Share

Tempat Perlindungan

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2026-09-10 23:53:49
Jarum penunjuk waktu di sudut layar komputer hampir menunjukkan pukul lima sore. Sabiya segera mematikan laptopnya, merapikan tumpukan sketsa desain perhiasan, dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam laci meja.

Hari ini terasa begitu panjang, dan ia memiliki agenda yang padat. Sabiya berencana menyelesaikan urusan pekerjaannya di hotel secepat mungkin, agar ia bisa segera meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk Roman.

Sebelum meninggalkan ruang kerjanya, Sabiya merogoh tas untuk mengambil po
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Erni ika
jadi tetap roman endingnya
goodnovel comment avatar
Nicke Novaria
Roman pemenangnya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Lamaran di Tengah Pesta

    Sebelum Sabiya sempat merangkai kata untuk menolak, terdengar bunyi derak kursi roda yang mendekat. Kemudian, sebuah suara bariton yang berat menyapa Nyonya Vivian di meja kehormatan."Selamat malam, Nyonya Vivian. Saya Roman Valeriano," ucap sebuah suara dingin yang sarat akan otoritas mutlak.Semua mata di meja tersebut menoleh. Di sana, didorong di atas kursi roda oleh Dante, Roman mendekat dengan tubuh tegak. Wajah tampannya memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun segan.Roman meminta Dante menghentikan kursi rodanya tepat di samping Sabiya, untuk memisahkannya dari Dominic. Setelah meminta sang asisten menjauh, tanpa ragu Roman menatap Nyonya Vivian dengan senyuman sopan.“Oh, Tuan Valeriano. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu Anda secara langsung,” jawab Nyonya Vivian dengan hangat. “Terima kasih karena Anda bersedia datang jauh-jauh dari Aldena untuk memenuhi undangan kami.”"Saya sudah berada di Denver dari minggu lalu, Nyonya Vance. Saya dirawat di rumah sakit s

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Antara Tiga Pria

    Begitu mobil mewah Jetro bergerak membelah jalanan malam kota Denver, keheningan sempat menyelimuti kabin. Suasana di dalam mobil terasa penuh akan emosi yang tertahan.Seolah mampu membaca setiap gelisah dan isi kepala wanita di sampingnya, Jetro menolehkan kepala."Sabiya, katakan saja apa yang ingin kau katakan,” tutur Jetro. “Apa kau masih ingin bertanya kenapa aku mengundang Roman ke Monella dan membuatnya babak belur?"Mendengar pertanyaan yang terkesan membuka luka lama itu, Sabiya menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab."Masalah itu sudah berlalu, Kak. Aku tahu... kau melakukan semua itu demi aku. Kau hanya ingin memastikan bahwa Roman benar-benar menyesali segala perbuatannya di masa lalu."Jetro tidak langsung merespons. Pria itu membiarkan deru mesin mobil mengisi keheningan, sebelum kembali bersuara dengan nada yang lebih berat."Kau membiarkan Roman tinggal di apartemenmu bersama anak-anak... apa kau benar-benar yakin akan bersamanya lagi?" tanya

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berebut Pasangan

    Di dalam salon eksklusif, Sabiya duduk nyaman di depan cermin besar, sementara seorang penata rambut profesional sedang menata helai rambut panjangnya menjadi gaya French twist modern.Sedari tadi, Roman dengan setia duduk menemani di atas sofa beludru. Pria itu menatap lurus ke arah cermin, tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari sosok Sabiya.Ketika Sabiya akhirnya berdiri dari kursi rias, Roman terpaku. Gaun malam dengan warna midnight blue itu membalut tubuh Sabiya dengan sempurna."Kau... sangat cantik, Sabiya," puji Roman. Ia bangkit perlahan dengan bantuan kruknya, lalu merangkul bahu Sabiya. Melihat Roman menempel padanya, pipi Sabiya merona merah. Lekas saja, ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya untuk mengalihkan perhatian."Roman, kita harus segera pulang. Ini sudah jam empat sore,” tutur Sabiya sedikit cemas. “Anak-anak pasti sudah pulang dari kebun binatang."Benar saja. Setibanya mereka di unit apartemen, si kembar sudah berada di ruang tengah bersama Bi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Dua Singa di Satu Wilayah

    Mendengar ucapan Roman, Jetro mendengus meremehkan. Pria bermantel cokelat itu maju dan menepuk bahu Roman dua kali."Kalau begitu mari kita lihat sekarang, Roman... siapa di antara kita yang paling pantas berada di sini," ucap Jetro tajam.Tanpa sudi berlama-lama menatap wajah musuhnya, Jetro berlalu begitu saja. Ia berjalan melewati Roman yang berdiri dengan tumpuan kruk, lalu memanggil kedua anak Sabiya."Ares... Altair!" panggil Jetro cukup lantang.Mendengar suara itu, Roman langsung membalikkan badan. Ia berusaha mengejar langkah Jetro dengan terpincang-pincang."Jetro, apa kau akan mengingkari janjimu sendiri untuk melepaskan Sabiya dan anak-anak?!" seru Roman geram, napasnya memburu menahan emosi yang membakar dada.Belum sempat Jetro merespons ucapan itu, pintu kamar di ujung koridor terbuka lebar.Ares dan Altair muncul dengan jaket dan celana jeans yang kasual. Wajah mereka berseri-seri penuh kegirangan, begitu melihat sosok ayah yang sudah mereka nantikan."Papa!" seru si

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Pertemuan Penuh Ketegangan

    Tak terasa, akhir pekan yang dinanti-nanti akhirnya tiba.Hari ini adalah hari digelarnya resepsi pernikahan Enzo, sebuah acara akbar yang mempertemukan para elit sosial dan relasi bisnis dari Elegance Jewelry.Pagi yang cerah di apartemen Sabiya mendadak berubah sibuk ketika ponsel wanita itu berdering.Di ujung sambungan, Oliver meminta Sabiya untuk datang ke kantor pusat. Ada beberapa hal yang harus dikoordinasikan, terkait dengan penyambutan tamu penting dan relasi bisnis di acara resepsi.Mendengar permintaan itu, Sabiya bergegas merapikan diri. Sebelum berangkat, ia menghampiri si kembar di ruang tengah, berpamitan sambil berpesan agar mereka tidak nakal selama dirinya pergi."Mama harus ke kantor sebentar. Jangan ke mana-mana, tunggu Mama pulang," pesan Sabiya lembut.Roman, yang baru saja keluar dari kamarnya dengan bantuan kruk, tersenyum menenangkan."Tenanglah, Sabiya, ada aku di sini yang akan menjaga anak-anak."Sabiya menatap Roman sesaat, lalu bergegas melangkah keluar

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Tes Kesetiaan

    Setelah berbicara dengan Roman, Sabiya kemudian berbalik menuju kamar si kembar. Ia membantu mereka mandi, berganti pakaian, lalu memeluk kedua putranya satu per satu."Anak-anak, kalian tidak perlu takut lagi, ya. Penjahatnya sudah ditangkap polisi. Tidurlah yang nyenyak," bujuk Sabiya lembut.Ares dan Altair mengangguk patuh, merasa aman dalam lindungan sang ibu.Usai dibacakan dongeng, mereka pun perlahan memejamkan mata. Tak lagi mencemaskan peristiwa menakutkan yang terjadi di Play Zone.Ketika Sabiya berjalan keluar dari kamar si kembar, ia mendapati Roman telah duduk manis di atas kursi roda. Pria itu menanti di depan pintu kamarnya."Ini akan menjadi kamarku, kan?" tanya Roman dengan nada setengah menggoda. "Aku ingin beristirahat sekarang, kakiku sudah kaku."Tanpa menanggapi rengekan Roman, Sabiya mendorong kursi roda pria itu ke dalam kamar tidurnya sendiri.Begitu ia memasuki kamar, Roman langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.Semula, ia mengira bahwa di kam

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status