Beranda / Urban / Sepuluh Selir Ratu Arischa / Bab 4 Permainan di awal kehancuran

Share

Bab 4 Permainan di awal kehancuran

Penulis: Penulis Hoki
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 15:16:14

Pintu kamar yang hancur berkeping-keping meninggalkan debu yang menari-nari di bawah sinar bulan. Tiga pria baru merangsek masuk, senjata mereka masih berlumuran darah pengawal pintu. Di depan mereka berdiri Hanz, pria bertubuh raksasa dengan kapak besar di pundaknya; Julian, si cendekiawan berwajah dingin dengan belati tipis; dan Ren, si pria playboy yang bajunya terbuka separuh, menatap Lia dengan lapar.

Lia berdiri di tengah ranjang, napasnya memburu. Jubah tidurnya yang robek di bagian bahu memperlihatkan kulit porselennya yang kini berkeringat. Di tangan kanannya, belati pemberian Xavier tergenggam erat.

"Wah, wah... Jenderal Kael sudah mencuri start rupanya," Ren berucap dengan nada malas yang dibuat-buat, namun matanya yang gelap menatap bekas merah di leher Lia hasil ciuman Kael tadi. "Padahal aku sudah menyiapkan tarian khusus untukmu malam ini, Ratu."

"Diam kau, Ren!" bentak Hanz. Suaranya yang berat menggetarkan ruangan. Dia menatap Lia dengan kebencian mendalam. "Malam ini tidak ada tarian. Hanya ada pembalasan. Ratu tiran ini sudah terlalu lama menganggap kita sebagai mainan. Mari kita lihat bagaimana dia memohon saat kita mematahkan kaki indahnya ini."

Kael, yang masih berdiri di dekat Lia, langsung memasang posisi melindungi. Pedangnya yang tadi sempat dia simpan kini ditarik kembali. "Mundur, Hanz. Dia milikku malam ini. Siapa pun yang menyentuhnya tanpa izin dariku, akan berhadapan dengan pedang Jenderal!"

Suasana menjadi sangat tegang. Lima pria paling berbahaya di kekaisaran kini berada dalam satu ruangan, mengelilingi satu wanita yang seharusnya mereka layani, namun justru ingin mereka hancurkan.

Lia, yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertawa. Tawa yang awalnya pelan, semakin lama semakin keras dan menggema, membuat kelima pria itu tertegun.

"Kalian lucu sekali," ucap Lia setelah tawanya mereda. Dia melangkah turun dari ranjang dengan gerakan yang sangat tenang, seolah dia tidak sedang dikepung oleh maut. Ujung belatinya dia mainkan di jarinya sendiri.

Lia berjalan mendekati Hanz, pria yang paling besar dan paling mengancam. Dia berhenti tepat di depan ujung kapak Hanz.

"Kau ingin mematahkan kakiku, Hanz? Silakan," tantang Lia. Dia menatap mata Hanz dengan keberanian yang tidak pernah dimiliki Arischa sebelumnya. "Tapi ingat satu hal. Begitu aku mati, kalian semua akan saling membantai untuk memperebutkan takhta ini. Dan pada akhirnya, kekaisaran ini akan runtuh dalam semalam. Kalian akan kembali menjadi pengungsi, tawanan, atau bangkai di selokan."

Lia kemudian menoleh ke arah yang lain. "Xavier, kau punya racun di tanganmu. Julian, kau punya rencana di kepalamu. Ren, kau punya tipu muslihat di lidahmu. Dan Kael... kau punya martabat yang kau tukar dengan gairah."

Lia melangkah ke tengah-tengah mereka, membiarkan dirinya dikelilingi. "Jika kalian ingin membunuhku, lakukan sekarang. Tapi jika kalian ingin tetap menjadi penguasa di sisi seorang Ratu yang tidak akan lagi memperlakukan kalian seperti budak, maka simpan senjata kalian dan berlututlah."

Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara napas yang berat.

Xavier adalah yang pertama bergerak. Dia menyimpan botol racunnya, lalu bersedekap dengan senyum misterius. "Ratu kita sepertinya baru saja mendapatkan nyawa baru. Aku suka versi yang ini. Lebih... menggigit."

Hanz menggeram, namun dia perlahan menurunkan kapaknya. Dia merasa terintimidasi bukan oleh kekuatan fisik Lia, tapi oleh mentalnya yang sekeras baja.

Lia merasa di atas angin. Namun, dia tahu dia harus memberikan hadiah agar mereka tetap terkendali. Dia menoleh ke arah Kael dan Ren.

"Kael, kau sudah merasakan sedikit dari apa yang bisa kuberikan," ucap Lia dengan nada yang kembali menggoda. Lalu matanya beralih ke Ren. "Dan kau, Ren... kau bilang kau punya tarian khusus?"

Lia mendekati Ren, pria yang paling vokal tentang nafsunya. Dia menarik kerah baju Ren hingga pria itu terpaksa membungkuk ke arahnya. Lia membisikkan sesuatu di telinganya yang membuat telinga pria itu memerah.

"Malam ini belum berakhir," ucap Lia dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan itu. "Aku akan memilih dua di antara kalian untuk menemaniku di kamar ini. Bukan sebagai tawanan, tapi sebagai pria. Sisanya? Kalian harus membuktikan kesetiaan kalian dengan menjaga pintu ini dari pengawal pemberontak di luar sana."

Perebutan dimulai. Atmosfer di ruangan itu berubah drastis dari niat membunuh menjadi persaingan maskulinitas yang panas.

"Aku yang akan tinggal," ucap Kael tegas.

"Tidak adil, Jenderal. Kau sudah mendapatkan giliranmu tadi," potong Ren sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lia secara posesif.

Lia menikmati pemandangan pria-pria perkasa ini memperebutkan perhatiannya. Dia duduk kembali di pinggir ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, membiarkan gaunnya yang robek tersingkap lebar.

"Kemarilah," perintah Lia kepada Kael dan Ren secara bersamaan.

Kedua pria itu mendekat seperti predator yang tunduk pada pawangnya. Kael berlutut di antara kedua kaki Lia, sementara Ren berdiri di belakangnya, mulai memijat bahu Lia dengan jemari yang terampil.

Tangan Kael mulai merayap naik ke paha Lia, mencengkeram kulit halusnya dengan posesif. "Ratu... kau sedang bermain dengan api," geram Kael dengan suara parau.

Lia mencondongkan tubuhnya ke arah wajah Kael, sementara tangan Ren mulai turun ke arah dada Lia dari belakang, memberikan sentuhan-sentuhan halus yang membuat napas Lia mulai terputus-putus.

"Aku bukan hanya bermain dengan api, Kael," bisik Lia tepat di depan bibir Kael. "Aku adalah api itu sendiri."

Tepat saat Kael hendak menarik tengkuk Lia untuk sebuah ciuman yang lebih dalam, dan tangan Ren mulai menyelinap masuk ke balik sisa kain gaun tidurnya...

Suara langkah kaki ribuan prajurit terdengar dari luar istana, diikuti oleh suara terompet perang yang memekakkan telinga.

"Pemberontakan besar-besaran telah dimulai!" teriak seorang prajurit dari luar pintu yang tersisa. "Para selir yang tidak terpilih bergabung dengan tentara pemberontak dan mereka sedang menuju kemari!"

Lia tersentak. Dia menatap Kael dan Ren yang masih berada di posisi yang sangat intim dengannya. Kini, dia berada di antara puncak gairah yang membakar dan maut yang sedang mengetuk pintu.

"Pilih, Ratu," desis Kael, suaranya terdengar gelap di tengah kebisingan perang. "Kau ingin kami melindungimu dengan pedang kami, atau kau ingin kami membiarkan mereka masuk dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami?"

Kael menarik tangan Lia dan meletakkannya pada sesuatu yang keras di balik celananya, membuktikan betapa pria itu sedang sangat menginginkannya di tengah kekacauan ini.

*********

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 17 Bermain di dalam lift

    Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 16 Menyatu di dunia nyata

    Kutukan itu menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat karena dia merasa dicintai oleh Lia di saat jiwanya sedang hancur. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri otot-ototnya yang tegang.Namun, Lia tidak melepaskannya. Dia justru menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, lalu membisikkan sesuatu di sela-sela ciuman panas itu. "Gunakan rasa sakit ini, Arlan. Jika kau mencintaiku, jangan mati sekarang. Bakar sistem ini dengan rasa sakitmu!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia bersinar terang, menyalurkan energi gelap ke dalam tubuh Kael. Bukannya meredam kutukan, energi Lia justru meledakkan rasa sakit itu hingga menjadi kekuatan fisik murni.Kael bangkit, tubuhnya kini diselimuti aura hitam dan ungu yang menyambar-nyambar seperti petir. Matanya berubah menjadi putih sepenuhnya. Rasa sakit yang seharusnya membunuhnya kini menjadi bahan bakar kemarahannya.Lia melepaskan Kael, menatap Julian dengan senyum kemenangan yang kejam. "Lihat, Arlan yang asli. Sampahmu baru

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 15 Arlan

    Lia menanggalkan jubah luar yang dikenakannya, menyisakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di bawah cahaya lilin. Dia merangkak naik ke atas tubuh Kael, menduduki pangkuan pria itu dengan posisi yang sangat intim.Kael mengerang keras. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Setiap inci kulit Lia yang bersentuhan dengan tubuhnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mematikan ke jantungnya, namun kejantanannya justru menegang keras di bawah sana, menuntut penyatuan."Kau sangat menderita, ya?" Lia berbisik di telinga Kael, lalu menjilat daun telinganya dengan sengaja."L-Lia... kau akan... membunuhku..." Kael terengah-engah, tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram sprei agar tidak menyentuh Lia, karena jika dia membalas sentuhan itu, kutukan tersebut bisa menghentikan jantungnya seketika."Lalu matilah di dalam diriku, Arlan," tantang Lia.Lia menarik tangan Kael, memaksa telapak tangan besar yang kasar itu untuk m

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 14 Siksa aku dengan sentuhanmu

    Cahaya biru itu semakin menyilaukan, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Tubuh Alaric mulai berpendar, memperlihatkan garis-garis sirkuit di bawah kulit porselennya. Kael mencengkeram leher Alaric, urat-urat di lengannya menonjol, sementara dadanya terus memercikkan cahaya ungu sebuah tanda kutukan itu sedang merobek jantungnya dari dalam."Arlan, jangan bodoh! Lari!" teriak Xenon, mencoba menarik tangan Lia. "Sistem ini akan melakukan format pada ruangan ini. Kita akan terhapus kalau tetap di sini!"Lia menepis tangan Xenon dengan kasar. Matanya terpaku pada Kael. Dia melihat pria itu, pria yang dulu menghancurkan dunianya dan kini hancur demi memberinya waktu satu detik untuk bernapas."Tidak," desis Lia. "Aku sudah pernah mati sekali karena tidak punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkan takdir atau sistem sialan ini menentukan siapa yang harus mati lagi!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia terasa membara. Rasa panasnya menjalar ke seluruh

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 13 Anomali ganda

    Kael memejamkan mata sesaat. Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang Alaric. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."Lia beralih ke Xenon. "Dan kau, Xenon. Kau bilang kau ingin membantuku? Baiklah. Kau akan menjadi peliharaan baruku di paviliun barat. Kau akan mengajariku segala hal yang kau tahu tentang dunia lain itu. Jika kau berbohong sedikit saja, aku akan memastikan lidahmu dipotong."Xenon mendongak, mencoba memberikan senyum liciknya, namun saat melihat tatapan Lia yang kosong, senyum itu hilang. "Tentu, Ratu... atau haruskah kupanggil Lia?"PLAK!Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menampar wajah Xenon dengan sangat keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer. Tapi saat telapak tangan Kael bersentuhan dengan udara di sekitar Xenon yang berada dekat dengan jangkauan Lia, Kael langsung tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat.Rasa sakit dari kutukan itu menghantamnya. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang berduri."Kael!" Alaric berseru,

  • Sepuluh Selir Ratu Arischa   Bab 12 Kesempatan terakhir

    Bayangan hitam sang Penjaga Keseimbangan meluas, menelan seluruh cahaya di kamar Ratu hingga hanya menyisakan kegelapan pekat yang dingin. Udara terasa membeku. Lia tidak bisa bernapas, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik tenggorokannya."Ambil jiwaku!" teriak Kael lagi, suaranya bergetar namun penuh tekad. Dia berdiri di depan Lia, tubuhnya yang besar menjadi perisai terakhir. "Dia tidak bersalah! Aku yang gagal menjaga rahasia ini!"Sosok berjubah itu mendekat, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan. "Kontrak telah diputus. Jiwa yang seharusnya menebus dosa, kini telah ternoda oleh perasaan yang dilarang. Arlan... kau mencintai korbanmu. Itu adalah pelanggaran terbesar!!!"Lia merosot ke lantai, menatap punggung Kael yang gemetar. Rasa mual di perutnya bertarung dengan rasa sakit di dadanya. Pria ini adalah Arlan, pria yang membuatnya menangis setiap malam di toilet kampus. Pria yang membuatnya merasa seperti sampah. Tapi pria ini juga yang semalam memeluknya seola

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status