LOGINSETELAH AKU KAU MILIKI
Part 2 Apa Aku yang Salah? "Kalian baru dua tahun menikah, belum terlambat untuk membuat keputusan. Lagian kalian juga belum punya anak." Kata-kata itu kembali menghantam dada Naima. Ia mematung dibalik tembok. "Mama sejak dulu kan sudah bilang sih, Mir. Ngapain kamu nikahi janda itu. Bikin susah saja anaknya. Nanti lama kelamaan, Aurel yang kalah." "Ma, mereka masih kanak-kanak. Nanti usia bertambah, akan semakin mengerti." "Kamu selalu membelanya, kan? Perempuan itu sudah menghasutmu. Apa yang dikatakannya padamu, hingga kamu begitu tunduk padanya. Sampai nggak mau dengerin Mama. Apa kamu nggak kasihan sama anakmu? "Mama nggak habis pikir. Bisa-bisanya kamu nikahin anak preman itu. Nah sekarang cucunya jadi preman perempuan. Masih kecil dah pinter membully." Pertahanan Naima benar-benar runtuh. Air matanya tumpah tak terbendung mendengar ucapan mertuanya tentang masa lalu ayahnya. Ya, ayahnya dulu memang seorang preman. Tapi itu dulu sekali sebelum menikah. Sudah berapa puluh tahun sekarang ini. Kenapa masih saja diungkit. Sementara sang ayah pun sudah lama insyaf. Dan kenapa, Bu Anjar begitu kejam berkata seperti itu pada Zahra. Kurang mengalah apa Zahra sama Aurel. Dirinya sebagai istri, kurang berbakti bagaimana lagi. Semua pekerjaan rumah, menjaga dua anak, dilakukannya sendiri. Memang ada pekerja paruh waktu yang bersih-bersih rumah, tapi itu tidak setiap hari. "Apa aku salah memutuskan menikah dengan Mas Emir?" rintihnya dalam hati. Pria yang menjadi cinta pertamanya. Namun saat itu mereka berpisah, karena Bu Anjar menentang. Setahun kemudian Emir menikah dengan Yesi, teman kuliahnya. Sedangkan setengah tahun setelah itu Naima menikah dengan Ridho. Namun Ridho meninggal karena sakit saat Zahra baru berumur dua tahun. Tiga tahun yang lalu, tanpa sengaja mereka dipertemukan kembali. Dalam keadaan sudah sama-sama sendiri. Saat itu pun Naima tak langsung menerima pendekatan Emir. Sebab menyadari kalau Bu Anjar pasti tetap tidak merestui. Terlebih Naima sudah menjanda. Emir berjuang keras meyakinkan, didukung juga oleh Pak Imam. Papanya Emir. Hingga akhirnya Naima luluh juga. Mereka menikah. Hidup bahagia. Namun setahun kemudian, setelah Pak Imam meninggal dunia, Bu Anjar memutuskan ikut tinggal serumah dengan Emir. Padahal rumahnya sendiri megah dan besar. Aurel yang semula ikut Yesi, akhirnya ikut Emir karena Yesi bekerja dan tidak tega dijaga baby sitter. Dan dari sanalah kemelut bermula. Naima masih mematung di balik tembok, sampai mertuanya selesai bicara dan masuk ke kamar. "Nai," panggil Emir di depan pintu kamarnya Zahra. "Aku di sini, Mas," jawabnya pelan. Emir berbalik dan mendapati Naima menghapus air mata. Pria itu menghampiri. "Kamu dengar semuanya?" "Hmm," gumam Naima. "Maafkan mamaku dengan kata-katanya yang kasar tadi." Naima mengangguk samar, kemudian melangkah masuk ke kamar mereka. Ia duduk di tepi pembaringan. Emir duduk di sebelahnya. Keheningan menerpa. "Maafkan Mama, Nai," ucap Emir memecah sunyi. "Aku capek, Mas. Setahun ini aku sudah menahan semuanya. Aku kasihan sama Zahra yang nggak pernah benar di mata Mama." "Nai, Mama ingin anak-anak rukun. Mama ingin Zahra belajar sedikit mengalah, mungkin keadaan akan lebih baik." Mendengar ucapan itu, spontan Naima menoleh. Dadanya serasa membara dan sorot matanya begitu tajam memandang suaminya. Dia sudah bersabar dan tak pernah melawan. Tapi kali ini ia tidak bisa diam. "Mas, pikir Zahra tidak pernah mengalah? Dia selalu mengalah. Mas, hanya di rumah kalau malam dan hari libur saja. Nggak melihat apa yang terjadi di rumah dan di sekolah. Tiap akhir pekan Aurel dijemput mamanya. Jadi Mas nggak pernah melihat apa yang terjadi kalau mereka bermain bersama. Sebab Aurel nggak di rumah. "Aku sudah menyarankan Mas untuk memasang CCTV, kan? Biar Mas bisa melihat apa yang dilakuakan anak-anak kalau di rumah. Mas, nggak mau karena Mama melarang." "Mama ingin kita punya privasi. Toh di pemukiman sini selalu aman. Kenapa untuk urusan anak-anak saja harus memasang CCTV." "Biar Mas melihat apa yang terjadi. Sebab omonganku nggak pernah Mas percayai." Emir menarik napas panjang. Dia pun dalam dilema. Antara putri kandungnya dan anak sambung. Namun melihat goresan di lengan Aurel tadi, ia merasa kecewa. Dan malam itu percakapan berhenti begitu saja seperti waktu-waktu sebelumnya. Melihat suaminya masih diam, Naima meraih selimut. Namun tangan lelaki itu menahannya. "Aku sedang haid, Mas," ucapnya sambil melepaskan tangan Emir. Dia tahu, suaminya mau apa. Mereka berbaring dalam diam. Naima merasakan ada jarak yang mulai membentang. Dulu waktu masih pacaran sama Emir, dia pria yang sangat care dan baik. Tapi dunia pacaran dan dunia rumah tangga sungguh memang jauh berbeda. Terlebih mereka bersatu lagi setelah pernah menikah dengan orang lain dan membawa anak masing-masing dalam hubungan mereka yang sekarang. 🖤LS🖤 "Zahra, jangan pegang apapun mainan milik Aurel, ya." Naima bicara pada sang anak, saat Zahra memandangi boneka panda milik Aurel yang ada di atas tempat tidurnya. "Nggak, Ma," jawab bocah perempuan itu lalu mengekori mamanya keluar kamar. "Zahra, sini!" Emir memanggil Zahra yang berdiri di samping sang mama yang sedang mencuci piring. Gadis kecil itu menoleh, lantas berlari dan jatuh dipangkuan Emir. Tawa mereka memecah hening di Minggu pagi. Zahra bisa bermanja dengan Emir kalau Aurel tidak di rumah. Naima menoleh sekilas. Hatinya terenyuh. Zahra tahunya, Emir adalah papa kandungnya. Saat ia menikah dengan Emir, usia Zahra empat tahun. Zahra belum mengerti apa yang terjadi. Mungkin dia bingung, kenapa punya nenek yang membencinya tapi sayang sama saudara perempuannya, Aurel. Saat Bu Anjar muncul dari pintu depan, Zahra yang sedang tertawa langsung terdiam. Dia minta turun dan duduk di sofa. Saat itu Emir baru menyadari, kalau Zahra sangat takut dengan nenek tirinya. "Zahra mau ikut Mama, Pa." Zahra melorot dari sofa, lalu berlari menyusul Naima. "Zahra takut sama, Mama," ucap Emir. "Biar saja takut. Supaya nggak gangguin Aurel." "Ma, mereka masih anak-anak. Wajar kalau ...." "Kamu sudah kepelet sama dua perempuan itu," potong Bu Anjar cepat. "Anak preman, pasti punya banyak cara untuk memikatmu. Dulu kalian sudah pisah, ngapain juga balikan lagi. Kamu terlalu gegabah menceraikan Yesi." "Dia yang mengajukan cerai saat usahaku jatuh, Ma." Bu Anjar melengos lantas beranjak pergi. Emir menghela napas panjang. Ia heran dengan sang mama, kenapa masih tetap membela mantan menantunya itu. Ketika Emir hendak bangkit dari duduknya, dari arah depan terdengar ucapan salam. Aurel muncul bersama mamanya. Bocah perempuan itu berlari dan memeluk papanya. "Hai, Mas," sapa Yesi tersenyum pada Emir. Wanita itu meletakkan beberapa paper bag di atas meja. "Aku beliin kemeja untukmu tadi." Satu paper bag diletakkan di depan Emir. "Lain kali nggak usah repot-repot." "Nggak apa-apa," jawab Yesi kemudian duduk di sofa. Dengan antusias, Aurel mengeluarkan mainannya. "Zahra, aku punya mainan baru." Bocah itu memamerkan boneka kuda poni warna ungu pada Zahra yang berdiri di samping mamanya. Yang dipanggil hanya diam saja. Emir memandang Zahra. "Sini, Zahra!" Namun Zahra menggelengkan kepala. Next ....Selesai makan, mereka membahas tentang poin-poin penting dalam rencana kerjasama. Seperti biasa Dewa sangat fokus. Waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membahas semua hal yang penting. Selang beberapa menit setelah pembicaraan selesai, relasinya pamit. Tapi Dewa masih duduk di sana menghadap laptop sambil sesekali menyeruput kopinya.Saat ia menoleh sekilas ke arah pintu masuk. Ia terkejut. Seorang wanita masuk sambil menggandeng tangan seorang anak perempuan. Wanita itu mengenakan kemeja krem dengan blazer navy, rambutnya digerai sebahu. Di tangan kanannya menenteng tas besar berisi kemasan keripik. Anak kecil di sampingnya masih mengenakan seragam SD, rambutnya dikucir dua. Anak itu sudah besar sekarang. Seumuran Zahra. Langkah wanita itu terhenti sepersekian detik ketika matanya bertemu dengan mata Dewa. Tia.Wajah itu tidak banyak berubah. Hanya sedikit lebih tirus. Sosok yang dulu membuat Dewa luluh tanpa banyak kata, wanita yang dulu ia percaya sepenuhnya. Sebelum kenyataan
Tidak ada yang sempurna. Dulu Dewa juga seperti anak muda pada umumnya. Suka balapan, minuman keras, ikut gelangang bebas. Tapi dia tidak pernah menyentuh obat-obatan terlarang dan main perempuan. Namun setelah lulus kuliah dan fokus bekerja. Sudah mulai mengurangi kebiasaan itu. Apalagi setelah memutuskan untuk menikah, dia benar-benar berhenti. Sebab ingin menjadi suami yang baik, sebagaimana dia berharap mendapatkan istri yang baik.Sebenarnya Ilyas tahu sepak terjangnya Dewa bagaimana. Hanya saja dia memang sudah berubah banyak. Merokok pun berhenti waktu menikah. Namun sekarang rokok kembali menjadi temannya dikala sunyi.Dewa sosok yang memiliki solidaritas tinggi terhadap teman dan lingkungan. Tidak pernah merugikan orang lain juga. Malah dia yang jadi tumpuan teman-temannya.Setelah menghabiskan satu batang rokok, Dewa berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Dari Blitar ia mengambil rute menuju Kademangan, melewati area persawahan luas. Ia membuka kaca mobil. Angin siang
SETELAH AKU KAU MILIKI- 66 Perjalanan Pulang Mobil Dewa melaju meninggalkan batas kota Tulungagung untuk kembali ke Surabaya. Dia hanya ditemani suara mesin halus dalam kabin. Tidak ada musik yang mengalun. Karena kali ini ia lebih memilih suasana sepi.Tatapannya lurus ke depan. Tangan kirinya fokus ke kemudi, sedangkan tangan kanan bertumpu di sandaran pintu. Sesekali mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi cambang halus.Dalam kesunyian perjalanannya, pikirannya jauh melayang ke belakang.Beberapa menit sebelumnya, dia bertemu lagi dengan perempuan itu. Wanita yang selama setahun ini mengusik hatinya tanpa ampun. Sosok yang pertama kali ia temui bukan dalam kondisi baik-baik saja, tapi disaat hidupnya bersama sang anak sedang runtuh."Om Dewa, tolongin Mama saya!" Dia masih ingat dengan jelas suara Zahra yang panik di depan terasnya suatu malam.Inilah awal kisah yang membuatnya kembali patah kali kedua. Tapi perempuan ini, kembali bahagia dengan lelaki yang sangat mencintainya. Bu
"Elvaro, Om," jawab Naima sambil memperhatikan sang anak di pangkuannya."Sudah umur tiga bulan, Mas." Emir menambahkan."Iya. Sudah delapan bulan yang lalu Mas Emir membawa pindah keluarga kembali ke Tulungagung.""Mas Dewa, pindah ke mana? Waktu kami ke sana, katanya Mas juga pindah.""Saya kembali ke Surabaya, Mas. Dan sudah dua hari ini saya ada urusan di Tulungagung. Makanya kemarin di kantor saya kepikiran mau mencari alamat Mas Emir. Alhamdulillah, langsung ketemu tadi." Dewa mengambil paper bag di dekatnya, kemudian memberikan pada Naima. "Mbak Nai, hadiah untuk baby boy.""Oh, makasih, Mas Dewa. Selalu saja bawain hadiah untuk anak-anak.""Nggak apa-apa, Mbak."Mereka berbincang-bincang ringan tentang pekerjaan dan hal-hal umum. Namun baik Emir maupun Naima, tidak menyinggung tentang pasangan. Melihat Dewa datang sendirian, sudah pasti dia belum menikah. Emir dan Naima menganggap masalah itu terlalu pribadi jika ditanyakan.Dewa juga ngobrol dan bercanda dengan anak-anaknya N
"Audy," jawab Yesi lembut. Aurel dan Zahra kembali memperhatikan sang adik."Namanya mirip kamu, Rel," bisik Zahra ke telinga Aurel sambil ditutupi telapak tangannya yang kecil. "Hu um."Waktu berlalu hampir satu jam. Ruangan penuh tawa dan percakapan ringan. Sesekali Elvaro yang mulai gelisah merengek. Dia sebenarnya tidak betah digendong. Mintanya di taruh kasur dan bisa menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan leluasa.Emir beralih fokus pada putranya. Kemudian memberi isyarat untuk pamitan. Ia juga berdiri dan menghampiri dua putrinya. Memperhatikan sejenak bayi perempuan, anak mantan istrinya. Kemudian ia pamit. Semua saling bersalaman.Yesi menciumi Aurel. Ia sudah terbiasa menahan kangen pada putri sulungnya. Sekarang juga mulai sibuk dengan Audy. Tidak usah mengkhawatirkan Aurel, anaknya itu hidup sangat baik bersama papanya."Terima kasih sudah datang. Makasih juga untuk kadonya, Nai," ucap Yesi."Sama-sama, Mbak.""Assalamu'alaikum," ucap Emir seraya membukakan pintu un
SETELAH AKU KAU MILIKI - 65 Tentang Mereka "Kami bawa mainan untuk adik, Ma. Kan dia cewek. Bisa main boneka," kata Aurel begitu polosnya.Naima menghampiri kedua putrinya. Kemudian melihat apa yang mereka bawa di goodie bag. Boneka kuda poni, ada barby, ada hello kitty, panda juga. "Dengerin Mama. Adik itu baru lahir, dia masih kecil banget. Kalian ingat kan, bagaimana dulu El bayi?"Kedua bocah perempuan itu mengangguk. "Jadi dia belum ngerti bermain. Nanti malah bahaya kalau dimasukkan ke mulutnya.""Iya. Tapi biar disimpan Mama Yesi dulu, nanti kalau adik dah bisa bermain, biar dikasihkan ke dia, Ma," jawab Aurel."Jangan, Sayang. Nanti saja dikasihkan kalau adek sudah umur setahun. Mama Yesi kan baru lahiran, dia nggak bisa mengurus barang-barang ini. Lagian kita mau nyambangi ke rumah sakit. Nanti merepotkan Mama Yesi dan Ayah Doni kalau banyak barang di kamar perawatan." Naima memberikan pengertian ke anak-anak."Aurel, Zahra, disimpan dulu mainannya. Nanti kalau adik sudah







