Share

Bab 2 Tertangkap basah

Author: Ruby Biru
last update publish date: 2026-08-28 16:25:34

“Aiden Romanov?” batin Mora Adelia bergidik ngeri, merasakan sensasi dingin menusuk hingga ke tulang.

Aiden Romanov adalah pemimpin Vance Group yang cukup tampan dan berwibawa, juga sangat berkuasa. Namun dibalik kekayaannya yang tak terbatas, beredar desas-desus bahwa pria itu adalah predator bisnis yang tak kenal belas kasih. Bahkan Ronal saja harus menyembah-nyembah hanya demi mendapatkan waktu lima menit bertemu dengannya 

Dan sekarang, Mora ada di hadapannya langsung, berada tepat di dalam cengkeramannya.

Tubuh Mora seketika membeku, tidak berani bernapas. Detak jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dada. 

Di ujung koridor, sesosok tubuh baru saja ambruk tak bernyawa dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Dan tepat di belakangnya, dada bidang tempatnya bersandar terasa sekeras batu.

“T-Tuan Aiden …” bisik kepala pelayan dengan wajah pucat pasi saat melihat siapa yang ditabrak Mora.

Aiden diam, dia hanya menurunkan pandangannya, menatap muak ke arah wanita asing yang tiba-tiba mundur dan menabraknya.

Karena pakaian Mora basah kuyup akibat menerobos hujan tadi, kain pakaiannya yang tipis melekat erat di kulit. Bentuk lekuk tubuhnya yang elok dan garis pinggangnya tercetak dengan sangat jelas di bawah pendar lampu.

Aiden menyipitkan mata, menyapu penampilan Mora dari atas ke bawah sebelum ia mengangkat tangan kanannya yang masih menggenggam senjata api. 

Sret…

Mora tersentak kecil saat merasakan sensasi dingin menyentuh kulit lehernya. Itu adalah moncong pistol milik Aiden.

Dengan gerakan lambat, Aiden menyusuri lekuk tubuh Mora menggunakan moncong pistol hitamnya. Dari bawah dagu, melintasi jenjang leher, menelusuri tulang selangka, hingga berhenti tepat di tengah dadanya yang berdetak liar. 

Saking tipisnya kain basah yang dipakai Mora, moncong pistol itu terasa langsung membakar kulit telanjangnya.

“Paman Ben.” Suara Aiden memecah keheningan. “Sejak kapan mansionku menerima pelacur murahan yang basah kuyup?”

“Maaf, Tuan Aiden. Wanita ini adalah pelamar yang datang untuk posisi pengasuh Tuan Muda Leo,” jawab Paman Ben sambil menunduk hormat.

Aiden menatap Mora lurus. Ujung pistolnya sedikit menekan dada Mora, membuat wanita itu terpaksa menahan napas. Pria itu memajukan wajahnya, berbisik tepat di samping telinga Mora dengan nada yang begitu dingin. 

“Pengasuh? Dengan pakaian semenjijikkan ini?” cibir Aiden rendah. “Katakan, kamu datang ke sini memang murni untuk mengasuh anakku, atau kamu sengaja membasahi bajumu untuk merangkak ke ranjangku, hm?” 

Mora mengepalkan tangan kuat-kuat di sisi tubuhnya. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan Ronal beberapa jam lalu mendadak mendidih, membakar rasa takutnya.

Dia menepis semua ketakutannya, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Aiden yang kejam.

“Saya hanya ingin bekerja untuk menyambung hidup, Tuan,” jawab Mora dengan suara bergetar karena kedinginan. “Tolong beri saya kesempatan untuk uji coba dulu. Jika kerja saya tidak becus, Anda bisa menembak saya saat itu juga.”

Mendengar jawaban berani dan tidak biasa itu, gerakan moncong pistol Aiden di dada Mora seketika terhenti. Aiden menatap tajam mata Mora yang bersih, mencari kebohongan di sana, tapi yang dia temukan hanyalah keputusasaan yang bercampur dengan harga diri yang tinggi.

Aiden perlahan menurunkan pistolnya, lalu berbalik memunggungi Mora.

“Paman Ben, beri dia baju yang layak,” perintah Aiden dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan koridor. “Bawa dia bertemu Leo besok pagi. Kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan.”

“Baik, Tuan.”

Paman Ben sempat mengantar Mora ke kamar mandi pelayan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian kering, sebelum akhirnya menunjukkan kamar tidurnya di lantai satu.

Namun, setelah ditinggal sendirian, pikiran Mora sama sekali tidak bisa tenang. Bayangan mayat dan moncong pistol Aiden terus membayangi jiwanya.

Menjelang tengah malam, rasa mulas dan desakan mendesak dari kandung kemihnya membuat situasi makin menyiksa. Perut bawahnya terasa melilit hebat. 

Mora ingin kembali ke kamar mandi yang tadi ditunjukkan Paman Ben, tetapi mansion megah ini terlalu luas. Rasa panik dan kondisi lorong yang gelap gulita membuat ingatannya tentang letak kamar mandi mendadak buyar total.

Dengan napas tertahan dan tubuh gemetaran, Mora akhirnya berjingkat keluar kamar. Ia menyusuri koridor perlahan, takut membakar amarah penjaga atau sang pemilik rumah.

Di ujung koridor area utama, matanya menangkap berkas cahaya keemasan yang menerobos dari pintu yang agak terbuka. Mengira itu adalah arah menuju kamar mandi yang dicarinya, Mora melangkah mendekat dengan penuh harap.

Namun, saat didekati ....

“Ssss … argh!”

Suara erangan berat bercampur desisan yang begitu intim dan dalam terdengar dari dalam ruangan. Mora membeku di tempat. Rasa panik seketika membelenggunya. 

Apakah ada orang yang terluka? Atau pembunuhan lain sedang terjadi di mansion ini?

Niat hati ingin berbalik kabur, tapi karena kebingungan dan rasa terdesak dari perutnya membuat Mora tanpa sengaja melangkah selangkah lebih dekat ke celah pintu untuk memastikan keadaan.

Detik berikutnya, darah di tubuh Mora seolah berhenti mengalir.

Di balik pendar lampu remang ruangan mewah itu, terlihat Aiden Romanov sedang duduk bersandar di atas kursi kebesarannya. 

Setelan kemeja putihnya sudah tidak rapi lagi, kancing atasnya terbuka memperlihatkan dada bidang yang basah oleh peluh tipis. Sementara tangan beruratnya yang kokoh sedang memuaskan dirinya sendiri di tengah remang malam di bawah pengaruh alkohol.

Deg!

Mora terbelalak syok.

 Rasa malu dan takut yang luar biasa menghantam dadanya serentak. Ia refleks mundur secepat mungkin,tapi sial, ujung alas kakinya justru berdecit nyaring di atas lantai marmer.

Cklek!

“Siapa di sana?!” gertak Aiden dengan suara bariton yang serak, dalam, dan berbahaya. 

Pintu dihentakkan terbuka dari dalam. Secepat kilat, tangan kokoh Aiden menyambar pergelangan tangan Mora dan menariknya paksa ke dalam.

Brak!

Punggung Mora terhentak keras di pintu yang tertutup rapat. Aroma alkohol pekat dan aroma maskulin pria itu seketika mengurungnya tanpa sisa udara. 

“Mencoba memata-mataiku, hm?” desis Aiden mematikan. “Berani sekali kamu menjejakkan kaki di area privasiku malam-malam begini!”

Aroma alkohol pekat, keringat gairah, dan parfum maskulin milik Aiden langsung mengepung seluruh indra penciuman Mora.

“Saya ... saya tidak bermaksud memata-matai Anda, Tuan!” bisik Mora dengan napas memburu, suaranya bergetar hebat.

Mora tidak berani mengangkat kepala sedikit pun. Mata dan wajahnya tertunduk dalam-dalam ke arah bawah, mencoba menghindari tatapan mata pria itu.

Namun, keputusannya untuk menunduk justru menjadi bencana baru. 

Ternyata, pria itu sama sekali tidak sudi menyarungkan kembali miliknya.

Aiden berdiri tegap persis di depan wajahnya, membiarkan tubuh mewahnya yang berantakan, celananya yang terbuka, dan ukuran liarnya yang mengerikan terpampang hanya beberapa senti di depan mata Mora tanpa rasa malu atau bersalah sedikitpun.

Pemandangan brutal itu menancap paksa di kepala Mora. Wajahnya memerah. Jantungnya berdegup gila-gilaan.

“Ternyata di balik tatapan menyedihkanmu tadi sore, kamu punya nyali yang cukup besar sampai menatap milikku tanpa berkedip, hm?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rifah Biy
Menatap 🫣... Mora tenangkan dirimu mulai hari ini wkwkwkwkwkw
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 32 Kompensasi

    Klek.Pintu di kamar utama lantai tiga itu tertutup rapat. Begitu melangkah keluar, Mora langsung menghampiri Bibi Greta yang berjalan kaku di depannya.“Bi … Bibi Greta, saya minta maaf,” bisik Mora tercekat, air matanya merebak lagi. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak. “Gara-gara saya, Bibi jadi dimarahi Tuan Aiden. Saya benar-benar minta maaf, Bi …”Langkah Greta terhenti. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap wajah sembab Mora yang pucat pasi.Tak ada amarah yang meledak dari mulutnya. Greta hanya menatap Mora lekat-lekat selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang yang terdengar teramat berat dan lelah. Tanpa membalas sepatah kata pun, Greta membalikkan badan dan terus melangkah menuruni tangga, meninggalkan Mora yang mematung dengan rasa bersalah yang kian menyiksa.Mora menelan ludah getir, lalu perlahan mengekor turun ke lantai satu. Namun baru saja kakinya menjejak anak tangga terbawah, sayup-sayup bisikan pelan dari balik partisi ruang tengah menyapa teli

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 31 Ini urusan ranjangku!

    DEG!Mora membeku di tempat. Tubuhnya yang terhimpit rapat di antara pintu marmer dan dada bidang Aiden terasa kaku, tak mampu bergerak barang satu senti pun. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memukul-mukul rongga dadanya begitu menyakitkan.“Da-dari mana Tuan Aiden tahu?!”Mora menunduk dalam, mati-matian menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memutih. Otaknya berputar liar mencari jawaban.Bibi Greta? Tidak mungkin! Wanita itu sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan ini, apalagi sampai membocorkannya secepat ini pada sang majikan.Lalu siapa?Pikiran Mora mendadak melesat pada kejadian di lorong tadi, saat ia merutuki dirinya sendiri sepulang dari kamar Bibi Greta. Derap langkah pelan ... dan seorang pelayan yang sedang mengelap jendela kaca!Atau jangan-jangan ... Tuan Muda Leo mendengarnya?Mata Mora membelalak panik. Suara gumamannya tadi memang agak keras sebelum ia melihat pelayan itu. Mungkinkah Leo yang kamarnya berada di lantai yang sama tanpa sengaja mendengarnya bicar

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 30 Introgasi

    Suasana di lorong lantai dua mendadak dingin mencekam. Sorot mata Nyonya Besar menyapu Mora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghakiman, sebelum akhirnya beralih pada cucunya yang masih sesenggukan di ceruk leher Aiden.“Kalau kelakuannya sama saja seperti pengasuh-pengasuh sebelum nya, untuk apa kamu pertahankan?” cibir wanita tua itu sinis. “Pecat saja dia sekarang, Aiden! Buang-buang uang menggaji wanita yang kerjanya cuma bikin cucuku histeris begini!”DEG!Jantung Mora serasa anjlok ke perut. Keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya. Tangannya meremas celananya kuat-kuat, kepalanya tertunduk makin dalam.Rasa takut seketika mencengkeram dadanya. Bukan cuma takut ditendang keluar dari mansion mewah ini, tapi jeratan utang dua ratus juta pada Aiden yang belum lunas.Kalau detik ini juga ia dipecat dan diusir tanpa membawa uang sepeser pun, mau bayar pakai apa? Diseret ke kantor polisi lagi? Atau Aiden bakal menagihnya dengan cara yang jauh lebih gil

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 29 Leo Ngambek?

    Langkah kaki Mora terasa berat saat menyusuri lorong panjang menuju ruang tengah. Kepalanya tertunduk lesu, kedua sudut bibirnya ditekuk dalam-dalam sembari merutuki kebodohannya sendiri.“Bisa-bisanya mulutku lancang bilang mau berhenti setelah utang lunas …” gumam Mora lirih, menggigit bibir bawahnya cemas. “Bagaimana kalau Tuan Aiden menolak melepaskanku? Atau lebih buruk lagi … bagaimana kalau aku sendiri yang gagal menepati janji itu pada Bibi Greta?”Dilema itu berputar kusut di kepalanya. Di satu sisi, nuraninya berteriak bahwa ia terlalu kotor untuk tetap berada di dekat Leo setelah apa yang terjadi di atas ranjang majikannya. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Aiden belum sepenuhnya melepaskan jeratan utang itu membuatnya tak berdaya.Deg.Telinganya tiba-tiba menangkap suara derap langkah pelan di dekat lorong. Mora tersentak, refleks mendongak dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Lorong itu sepi. Hanya tampak seorang pelayan wanita yang tengah sibuk mengelap jendela kac

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 28 Kedatangan nyonya besar

    “Apa? Mengundurkan diri?!” ulang Bibi Greta dengan mata membulat tak percaya.Mora yang masih bersimpuh lemas di atas lantai kayu hanya bisa mengangguk kaku. Air matanya terus menetes membasahi pipi, meresap jatuh ke serat pernis tua kamar itu.“I-iya, Bi. Saya merasa tidak tahu malu jika harus terus bekerja di sini setelah apa yang terjadi,” rintih Mora parau. Napasnya tersengal menahan sesak yang mencekik dada. “Setiap kali menatap mata polos Tuan Muda Leo ... hati saya tidak tenang. Rasanya seperti ditikam pisau. Saya merasa sangat bersalah. Saya terlalu kotor untuk mengurus anak sebaik dia.”Bibi Greta mematung. Amarah yang semula membakar ubun-ubunnya mendadak surut, ditampar oleh realitas yang menohok sekaligus rasa kecewa. Wanita paruh baya itu mundur selangkah, lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya memijat pelipis yang berdenyut kencang.Dadanya terasa sesak. Baru kemarin ia mempercayakan luka lama dan trauma kelam Leo yang selama ini ditutup rapat dari siapapu

  • Servis Malam si Pengasuh Cantik   Bab 27 Tidak punya pilihan

    Bibi Greta langsung mendekat, lalu mencengkeram dan menarik turun kerah baju Mora dengan satu gerakan tegas. Mora terkesiap kaku, napasnya tersangkut di kerongkongan.“A-astaga, Mora!” lirih Bibi Greta menatap tak percaya.Sebagai wanita dewasa yang kenyang makan asam garam, dia cukup paham dengan apa yang ia lihat. Bercak lebam keunguan itu bertumpuk pekat di ceruk leher, disusul bekas gigitan yang belum sepenuhnya kering, jelas ulah seorang pria.Takut ada pelayan lain yang melihat, Bibi Greta buru-buru menaikkan kembali kerah baju Mora. Dadanya naik-turun menahan amarah yang mendadak membakar ubun-ubunnya. Leo yang masih berdiri di atas sofa mengerjap polos, sama sekali tidak menyadari hawa dingin yang mencekik di sekitarnya.“Kalau di kamar Mora banyak nyamuk nakal, tidur di kamar Leo aja mulai nanti malam,” celetuk bocah itu dengan nada riang. “Biar nyamuknya nggak berani gigit Mora lagi.”Darah Mora terasa membeku. Lidahnya kelu, tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status