LOGINSabiya terlelap selama perjalanan. Ia tidak tahu persis sudah berapa lama matanya terpejam, hingga sebuah suara bariton yang familiar membangunkannya dari mimpi."Sabiya..." panggil Roman pelan.Sabiya sontak membuka kedua matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan temaram lampu di dalam kabin mobil.Sambil menegakkan duduknya, Sabiya bertanya dengan suara serak, "Kita sudah tiba di Denver?""Sudah, tapi kita belum sampai di apartemenmu. Aku ingin membelikan makanan dulu untuk anak-anak. Kira-kira, apa menu makanan yang paling mereka sukai?"Sabiya merapikan helaian rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menjawab, "Chicken katsu set dengan tambahan seporsi spaghetti carbonara di Tokyo Bento & Pasta.""Baiklah, kita pesan di sana," ujar Roman. Ia lantas memberikan instruksi kepada sopirnya untuk membelokkan mobil ke restoran tersebut.Tak berselang lama, mobil mewah itu tiba di depan restoran yang dituju.Setelah memesan makanan melalui layanan drive-
Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan kota Denver yang ramai, Clara tidak menyia-nyiakan satu detik pun. Sepasang matanya di balik kacamata hitam besar terus mengawasi setiap belokan, rambu lalu lintas, dan jalur utama yang mereka lewati.Ia memaksakan otaknya untuk mengingat seluruh detail rute tersebut dalam waktu singkat. Semua ini demi mempermudah pergerakan yang sudah ia susun di dalam kepala.Tak lama kemudian, laju taksi melambat saat memasuki kawasan pusat bisnis Denver yang prestisius.Clara terkesiap kecil. Begitu melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri, ia menyadari bahwa kawasan itu jauh lebih elegan daripada foto-foto yang ia lihat di internet. Taksi terus meluncur mulus, melewati deretan gedung perkantoran tinggi berlapis kaca. Sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan pencakar langit sepuluh lantai, yang berdiri sangat megah."Sudah sampai, Nona. Ini Kantor Pusat Elegance Jewelry," ujar sang sopir taksi.Clara mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi. Di at
Setelah ciuman mendadak yang tak ia duga, Sabiya refleks mendorong dada bidang Roman agar menjauh. Napasnya masih memburu, sementara pipinya merona merah padam akibat keterkejutan yang luar biasa."Roman, jangan pernah bertindak sembarangan seperti itu," protes Sabiya setengah berbisik. Ia menunjuk ke arah kursi depan lewat sudut matanya."Di depan ada sopir dan pengawalmu... mereka bisa melihat kita!"Bukannya merasa bersalah, Roman malah menampilkan ekspresi tanpa dosa yang menyebalkan."Mereka tidak akan melihat apa pun. Ada tirai yang menutupi kita," balas Roman santai."Kau tadi yang bertanya aku mau apa. Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan cara yang paling jujur."Sabiya mendengus kesal. Ia memilih untuk tidak mendebat pria itu lebih jauh, karena Roman selalu memiliki argumen yang kuat.Beruntung, perdebatan kecil itu terhenti ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir hotel.Ketika mobil berhenti, Sabiya langsung membuka pintu tanpa menunggu aba-aba. Ia melihat m
Dengan dibantu oleh pengawalnya yang memasangkan kruk di lengan kanan, Roman Valeriano memantapkan langkah. Ia berjalan mendekati pelataran Flagship Boutique.Begitu tiba di dekat Sabiya dan Dominic, Roman tidak membuang waktu. Ia menatap lekat wanita di hadapannya dengan sorot mata yang melembut, lalu berucap dengan suara bariton yang sengaja dikeraskan."Sayang, aku datang menjemputmu," ucap Roman tenang.Saking terkejutnya dengan kehadiran Roman yang tiba-tiba, tubuh Sabiya menegang. Lidahnya kelu, sementara Roman sudah berdiri begitu dekat di sisinya.Tatapan pria itu yang setajam elang kemudian meluncur turun.Fokus Roman terkunci pada kotak beludru merah tua yang masih berada di tengah. Ujungnya masih dipegang secara bersamaan oleh Dominic dan Sabiya, yang berusaha menolaknya tadi.Tanpa ragu sedikit pun, tangan kanan Roman terulur cepat. Dengan gerakan yang tegas, ia merebut kotak beludru itu dari tangan mereka, mengambilnya alih sepenuhnya.Sabiya sontak terkesiap, dadanya ber
Melihat wajah bosnya yang tegang, Dante yang sangat peka langsung mengikuti arah pandang sang atasan. Dalam sepersekian detik, asisten setia itu tahu apa penyebab kemurkaan yang tiba-tiba melanda Roman.Di seberang jalan sana, Dominic Sterling berdiri terlalu dekat dengan Sabiya, memasang senyuman penuh pesona yang tampak begitu mengganggu pemandangan."Tuan... apa Anda ingin turun sekarang?" tanya Dante hati-hati.Roman menarik napas perlahan, mencoba meredam api kecemburuan dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Pria itu menggeleng tegas."Nanti saja, Dante. Kita tunggu Sabiya selesai memimpin acara itu. Jangan buat kekacauan di hari pentingnya."Di seberang jalan, detik-detik peresmian yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sabiya, dengan senyuman terbaik yang menghiasi wajah cantiknya, segera menggerakkan tangan.Pita merah penanda resmi dibukanya Flagship Boutique telah terpotong sempurna, diiringi suara tepuk tangan dan letupan confetti kertas perak dari sisi kanan dan kiri.Dua o
Penolakan dari Sabiya membuat raut wajah Dominic Sterling seketika berubah drastis. Senyuman penuh percaya diri yang tersungging di bibirnya langsung memudar, digantikan oleh kerutan tajam di dahi."Kau sudah punya calon suami, Rosella?" tanya Dominic dengan nada suara yang sedikit meninggi. Terlihat jelas bahwa pria itu tidak memercayai perkataan Sabiya begitu saja."Kenapa selama ini dia tidak pernah terlihat bersamamu di Denver?"Sontak, Sabiya menelan ludah kasar akibat kebohongan yang baru saja ia ucapkan.Ia terpaksa mengakui keberadaan "calon suami" semata-mata agar Dominic jera dan berhenti mengejarnya. Namun, ia tidak menyangka respons pria itu akan sejauh ini."Calon suami saya sedang sakit, Tuan Dominic," jawab Sabiya mencari alasan sekenanya. "Kondisi kesehatannya sedang tidak baik, jadi dia memang jarang terlihat di hadapan publik."Dominic mengangguk kecil, meski matanya masih menyipit curiga."Kalau dia berada di Caspia bersamamu, dia pasti akan menjemputmu setelah acar
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de







