Share

Bab 10

Author: Alisha Avandra
Pria itu mengenakan setelan jas yang pas di tubuh, dengan punggung tegak lurus.

Dia menoleh ke arah Jihan dengan tatapan dingin.

Wajahnya yang tampan dan acuh tak acuh seolah tumpang tindih dengan sosok remaja berusia tujuh belas tahun yang berpenampilan rupawan, duduk di dekat jendela, dan menatapnya dengan dingin belasan tahun silam.

Jihan menenangkan diri sejenak, lalu mengangguk dan tersenyum kepada Sean, "Pagi."

Sean menatapnya dengan lekat.

Sepasang mata hitamnya dipenuhi pertanyaan.

Jihan memaksakan diri masuk, lalu meletakkan pangsit itu di dekat meja Ratih, dan berkata, "Aku datang untuk menjenguk Bibi."

Sean tidak menanggapi.

Namun, ekspresinya seolah mengatakan dua kata dengan jelas, tidak percaya.

Jihan tak bisa menjelaskan apa-apa.

Lagipula, dia ada maksud lain di balik kunjungannya.

Ratih tidak menyadari ketegangan tersembunyi di antara keduanya. Begitu melihat Jihan, dia mau tidak mau teringat bahwa putranya hampir berusia tiga puluh tahun tetapi masih saja melajang. Sehingga tidak kuasa menahan diri untuk bertanya.

"Apa Dokter Jihan punya kenalan yang masih lajang dan cocok untuk dikenalkan ke Sean?"

Sebenarnya, dia sangat menyukai Jihan.

Sayangnya, Jihan sudah menikah.

Mendengar kata-kata itu, Jihan justru berpikir sejenak, lalu mengangguk menjawab, "Ada, kok. Salah satu rekan kerjaku masih lajang. Nanti kalau ada waktu, aku akan bertanya padanya."

Begitu kata-katanya selesai, Jihan merasakan hawa dingin menyergap dari sampingnya.

Jihan menoleh ke arah itu.

Ternyata jendela terbuka sedikit, dan membiarkan udara dingin menusuk pada awal musim semi menyelinap masuk.

Tentu saja, yang lebih dingin daripada hawa musim semi itu adalah raut wajah Sean yang tampak tidak senang.

Jihan mengatupkan bibirnya.

Sebenarnya, Jihan sangat bisa memahami mengapa Sean tidak ingin dirinya mendekati ibunya.

Dulu, karena Jihan menyelidiki kehidupan pribadi Sean tanpa izin hingga keadaan keluarganya tersebar di sekolah, hinaan yang paling sering didengar Jihan adalah,

"Ibunya gila, jadi otaknya pasti juga nggak waras!"

"Aku sudah lama curiga kalau otaknya nggak normal. Selain nilainya bagus, Sean nggak pernah ngomong apa-apa seharian. Orang yang nggak tahu pasti kira dia autis!"

"Jangan kencang-kencang, apa kau nggak tahu kalau ayahnya itu pembunuh? Gen pembunuh bisa diwariskan, tahu!"

Bahkan, ada yang lebih keterlaluan hingga mengukir kata-kata seperti "orang gila" dan "pembunuh" di seluruh meja belajar Sean.

Jihan saat itu belum tahu bahwa dirinya adalah biang keladinya.

Mendengar hal itu, tanpa basa-basi dia langsung membalikkan meja orang-orang itu.

Setelah itu, dia pergi menemui Sean untuk memamerkan aksinya, "Aku sudah membalaskan rasa kesalmu. Kalau mereka berani bicara sembarangan lagi, aku akan memotong lidah mereka!"

Namun, yang dia dapatkan hanyalah kalimat tidak tahu terima kasih.

"Jangan ikut campur urusanku."

"Jihan."

Jihan tersadar dari lamunannya dan mendengar Sean memanggil namanya dengan nada dingin.

Refleks, dia menjawab, "Ya?"

Sean berjalan menghampirinya dan berkata, "Ayo, kita bicara di luar."

Setelah itu, pria itu melintas di sampingnya dan langsung berjalan keluar dari kamar rawat.

Jihan mengikuti Sean hingga ke ujung koridor.

"Aku akui, aku awalnya memang datang menjenguk Bibi dengan tujuan tertentu."

Jihan buru-buru menjelaskan sebelum Sean sempat berbicara, "Tapi aku sungguh-sungguh ingin membawakan pangsit untuk Bibi hari ini."

Sean meliriknya dengan tatapan datar.

Dia membuka mulut dan berkata, "Kalau begitu, apa tujuanmu?"

Jihan menjelaskan bahwa dia ingin bercerai dari Jevan.

"Nggak ada pengacara yang mau menangani kasus ini, kuharap kau bisa membantuku."

Sean sama sekali tidak tergerak, lalu membalas, "Kalau aku membantumu, apa yang bisa kau berikan padaku?"

Jihan awalnya hampir saja ingin menjawab, "Uang".

Bagaimanapun, Jihan tidak berniat meninggalkan pernikahan itu tanpa membawa harta sepeser pun.

Harta dan aset yang harus dibagi, dia tidak akan rela kehilangan sepeser pun.

Namun, saat kata "uang" sudah sampai di ujung lidah, entah mengapa Jihan merasa sulit mengucapkannya di hadapan Sean. Lagipula, Sean yang sekarang tidak kekurangan uang sama sekali.

Apalagi, tidak sepadan jika harus berkonflik dengan Jevan hanya demi uang.

Setelah mempertimbangkannya berulang kali, Jihan hanya bisa bertanya, "Apa yang kau inginkan?"

Sean meliriknya dan menjawab, "Apa pun yang kuinginkan, kau akan berikan?"

Jihan menjawab, "Selama itu dalam kemampuanku."

Sean berkata, "Setelah cerai, menikahlah denganku."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status