas tubuh Kael, menduduki pangkuan pria itu dengan posisi yang sangat intim.Kael mengerang keras. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Setiap inci kulit Lia yang bersentuhan dengan tubuhnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mematikan ke jantungnya, namun kejantanannya justru menegang keras di bawah sana, menuntut penyatuan."Kau sangat menderita, ya?" Lia berbisik di telinga Kael, lalu menjilat daun telinganya dengan sengaja."L-Lia... kau akan... membunuhku..." Kael terengah-engah, tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram sprei agar tidak menyentuh Lia, karena jika dia membalas sentuhan itu, kutukan tersebut bisa menghentikan jantungnya seketika."Lalu matilah di dalam diriku, Arlan," tantang Lia.Lia menarik tangan Kael, memaksa telapak tangan besar yang kasar itu untuk m

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 14 Siksa aku dengan sentuhanmu

    Cahaya biru itu semakin menyilaukan, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Tubuh Alaric mulai berpendar, memperlihatkan garis-garis sirkuit di bawah kulit porselennya. Kael mencengkeram leher Alaric, urat-urat di lengannya menonjol, sementara dadanya terus memercikkan cahaya ungu sebuah tanda kutukan itu sedang merobek jantungnya dari dalam."Arlan, jangan bodoh! Lari!" teriak Xenon, mencoba menarik tangan Lia. "Sistem ini akan melakukan format pada ruangan ini. Kita akan terhapus kalau tetap di sini!"Lia menepis tangan Xenon dengan kasar. Matanya terpaku pada Kael. Dia melihat pria itu, pria yang dulu menghancurkan dunianya dan kini hancur demi memberinya waktu satu detik untuk bernapas."Tidak," desis Lia. "Aku sudah pernah mati sekali karena tidak punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkan takdir atau sistem sialan ini menentukan siapa yang harus mati lagi!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia terasa membara. Rasa panasnya menjalar ke seluruh

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 13 Anomali ganda

    Kael memejamkan mata sesaat. Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang Alaric. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."Lia beralih ke Xenon. "Dan kau, Xenon. Kau bilang kau ingin membantuku? Baiklah. Kau akan menjadi peliharaan baruku di paviliun barat. Kau akan mengajariku segala hal yang kau tahu tentang dunia lain itu. Jika kau berbohong sedikit saja, aku akan memastikan lidahmu dipotong."Xenon mendongak, mencoba memberikan senyum liciknya, namun saat melihat tatapan Lia yang kosong, senyum itu hilang. "Tentu, Ratu... atau haruskah kupanggil Lia?"PLAK!Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menampar wajah Xenon dengan sangat keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer. Tapi saat telapak tangan Kael bersentuhan dengan udara di sekitar Xenon yang berada dekat dengan jangkauan Lia, Kael langsung tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat.Rasa sakit dari kutukan itu menghantamnya. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang berduri."Kael!" Alaric berseru,

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 12 Kesempatan terakhir

    Bayangan hitam sang Penjaga Keseimbangan meluas, menelan seluruh cahaya di kamar Ratu hingga hanya menyisakan kegelapan pekat yang dingin. Udara terasa membeku. Lia tidak bisa bernapas, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya."Ambil jiwaku!" teriak Kael lagi, suaranya bergetar namun penuh tekad. Dia berdiri di depan Lia, tubuhnya yang besar menjadi perisai terakhir. "Dia tidak bersalah! Aku yang gagal menjaga rahasia ini!"Sosok berjubah itu mendekat, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan. "Kontrak telah diputus. Jiwa yang seharusnya menebus dosa, kini telah ternoda oleh perasaan yang dilarang. Arlan... kau mencintai korbanmu. Itu adalah pelanggaran terbesar!!!"Lia merosot ke lantai, menatap punggung Kael yang gemetar. Rasa mual di perutnya bertarung dengan rasa sakit di dadanya. Pria ini adalah Arlan, pria yang membuatnya menangis setiap malam di toilet kampus. Pria yang membuatnya merasa seperti sampah. Tapi pria ini juga yang semalam memeluknya seola

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status