Share

Bab 4 : Dunia Lain

''Mammon, buatlah kontrak denganku!'' ucapku dengan nada panik, ini satu-satunya caraku untuk bertahan hidup. Mammon menatapku lebar-lebar dengan kedua matanya yang kini berwarna merah itu, tidak percaya dengan apa yang baru saja kuutarakan.

''Membuat kontrak dengan makhluk seperti dia tidak bisa dilakukan sembarangan,'' sahut orang berjubah hitam itu. ''Jika kau gagal, maka jiwamu akan bersemayam di neraka selamanya dan akan jadi makanan untuk makhluk seperti mereka.''

Aku paham betapa berbahayanya membuat perjanjian akan sesuatu yang tak kuketahui dengan baik resikonya, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku mati begitu saja. ''Mammon, cepat sebelum aku berubah pikiran.''

Mammon mengangguk, dengan cepat ia meloncat dan mendarat tepat di bahuku. Tanpa segan ia mengigit leherku dengan kasar, aku berjengit akan sensasi pedih yang kurasakan. ''Hei, pelan-pelan!'' teriakku kesakitan. Aku bisa merasakan nyeri dan darah yang mengalir di setiap pori-pori kulitku. Setelah usai, ia mendaratkan dirinya ke tanah.

''Ha ... haha.'' Mammon mulai tertawa kecil, matanya yang merah semakin terlihat terang. ''Theo, aku tidak menyangka darahmu semanis ini. Mungkin jika aku menghisap seluruh tubuhmu hingga habis, kekuatanku bisa saja pulih.'' Ia menjilat darah yang ada di ujung bibirnya. Aku bergidik atas apa yang ia ucapkan.

Perlahan tubuh Mammon mulai berubah, sepasang sayap hitam menutupi tubuhnya. Orang berjubah itu tampak menyadari sesuatu dan bergegas berlari ke arah Mammon, ''Bagaimana ini bisa terjadi!?" teriaknya sambil menghunuskan pedangnya. Lempengan besi itu terlempar jauh karena salah satu sayap Mammon menampiknya keras.

Dari balik sayap itu, sesosok pria jangkung bersurai silver muncul. Ia mengenakan jubah berwarna merah dengan bulu di sekeliling lehernya, ia memakai baju ala pangeran jaman lampau. ''Sudah sejak lama ... akhirnya aku bisa mengenakan wujud ini walau dalam waktu singkat.'' gumamnya sambil menilai diri sendiri. Apakah ini sosok asli Mammon?

''Master, kekuatanku saat ini belum cukup untuk menghabisinya, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin.'' Ia mengeluarkan senar emas dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada tadi, senar-senar itu mengejar orang berjubah itu, berusaha untuk menangkap dan mengikatnya. Sayangnya orang itu cukup lincah.

''Master, setelah ini bersiaplah.''

Bersiap untuk apa ...?

Ia menutup matanya sejenak, lalu merapalkan sesuatu seperti sebelumnya. ''Domain tertutuplah!'' Perlahan goa yang berisikan segunung emas itu digantikan oleh tempat yang familiar, suatu kawasan di kampusku. Tiba-tiba saja sesuatu menyambarku dan mengangkutku di bahunya. ''Ugh, kau berat sekali!'' Dari suaranya, itu jelas Mammon.

''Apa yang kau harapkan dari seorang lelaki yang sudah menginjak tahun pertama kuliah, hah!?"

Kami berlari tak tentu arah karena orang berjubah itu masih mengejar. Mammon menemukan sebuah celah yang cukup sempit diantara gedung rektor dan gedung administrasi, kami memasuki celah sempit yang gelap itu, berharap bisa keluar dari area kampus tanpa melewati gerbang depan.

'' ... Kurasa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.'' Mammon perlahan mulai menurunkan tubuhku, tubuhnya berubah menjadi kucing lagi. Ini pasti karena kekuatannya yang sudah habis. Kini akulah yang mengangkutnya. Aku bisa melihat ada cahaya redup dari ujung sana, jadi aku mempercepat jalanku.

''Akhirnya, akhirnya aku sampai!'' Lututku langsung terasa lemas begitu aku sampai, aku terduduk sambil memeluk Mammon dengan salah satu tanganku. ''Gila, untung aku tidak mati.''

Tunggu sebentar, ada yang aneh. Kenapa tanah yang kupijak berganti menjadi jalan berpaving batu-batuan. Sejak kapan di ujung lorong berganti jadi ... pasar malam?

Aku mengintip bangunan yang ada di kiriku, di atas ada tulisan, ''Bar Smith''. Banyak pria-pria mabuk berlalu lalang disana. Aku benar-benar kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi?

''Hehh, kenapa ada anak semuda ini di sini?'' Salah seorang pria mabuk itu menyadari keberadaanku, gawat.

''Hei nak, berikan paman ini sedikit uang. Omong-omong pakaian macam apa yang pakai? Aneh sekali.'' Salah seorang pria itu menunjuk baju yang kukenakan. Aku memakai jaket hoodie dan kaus putih yang kulapisi dengan kemeja. Kalau dilihat-lihat, pria-pria itu memakai baju dari kain sederhana dan lusuh yang belum pernah kulihat sebelumnya.

''Maaf, tapi aku tidak punya uang ... '' jawabku. Salah satu dari mereka mulau merogoh sakuku dan menemukan handphoneku yang ada di sana. ''Benda aneh apa ini?''

Aku terkesiap, ''Tolong berikan pada saya.''

''Hei, kira-kira kalau dijual akan dapat berapa ya?'' gumam mereka. Aku berusaha meraih handphoneku tapi mereka menghalaunya. Sial, sudah hampir mati karena diserang orang berjubah itu, berpindah ke tempat asing, sekarang aku harus mengurusi preman yang hendak merampas benda milikku.

''Sebagai bayaran nyawamu, berikan benda ini.'' ucapnya, mereka mulai tertawa-tawa. Aku yang mulai naik pitam karena stress yang tak terbendung tanpa sadar meluncurkan tinjuku tepat ke wajahnya. Ia terjatuh ke belakang, kawan-kawannya yang lain menatapku tajam, ''Hei kau gila ya!?" Ia mulai membuat serangan balasan namun aku menghalaunya dengan tanganku.

''Hei hei, ada apa ini ramai-ramai?''

Kami semua menengok ke asal suara. Seorang laki-laki tampan bersurai blonde bermata merah ada di sana, ia tampak flamboyan. Apa dia model?

''Seragam itu ... tch, kali ini kau beruntung nak! Hei James, seret dia pergi!'' Orang-orang itu pun menjauh sambil menyeret temannya yang pingsan karena kupukul itu. Meninggalkanku dengan lelaki flamboyan ini.

''Hmm, kau baik-baik saja?'' tanyanya. Aku mengangguk sambil mengusap tengkukku perlahan, ''Iya, terima kasih.''

''Omong-omong, itu kucingmu?'' Ia menunjuk ke arah Mammon yang tertidur lelap, ''Iya.''

Mendengar jawabanku, ia terdiam sejenak. ''Kau mau singgah sebentar di tempatku?'' tawarnya. Sebenarnya jika boleh memilih aku tak mau pergi bersama orang asing, tapi apakah aku ada pilihan saat ini? Aku baru saja pergi ke dunia lain dan tak punya tempat tinggal. '' ... Baiklah.''

Lelaki itu tersenyum sambil merangkulku dengan akrab, seolah kami adalah teman lama. ''Baiklah, sebenarnya karena tempatku adalah asrama kami tidak boleh membawa orang luar masuk. Tapi karena aku iba, aku akan menyelundupkanmu.'' Ia berucap seolah-olah tak ada beban. Apa dia tidak takut dihukum?

''Oh iya, namaku Vincent Anastasius. Kau sendiri?''

''Aku Theodore Murray. Salam kenal.''

Di sepanjang jalan, perhatian tertuju pada kami, lebih tepatnya kepada Vincent. Mungkin itu karena seragam yang dikenakan Vincent, apa dia berasal dari sebuah instansi yang penting? Tapi karena kami masih belum sedekar itu, aku memutuskan untuk tidak bertanya.

Kami pun sampai di sebuah bangunan berbatu yang tampak sangat besar dan luas. Ukurannya mungkin lima kali lipat lebih besar daripada seluruh kawasan universitasku saat ini. Vincent tiba-tiba memegang sapu entah yang ia dapatkan dari mana dan duduk diantara gagang sapu itu. ''Ayo cepat naik, kamarku ada di lantai atas.''

''Naik ...?'' Apa itu sapu terbang? Aku merasa sedang syuting film H*rry P*tter saat ini. Walau aku merasa ragu, aku menurut sambil mencengkram bahu Vincent karena takut terjatuh.

''Baiklah, siap-siap!'' Sapu itu membawa kami terbang menuju langit, aku meringis saat kakiku sudah tidak menapak tanah lagi. Kami terbang cukup tinggi hingga aku bisa melihat bar yang kutemui tadi. Kami masuk melalui jendela yang besar, Vincent langsung menurunkanku dengan hati-hati, ia tidak turun dari sapunya.

''Aku harus pergi lagi, sekarang waktunya aku inspeksi desa.'' ucapnya, apa orang ini tidak curiga padaku? Mana ada orang yang membawa orang asing ke rumahnya lalu meninggalkannya begitu saja tanpa pengawasan. ''Apa kau tidak curiga denganku? Bagaimana kalau aku pencuri?''

''Hahaha, pencuri yang mengaku dirinya pencuri? Aneh sekali. Kau tidak perlu khawatir, bagaimana pun tidak ada barang yang bisa kau curi disini, lebih baik kau tidur, aku akan kembali satu jam lagi.'' ucapnya sebelum ia kembali terbang lagi.

Yang aneh itu dia. Tapi dia orang yang baik. Jika bukan karena Vincent, pasti sekarang aku tidur di jalan, menahan dingin yang menusuk kulitku.

Mataku melirik pada Mammon yang masih belum sadarkan diri juga, aku meletakkannya dengan hati-hati di kasur, dan aku mendudukkan diriku di karpet. Astaga, rasanya lelah sekali. Banyak yang terjadi hari ini. Perlahan aku dapat merasakan mataku yang tertutup perlahan, pandanganku menerawang, dan tanpa sadar aku pun terlelap.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status