MasukMobil sport hitam itu melaju kencang mendaki bukit menuju Menara Transmisi. Di samping Lia, Kael mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol. Luka bakar di bahunya masih mengepulkan asap tipis, tapi dia tidak peduli."Jika kita menghancurkan server itu, Lia... kita mungkin tidak akan punya jalan pulang lagi," ucap Kael, suaranya parau tertutup deru mesin."Dunia ini bukan rumah kita, Kael. Rumah kita adalah tempat di mana aku adalah Ratumu," jawab Lia tajam.Mereka tiba di puncak. Kael menabrakkan mobil itu ke dinding kaca gedung pusat data.BRAKK!Pecahan kaca berhamburan. Mereka melompat keluar, disambut oleh Dimas yang berdiri di depan superkomputer raksasa."Selamat datang di akhir dunia, Lia!" teriak Dimas gila. Dia menekan tombol Delete. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada yang bisa!"Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Kode-kode digital di layar mulai pecah dan berubah menjadi kelopak mawar hitam, kekuatan anomali Lia di simulasi ternyata terbawa
Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium
Kutukan itu menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat karena dia merasa dicintai oleh Lia di saat jiwanya sedang hancur. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri otot-ototnya yang tegang.Namun, Lia tidak melepaskannya. Dia justru menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, lalu membisikkan sesuatu di sela-sela ciuman panas itu. "Gunakan rasa sakit ini, Arlan. Jika kau mencintaiku, jangan mati sekarang. Bakar sistem ini dengan rasa sakitmu!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia bersinar terang, menyalurkan energi gelap ke dalam tubuh Kael. Bukannya meredam kutukan, energi Lia justru meledakkan rasa sakit itu hingga menjadi kekuatan fisik murni.Kael bangkit, tubuhnya kini diselimuti aura hitam dan ungu yang menyambar-nyambar seperti petir. Matanya berubah menjadi putih sepenuhnya. Rasa sakit yang seharusnya membunuhnya kini menjadi bahan bakar kemarahannya.Lia melepaskan Kael, menatap Julian dengan senyum kemenangan yang kejam. "Lihat, Arlan yang asli. Sampahmu baru
Lia menanggalkan jubah luar yang dikenakannya, menyisakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di bawah cahaya lilin. Dia merangkak naik ke atas tubuh Kael, menduduki pangkuan pria itu dengan posisi yang sangat intim.Kael mengerang keras. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Setiap inci kulit Lia yang bersentuhan dengan tubuhnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mematikan ke jantungnya, namun kejantanannya justru menegang keras di bawah sana, menuntut penyatuan."Kau sangat menderita, ya?" Lia berbisik di telinga Kael, lalu menjilat daun telinganya dengan sengaja."L-Lia... kau akan... membunuhku..." Kael terengah-engah, tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram sprei agar tidak menyentuh Lia, karena jika dia membalas sentuhan itu, kutukan tersebut bisa menghentikan jantungnya seketika."Lalu matilah di dalam diriku, Arlan," tantang Lia.Lia menarik tangan Kael, memaksa telapak tangan besar yang kasar itu untuk m
Cahaya biru itu semakin menyilaukan, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Tubuh Alaric mulai berpendar, memperlihatkan garis-garis sirkuit di bawah kulit porselennya. Kael mencengkeram leher Alaric, urat-urat di lengannya menonjol, sementara dadanya terus memercikkan cahaya ungu sebuah tanda kutukan itu sedang merobek jantungnya dari dalam."Arlan, jangan bodoh! Lari!" teriak Xenon, mencoba menarik tangan Lia. "Sistem ini akan melakukan format pada ruangan ini. Kita akan terhapus kalau tetap di sini!"Lia menepis tangan Xenon dengan kasar. Matanya terpaku pada Kael. Dia melihat pria itu, pria yang dulu menghancurkan dunianya dan kini hancur demi memberinya waktu satu detik untuk bernapas."Tidak," desis Lia. "Aku sudah pernah mati sekali karena tidak punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkan takdir atau sistem sialan ini menentukan siapa yang harus mati lagi!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia terasa membara. Rasa panasnya menjalar ke seluruh
Kael memejamkan mata sesaat. Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang Alaric. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."Lia beralih ke Xenon. "Dan kau, Xenon. Kau bilang kau ingin membantuku? Baiklah. Kau akan menjadi peliharaan baruku di paviliun barat. Kau akan mengajariku segala hal yang kau tahu tentang dunia lain itu. Jika kau berbohong sedikit saja, aku akan memastikan lidahmu dipotong."Xenon mendongak, mencoba memberikan senyum liciknya, namun saat melihat tatapan Lia yang kosong, senyum itu hilang. "Tentu, Ratu... atau haruskah kupanggil Lia?"PLAK!Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menampar wajah Xenon dengan sangat keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer. Tapi saat telapak tangan Kael bersentuhan dengan udara di sekitar Xenon yang berada dekat dengan jangkauan Lia, Kael langsung tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat.Rasa sakit dari kutukan itu menghantamnya. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang berduri."Kael!" Alaric berseru,







